Rabu, 11 Desember 2013

Tiga Tahun Lalu



TASYA

“Aku mencintaimu, De..” Ucapku lirih. Aku tahu cinta ini salah. Aku datang di waktu yang tidak tepat. Hal apa yang membuatku menyatakan bahwa cinta ini salah? Aku mencintai dia yang merupakan milik orang lain.
“Aku tahu, sayang. Aku tahu. Bahkan sebelum engkau mengatakannya, aku sudah tahu.” Ia menjawab seraya mengusap kepalaku. Aku dimanjanya. Dan aku ditenggelamkan dalam dada bidangnya. Hangat. Pelukan ini hangat sekali. Aku bagaikan seorang gadis kecil yang setiap kali merengek, ia datang membawa sebuah permen lolipop untukku. Cinta ini sederhana. Ia begitu tahu cara memperlakukanku dengan baik.

***

“Lantas, apa yang kau lakukan kini, Sya?” Riri sahabatku bertanya padaku.
“Entahlah. Rasa ini semakin sulit kutepiskan” jawabku.
“Kau tahu resikonya bila rasa ini kau pertahankan?” Ia kembali bertanya padaku.
Aku diam. Diamku bukan karena aku tidak tahu. Aku tahu jelas apa yang akan ku hadapi. Ia tidak akan mungkin menjadi milikku. Dan akan tiba masa dimana ia memilih, yang sudah kupastikan ia akan memilih kekasih hatinya itu. Riri menatap iba ke arahku.
“Aku benci tatapan itu, Ri!” kataku.
Riri tertawa renyah. Baginya aku masih kecil dalam dunia percintaan. Aku terlalu naif, mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain. Tapi bagiku cinta tidak pernah salah. Cinta selalu hadir pada hati yang ia rasa pantas untuk merasakan nikmatnya.
“Boleh aku bertanya?” Riri bertanya.
“Silahkan” jawabku.  Aku menatap lekat ke dalam matanya. Mencari tahu makna dari tatapannya tersebut.
“Bagaimana jika ia tidak mencintaimu?” Tanyanya.
Dan kali ini aku terdiam. Benar! Aku bahkan tidak pernah mendengar ia mengatakan bahwa ia mencintaiku.
“Cepat atau lambat aku akan pergi dari hidupnya. Percayalah! Aku cukup menyadari posisiku” Kataku sambil tersenyum. Perih. Hatiku sakit sekali.

***

Aku membayar total makananku di sebuah cafe. Baru saja keluar dari cafetaria tersebut, aku berpapasan dengan laki-laki yang kucintai. Tanpa bisa berbicara, ia berlalu setelah menatapku. Aku bagaikan patung dihadapannya. Ia bahkan tidak menegurku. Wanita disebelahnya menggandeng lengannya dengan manja. Damn! I’m jealous!
Wanita itu aku tidak mengenalinya. Tapi entah kenapa, aku bersedia menyingkir dari kehidupan laki-laki itu deminya. Seperti sebuah daya tarik tersendiri antara aku dan wanita tersebut. Wanita yang baik menurut “penglihatanku”.
Aku masih diam di ujung pintu cafe. Seseorang mencoba menyadarkanku bahwa posisiku cukup menghalangi orang-orang untuk masuk. Dengan air mata yang masih membasahi pipi, aku bergeser. Melangkah pelan nan gontai menuju apartemenku.
Baiklah, aku memutuskan untuk ku akhiri saja semuanya. Sudah waktunya aku pergi. Aku pun mencoba membuka akun sosialnya, dan semuanya ia memasang foto bersama kekasihnya. Ini pengusiran secara halus. Sudah saatnya untuk pergi.


** * **


DEMIAN


3 tahun kemudian..


Pengirim: TASYA
Selamat siang. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kami mengundang saudara/i  untuk menghadiri pesta pernikahan kami (HANINA PUTRI ANATASYA, S.Psi dengan DIDI HANDRIKA, M.Eng) di Aula Hotel Beutari. Pada hari kamis, tanggal 03 April 2014. Terima kasih


Aku gemetar. Wanita itu kini akan menikah. Apa yang harus aku lakukan? Segera kuambil ponselku dan menekan nomornya. Panggilan terhubung, namun ia tidak mengangkatnya. Hari kamis itu minggu depan.
Aku bingung. Entah kenapa ada rasa yang menyesakkan dalam dada. Apa aku mencintainya? Entahlah! Tapi aku merasakan rasa sakit di ulu hatiku. Apa ini??!

“Kau baik-baik saja sayang?” Marlia bertanya padaku. Wanita ini adalah kekasih hatiku. Karenanya aku tidak bisa menjadikan Tasya sebagai kekasihku. Aku mengenal Marlia jauh sebelum aku bertemu Tasya. Dan kami sudah menjalin hubungan lebih dari 8 tahun.
Marlia sering mengajakku untuk menikah. Tapi aku belum berpikir sejauh itu. Laki-laki mana yang tidak ingin menikah? Tapi entah kenapa, aku belum mau menikah. Entah karena Marlia yang mengajak, atau memang aku terlalu maniak dalam bekerja.

“Aku tidak apa-apa” jawabku bohong.

Bagaimana mungkin aku harus mengatakan bahwa aku memikirkan wanita lain selain dirinya.

“Sms dari siapa? Kenapa kamu jadi pucat? Ada masalah?” Marlia kembali menghujaniku dengan pertanyaannya.

“Tidak. Masalah kerjaan. Ayo kita pulang. Bos mengajakku rapat dadakan. Besok ada pertemuan dengan klien mendadak.” Kataku berbohong.

Untung saja Marlia tidak banyak bertanya lagi. Makan siang saat itu tidak berjalan baik. Padahal, awalnya, aku berniat untuk berbicara masalah pertunangan dengan Marlia. Tapi sesuatu yang buruk datang. Wanita itu muncul dengan kabar tersebut.

Aku mengantar Marlia pulang. Setiba di depan rumahnya, aku mengatakan bahwa aku buru-buru. Marlia melepas kepergianku dengan lambaian. Aku menatapnya dari spion mobil sportku.
Pikiranku masih tertuju pada Tasya. Wanita yang dengan tawanya aku pernah bersemangat melewati hari. Dengan petuahnya aku bisa menjadi lebih percaya diri. Dan dengan segenap kata-kata romantis darinya aku merasa bahagia. Yang aku inginkan, Tasya selalu bisa memberikannya. Dengan dirinya pula aku bisa tertawa lepas menjadi diriku sendiri.

Aku mencoba menghubunginya. Dan masih tidak diangkat.

Pengirim: TASYA
Aku menunggu kamu di cafetaria langganan kita pada pukul 16.00 WIB. Waktuku tidak banyak. Aku harap kamu datang tepat waktu.

Dan aku pun melajukan kendaraan ke tempat yang disebut.

***

“Sudah menunggu lama?” Tasya bertanya sambil tersenyum. Ia masih berdiri dihadapanku. Aku masih tidak dapat berkata apa-apa. Wanita dihadapanku semakin cantik. Tiga tahun lalu, dia masih milikku.

“Baru beberapa menit. Duduklah” Kataku.

Ia mengambil posisi duduk dihadapanku. Sebentar ia melihat dan menyentuh ponselnya. Kemudian memasukkan kedalam saku blazzernya.

“Kau akan menikah, masih saja kerja?” Tanyaku.

Ia tertawa. “Kerja adalah bagian dari diriku untuk mengatasi kejenuhan.” Katanya.

Tasya memiliki kecintaan pada pekerjaan sama denganku. Itulah kenapa aku merasa ia bisa mengertiku dengan baik. Itu dulu. Tiga tahun lalu. Kami sama-sama terdiam. Pelayan cafe datang untuk melayani kami, kami memesan pesanan yang biasa kami pesan. Tiga tahun lalu.
Aku bingung harus mengatakan apa.

“Aku mencintaimu.” Ucapku.

Aku melihat wajah Tasya. Ia tersenyum ke arahku. Tapi tidak menjawab apa-apa.

“Kau tidak akan mengatakan apapun?” Tanyaku lagi.

Ia tersenyum. Aku semakin salah tingkah.

“Aku harus berkata apa? Seandainya kalimat itu kudengar tiga tahun lalu, hari ini aku masih menjadi milikmu.” Katanya.

“Aku tahu, kesalahanku adalah itu.” Kataku.

“Tapi semua sudah terjadi, De. Aku akan menjadi milik seseorang lain. Lagipula, wanita itu mencintaimu dengan baik. Apa kurang pengorbanannya selama ini? Menunggumu dalam ketidakpastian kapan akan menikahinya?” Ujarnya.

“Aku tidak mencintainya. Aku hanya bertahan karena aku terbiasa hidup dengannya.” Kataku. Aku sendiri tidak tahu mengapa kalimat ini muncul dari mulutku.

Tasya menatap ke arahku. Ia menggeleng dan menggenggam tanganku.

“De.. Kisah kita sudah berakhir. Wanita itu memiliki cinta yang mahadahsyat kepadamu. Cintailah dia dengan baik.” Katanya.

Aku masih termangu. Sentuhannya membuat desiran darahku terasa hangat. Jantungku berdegub kencang. Aku merasa tidak sanggup melihatnya menjadi milik orang lain.

“Jangan egois, sayang.. Ini takdir kita. Saling mencintai namun tidak dapat saling memiliki.” Lanjutnya.

Aku berpikir keras. Belum selesai aku mendapat jawaban atas kalimatnya, ia bangkit dari duduknya.

“Aku berharap kau datang di hari pernikahanku. Bawa kekasihmu. Aku ingin kau datang dengannya. Sampai jumpa, Amore..” Ujarnya.

Aku terkesiap. “Tidak bisakah sebentar lagi?” kataku.

Ia tersenyum. Dan menggeleng dengan perlahan. Ia berbalik dan melambaikan tangannya kearahku. Kupandangi sosok itu sampai ia menuju pintu. Dari dalam cafe aku melihat ia dijemput seseorang. Aku yakin. Laki-laki itu yang kelak akan mendampinginya. So damn! I’m jealous!
Aku masih duduk diam. Apalagi yang kupikirkan? Tidak ada! Aku sudah terlambat.

***


0 komentar: