Rabu, 06 November 2013

Cerpen; Ayla..



"Udah selesai makannya ?" Aldin mengelus lembut rambut wanita yang paling dikasihinya itu.

"Hm udah. Kamu gak sarapan ?" Ayla, wanita yang disapanya itu tersenyum manis.

"Gak, aku lagi ada rapat nanti jam 9. Takut gak keburu."

"Loh, kamu kan udah janji hari ini adalah hari khusus buatku. Gak ada alesan kerja deh." Bibir Ayla  manyun.

Aldin tergelak. 

"Kalo kamu manyun gitu ntar aku tambah cinta loh." Rayunya

"Gak usah gombal deh !"

"Iya.. iya maaf.. Hm gini aja. Aku rapatnya gak lama kok. Kamu siap siap aja dulu  ya. Nanti selesai rapat aku jemput. Kita pergi kemana aja kamu mau. Ok sayang ?" 

"Ya deh.. janji ya sayang.. aku kan kangeeeeen ."

"Iyaaaa.. dasar manja..." Ucapnya sambil menjentik mesra hidup wanita terkasihnya ini.
"Ya udah aku berangkat ya.  Love you !"

"Hu um.. Love you too !"

***

"Istrimu tahu kamu kemari ?" Nina memeluk mesra pria berdasi dihadapannya. Lucu rasanya, hari ini adalah hari Sabtu. Hari libur kerja. Tapi karena alasan rapat di kantor, pria itu harus dandan rapi lengkap dengan baret dasi dan jas hitam kesukaannya.

"Aku gak bisa lama-lama. Ayla minta ditemenin seharian. Kamu gak pa pa kan ? Besok aku kemari lagi ?" 

"Iya gak pa pa " Nina tersenyum kecut.  "Sampai kapan harus sembunyi-sembunyi begini.."  Keluhnya.

Pria berdasi itu Aldin. Pria yang dikenalnya dari sahabat dekatnya Ayla. Dan karena alasan persahabatan jugalah, dia menerima pria itu menjadi suaminya. Yaaa.. Nina adalah istri simpanan. Sebutan memalukan buat wanita-wanita perebut suami orang. Tapi ini demi persahabatan. Nina merelakan rahimnya ditumbuhi janin Aldin demi memberi mereka, kedua sahabatnya itu seorang anak. Karena Ayla tidak bisa hamil. Dia divonis mandul oleh dokter.

"Aku mencintaimu " Aldin mencium kening Nina. Memeluknya dengan penuh cinta. Bagaimanapun wanita ini telah banyak berkorban untuknya dan Ayla. Entah bagaimana dia bisa membalas kebaikan hati sahabatnya ini. 

Nina pernah meminta cerai padanya setelah janin yang dikandungnya lahir. Tapi Aldin menolak. Tak tega rasanya menceraikan wanita baik seperti Nina. Nina yang lembut, penyayang, perhatian dan tidak manja. Bukannya dia tidak bersyukur beristrikan Ayla. Tapi dibandingkan Nina, Ayla lebih manja dan lebih penuntut.

"Kamu masak apa hari ini ? Aku lapar !" Aldin berjalan menuju dapur. Semenjak menikah siri dengan Nina, masakan Nina adalah menu favoritnya. Tidak ada restoran lain yang dituju buat makan siang kecuali rumah Nina.

"Aku masak Sop Buntut kesukaan kamu, lengkap dengan sambel kecap dan terasinya. Aku ambilin ya ?" Nina segera berbenah. Melayani suaminya yang datang hanya beberapa menit adalah hal yang paling berharga buatnya. Dia tidak akan menyia_nyiakan kesempatan itu. Membuat Aldin nyaman berada disisinya adalah prioritasnya. Bukannya dia ingin mengalihkan perhatian Aldin kepadanya, tapi cuma itu yang bisa dia lakukan agar Aldin betah berada didekatnya.


***

Ting. Tong

Bunyi Bel rumah berdentang beberapa kali. Nina berlari menuju depan. 
"Ayla ?"

"Hai Nin !" Ayla tersenyum lebar. Memeluk sahabat terbaiknya.
"Aku kangeeeen !"

Nina tersenyum kecut. Wajahnya pias. Kenapa Ayla datang justru saat ada Aldin dirumah.

"Kok diam aja. Aku gak disuruh masuk nih !"

"Eh ya.. masuk Ay. Tumben datang gak ngabarin dulu !"

"Kejutan aja. Mas Aldin disini kan ? Aku mau ketemu !" Ayla tersenyum.

"Ayla.." Nina merasakan pipinya memerah. 

Aldin yang baru saja selesai makan tiba tiba keluar.

"Ayla ? Kamu ?"

"Mas. kamu kesini kok gak ngabarin aku." Ayla tersenyum menghampiri suaminya.
"Aku.. maaf..!" Aldin tertunduk dengan rasa bersalah yang luar biasa.
"Aku tahu, anak kita yang kamu bilang hasil dari adopsi itu adalah anak Nina kan ? Aku melihat kemiripan diantara mereka mas. Aku melakukan test DNA tanpa seizinmu. Maaf.."

"Ayla, bagaimana kamu bisa test DNA ?" tanya Nina

"Ingatkan, aku pernah mengajakmu kesalon dua minggu yang lalu ?"
Nina menganggukkan kepala.
"Aku mengambil beberapa helai rambutmu. Dari hasil test DNA aku tahu, bayi itu anakmu. Tapi waktu itu aku gak tau siapa Bapaknya. Kamu kan belum menikah."
"Maaf ya Nin, dua minggu belakangan ini aku memata-matai rumahmu. Dan herannya, setiap jam makan siang mas Aldin gak pernah lagi pulang kerumah. Mungkin karena masakanmu lebih enak dari masakanku. Atau karena hanya pada saat itu mas Aldin bisa menemuimu. Istri Mudanya."

"Maafkan aku Ay. Aku gak bermaksud.." Nina menangis. Bagaimanapun, menikahi mas Aldin adalah kesalahan. Dia telah mengkhianati sahabatnya sendiri.

Ayla memeluk sahabatnya dengan penuh cinta.

"Harusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih sudah mengorbankan hidupmu untukku dan mas Aldin. Mungkin memiliki madu dalam rumah tangga adalah hal yang paling menyakitkan. Tapi jika maduku adalah kamu, sahabat yang paling aku sayang, bagaimana aku bisa sakit hati. Aku justru bersyukur. Sudah ya jangan nangis lagi !" Ayla mengelus-elus punggung sahabatnya. Bukan hanya untuk menghibur sahabatnya tapi juga menguatkan hatinya. 

Ayla sadar diri. Kekurangan yang paling fatal pada wanita ada didirinya. Dia sangat bersyukur Aldin tidak meninggalkannya. Biarpun bermadu sahabatnya membuat hatinya sakit, hatinya harus kuat menjalani.  Bukankah rumah tangga yang bahagia tidak selalu ada tawa. Tapi juga air mata. Jadi ya sudahlah. Tekadnya  sudah bulat. Saat ini adalah kesempatan untuk membalas kebaikan orang yang telah mengasihinya dengan tulus. Walaupun harus mengorbankan hatinya.


Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Pengorbanan cinta yang agung
Kupertaruhkan..

~Rossa-Ayat ayat Cinta~

0 komentar: