Sabtu, 21 Desember 2013

Senja..



Jingga melangkahkan kaki diantara gemuruh ombak. Kakinya yang mungil bermain-main bersama geriangan desirnya. Tak ada jejak kaki. Karena setiap langkahnya akan tersapu oleh ombak yang berlomba-lomba memagut tubuhnya. Ombak itu ibarat harapan, rindu, cinta dan sayangnya pada seorang pria. Jingga menengadah. Tiba-tiba ada sesak merangkul dadanya. Ia menghembuskan nafas panjang agar sesak yang dirasakannya sirna. Tapi dadanya seperti tertimpa gundukan karang. Semakin berat, tapi semakin rapuh. Angin semilir mulai melambai-lambai. Langit mulai temaram. Rambutnya yang tergerai mulai beterbangan dimainkan angin nakal. Sebentar lagi, katanya dalam hati. Sebentar lagi senja akan datang, Jingga harus kuat.

Tentang senja...

Jingga sangat menyukai senja, karena ronanya yang merah penuh gelora biaskan bayangan kerinduan akan seorang pria. Senja. Ia ingat, Senja pernah bilang kalau dulu ibunya begitu menyukai senja. Makanya, ibu memberinya nama dengan nama itu. Dan dari dulupun, senja selalu menyukai warna merah itu. Jingga pernah menanyakan tentang makna senja bagi pria yang sangat dicintainya itu.

"Apa yang membuatmu begitu menyukai senja, Senja ?"
"Senja bukan hanya menghadirkan rona merah, senja juga dapat mengobati kerinduan kekasih lewat bias warnanya".
"Lalu gimana kalo senjanya tertutup awan ?"
"Senja yang tertutup awan adalah kerinduan yang terpendam ..!" jelasnya lagi.
"Kalau senja yang bersembunyi dibalik rimbun dedaunan gimana ?"
"Itu senja yang malu-malu, seperti rindumu padaku Jingga. Tak perlu kata, tapi terbias lewat warna wajah semu merah jambu..!"


Kata-kata Senja membuat pipi Jingga bersemu merah. Wajahnya yang bulat, mungil bersemu malu.

"Kau ini, bisa aja deh..!" Pelan Jingga mencubit pelan lengan Senja.

"Hm, Senja, tau tidak kenapa aku menyukai senja..?

Senja mengernyitkan keningnya. "Apa ?" Tanyanya
"Karena Senja selalu membuatku rindu pada seorang Senja. Rindu yang tak pernah habis. Tak pernah lelah untuk hadir setiap hari. Seperti kamu Senja. yang selalu ada untukku..!"Kata-katanya barusan sukses membuat bibir Senja mengembang.
"Udah pinter gombal ya sekarang..!" Senja tergelak.

Ah Kenangan....

Jingga memandang laut lepas dihadapannya. Ombaknya masih bergulung. Deburnya bergemuruh seperti dadanya yang bergetar karena rindu. Sebentar lagi senja diufuk akan tiba. Dia tak ingin melewatkan merahnya. Hari ini, tepat setahun sejak kecelakaan itu merenggut nyawa Senja, saat mereka memadu janji di pantai itu untuk bertemu. Menatap senja bersama. Jingga terus melangkah menyusuri lautan lepas. Tak dihiraukannya bajunya yang basah terkena desiran ombak. Sekali kali kakinya tersandung karang yang tajam. Jingga tak perduli jika kakinya terluka. Langkahnya semakin cepat. Setengah berlari. Jingga tak perduli jika ombak itu akan memakannya hidup hidup. Sebentar lagi dia akan bertemu Senja, karena gulungan ombak itu akan membawanya menemui sang merah. Merahnya senja.

You say, you love me?



Mencintaiku, katamu
Tapi mengapa begitu ?
Sedang senja setia menanti malam
Tapi kenapa kau begitu cepat temaram ?
Termakan alibi lupa pada janji
Yang kau buat dan kau pungkiri sendiri

Lalu..
Mencintaiku, katamu
Tapi mengapa begitu ?
Sedang nafas ini masih memburu
Saat bibir dingin mengecup beku
Tapi mengapa terkesan semu ?
Saat ku tahu ada bayangan lain dipikiranmu

Jadi..
Kenapa mencintaiku
Jika ternyata kau masih begitu
Apa tak ada artiku bagimu ?

Tak mengapa jika kau lupa
Tak kan ku tanya mengapa ku luka
Jika harus pergi, maka pergilah
Karena ku tak mau temaram
bersama cintamu yang muram

Sabtu, 14 Desember 2013

Tentangmu, sang fajar (5)



“Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati. Jatuhkan hatiku kepadamu. Sehingga hidupku pun berarti. Cinta tak mudah berganti. Tak mudah berganti jadi benci. Walau kini aku harus pergi  ‘tuk sembuhkan hati..”

Lirik lagu Tangga yang mengalun indah dari earphone saya. Cukup membuat saya tersadar bahwa semua sudah waktunya untuk saya akhiri. Apa yang kamu ketahui, sayang? Yang saya takutkan sebenarnya adalah kita berpisah tanpa pernah mengungkapkan perasaan di hati kita. Ini sudah waktunya saya pergi, kan?

Saya pernah berpikir apa yang akan kamu lakukan jika saya mengatakan semuanya. Suatu malam di bulan Desember 2013, saya pernah berniat akan mengutarakan apa yang seharusnya saya utarakan. Saya selalu berpendapat, “katakanlah! Kau tidak akan tahu jika tidak mencari tahu”. Tapi ketika pagi hari, saya mengurungkannya. Bukan karena saya tidak ingin mencari tahu dan lepas dari genggaman rasa yang menyakitkan ini. Tapi lebih kepada sebelum saya utarakan, kamu sudah dengan tegas memperjelas semuanya. Saya tidak menyalahkanmu, sayang. Tapi caramu cukup membuat saya merasakan luka yang hampir tertutup sempurna itu.

Saya tidak bodoh. Saya juga bukannya tidak peka. Tapi saya mencoba menjadi kebal. Demi bisa selalu bersamamu. Apa saya terlalu naif? Atau kamu yang terlalu menganggap gampang perasaan ini? Saya mengingatmu sama seperti ketika saya terlelap. Kamu adalah sesuatu yang membuat saya tidak merasakan segala, selain bermimpi dan berdetak. Saya adalah wanita yang menyimpan do’a baik-baik didalam sepatu kerjamu. Setiap petang, saya selalu berkata “Hati-hati pulang kerjanya, sayang!”. Meski kadang ucapan itu aku ucapkan seraya aku memandang langit yang perlahan memerah saga.

Kamu boleh bersamanya. Menikmati bahagia dengannya. Aku merelakan, karena memang dia bahagiamu seutuhnya. Tapi sayang, jangan kembali padaku jika kamu tidak menemukan apa-apa. Karena hatiku bukanlah cadangan hidupmu.

Saya melihat potret kamu dan dia. Saya cemburu. Bukan, saya bukan cemburu pada dia. Saya cemburu karena kamu berada lekat disisinya. Saya terlalu bodoh. Ya, saya bodoh! Saya bodoh. Saya sok tegar. Saya sok pintar. Ya, itulah saya.

Diluar sedang turun hujan deras. Saya memilih menyeruput segelas teh hangat sambil terus menuliskan tentangmu. Maaf, saya memilih pergi, tapi tidak memilih untuk berhenti menulis tentangmu. Udara yang dingin membuat ujung jemari saya membiru. Saya berharap hangatmu tetap terjaga disana, hingga tak membuat sedih siapapun yang menyayangimu disini.

Saya terlalu menyayangimu. Dan saya harus berhenti untuk ‘terlalu’ menyayangimu. Walau kenyataannya hal itu bukanlah sebuah ‘hanya’. 

Saya tipikal wanita yang merasa. Pria seharusnya menyadari diri bahwa mereka harus memberi penjelasan tanpa harus membuat wanitanya merengek.

Ah, saya baik-baik saja. Ini hanya luka kecil dibanding segala yang masih terjadi pada hidup saya saat ini. Lagipula, saya yang memilih pergi. Bukankah didalam hidup ada datang dan pergi? Dan kepergian hanyalah untuk memberikan ruang pada kedatangan yang lebih baik.

Tidak apa-apa. Saat ini saya sedang bahagia dengan hidup yang saya jalani. Dengan hati-hati yang mengelilingi saya. Walau pun saya belum siap untuk mencintai seseorang. Bukan karena kamu. Saya pernah percaya bahwa kamu tidak sama dengan yang lalu. Tapi saya lupa. Satu-satunya yang bisa saya percaya hanyalah Sang Pencipta. Sehingga pada akhirnya, saya kembali terluka. Hahaha ! Hanya luka kecil, sayang..


Terima kasih untuk kamu, untuk beberapa waktu yang saya sita untuk menemani saya. Will miss you, dawn.. J

Rabu, 11 Desember 2013

Tiga Tahun Lalu



TASYA

“Aku mencintaimu, De..” Ucapku lirih. Aku tahu cinta ini salah. Aku datang di waktu yang tidak tepat. Hal apa yang membuatku menyatakan bahwa cinta ini salah? Aku mencintai dia yang merupakan milik orang lain.
“Aku tahu, sayang. Aku tahu. Bahkan sebelum engkau mengatakannya, aku sudah tahu.” Ia menjawab seraya mengusap kepalaku. Aku dimanjanya. Dan aku ditenggelamkan dalam dada bidangnya. Hangat. Pelukan ini hangat sekali. Aku bagaikan seorang gadis kecil yang setiap kali merengek, ia datang membawa sebuah permen lolipop untukku. Cinta ini sederhana. Ia begitu tahu cara memperlakukanku dengan baik.

***

“Lantas, apa yang kau lakukan kini, Sya?” Riri sahabatku bertanya padaku.
“Entahlah. Rasa ini semakin sulit kutepiskan” jawabku.
“Kau tahu resikonya bila rasa ini kau pertahankan?” Ia kembali bertanya padaku.
Aku diam. Diamku bukan karena aku tidak tahu. Aku tahu jelas apa yang akan ku hadapi. Ia tidak akan mungkin menjadi milikku. Dan akan tiba masa dimana ia memilih, yang sudah kupastikan ia akan memilih kekasih hatinya itu. Riri menatap iba ke arahku.
“Aku benci tatapan itu, Ri!” kataku.
Riri tertawa renyah. Baginya aku masih kecil dalam dunia percintaan. Aku terlalu naif, mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain. Tapi bagiku cinta tidak pernah salah. Cinta selalu hadir pada hati yang ia rasa pantas untuk merasakan nikmatnya.
“Boleh aku bertanya?” Riri bertanya.
“Silahkan” jawabku.  Aku menatap lekat ke dalam matanya. Mencari tahu makna dari tatapannya tersebut.
“Bagaimana jika ia tidak mencintaimu?” Tanyanya.
Dan kali ini aku terdiam. Benar! Aku bahkan tidak pernah mendengar ia mengatakan bahwa ia mencintaiku.
“Cepat atau lambat aku akan pergi dari hidupnya. Percayalah! Aku cukup menyadari posisiku” Kataku sambil tersenyum. Perih. Hatiku sakit sekali.

***

Aku membayar total makananku di sebuah cafe. Baru saja keluar dari cafetaria tersebut, aku berpapasan dengan laki-laki yang kucintai. Tanpa bisa berbicara, ia berlalu setelah menatapku. Aku bagaikan patung dihadapannya. Ia bahkan tidak menegurku. Wanita disebelahnya menggandeng lengannya dengan manja. Damn! I’m jealous!
Wanita itu aku tidak mengenalinya. Tapi entah kenapa, aku bersedia menyingkir dari kehidupan laki-laki itu deminya. Seperti sebuah daya tarik tersendiri antara aku dan wanita tersebut. Wanita yang baik menurut “penglihatanku”.
Aku masih diam di ujung pintu cafe. Seseorang mencoba menyadarkanku bahwa posisiku cukup menghalangi orang-orang untuk masuk. Dengan air mata yang masih membasahi pipi, aku bergeser. Melangkah pelan nan gontai menuju apartemenku.
Baiklah, aku memutuskan untuk ku akhiri saja semuanya. Sudah waktunya aku pergi. Aku pun mencoba membuka akun sosialnya, dan semuanya ia memasang foto bersama kekasihnya. Ini pengusiran secara halus. Sudah saatnya untuk pergi.


** * **


DEMIAN


3 tahun kemudian..


Pengirim: TASYA
Selamat siang. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kami mengundang saudara/i  untuk menghadiri pesta pernikahan kami (HANINA PUTRI ANATASYA, S.Psi dengan DIDI HANDRIKA, M.Eng) di Aula Hotel Beutari. Pada hari kamis, tanggal 03 April 2014. Terima kasih


Aku gemetar. Wanita itu kini akan menikah. Apa yang harus aku lakukan? Segera kuambil ponselku dan menekan nomornya. Panggilan terhubung, namun ia tidak mengangkatnya. Hari kamis itu minggu depan.
Aku bingung. Entah kenapa ada rasa yang menyesakkan dalam dada. Apa aku mencintainya? Entahlah! Tapi aku merasakan rasa sakit di ulu hatiku. Apa ini??!

“Kau baik-baik saja sayang?” Marlia bertanya padaku. Wanita ini adalah kekasih hatiku. Karenanya aku tidak bisa menjadikan Tasya sebagai kekasihku. Aku mengenal Marlia jauh sebelum aku bertemu Tasya. Dan kami sudah menjalin hubungan lebih dari 8 tahun.
Marlia sering mengajakku untuk menikah. Tapi aku belum berpikir sejauh itu. Laki-laki mana yang tidak ingin menikah? Tapi entah kenapa, aku belum mau menikah. Entah karena Marlia yang mengajak, atau memang aku terlalu maniak dalam bekerja.

“Aku tidak apa-apa” jawabku bohong.

Bagaimana mungkin aku harus mengatakan bahwa aku memikirkan wanita lain selain dirinya.

“Sms dari siapa? Kenapa kamu jadi pucat? Ada masalah?” Marlia kembali menghujaniku dengan pertanyaannya.

“Tidak. Masalah kerjaan. Ayo kita pulang. Bos mengajakku rapat dadakan. Besok ada pertemuan dengan klien mendadak.” Kataku berbohong.

Untung saja Marlia tidak banyak bertanya lagi. Makan siang saat itu tidak berjalan baik. Padahal, awalnya, aku berniat untuk berbicara masalah pertunangan dengan Marlia. Tapi sesuatu yang buruk datang. Wanita itu muncul dengan kabar tersebut.

Aku mengantar Marlia pulang. Setiba di depan rumahnya, aku mengatakan bahwa aku buru-buru. Marlia melepas kepergianku dengan lambaian. Aku menatapnya dari spion mobil sportku.
Pikiranku masih tertuju pada Tasya. Wanita yang dengan tawanya aku pernah bersemangat melewati hari. Dengan petuahnya aku bisa menjadi lebih percaya diri. Dan dengan segenap kata-kata romantis darinya aku merasa bahagia. Yang aku inginkan, Tasya selalu bisa memberikannya. Dengan dirinya pula aku bisa tertawa lepas menjadi diriku sendiri.

Aku mencoba menghubunginya. Dan masih tidak diangkat.

Pengirim: TASYA
Aku menunggu kamu di cafetaria langganan kita pada pukul 16.00 WIB. Waktuku tidak banyak. Aku harap kamu datang tepat waktu.

Dan aku pun melajukan kendaraan ke tempat yang disebut.

***

“Sudah menunggu lama?” Tasya bertanya sambil tersenyum. Ia masih berdiri dihadapanku. Aku masih tidak dapat berkata apa-apa. Wanita dihadapanku semakin cantik. Tiga tahun lalu, dia masih milikku.

“Baru beberapa menit. Duduklah” Kataku.

Ia mengambil posisi duduk dihadapanku. Sebentar ia melihat dan menyentuh ponselnya. Kemudian memasukkan kedalam saku blazzernya.

“Kau akan menikah, masih saja kerja?” Tanyaku.

Ia tertawa. “Kerja adalah bagian dari diriku untuk mengatasi kejenuhan.” Katanya.

Tasya memiliki kecintaan pada pekerjaan sama denganku. Itulah kenapa aku merasa ia bisa mengertiku dengan baik. Itu dulu. Tiga tahun lalu. Kami sama-sama terdiam. Pelayan cafe datang untuk melayani kami, kami memesan pesanan yang biasa kami pesan. Tiga tahun lalu.
Aku bingung harus mengatakan apa.

“Aku mencintaimu.” Ucapku.

Aku melihat wajah Tasya. Ia tersenyum ke arahku. Tapi tidak menjawab apa-apa.

“Kau tidak akan mengatakan apapun?” Tanyaku lagi.

Ia tersenyum. Aku semakin salah tingkah.

“Aku harus berkata apa? Seandainya kalimat itu kudengar tiga tahun lalu, hari ini aku masih menjadi milikmu.” Katanya.

“Aku tahu, kesalahanku adalah itu.” Kataku.

“Tapi semua sudah terjadi, De. Aku akan menjadi milik seseorang lain. Lagipula, wanita itu mencintaimu dengan baik. Apa kurang pengorbanannya selama ini? Menunggumu dalam ketidakpastian kapan akan menikahinya?” Ujarnya.

“Aku tidak mencintainya. Aku hanya bertahan karena aku terbiasa hidup dengannya.” Kataku. Aku sendiri tidak tahu mengapa kalimat ini muncul dari mulutku.

Tasya menatap ke arahku. Ia menggeleng dan menggenggam tanganku.

“De.. Kisah kita sudah berakhir. Wanita itu memiliki cinta yang mahadahsyat kepadamu. Cintailah dia dengan baik.” Katanya.

Aku masih termangu. Sentuhannya membuat desiran darahku terasa hangat. Jantungku berdegub kencang. Aku merasa tidak sanggup melihatnya menjadi milik orang lain.

“Jangan egois, sayang.. Ini takdir kita. Saling mencintai namun tidak dapat saling memiliki.” Lanjutnya.

Aku berpikir keras. Belum selesai aku mendapat jawaban atas kalimatnya, ia bangkit dari duduknya.

“Aku berharap kau datang di hari pernikahanku. Bawa kekasihmu. Aku ingin kau datang dengannya. Sampai jumpa, Amore..” Ujarnya.

Aku terkesiap. “Tidak bisakah sebentar lagi?” kataku.

Ia tersenyum. Dan menggeleng dengan perlahan. Ia berbalik dan melambaikan tangannya kearahku. Kupandangi sosok itu sampai ia menuju pintu. Dari dalam cafe aku melihat ia dijemput seseorang. Aku yakin. Laki-laki itu yang kelak akan mendampinginya. So damn! I’m jealous!
Aku masih duduk diam. Apalagi yang kupikirkan? Tidak ada! Aku sudah terlambat.

***


Minggu, 08 Desember 2013

Tentangmu, sang fajar (4)




Seandainya saya tahu akan seperti ini, saya akan menghindari jalan ini. Ini terlalu manis, sayang. Ini terlalu indah. Saya sulit untuk mengakhirinya. Saya ingin terus menikmati tiap rinci perjalanan ini. Saya tidak akan memintamu datang sepenuhnya kepada saya, saya hanya meminta kamu untuk jangan meminta saya untuk mengakhiri ini. Saya bisa saja mengakhirinya. Tapi saya masih ingin menikmatinya ; mencintaimu.

Ya, saya cinta kamu.
Seseorang disana juga pasti mencintaimu. Bahkan cintanya lebih besar daripada saya. Bukannya saya tidak bisa melebihi cintanya. Tapi saya cukup mengerti, dia lebih duluan memilikimu.

Perkenalan kita. Rasa nyaman yang kamu berikan. Suaramu yang mendamaikan ketika saya resah, itu cukup untuk saya. Saya mencintaimu. Saya mencintaimu diam-diam. You know that! You know I love you.. Apa yang membuat saya bertahan? Itu karena kalimatmu. Kalimatmu yang mengatakan bahwa senja yang ia kenal adalah seorang yang tegar. Saya menjadi tegar demi kamu.
:')

Tanpa saya utarakan kamu tahu kalau saya mencintai kamu. Tanpa kamu utarakan saya tahu kalau kamu mencintai saya. Hanya saja keadaan tidak berpihak baik pada kita. 

Boleh saya menangis, sayang? Untuk rindu ini. Ingin sekali saya mengatakan kepada kamu kalau malam ini saya egois. Saya menginginkan kamu disini. Saya menginginkan kamu menjadi milik saya. Saya cemburu. Dan saya ingin kamu mengatakan kalau rindu saya ini berbalas. Tapi saya takut, saya takut kehilangan kamu jika saya mengatakan hal ini. Saya takut kamu merasa risih. Saya takut kamu menjadi bingung untuk memilih. Saya tidak ingin membuat kamu seperti ini. Tapi ketahuilah, cinta ini masih sama seperti kemarin.

Suaramu.. Suaramu itu mendamaikan sayang.. Saya rindu.. :(

Dari awal saya sudah mempersiapkan diri untuk tetap waspada. Saya tidak ingin jatuh terlalu dalam dengan rasa ini. Tapi itu sulit. Semakin sakit, semakin saya ingin untuk menenggelamkan diri di dalam lautan kasihmu..
Ah sayang.. Kita tidak pernah saling menggenggam tangan. Tapi rasa ini sudah menggerogoti nalar saya dengan baik.

Sakit. Entah kenapa saya merasakan hati saya sakit. Ketika saya mencintai seseorang yang saya ingin mencintainya, namun takdir berkata lain. Sudahlah.. Saya akan mencoba untuk tidak lagi menambah kadar rasa ini. Cukup saya yang merasakan pahitnya, sayang. Saya tidak ingin kamu kelak merasakannya. Beri saya waktu. Untuk saya mengatur langkah saya dengan baik.

Biarkan saya belajar dengan sendirinya untuk bagaimana saya melawan hati ini. Saya cinta kamu. Senja mencintaimu, fajar.. Tapi pagi sudah memilikimu.. Bahagiakan pagimu, sayang. Senja itu cantik. Yang cantik adalah yang selalu tegar. Dan senja perlahan akan tenggelam dibalik malam.. Dan saya percaya suatu saat senja dan fajar akan bertemu. Jika langit berkenan, kita akan dipertemukan disebuah musim yang berbeda dan menikmati secangkir kopi dengan saling bertatapan.

Sayang, ketika takdir mempertemukan kita bisakah engkau merengkuh saya kedalam pelukanmu?
Setidaknya pelukan itu akan menjadi kenangan baik untuk saya mengobati rindu di lain waktu.

Selamat terlelap, fajarku..
Semoga kamu selalu menjadi fajar saya..


#Now Listening Tangga - Cinta Tak Harus Berakhir


Sabtu, 07 Desember 2013

Tentangmu, sang fajar (3)



Selamat malam kamu, fajarku :)

Anggaplah saat ini kita sedang duduk saling bertatapan dan berpegangan tangan. Biarkan hati yang merasakannya. Saya tahu ini salah. Tapi biarkanlah saya nikmati dosa termanis ini. Biarkan saya tenggelam dalam lautan rasa ini.
Naif sekali. Saya merindukan kamu yang bahkan rindumu bukan untuk saya. Tapi saya percaya, meski rasa kita tak sama,  saya masih mendapatkan satu bagian di hatimu.

Fajar bukan milik senja. Fajar adalah milik pagi.

Tapi seberapa nistanya jika senja mengharapkan fajar dapat bertemu dengan senja?  Meski tidak mungkin, hal itu pasti akan terjadi suatu hari nanti.
Hari dimana senja bertemu dengan fajar.
Hari dimana senja berharap waktu berlalu dengan lambat.
Hari dimana senja bisa menyentuh sang fajar.

Ketika alam merestui pertemuan itu, biarkan saya menenggelamkan diri saya dalam pelukanmu.
Berikan saya sebuah kecupan sebagai hadiah karena sudah terlalu bersabar hingga akhirnya kita dipertemukan.
Kemudian sita waktu saya sepenuhnya!
Saya ingin hari itu berakhir dengan saya menatap ragamu dari dekat.

Ah, pertemuan yang teramat saya inginkan.

Untukmu..
Entah penting atau tidak, entah berarti atau tidak. Saya hanya bisa mengatakan bahwa namamu sudah tercetak di salah satu dinding hati saya. Dan itu penting serta berarti untuk saya.


miss you, fajr.
*kisshug

Selasa, 03 Desember 2013

Tentangmu, sang fajar (2)



Saya percaya yang mereka katakan bahwa wanita jatuh cinta dengan telinganya. Mendengar suara yang sekiranya mampu mendamaikan hatinya. Suara yang mampu membuatnya sulit mengatakan apa yang sudah ada di dalam kepalanya. Bagaimana seorang wanita memandang pria yang bahkan tidak pernah bertemu secara fisik, tidak pernah bertatap muka, dan tidak pernah merasakan sentuhan meski hanya sekedar menggenggam tangannya. Tapi selalu berharap suatu waktu akan menatap senja dari satu sudut yang sama.

Saya merindunya. Sesosok pria yang raganya belum saya lihat secara kasat mata. Saya merindunya, sesosok yang mengenalkan saya pada 'fajar'. Ah, saya merindunya..

Apa kabar kamu disana?
Semoga cintamu masih senantiasa merengkuhmu dalam kehangatannya. Mendekapmu dalam manjanya. Meski saya cemburu. tapi saya ikhlas. Bahagiamu adalah seseorang disana. Yang cinta dan sayangnya benar untukmu. Yang menginginkanmu menjadi bagian dari hidupnya. Berbahagialah kamu ~

Saya percaya pada takdir Tuhan. Mungkin cukup sampai disini cerita tentang keakraban kita. Untukmu sang rasaku, berdamailah dengan takdir :) Aku selalu mendoakan yang terbaik .. *love :)

#Now Listening Adeff - Sang Rasa

Jumat, 29 November 2013

Ibu, tersenyumlah..


Perempuan mungil itu menyeka air mata yang mengalir dipipinya. Diusapnya juga buliran air yang menggenang dimata tua ibunya.

"Jangan menangis ibu.. ! Katanya
"Aku bukannya ingin protes, bukan juga ingin merengek. "
"Sungguh, makanan ini lebih dari cukup untukku. Tapi bagaimana dengan ibu.?" tanyanya sendu.

"Sudahlah, jangan kau pikirkn ibu. Pertanyaanmu itu menyakiti hati ibu. Apa kau tau, tak ada ibu yang rela melihat anaknya kelaparan sementara dia menggelinyang karena kekenyangan."
" Aku tau ibu.. maafkan aku.. !"
Mata kecil itu kembali basah. "Aku tak ingin menyakitimu ibu..!"
"Akan ku bungkam air mata ini, akan ku makan hasil jerih payahmu yang teriris oleh letihmu. Yang kau saji dengan sekerat peluh ditubuhmu. Makanan ini lezat ibu, ini lebih dari cukup.. sungguh.."


Perempuan mungil itu kembali menghabiskan sisa sisa nasi dihadapannya. Nasi yang diambil ibunya dari tempat sampah didepan sebuah rumah makan. Nasi yang hambar tak ada rasa.

Kamis, 28 November 2013

Ini Hati..


Awalnya saya masih berpikir kalau mendung tidak berarti hujan. Sehingga saya berinisiatif untuk bepergian tanpa membawa payung. Apa kabar hati hari ini? Ah, lagi-lagi masih sama seperti hari kemarin. Ia masih beku. Masih belum mau melunakkan asanya. Masih bertahan dengan sendirinya. Masih saja ia menikmati masa-masa yang baginya adalah masa yang nyaman ; sendiri.

Lantas bagaimana dengan cinta yang datang menghampiri? Baginya cinta itu pembuktian. Bukan hanya rentetan kata-kata yang romantis. Sayangnya, itu adalah pernyataannya dulu. Sebelum ia begitu jatuh dalam nestapa kehidupan. Sebelum semuanya menjadi abu. Harapan dan mimpinya menjadi debu.

Apa yang dapat saya lakukan? Dengan suasana hati yang semakin hari semakin saya sendiri tidak mengerti. Bukan ingin menutup hati. Tapi saya berpikir belum waktunya saya membuka hati. Luka itu menganga di dasar hati. Ada luka lama yang kembali terkuak dan luka baru di tepiannya. Tidak begitu besar tapi begitu dalam. Dan yang hebatnya lagi, seseorang dimasa lalu sudah memeras asam jeruk nipis diatasnya. Pedih! 

Saya sudah memaafkan. Tapi tidak melupakan. 


The Bad Day..



*Duduk di sebuah pojok didalam kamar*

Lagi-lagi saya hanya bisa menangis. Ya, yang membuat saya menangis bukanlah cibiran orang-orang terhadap saya. Bukannya tentang perkataan seorang anak terkutuk itu. Bukan pula mereka-mereka yang membuat saya emosi berkali-kali lipat. Saya menangis karena saya ingin menangis. *alibi*

Tidak, saya menangis karena kesal. Kesal di buat menunggu. Kesal di perbudak oleh sekelompok kurcaci. Saya kesal! Dari semalam, emosi saya tidak stabil. Untuk para pembaca, saya memiliki kecenderungan bipolar disorder. Sebuah penyakit psikologis dimana penderita mengalami perubahan perasaan yang ekstrim. Saya bisa bahagia sekali, tapi sedetik kemudian saya bisa berubah mood menjadi buruk. Bukan mau saya, hanya saja begitulah yang saya alami.

Saya berterima kasih untuk kedua sahabat kecil saya, Una dan Uni. Si kembar tapi beda. Mereka membantu saya melewati segala macam kejadian di hidup. Dan kepada teman baik yang saya panggil "Ibuq". Saya pernah jauh dengan mereka bertiga. Dan sekarang, semua kembali normal. Tuhan menunjukkan bahwa mereka benar-benar saudara yang baik. Yang tanpa rasa sungkan, melebarkan tangannya untuk memeluk saya kembali. Meski saya pernah salah. Thankyou, mom.. Thankyou my twin sista.. I'm so sorry :')


Untuk keluarga tercinta, dimana lagi saya menemukan kedua orang tua yang luar biasa seperti mereka. Ayah, Ibu, Abang-abang, dan kedua adik perempuan saya. Hari ini yang membuat hari saya buruk seutuhnya adalah tindakan si bungsu yang membuat saya menunggunya. Oke! Kata "sudah" dan "mau" itu BERBEDA! Ketika kalian mengatakan "sudah", berarti kalian sudah mengerjakannya. Sedangkan kata "mau", itu mengartikan kalian baru mau mengerjakannya. PAHAM dek? *elus-elus dada*


Mengidap penyakit tersebut tidak mudah. Dulu, saya tidak peduli dengan perasaan orang lain. Kalau mood saya buruk, saya akan marah ketika ada yang berbicara menyinggung. Tapi sekarang, saya merasa sudah mampu mengontrol dengan baik. Meski kadang-kadang kecolongan. Seperti hari ini. Ah, untuk para karyawanku, saya minta maaf. Hari ini kalian harus menerima kemarahan saya yang tidak beralasan itu. Tidak bermaksud, tapi semoga kalian paham. 

Hari ini memang buruk. Mengapa demikian? Karena begitulah adanya. Dari terbit fajar, saya sudah mengalami mood low. Ditambah lagi dengan teman kampus yang Subhanallah menguji iman sekali. Iya, mereka bercanda. Tapi saya kecewa dengan wanita-wanita yang mengenakan pakaian syar'i itu. Pakaian untuk wanita muslim yang jilbabnya sampai ke kaki. Baiklah, saya memang pengguna hijab. Tapi tidak syar'i. Akan tiba masa dimana saya memakai jilbab syar'i tersebut. Tidak bisakah kalian para pengguna jilbab syar'i untuk tidak menghakimi orang lain? Seolah kalian sudah teramat bersih. Tidak perlu rasis! Tidak ada yang membedakan kita kecuali amalan. Apa kalian sudah merasa amalan kalian sudah banyak? Sehingga memandang miring kepada kami yang jilbabnya belum syar'i? 

Saya kecewa. kalian memalukan! catat! KALIAN MEMALUKAN! Jadilah muslimah yang baik. Yang tidak perlu menganggap diri sudah terlalu bersih. Oke, ini saya tujukan untuk rekan-rekan dikampus saya. Tapi tidak memungkiri, untuk semua manusia, kalian belajar. BELAJAR UNTUK MENGHARGAI ORANG LAIN!
Kalau tidak ada kami yang HITAM bagaimana bisa kalian menyebut diri kalian PUTIH?
Kalau tidak ada kami yang HINA bagaimana bisa kalian menyebut diri kalian SUCI?

*nengguk air putih* *kalem*



Pagi tadi saya menuju kantin. Saya melihat sekelompok teman-teman saya (yang berpakaian syar'i) duduk disana. Saya menyapa dan duduk disebelah salah satunya. Baru saja teh manis dingin pesanan saya tiba, salah satu dari mereka (sebua aja namanya Lala) bericara kepada saya, "Duh dek, disini ini semua jilbabnya syar'i lho. Kamu ga malu?". Saya diam, kaget. Seharusnya, orang-orang yang paham agama selalu tahu bagaimana menegur orang lain tanpa membuat orang lain tersinggung. Dan apa yang terjadi? Benar, saya emosi! Saya menyiramnya dengan air pesanan saya tadi.

Semua kaget dan berteriak. Emosi saya masih membludak. Saya mendekat ke arahnya dan menamparnya dua kali. Kemudian saya pergi. Sampai ke depan pintu kantin, saya masih belum puas. Dia beruntung. Lala, kau beruntung :) Karena Allah-ku masih baik. Bayangan wajah Ayah saya muncul di benak. Dan saya balik ke arah Lala yang sudah menangis. Saya menatap ke arahnya. Semua rekannya menghindar. 
Saya menarik nafas dalam-dalam dan berjongkok di hadapan Lala, dan tersenyum seraya mengatakan "Kau itu cuma seorang yang baru masuk islam kemarin. Jaga ucapanmu. Beruntung mulutmu tidak aku sobek."
Lala semakin terisak. Saya menatap ke arah teman-temannya. Mereka menatap ngeri ke arah saya. Dan saya pulang.

Bagaimana dengan ujian kampus? Saya meminta kepada dosennya untuk mengikuti ujian susulan. 

Itu adalah cerita bodoh yang saya posting. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa penyakit saya belum sepenuhnya pulih. Dan memang benar, saya belum sepenuhnya pulih. Satu yang pasti, sampai postingan ini saya buat, emosi saya masih tidak stabil. 

Cukup ya.
Selamat magrib untuk wilayah Banda Aceh dan sekitarnya.

Allah, sorry for today.. today is the bad day for me..

Sabtu, 09 November 2013

Dimana asa?


Senja. Hujan. Dan instrument musik.

Paket yang senantiasa mengundang segenap ide-ide dalam kepalaku. Malam ini, dalam keadaan yang sedikit memburuk, sebongkah ide-ide ingin muntah dari dalam kepalaku. 
Tidak begitu penting apa yang aku tulis. Ini hanyalah pemikiran seorang anak manusia yang sedang berjalan mengarah kepada Tuhannya. Dalam belenggu selimut kehidupan yang tipis. Aku melangkah perlahan. Kau tahu? kala angin berhembus, aku takut selimut itu terbang. Dan aku telanjang! Memandangi alam lain. Kematian.

Kalian pernah berpikir? Apa yang akan terjadi 5 detik kemudian? Masihkah kalian bernafas? Aku, ketika mereka semua mengatakan mati suri. Aku merasa aku tertidur cukup pulas tadi siang. Aku bermimpi. Aku berada di antara syurga dan neraka. Dan apa yang terjadi? Pintu syurga tertutup rapat. Tapi aku tidak juga melangkahkan kaki ke arah neraka. Berjarak 2 kilometer dari bibir pintu neraka, aku mendengar teriakan dan jeritan para penghuninya. Dan, aku terbangun ketika adzan ashar berkumandang! Aku tertidur 5 jam tadi siang. Dan hanya memimpikan sepenggal cerita itu. Cerita mimpi yang bahkan durasinya tidak mencapai 5 menit.

Buruk! Mimpi buruk kali ini benar-benar menguras sebagian energi saya.


Pria Di Ujung Senja


Pria itu datang menghampiriku
Mendekapku erat tanpa aku membalas dekapannya
Aku terdiam
Tertegun karena aku hanya mengenal sosoknya
Tanpa tahu seperti apa wajahnya

Silau
Aku menatapnya dari balik siluet merah saga itu

Ia masih mendekapku
Berbisik untuk menanti hadirnya
Semakin ia mengeratkan dekapannya
Semakin aku mati rasa

Tidak
Bukan mati rasa
Tapi sosoknya menghilang ketika aku membuka mata
Bisikannya masih terngiang jelas ditelingaku

Aku akan menantinya
Menanti pria senjaku

Rembulan..


Masih pada malam yang menggelayut sepi
Dengan semburat sinar rembulan bulat penuh
Dan ada lima titik sinar bintang berkelip
Terduduk aku pada keheningan menjemput

Disini..
Ada sebuah hati yang terkoyak
 Tempat semua harapan yang dulu dititipkan
Tak usah kau cemaskan
Aku pasti baik baik saja
Kau pernah menulis dalam selembaran kertas berwarna biru
“Jangan pernah menggantung harapan padaku”
Tapi kau salah, kau bukan lagi harapan ku
Kau adalah hidupku
Meski  kini kau telah buyarkan asaku
Tuhan pasti dengarkan setiap jerit tangisku

Kini bersama terang bulan bulat penuh
Kembali aku mengurai kumpulan cerita
Menghitung helai demi helai lembaran kertas luka yang mengering
Bersama tapak batas anganku
Aku percaya
Kekasih akan kembali membingkai rindu
Jadi..
Berhentilah jika kau lelah
Dalam kepenatanmu aku hadir dengan cahaya
Yang menantimu dipersimpangan jalan
Tempat mengistirahatkan tubuh penatmu
Bersama bulan bulat penuh
Aku menanti waktu itu

Dia..


Dia pengecut!
Pecundang yang hanya berani berkoar-koar dari bawah ketiak orang lain. Hina rasanya, tapi ia terlalu bangga dengan ke-pecundang-annya tersebut.
Ingin tertawa ketika dia merasa dia mampu menaklukkan kehidupan. Dia lupa kalau didalam hidup ini manusia hanyalah tokoh. Sedang sutradara adalah Tuhan.


Jumat, 08 November 2013

Ini cinta?


Selamat malam hati yang sedang dilema..

Apa saya salah? Saya bahkan tidak tahu kapan segalanya bermula. Ini hanya awal dimana saya nyaman menceritakan apapun padanya sampai pada satu titik saya merasa kehilangan jika dia tidak datang menyapa. Apa saya salah? Apa saya harus membunuh rasa ini? 

Fajar..




untuk sebuah sajak yang telah tercipta

dan mengetuk ujung jari untuk menulisnya
tapi apa daya, jika ternyata detik tak terasa telah terganti
dari mulai merah saga senja menyala
meredup perlahan membentuk malam
hingga gelap terus meradang
meninggalkan sisa basah bulir bulir hujan

aku tetap disini
berkutat pada tumpukan kata kata
tak beranjak sedikitpun
meski suara jangkrik malam bersahut sahut menyapa
meski suara desiran angin kian mendesah
menyisakan dingin kelam menusuk tulang

aku tak ingin beranjak
hingga nanti bertemu asa yang membawaku ke kahyangan
hingga nanti tiba kau terlelap
saat kau temukan aku..
lihatlah aku masih disini
menunggu fajarmu

Rabu, 06 November 2013

Love?


Don't cry because it's over, smile because it happened-- Dr. Seuss


Malam saat aku merasa bahwa tak ada bintang yang setia menemaniku seperti biasa, namun kini aku menemukan banyak bintang disetiap gurauan sahabat-sahabatku.
Lalu, saat fajar menjemput pagi, aku tergugu saat berpikir bahwa pagi tak akan cerah tanpamu. Namun ternyata pagi akan selalu bersinar meski tak ada kau yang menjadi mentarinya.

Kemudian, saat senja merah saga itu beranjak meninggalkan matahari yang perlahan meredup. Aku masih bisa tersenyum, masih bisa berharap bahwa suatu saat, saat semua siklus waktu ini berputar kembali, aku takkan lagi berada disudut kamar gelap itu, mengurai air mata untuk menangisi seorang "kau".
Dan saat semua itu berlalu, aku ingin semua kepedihan itu tak lagi menjadi kebencian. Tapi dia adalah kenangan. Meski tak indah tapi aku pernah bahagia. Meski sesaat.
Aku tidak menyalahkan siapapun. Karena memang mauku yang terjerat dalam lingkar yang menyesatkan itu. Sekali lagi aku harus bangkit dan keluar dari gelapnya ruang yang tak memiliki jendela itu. Apa aku harus mengatakan bahwa aku sudah muak dengan kata "cinta"? Ah, tidak. Terlalu naif jika aku mengatakan hal itu. Aku tidak mencari cinta. Yang aku cari adalah bahagia dan rasa nyaman.

Rasanya terlalu bodoh jika aku harus berkorban (lagi) demi cinta. Hahaha ! True love is bullshit !!

Seseorang pernah bilang, love is fight. Cinta adalah perang menaklukkan hati wanita. Setelah hatinya kau dapatkan, lalu kau tinggalkan begitu saja, berharap siwanita akan memburumu hingga kau merasa bahwa kau adalah segalanya buat mereka.

Aku dulu pernah mengejek soal ini. Dan mungkin aku satu satunya wanita yang sulit untuk di taklukkan. Tapi itulah kesombonganku. Tanpa sadar, secara pelan dan perlahan aku mulai jatuh dalam siklus cinta yang agungg. Ia menenggelamkan aku kedasar jurang terdalam hingga aku sulit menemukan jalan keluar buat diriku sendiri. Aku seperti terhipnotis oleh daya tarik cinta. Dan tanpa sadar aku tak menyisakan sedikit hati meski itu untukku sendiri.

Cerpen; Ayla..



"Udah selesai makannya ?" Aldin mengelus lembut rambut wanita yang paling dikasihinya itu.

"Hm udah. Kamu gak sarapan ?" Ayla, wanita yang disapanya itu tersenyum manis.

"Gak, aku lagi ada rapat nanti jam 9. Takut gak keburu."

"Loh, kamu kan udah janji hari ini adalah hari khusus buatku. Gak ada alesan kerja deh." Bibir Ayla  manyun.

Aldin tergelak. 

"Kalo kamu manyun gitu ntar aku tambah cinta loh." Rayunya

"Gak usah gombal deh !"

"Iya.. iya maaf.. Hm gini aja. Aku rapatnya gak lama kok. Kamu siap siap aja dulu  ya. Nanti selesai rapat aku jemput. Kita pergi kemana aja kamu mau. Ok sayang ?" 

"Ya deh.. janji ya sayang.. aku kan kangeeeeen ."

"Iyaaaa.. dasar manja..." Ucapnya sambil menjentik mesra hidup wanita terkasihnya ini.
"Ya udah aku berangkat ya.  Love you !"

"Hu um.. Love you too !"

***

"Istrimu tahu kamu kemari ?" Nina memeluk mesra pria berdasi dihadapannya. Lucu rasanya, hari ini adalah hari Sabtu. Hari libur kerja. Tapi karena alasan rapat di kantor, pria itu harus dandan rapi lengkap dengan baret dasi dan jas hitam kesukaannya.

"Aku gak bisa lama-lama. Ayla minta ditemenin seharian. Kamu gak pa pa kan ? Besok aku kemari lagi ?" 

"Iya gak pa pa " Nina tersenyum kecut.  "Sampai kapan harus sembunyi-sembunyi begini.."  Keluhnya.

Pria berdasi itu Aldin. Pria yang dikenalnya dari sahabat dekatnya Ayla. Dan karena alasan persahabatan jugalah, dia menerima pria itu menjadi suaminya. Yaaa.. Nina adalah istri simpanan. Sebutan memalukan buat wanita-wanita perebut suami orang. Tapi ini demi persahabatan. Nina merelakan rahimnya ditumbuhi janin Aldin demi memberi mereka, kedua sahabatnya itu seorang anak. Karena Ayla tidak bisa hamil. Dia divonis mandul oleh dokter.

"Aku mencintaimu " Aldin mencium kening Nina. Memeluknya dengan penuh cinta. Bagaimanapun wanita ini telah banyak berkorban untuknya dan Ayla. Entah bagaimana dia bisa membalas kebaikan hati sahabatnya ini. 

Nina pernah meminta cerai padanya setelah janin yang dikandungnya lahir. Tapi Aldin menolak. Tak tega rasanya menceraikan wanita baik seperti Nina. Nina yang lembut, penyayang, perhatian dan tidak manja. Bukannya dia tidak bersyukur beristrikan Ayla. Tapi dibandingkan Nina, Ayla lebih manja dan lebih penuntut.

"Kamu masak apa hari ini ? Aku lapar !" Aldin berjalan menuju dapur. Semenjak menikah siri dengan Nina, masakan Nina adalah menu favoritnya. Tidak ada restoran lain yang dituju buat makan siang kecuali rumah Nina.

"Aku masak Sop Buntut kesukaan kamu, lengkap dengan sambel kecap dan terasinya. Aku ambilin ya ?" Nina segera berbenah. Melayani suaminya yang datang hanya beberapa menit adalah hal yang paling berharga buatnya. Dia tidak akan menyia_nyiakan kesempatan itu. Membuat Aldin nyaman berada disisinya adalah prioritasnya. Bukannya dia ingin mengalihkan perhatian Aldin kepadanya, tapi cuma itu yang bisa dia lakukan agar Aldin betah berada didekatnya.


***

Ting. Tong

Bunyi Bel rumah berdentang beberapa kali. Nina berlari menuju depan. 
"Ayla ?"

"Hai Nin !" Ayla tersenyum lebar. Memeluk sahabat terbaiknya.
"Aku kangeeeen !"

Nina tersenyum kecut. Wajahnya pias. Kenapa Ayla datang justru saat ada Aldin dirumah.

"Kok diam aja. Aku gak disuruh masuk nih !"

"Eh ya.. masuk Ay. Tumben datang gak ngabarin dulu !"

"Kejutan aja. Mas Aldin disini kan ? Aku mau ketemu !" Ayla tersenyum.

"Ayla.." Nina merasakan pipinya memerah. 

Aldin yang baru saja selesai makan tiba tiba keluar.

"Ayla ? Kamu ?"

"Mas. kamu kesini kok gak ngabarin aku." Ayla tersenyum menghampiri suaminya.
"Aku.. maaf..!" Aldin tertunduk dengan rasa bersalah yang luar biasa.
"Aku tahu, anak kita yang kamu bilang hasil dari adopsi itu adalah anak Nina kan ? Aku melihat kemiripan diantara mereka mas. Aku melakukan test DNA tanpa seizinmu. Maaf.."

"Ayla, bagaimana kamu bisa test DNA ?" tanya Nina

"Ingatkan, aku pernah mengajakmu kesalon dua minggu yang lalu ?"
Nina menganggukkan kepala.
"Aku mengambil beberapa helai rambutmu. Dari hasil test DNA aku tahu, bayi itu anakmu. Tapi waktu itu aku gak tau siapa Bapaknya. Kamu kan belum menikah."
"Maaf ya Nin, dua minggu belakangan ini aku memata-matai rumahmu. Dan herannya, setiap jam makan siang mas Aldin gak pernah lagi pulang kerumah. Mungkin karena masakanmu lebih enak dari masakanku. Atau karena hanya pada saat itu mas Aldin bisa menemuimu. Istri Mudanya."

"Maafkan aku Ay. Aku gak bermaksud.." Nina menangis. Bagaimanapun, menikahi mas Aldin adalah kesalahan. Dia telah mengkhianati sahabatnya sendiri.

Ayla memeluk sahabatnya dengan penuh cinta.

"Harusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih sudah mengorbankan hidupmu untukku dan mas Aldin. Mungkin memiliki madu dalam rumah tangga adalah hal yang paling menyakitkan. Tapi jika maduku adalah kamu, sahabat yang paling aku sayang, bagaimana aku bisa sakit hati. Aku justru bersyukur. Sudah ya jangan nangis lagi !" Ayla mengelus-elus punggung sahabatnya. Bukan hanya untuk menghibur sahabatnya tapi juga menguatkan hatinya. 

Ayla sadar diri. Kekurangan yang paling fatal pada wanita ada didirinya. Dia sangat bersyukur Aldin tidak meninggalkannya. Biarpun bermadu sahabatnya membuat hatinya sakit, hatinya harus kuat menjalani.  Bukankah rumah tangga yang bahagia tidak selalu ada tawa. Tapi juga air mata. Jadi ya sudahlah. Tekadnya  sudah bulat. Saat ini adalah kesempatan untuk membalas kebaikan orang yang telah mengasihinya dengan tulus. Walaupun harus mengorbankan hatinya.


Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Pengorbanan cinta yang agung
Kupertaruhkan..

~Rossa-Ayat ayat Cinta~

Jumat, 11 Oktober 2013

Pagiku, kamu :)


Ini tentang kamu. Yang diam-diam kutulis ceritamu dalam ruang hatiku. Aku menyusun tiap kalimat menjadi sajak yang indah. Hal itu agar suatu saat ketika aku merindumu, aku ingin merindumu dengan indah. Permisi, hati. Apakah Tuanmu berkenan jika aku menulis namanya dalam hatiku? Ah, aku ingin sekali berharap lebih. Tapi aku tidak ingin berangan terlalu jauh.

Sudah beberapa waktu yang aku lewati tanpa melihat wajahmu. Ini seperti rindu yang Tuannya entah sedang dimana.

Aku ingin merengkuh raganya dalam pekat malam. Berdiri di tepian pantai dengan menatap senja dari tempat yang sama dengannya. Bersandar di peluknya ketika aku rapuh. Apa yang kusuka? Ya, ketika aku lemah ia seakan merentangkan kedua tangannya. Menuntutku untuk jatuh di pelukannya. Sayang, jarak antara dia dan aku terpisah ribuan kilometer.

Dia mengajariku bagaimana bermimpi dengan baik. Dia mengajariku bagaimana mewujudkan mimpi-mimpiku.

Kamu, terima kasih. Sayang ini untukmu. Cinta ini milikmu.
Berdirilah disisianku. Kita lewati setiap musim bersama-sama :)
Padamu, Hati.
Aku menempatkan Tuanmu di singgasananya yang agung.
:)