Kamis, 06 September 2012

Red, Si Cantik Merah..

Merah itu, berani.
Merah itu, tegar.
Merah itu, cantik.
Merah itu, Saya.

Tepat dihadapan saya terdapat seorang anak kecil yang sedang belajar. Didepannya ada seorang pengajar berusia muda. Disamping kiri saya, juga terdapat anak usia TK yang sedang belajar. Dihadapannya juga duduk seorang pengajar berusia tidak jauh dengan saya. Disamping kanan saya, terletak sebuah handphone mungil dengan casing berwarna merah. Tak ada balasan untuk pesan singkat saya yang terakhir. Apa yang sedang kamu kerjakan? Kenapa tidak membalas pesan saya?

Dalam semenit, saya memandang ponsel saya setiap detik. Padahal tidak perlu di lihat, ketika ada pesan singkat masuk, ia juga akan berdering. Saya sudah mengaktifkan profil dengan nada paling keras. Tapi lagi-lagi, kecemasan tentangmu yang membuat saya melihat ponsel setiap waktunya.

Sepertinya saya memang harus benar-benar belajar mempercayaimu.
Sulit memang, tapi ini harus demi kelanjutan kita.
Saya demikian karena terlalu takut kehilanganmu. Tapi sudahlah, mungkin ini hanya perasaan saya yang terlalu merasa memilikimu. Tidak apa, saya hanya butuh waktu untuk bisa menjadi baik.


#Now Listening Lenka - Blinded By Love



Kulihat Kurasa Kudengar

Yang aku tahu, cinta itu adalah aku didalam kamu. 
Dan kamu di dalam aku. Hingga akhirnya menjadi KITA

Bila aku tidak menanyakan keberadaanmu, bukan aku tidak menyayangimu lagi. 
Tapi aku hanya sedang belajar memberimu kepercayaan.
Kamu akan menganggapnya seperti aku mengajarimu untuk hidup sendiri. Kamu salah, aku demikian untuk kita. 
Untuk menjaga agar kita tetap satu meski jarak membentang jutaan ribu kaki.

Ya, banyak yang kamu suka dan aku tak suka.
Banyak yang aku anggap benar, tapi salah dimatamu.
Dan sekali aku berpikir, hal itulah yang semakin membuat kita menyatu. 

Perbedaan.
Dengan perbedaan kita belajar melihat sesuatu dari sisi lain.
Dengan perbedaan kita belajar untuk merasakan sesuatu yang lain.
Dengan perbedaan kita belajar mendengar tidak hanya pada satu titik.

Dan aku mengerti, mengapa aku mencintai pelangi. Karena banyak warna disana.
Kamu tahu, aku suka sesuatu yang berwarna.
Tidak menuntutku untuk hanya mencintai sehelai merah atau sehelai hijau.

Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranku saat ini.
Tapi kupastikan, aku tidak suka bila kau beranjak dari sisiku. Aku tidak suka bila kau menyukai wanita lain. Aku tidak suka bila kau meninggalkanku sendiri, Aku tidak ingin bila aku merindukan pria lain selain dirimu. 

Aku melihat, bulir-bulir debu yang berterbangan itu merupakan buliran cinta.
Aku merasa, sentuhan angin itu merupakan sentuhan kenangan.
Aku mendengar, rintik hujan yang jatuh menggempur bumi itu merupakan musik untuk tarian rindu.


Inikah cinta?
Yang hanya dapat kurasa tanpa bisa kudengar dan melihatnya?


Aku ragu, apakah ini benar cinta?
Sudahlah..
Banyak yang kucintai di hidup ini. Tidak hanya dirimu. Tapi kamu harus tahu, aku tidak bisa hidup jika tanpamu.

** Aku menulis ini karena hati dan pikiranku yang menuntut. Bukan karena merayu. Bukan pula karena apa yang ingin kamu baca. Ini sungguh dari dalam hati.


#Now Listening Mariah Carey - Hero

Under The Rain, I'm Crying About Us

Sedalam apapun kamu menyimpan masa lalu, sesekali ia pasti akan kamu rindukan.

Saya berdiri disini. Berharap kamu melihat bahwa ada saya yang kini siap menerjang badai bersamamu.
Saya berdiri disini. Berharap kamu sadar bahwa saya hidup karena kamu.
Saya berdiri disini. Berharap kamu mengerti bahwa jiwa saya sudah bersamamu.
Saya berdiri disini. Untuk cinta dan kasih yang saya miliki. Dan itu hanya untukmu.

Kamu, seseorang yang mengangkat saya dari lubang ketidakpercayaan saya atas nama cinta.
Kamu, seseorang yang menyadarkan saya bahwa cinta itu putih.
Kamu, seseorang yang membuat saya mengerti bahwa masa lalu itu biarkan menjadi kenangan.
Kamu, seseorang yang saya cintai dengan hati.

Saya tidak pernah memaksa kamu merasakan apa yang saya rasa. Saya hanya ingin kamu mengerti bahwa kini ada saya di sisimu. Saya yang senantiasa menjadi tempatmu berbagi suka dan duka. Saya yang selalu ingin kamu perhatikan dengan baik.

Ini karena sifat saya yang pencemburu. Saya hanya terlalu takut, seseorang yang telah menyadarkan saya tentang hidup dan cinta jatuh ke pelukan betina lain. Saya hanya terlalu egois, tidak ingin mereka lain mendapatkan perhatian darimu. Saya hanya ingin kamu menjadi milik saya satu-satunya. Tapi, saya cemburu dengan dia yang ada di masa lalu mu.
Dia yang kamu cintai dengan tulusnya hatimu. Dia yang kamu sayangi (mungkin) sampai detik ini. Dia yang jaraknya lebih dekat denganmu daripada saya. 

Saya selalu merasa kamu juga miliknya. Dia dengan sekenanya datang padamu dan kamu masih mempedulikannya dengan baik. Dia yang kamu hadapi dengan tenang dan sabarmu. Dia yang pandai menarik hatimu meski kamu (mungkin) sudah tak sudi. Saya cemburu dengan dia.

Sempat berpikir, kenapa tidak kamu katakan pada dia bahwa saya tidak menyukai kalian berhubungan baik. Tapi saya merasa bodoh. Sempat terlintas, jika kamu tidak sanggup mengatakan demikian, mengapa tidak kamu katakan bahwa saya tidak menyukai dia dekat denganmu. Tapi saya rasa itu hanya khayalan. Kamu akan lebih tetap menghargai perasaannya daripada menjaga perasaan saya.

Bahkan dengan egoisnya saya sempat ingin mendatanginya dan berkata untuk tidak lagi mendekatkan dirinya padamu, tapi saya takut. Kamu akan marah besar dan meninggalkan saya. Terlebih saya merasa itu tidak pantas. Biarlah, kini saya mencoba untuk menerima takdir. Mungkin kamu memang lebih menjaga perasaannya. Tidak mengapa, saya hanya butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan.
Menerima bahwa dia terlalu indah untuk kamu tinggalkan.
^_^


Rabu, 05 September 2012

Waktu..

"Walau seremuk apa hati dilukai, bentuklah kembali ia.
Dan serahkan pada Illahi rabb."

Saya kembali menghitung waktu. Kembali mereka ulang kapan terakhir kali saya bersimpuh di hadapanNya. Kembali mengingat kapan terakhir kali saya mengadu masalah saya padaNya.
Dan yang muncul adalah, slide-slide dimana saya menggerutu tentang hidup saya yang tidak adil.
Tuhan, sudah sehina apa saya dimata Mu?
Jangankan untuk merengkuh bahagia dalam syurgaMu.
Mencium aroma syurgaMu pun saya merasa tidak pantas.

Saya merasa benar. Untuk episode kali ini saya merasa skenario ini tidak disutradarai dengan baik.
Hati saya yang benar-benar telah diremukkan oleh 'keadaan', membuat saya semakin merasa "hidup ini indah, kawan! nikmatilah meski kau sudah tak ada hati!".
Jiwa saya yang sudah ditenggelamkan di lautan dasar, memberikan saya sugesti bahwa "hidup akan segera berakhir".

Tuhan,
Sesungguhnya, hidup yang berkah itu adalah hidup yang ada campur tanganMu.
Cinta yang suci itu, adalah cinta yang memang Engkau sirami dengan kasihMu.
Saya hanya terlalu naif.
InsanMu yang terhina.
Tuhan, rindukan saya..

Saya.. Ini Karena Saya..

Bukan saya tidak mengkhawatirkanmu.
Saya hanya tengah belajar mempercayai kamu. ^_^

Saya rasa, akhir-akhir ini hanya perasaan ragu yang menyelimuti hati. Tidak.. tidak.. ini lebih kepada cemburu. Mungkin karena jarak yang menjadi satu-satunya penghalang kita dalam terminal jumpa. Yah, jarak kita yang terlalu jauh, sehingga bisa saja sewaktu-waktu kamu merasa sepi dan mencari damai di semenanjung pelukan lain. Ah, itu cuma pikiran bodoh saya saja. 

Ketika saya tahu, jarakmu dengan teman masa lalumu begitu dekat. Kekhawatiran saya semakin  menggunung. Saya terlalu merasa memilikimu. Maaf. Mungkin salah. Tapi kamu harus mengerti, saya pernah dikecewakan karena terlalu percaya. ^_^

Saya melihat kamu yang selalu saja membuat saya kesal. Entah karena sikapmu yang terlalu membatasi. Entah karena saya yang terbiasa hidup bebas. Tidak, bukan saya bila selalu mencari salah orang lain.
Seseorang di masa lalu pernah berkata : "sebelum melihat salah orang lain, teliti diri sendiri. Karena setiap perbuatan yang mereka lakukan berdasarkan tindakan kita sebelumnya."

Mungkin saja benar.
Saya yang terlalu pencemburu.
Saya yang kerapkali bertingkah hingga membuatmu bingung.
Saya yang selalu mengganggu kamu.
Saya yang tidak pernah mengerti, bahwa kamu benar mencintai saya.
Saya yang bodoh !

Di lekukan perjalanan menuju akhir. Saya masih berjalan dengan gontai. Saya lemah. Jiwa saya sebenarnya sudah tidak menyatu dalam tubuh ini. Tapi saya bisa apa?
Selain terus berjalan, hingga mencapai akhir.
Semoga saya mampu..
Bismillah ~

What Can I do ?

Saya marah. Pada keadaan yang selalu mencengkeram saya dalam biduk perselisihan. Ini bukan mengapa semua terjadi, tapi lebih kepada mengapa tidak bisa dihindari? Ketika saya menghindar ke kiri, sabitan dari kiri menyayat lengan kiri saya. 
Ketika saya menghindar kekanan, cambukannya membekas di lengan kanan. Lantas? Hendak menghindar kemana? Sedang didepan saya terdapat seribu bala tentara dosa. 
Dan di belakang saya terdapat 1001 senjata yang siap mengeluarkan si mungil peluru jika saya melangkah mundur walau hanya setengah langkah. Ini jebakan ! Yaa, saya rasa ini jebakan..

Saya cemburu. Pada waktu yang selalu ada untuk mereka diluar sana. Mereka yang tidak terkurung dalam jarak. Mereka yang senantiasa dapat saling menatap kala rindu. Mereka yang menjaga cintanya dalam kasih putih. 

Apa yang bisa saya lakukan? Pemberontakan batin ini benar-benar mengguncang dunia saya. Terjebak antara harus mengakhiri atau di akhiri. Pilihan yang memiliki keputusan yang sama. Yaa, berakhir. Tapi keduanya memiliki jalan yang berbeda. Yang pertama, akan terasa sakit diawal. Sedangkan yang kedua, rasa sakit akan berbekas hingga akhir.
:(

Quotes Ayla

Wanita tegar itu, cantik.

Tuhan memberikanmu kesempatan untuk bahagia. Maka, berbahagialah !

Ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan.

Daripada menuntut seseorang menjadi baik. Perbaiki diri sendiri dulu. Itu jauh lebih baik.

Kamu harus tahu, cinta itu ketika sama-sama saling mempertahankan.

Percayalah, diberikannya kesabaran tanpa batas. Bukan berarti kamu bisa semena-mena terhadap perasaan saya. Saya hanya sedang di uji seberapa kuat saya melawan lelah.

Sabar itu batasannya langit. Dimana berarti tidak berbatas. Sedangkan lelah memiliki puncak akhir. 

Yang saya takutkan bukan waktu dimana kita berpisah dengan tanpa pamit. Melainkan rasa saya telah hilang karena sikap burukmu.

Ketika kita sama-sama belajar, disitulah kita sama-sama tahu. 

Saya cantik, karena saya mencintaimu tanpa titik.

Tersenyumlah, senyum mampu memberikanmu energi yang baik saat kamu merasa kalah.

Ayolah, di titik mana kita akan bertemu? tanpa saling merindu? Jika hal demikian masih saja menjadi warna dalam KITA.

Siapa saja yang sangat mencintai, jika tidak dihargai dan disakiti, akan pudar warna cintanya.

Saat pengertian harus dibeli, saat itulah saya menantimu dalam diam.

Kamu pergi? Jangan lupa, ada seseorang yang hidupnya sudah padamu yang menantimu dirumah.





Aku Salah..

Aku bahkan tidak tahu lagi seperti apa menangis. 
Menjatuhkan linangan air mata di pipi.
 Merasakan sakit dan perih dalam hati. 

Aku lupa, lupa seperti apa sudah rasa sakitku. 
Engkau mengapa tidak membuat luka baru saja? 
Mengapa harus menorehkan luka diatas luka lamaku?

Dan tidak hanya itu, Engkau pun menaburkan asam di atasnya.

Kau hebat ! 

Caramu sempurna untuk membuatku benar-benar merasa tidak berarti. 
Kutanamkan harapan padamu, brharap kelak akan kita tuai bersama mimpi indah kita. 
Dan pada akhirnya aku tahu, aku menanam harapan pada orang yang benar-benar menginginkan melihatku hancur.

Ahh ! semoga surga tidak pernah menutup pintunya untuk kita.


Dunia anak, 3 september 20112

ME JI KU HI BI NI U

Aku mencintai pelangi. Ada banyak warna disana.
Aku mencintai senja. Ia indah namun hanya beberapa manusia yang paham akan keindahannya.
Aku mencintaimu, tidak begitu dalam. Tapi tanpamu, hidupku tidak begitu berarti.

Setiap hujan turun, aku selalu berharap dapat melihat pelangi.
Setiap penghujung akhir, aku selalu menantikan senjaku yang indah,
Setiap waktu, kupastikan rinduku tertuju untukmu. HANYA untukmu !

Merah, aku melihat jiwaku yang membara ketika rindumu menyala.
Jingga, warna senja yang selalu ingin kulihat berdua denganmu, kelak.
Kuning, cahaya matahari pagi yang senantiasa menghangatkan rindu dan cinta kita.
Hijau, kau tahu? Aku merasa damai setiap kali memandang warna ini.
Biru, langit.. disanalah pelangi ku bersemayam..
Nila, warna ini begitu menyalakan nuansa romantis. dan..
Ungu, hariku indah setiap kali rindumu mekar..

Warna.
Aku menyukai banyak warna.
Itulah kenapa pelangi menjadi bagian dariku.
Aku ingin menjadi pelangi, cantik, penuh warna. Tapi tidak mungkin..
Biarlah pelangi menyatu dalam batinku.
Biarlah aku menjelma menjadi pelangi di dimensi waktu lain.

Kelak, ketika aku tak lagi di sini.
Tidak lagi menemanimu dalam sepi.
Pandanglah aku di langit biru..
Akulah pelangi..
Pelangi hatimu..
^_^

You Are My Everything

Pagi tadi, aku dibangunkan oleh lantunan suara merdu malaikatku di bumi. Tuhan, ciptaanMu sangatlah sempurna. Teriakannya, nada kekhawatirannya, selalu mampu membangkitkan rasa rindu ku saat jarak menjadi penghalang pertemuan.

Ibu..
Kasihmu sepanjang masa..

Terdengar suara ketukan pintu kamarku saat aku sedang membereskan tempat tidur. Aku membuka pintu, dan kulihat sosok wanita yang menjadi panutanku. Yes, she is my mother !!
"kamu mau sarapan apa pagi ini?" tanya Ibu.
"apa saja, Bu" Jawabku. Ibu pun meninggalkanku yang hendak bergegas mandi.

Selesai mandi, ibu kembali mengetuk pintu kamarku. "Ini ibu buatkan untukmu. Kamu pasti sudah lama menginginkannya." Kata Ibu. Aku melihat semangkuk indomie rasa soto ayam. Cita rasa yang selalu saja membuat produksi liurku merajalela. Ahh, ibu.. 


"Apa tidak apa-apa, Bu?" Tanyaku. Aku bukan takut migrainku kambuh jika memakannya, terlebih aku takut melihat wajah ibu yang pucat pasi setiap kali aku tergeletak lemah jika migrainku kambuh. 
"Ibu membuatnya dengan cinta, makan saja, InsyaAllah menjadi penyembuh untukmu.." Katanya.

Aku tersenyum, dan langsung menikmati mie buatan ibu.
Dengan bumbu dan proses pembuatan yang sama, tapi tetap saja, buatan Ibu paling lezat rasanya..
^_^


***

Dulu, aku bahkan tidak berhubungan baik dengan Ibu. Beberapa hal kerapkali menjadi pencetus perselisihpaham antara aku dan Ibu. Hingga semakin beranjak dewasa, aku tahu, beliau demikian karena merasa aku tidak lama lagi hidup bersamanya. 

Ibu, ikhwan baik kiriman Tuhan yang selalu pantas untuk mendampingi anakmu ini.

^_^
Semoga Tuhan mengirimnya disaat yang tepat.

Saat dimana engkau sudah mengikhlaskan aku hidup jauh di perantauan :)

Minggu, 02 September 2012

Berikan Aku Jawaban..

Geram? Marah? Kesal?
Selain itu, apalagi yang ingin dilampiaskan?
Keluarkan saja, kau harus tahu aku tidak akan beranjak meski kau berbuat demikian.
Satu-satunya yang membuatku mengalah dan pergi, adalah ketika ada seseorang yang memiliki cinta dan sabarnya melebihiku.
InsyaAllah aku akan ikhlas..
^_^

Jika mereka berkata, sudah hancur, aku mengatakan hatiku remuk.
Aku melakukan apa saja yang kau hendaki.
Aku meninggalkan orang-orang yg pernah ada saat aku terjatuh, demi mu !
Aku menjaga hubungan dengan lingkunganku, demi menjaga perasaanmu.
Aku melakukan apa saja, demi bisa selalu bersama mu.
Aku demi kamu.
Kamu ??

Ketika aku merasa lelah, engkau bahkan ikut membuatku merasa sangat tidak berdaya.
Aku mengeluh?
Ketika aku benar-benar butuh istirahat, karena kebiasaan buruk membuat kondisi ku drop.
Engkau ingin ku temani.
Aku mengeluh?
Ketika seluruh beban di tumpuk padaku, dan kau dengan tanpa rasa bersalah malah menganggap aku tidak mempedulikanmu.
Aku marah?
Dengan sabar kuberi pengertian, justru engkau semakin memuncak.
Aku marah??



Koetaradja, 1 September 2012

Ketika Kalimat Mereka Membuatku Enggan Memutuskan..

Selain diam, tabah, sabar, dan menanti, aku bisa apa? Yang aku tahu, sesiapapun yang pergi pasti akan pulang.
Aku pun selalu menunggumu pulang.
Yaa, ketika benang yang putus ingin kita sambung, tetap akan menimbulkan sebuat ikatan baru. Luka yang menggores pasti akan meninggalkan bekas. Demikianlah.. Aku..
=')

Sejujurnya, aku benar-benar sudah lemah. Bagaimana tidak, jiwaku sudah engkau hanyutkan di lautan hitam yang letaknya pun aku tak tahu dimana.
Jangankan untuk mengambil kembali. Membayangkan jiwaku kembali saja, tidak sama sekali ! 
Karena aku tahu, itu tidak mungkin.
Semoga ia tenggelam di dasar lautan dan tak ada siapapun yang menjamahnya.
Aku takut, jika ia terbawa arus, terdampar di suatu tempat, diambil oleh seseorang dan ia bisa menjaga dengan baik. Semoga tidak ! Semoga ia tenggelam..

Ketika hati memaksa untuk berkata, "Tuhan.. Aku menyerah !"
Seketika itu pula, untaian kalimat "Wanita Tegar Itu Cantik" muncul di depanku. 
Dan aku merasa malu..

Malu pada mereka yang dengan lantangnya mengatakan, "Kau hebat, Ayla !", "Kau wanita paling sabar yang aku kenali..", "Kau sangat tegar.." Dan lainnya.
Aku malu. Sungguh.
Itulah kenapa sampai sekarang, satu-satunya pegangan yang tidak pernah kulepas, adalah peganganNya.
Aku tahu, Dia tidak akan pernah meninggalkanku..

Allah,
Aku benar-benar membutuhkanMu...


Koetaradja, 1 September 2012

Sabtu, 01 September 2012

Jiwaku Yang Telah Hilang

Siapa aku?
Aku hanyalah seorang manusia yang hidup tanpa jiwa. Kemana jiwaku? Ahh, pertanyaan yang menyesakkan.
Aku memiliki hidup. Hidupku, kuhibahkan pada seseorang.
Aku memiliki jiwa. Jiwaku, kusimpan dalam hidup seseorang.
Aku memiliki hati. Hatiku, telah kuberikan pada seseorang.
Lantas?? Mengapa hidupku tak berjiwa?
Pertanyaan itukah yang menari-nari dalam alam pikiran kalian?

Baiklah,
Aku akan menjawabnya. Dengan satu syarat. Kalian boleh menertawakan kebodohanku. Tapi tidak menertawakan cintaku yang beberapa orang menganggapnya "konyol" !

Jiwaku, ia pergi bersama hidup seseorang. Benar ! Seseorang yang sebelah hatinya ia berikan padaku. Hanya sebelah ??! IYA ! jelas bukan?
Ketika kalian lagi-lagi bertanya, mengapa sebelah? Maaf, untuk kali ini aku enggan menjawab. Sudah terlalu sakit menerima hanya sebelah. Jangan di tambah dengan pertanyaan bodoh itu. Argghht !! Aku benci kenapa harus pertanyaan itu yang terlontar dari bibir kalian !!

Kembali pada kasus utama, sudah demikian usahaku. sudah demikian perjuanganku, tidak pernah terlihat sama sekali.
Hingga tiba hari dimana aku benar-benar ditinggal sendiri.
Hari dimana aku menyerah untuk semuanya.
Ya, hari saat ia menghilang membawa jiwaku yang telah menyatu dalam hidupnya.
Aku sendiri.

Menangis pun, air mataku tak lagi jatuh. Ini bahkan sudah lebih dari sakit. Tuhan, satu-satunya yang aku takutkan telah terjadi. Ia hilang, membawa jiwaku pergi bersamanya, dan aku benar-benar menjalani hidup tanpa jiwaku.
Hidup tanpa rasa khawatir yang berlebihan.
Hidup dengan hidup seadanya.
Hidup dengan raga yang hampa.
Jiwaku telah hilang =')

Aku bisa apa? Ketika ia pulang dengan wajahnya yang teduh. Seseorang yang dulu selalu menemaniku melewati detik waktu. Kini rasaku? Aku bahkan tidak tahu seperti apa rasaku. Aku mencintainya, sungguh. Mencintai orang yang telah menghancurkan jiwaku. Mencintai orang yang mencintaiku sebelah hati. Mencintai orang yang aku mencintainya sampai mati.

Aku mencintainya..