TASYA
“Aku mencintaimu, De..” Ucapku
lirih. Aku tahu cinta ini salah. Aku datang di waktu yang tidak tepat. Hal apa
yang membuatku menyatakan bahwa cinta ini salah? Aku mencintai dia yang
merupakan milik orang lain.
“Aku tahu, sayang. Aku tahu.
Bahkan sebelum engkau mengatakannya, aku sudah tahu.” Ia menjawab seraya
mengusap kepalaku. Aku dimanjanya. Dan aku ditenggelamkan dalam dada bidangnya.
Hangat. Pelukan ini hangat sekali. Aku
bagaikan seorang gadis kecil yang setiap kali merengek, ia datang membawa
sebuah permen lolipop untukku. Cinta ini sederhana. Ia begitu tahu cara
memperlakukanku dengan baik.
***
“Lantas, apa yang kau lakukan
kini, Sya?” Riri sahabatku bertanya padaku.
“Entahlah. Rasa ini semakin sulit
kutepiskan” jawabku.
“Kau tahu resikonya bila rasa ini
kau pertahankan?” Ia kembali bertanya padaku.
Aku diam. Diamku bukan karena aku
tidak tahu. Aku tahu jelas apa yang akan ku hadapi. Ia tidak akan mungkin
menjadi milikku. Dan akan tiba masa dimana ia memilih, yang sudah kupastikan ia
akan memilih kekasih hatinya itu. Riri menatap iba ke arahku.
“Aku benci tatapan itu, Ri!”
kataku.
Riri tertawa renyah. Baginya aku
masih kecil dalam dunia percintaan. Aku terlalu naif, mencintai seseorang yang
sudah menjadi milik orang lain. Tapi bagiku cinta tidak pernah salah. Cinta
selalu hadir pada hati yang ia rasa pantas untuk merasakan nikmatnya.
“Boleh aku bertanya?” Riri
bertanya.
“Silahkan” jawabku. Aku menatap lekat ke dalam matanya. Mencari tahu
makna dari tatapannya tersebut.
“Bagaimana jika ia tidak
mencintaimu?” Tanyanya.
Dan kali ini aku terdiam. Benar! Aku bahkan tidak pernah mendengar ia
mengatakan bahwa ia mencintaiku.
“Cepat atau lambat aku akan pergi
dari hidupnya. Percayalah! Aku cukup menyadari posisiku” Kataku sambil
tersenyum. Perih. Hatiku sakit sekali.
***
Aku membayar total makananku di
sebuah cafe. Baru saja keluar dari cafetaria tersebut, aku berpapasan dengan
laki-laki yang kucintai. Tanpa bisa berbicara, ia berlalu setelah menatapku.
Aku bagaikan patung dihadapannya. Ia bahkan tidak menegurku. Wanita
disebelahnya menggandeng lengannya dengan manja. Damn! I’m jealous!
Wanita itu aku tidak
mengenalinya. Tapi entah kenapa, aku bersedia menyingkir dari kehidupan
laki-laki itu deminya. Seperti sebuah daya tarik tersendiri antara aku dan
wanita tersebut. Wanita yang baik menurut “penglihatanku”.
Aku masih diam di ujung pintu
cafe. Seseorang mencoba menyadarkanku bahwa posisiku cukup menghalangi
orang-orang untuk masuk. Dengan air mata yang masih membasahi pipi, aku
bergeser. Melangkah pelan nan gontai menuju apartemenku.
Baiklah,
aku memutuskan untuk ku akhiri saja semuanya. Sudah waktunya aku pergi. Aku pun
mencoba membuka akun sosialnya, dan semuanya ia memasang foto bersama
kekasihnya. Ini pengusiran secara halus.
Sudah saatnya untuk pergi.
** * **
** * **
DEMIAN
3 tahun kemudian..
Pengirim: TASYA
Selamat siang.
Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kami mengundang saudara/i untuk menghadiri pesta pernikahan kami
(HANINA PUTRI ANATASYA, S.Psi dengan DIDI HANDRIKA, M.Eng) di Aula Hotel
Beutari. Pada hari kamis, tanggal 03 April 2014. Terima kasih
Aku gemetar. Wanita itu kini akan
menikah. Apa yang harus aku lakukan? Segera kuambil ponselku dan menekan
nomornya. Panggilan terhubung, namun ia tidak mengangkatnya. Hari kamis itu
minggu depan.
Aku bingung. Entah kenapa ada
rasa yang menyesakkan dalam dada. Apa aku mencintainya? Entahlah! Tapi aku
merasakan rasa sakit di ulu hatiku. Apa ini??!
“Kau baik-baik saja sayang?”
Marlia bertanya padaku. Wanita ini adalah kekasih hatiku. Karenanya aku tidak
bisa menjadikan Tasya sebagai kekasihku. Aku mengenal Marlia jauh sebelum aku
bertemu Tasya. Dan kami sudah menjalin hubungan lebih dari 8 tahun.
Marlia sering mengajakku untuk
menikah. Tapi aku belum berpikir sejauh itu. Laki-laki mana yang tidak ingin
menikah? Tapi entah kenapa, aku belum mau menikah. Entah karena Marlia yang mengajak,
atau memang aku terlalu maniak dalam bekerja.
“Aku tidak apa-apa” jawabku
bohong.
Bagaimana mungkin aku harus
mengatakan bahwa aku memikirkan wanita lain selain dirinya.
“Sms dari siapa? Kenapa kamu jadi
pucat? Ada masalah?” Marlia kembali menghujaniku dengan pertanyaannya.
“Tidak. Masalah kerjaan. Ayo kita
pulang. Bos mengajakku rapat dadakan. Besok ada pertemuan dengan klien
mendadak.” Kataku berbohong.
Untung saja Marlia tidak banyak
bertanya lagi. Makan siang saat itu tidak berjalan baik. Padahal, awalnya, aku
berniat untuk berbicara masalah pertunangan dengan Marlia. Tapi sesuatu yang
buruk datang. Wanita itu muncul dengan kabar tersebut.
Aku mengantar Marlia pulang.
Setiba di depan rumahnya, aku mengatakan bahwa aku buru-buru. Marlia melepas
kepergianku dengan lambaian. Aku menatapnya dari spion mobil sportku.
Pikiranku masih tertuju pada
Tasya. Wanita yang dengan tawanya aku pernah bersemangat melewati hari. Dengan
petuahnya aku bisa menjadi lebih percaya diri. Dan dengan segenap kata-kata
romantis darinya aku merasa bahagia. Yang aku inginkan, Tasya selalu bisa
memberikannya. Dengan dirinya pula aku bisa tertawa lepas menjadi diriku
sendiri.
Aku mencoba menghubunginya. Dan
masih tidak diangkat.
Pengirim: TASYA
Aku menunggu kamu di
cafetaria langganan kita pada pukul 16.00 WIB. Waktuku tidak banyak. Aku harap
kamu datang tepat waktu.
Dan aku pun melajukan kendaraan ke
tempat yang disebut.
***
“Sudah menunggu lama?” Tasya
bertanya sambil tersenyum. Ia masih berdiri dihadapanku. Aku masih tidak dapat
berkata apa-apa. Wanita dihadapanku semakin cantik. Tiga tahun lalu, dia masih
milikku.
“Baru beberapa menit. Duduklah” Kataku.
Ia mengambil posisi duduk
dihadapanku. Sebentar ia melihat dan menyentuh ponselnya. Kemudian memasukkan
kedalam saku blazzernya.
“Kau akan menikah, masih saja
kerja?” Tanyaku.
Ia tertawa. “Kerja adalah bagian
dari diriku untuk mengatasi kejenuhan.” Katanya.
Tasya memiliki kecintaan pada
pekerjaan sama denganku. Itulah kenapa aku merasa ia bisa mengertiku dengan
baik. Itu dulu. Tiga tahun lalu. Kami sama-sama terdiam. Pelayan
cafe datang untuk melayani kami, kami memesan pesanan yang biasa kami pesan. Tiga
tahun lalu.
Aku bingung harus mengatakan apa.
“Aku mencintaimu.” Ucapku.
Aku melihat wajah Tasya. Ia
tersenyum ke arahku. Tapi tidak menjawab apa-apa.
“Kau tidak akan mengatakan
apapun?” Tanyaku lagi.
Ia tersenyum. Aku semakin salah
tingkah.
“Aku harus berkata apa?
Seandainya kalimat itu kudengar tiga tahun lalu, hari ini aku masih menjadi
milikmu.” Katanya.
“Aku tahu, kesalahanku adalah
itu.” Kataku.
“Tapi semua sudah terjadi, De.
Aku akan menjadi milik seseorang lain. Lagipula, wanita itu mencintaimu dengan
baik. Apa kurang pengorbanannya selama ini? Menunggumu dalam ketidakpastian
kapan akan menikahinya?” Ujarnya.
“Aku tidak mencintainya. Aku
hanya bertahan karena aku terbiasa hidup dengannya.” Kataku. Aku sendiri tidak
tahu mengapa kalimat ini muncul dari mulutku.
Tasya menatap ke arahku. Ia menggeleng dan menggenggam tanganku.
“De.. Kisah kita sudah berakhir.
Wanita itu memiliki cinta yang mahadahsyat kepadamu. Cintailah dia dengan baik.”
Katanya.
Aku masih termangu. Sentuhannya membuat desiran
darahku terasa hangat. Jantungku berdegub kencang. Aku merasa tidak sanggup
melihatnya menjadi milik orang lain.
“Jangan egois, sayang.. Ini
takdir kita. Saling mencintai namun tidak dapat saling memiliki.” Lanjutnya.
Aku berpikir keras. Belum selesai
aku mendapat jawaban atas kalimatnya, ia bangkit dari duduknya.
“Aku berharap kau datang di hari
pernikahanku. Bawa kekasihmu. Aku ingin kau datang dengannya. Sampai jumpa,
Amore..” Ujarnya.
Aku terkesiap. “Tidak bisakah
sebentar lagi?” kataku.
Ia tersenyum. Dan menggeleng
dengan perlahan. Ia berbalik dan melambaikan tangannya kearahku. Kupandangi
sosok itu sampai ia menuju pintu. Dari dalam cafe aku melihat ia dijemput
seseorang. Aku yakin. Laki-laki itu yang kelak akan mendampinginya. So damn! I’m jealous!
Aku masih duduk diam. Apalagi
yang kupikirkan? Tidak ada! Aku sudah
terlambat.
***




0 komentar:
Posting Komentar