Kamis, 13 Februari 2014

Ayah..


Ayah...
Ku pegang tanganmu yang mulai kasar
Ku tatap wajahmu yang kian lusuh akan pengorbananmu

Ku rangkul bahumu yang terlihat bungkuk demi kami
Ku papah kau sampai ke pembaringan

Ayah…
Kau selalu bercerita tentang kehidupan
Hingga ku dapat belajar dari ceritammu
Kau selalu bercerita tentang perjuangan
Hingga ku menjadi semangat kala mengingat perjuanganmu


Ayah…

Sering kau bisikan kata sayang ketika ku lelah akan hariku
Sering kau memberiku inspirasi dalam meraih cita-cita
Hingga ku tak pupus untuk berlari mengejar cita-cita dan harapan
Karena kehidupanmu memberikan arti yang berharga untukku



Ayah…
Sempat ku pegang erat tanganmu ketika kau ketakutan
Sempat ku tatap matamu yang penuh dengan air mata
Sempat ku usap kakimu yang terlihat lelah akan langkah kehidupan
Sempat ku menangis ketika kau kesakitan



Ayah…
Saat ini ku menunggumu untuk tersenyum tanpa beban
Ku menunggumu dibalik ruangan yang hening
Ku hadir untuk memberimu semangat dalam melawan rasa sakit
Meski aku tak mampu untuk menjadi penyemangatmu



Ayah…
Jangan pernah kau ucapkan kalimat “tak ingin membebani kami”
Sejatinya kalimat itu dapat membunuh jiwa ini
Jiwa yang perlahan akan rapuh jika tanpamu
Kau pasti kuat dalam ujian-Nya dengan selamat
Iringan do’a dalam munajatku selalu hadir untukmu “Ayah”



Ayah…
Tanpa nafasmu
Tanpa senyumanmu
Bahkan tanpa canda dan tawamu
Kami hanyalah pecundang dalam kehidupan
Karena kau yang selalu mengajari akan keberanian



Ayah…
Kau pasti kuat dalam ujian-Nya dengan selamat
Allah akan selalu memelukmu disetiap ketabahan
Allah senantiasa bersamamu disetiap naungan kehidupan
Tetaplah bersemangat , tersenyumlah dalam ikhlas....

Sabtu, 08 Februari 2014

Just Posted!



Ini adalah waktunya..

Tuhan kadang punya rencana yang kita sendiri tidak tahu apa makna dibaliknya. Saya sempat berpikir, "Benarkah Tuhan? Benarkah sudah waktunya saya mengakhiri masa sulit ini?". Dengan binaran mata bahagia saya menyusuri lorong-lorong gelap tanpa akhir. Di sepersekian detik kemudian saya kembali berpikir, "Jika benar bahagia menunggu saya di gerbang akhir, mengapa sampai sekarang saya belum menemukan sebuah celah cahaya yang dapat menuntun saya kesana?".

Ini merupakan detik-detik menuju gerbang akhir itu. Ada sedikit rasa bahagia karena dapat melihat senyum bahagia "mereka". Namun juga terdapat sedikit rasa pilu, dimana saya harus meninggalkan beberapa orang yang pernah membuat saya bahagia. Bukan terpaksa, lagi-lagi saya hanya mencoba menjadi pribadi yang baik.