Kamis, 28 November 2013

The Bad Day..



*Duduk di sebuah pojok didalam kamar*

Lagi-lagi saya hanya bisa menangis. Ya, yang membuat saya menangis bukanlah cibiran orang-orang terhadap saya. Bukannya tentang perkataan seorang anak terkutuk itu. Bukan pula mereka-mereka yang membuat saya emosi berkali-kali lipat. Saya menangis karena saya ingin menangis. *alibi*

Tidak, saya menangis karena kesal. Kesal di buat menunggu. Kesal di perbudak oleh sekelompok kurcaci. Saya kesal! Dari semalam, emosi saya tidak stabil. Untuk para pembaca, saya memiliki kecenderungan bipolar disorder. Sebuah penyakit psikologis dimana penderita mengalami perubahan perasaan yang ekstrim. Saya bisa bahagia sekali, tapi sedetik kemudian saya bisa berubah mood menjadi buruk. Bukan mau saya, hanya saja begitulah yang saya alami.

Saya berterima kasih untuk kedua sahabat kecil saya, Una dan Uni. Si kembar tapi beda. Mereka membantu saya melewati segala macam kejadian di hidup. Dan kepada teman baik yang saya panggil "Ibuq". Saya pernah jauh dengan mereka bertiga. Dan sekarang, semua kembali normal. Tuhan menunjukkan bahwa mereka benar-benar saudara yang baik. Yang tanpa rasa sungkan, melebarkan tangannya untuk memeluk saya kembali. Meski saya pernah salah. Thankyou, mom.. Thankyou my twin sista.. I'm so sorry :')


Untuk keluarga tercinta, dimana lagi saya menemukan kedua orang tua yang luar biasa seperti mereka. Ayah, Ibu, Abang-abang, dan kedua adik perempuan saya. Hari ini yang membuat hari saya buruk seutuhnya adalah tindakan si bungsu yang membuat saya menunggunya. Oke! Kata "sudah" dan "mau" itu BERBEDA! Ketika kalian mengatakan "sudah", berarti kalian sudah mengerjakannya. Sedangkan kata "mau", itu mengartikan kalian baru mau mengerjakannya. PAHAM dek? *elus-elus dada*


Mengidap penyakit tersebut tidak mudah. Dulu, saya tidak peduli dengan perasaan orang lain. Kalau mood saya buruk, saya akan marah ketika ada yang berbicara menyinggung. Tapi sekarang, saya merasa sudah mampu mengontrol dengan baik. Meski kadang-kadang kecolongan. Seperti hari ini. Ah, untuk para karyawanku, saya minta maaf. Hari ini kalian harus menerima kemarahan saya yang tidak beralasan itu. Tidak bermaksud, tapi semoga kalian paham. 

Hari ini memang buruk. Mengapa demikian? Karena begitulah adanya. Dari terbit fajar, saya sudah mengalami mood low. Ditambah lagi dengan teman kampus yang Subhanallah menguji iman sekali. Iya, mereka bercanda. Tapi saya kecewa dengan wanita-wanita yang mengenakan pakaian syar'i itu. Pakaian untuk wanita muslim yang jilbabnya sampai ke kaki. Baiklah, saya memang pengguna hijab. Tapi tidak syar'i. Akan tiba masa dimana saya memakai jilbab syar'i tersebut. Tidak bisakah kalian para pengguna jilbab syar'i untuk tidak menghakimi orang lain? Seolah kalian sudah teramat bersih. Tidak perlu rasis! Tidak ada yang membedakan kita kecuali amalan. Apa kalian sudah merasa amalan kalian sudah banyak? Sehingga memandang miring kepada kami yang jilbabnya belum syar'i? 

Saya kecewa. kalian memalukan! catat! KALIAN MEMALUKAN! Jadilah muslimah yang baik. Yang tidak perlu menganggap diri sudah terlalu bersih. Oke, ini saya tujukan untuk rekan-rekan dikampus saya. Tapi tidak memungkiri, untuk semua manusia, kalian belajar. BELAJAR UNTUK MENGHARGAI ORANG LAIN!
Kalau tidak ada kami yang HITAM bagaimana bisa kalian menyebut diri kalian PUTIH?
Kalau tidak ada kami yang HINA bagaimana bisa kalian menyebut diri kalian SUCI?

*nengguk air putih* *kalem*



Pagi tadi saya menuju kantin. Saya melihat sekelompok teman-teman saya (yang berpakaian syar'i) duduk disana. Saya menyapa dan duduk disebelah salah satunya. Baru saja teh manis dingin pesanan saya tiba, salah satu dari mereka (sebua aja namanya Lala) bericara kepada saya, "Duh dek, disini ini semua jilbabnya syar'i lho. Kamu ga malu?". Saya diam, kaget. Seharusnya, orang-orang yang paham agama selalu tahu bagaimana menegur orang lain tanpa membuat orang lain tersinggung. Dan apa yang terjadi? Benar, saya emosi! Saya menyiramnya dengan air pesanan saya tadi.

Semua kaget dan berteriak. Emosi saya masih membludak. Saya mendekat ke arahnya dan menamparnya dua kali. Kemudian saya pergi. Sampai ke depan pintu kantin, saya masih belum puas. Dia beruntung. Lala, kau beruntung :) Karena Allah-ku masih baik. Bayangan wajah Ayah saya muncul di benak. Dan saya balik ke arah Lala yang sudah menangis. Saya menatap ke arahnya. Semua rekannya menghindar. 
Saya menarik nafas dalam-dalam dan berjongkok di hadapan Lala, dan tersenyum seraya mengatakan "Kau itu cuma seorang yang baru masuk islam kemarin. Jaga ucapanmu. Beruntung mulutmu tidak aku sobek."
Lala semakin terisak. Saya menatap ke arah teman-temannya. Mereka menatap ngeri ke arah saya. Dan saya pulang.

Bagaimana dengan ujian kampus? Saya meminta kepada dosennya untuk mengikuti ujian susulan. 

Itu adalah cerita bodoh yang saya posting. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa penyakit saya belum sepenuhnya pulih. Dan memang benar, saya belum sepenuhnya pulih. Satu yang pasti, sampai postingan ini saya buat, emosi saya masih tidak stabil. 

Cukup ya.
Selamat magrib untuk wilayah Banda Aceh dan sekitarnya.

Allah, sorry for today.. today is the bad day for me..

0 komentar: