Kamis, 27 November 2014

Untukmu.. Ibu..


Menyepi.. 
Di sebuah sudut di ruang hati..
Setitik asa menguap dalam jiwa..
Perlahan tapi pasti..
Titik-titik kasih menebar menjadi sebuah gunung cinta..

Ibu..
Tanpa meminta, engkau panjatkan do'a kepadaNya.
Engkau serahkan hidupmu sepenuhnya demi menghadirkanku ke bumi.

Ibu..
Cinta dan kasihmu takkan pernah mampu ku balas meski kutaruhkan jiwa dan ragaku.
Namun selama hayat dikandung badan, aku senantiasa mendoakanmu. 
Mendoakan segalanya untukmu..

Ibu.. 
Berhentilah lelah..
Beristirahatlah..
Sudah waktunya engkau menikmati masa tua dengan bahagia..
Ibu.. 
Aku mencintaimu..

#30harimenulispuisi #karenamenulispuisiituseksi #day7


Rabu, 26 November 2014

Langit..


Gumpalan awan mengelabu.
Menjadikan langit biru menjadi abu-abu.
Tiada ungkapan indah selain mendoakan agar pelangi segera muncul selepas hujan menggempur bumi.
Mendamaikan pilu yg meronta-ronta didalam hati.

Rerintiknya menjadi penghalang untuk dua insan yang hendak menuju terminal jumpa.
Menghadang rindu yang sudah menjerit-jerit ingin diungkapkan.
Dan pada akhirnya, bulir-bulir bening itu menumpuk di pelupuk mata indah seorang anak manusia.
Ia menahan rasa sesak didada, menahan hasrat pertemuan yg tak kunjung tiba.

Rindu..
Selalu saja menjadi sebuah bidikan hebat yg menelusup kedalam hati dan melumpuhkan ego..

#30harimenulispuisi #karenamenulispuisiituseksi #day6

Senin, 24 November 2014

Warna


Hitam.
Pekat.
Dan gelap..
Akan lebih sederhana ketika kita sebut dengan malam.

Biru.
Indah.
Dan menawan.
Siapapun akan paham bahwa itu merupakan warna laut.
Ada banyak kehidupan didalamnya.
Tentang ikan yang berenang menuju pantai kasihnya.
Tentang kapal yang menjadikan laut sebagai jembatannya.
Tentang terumbu karang yang indah didasarnya.

Hijau.
Cerah.
Dan mendamaikan..
Merupakan warna dari tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di permukaan bumi.

Merah.
Jingga.
Dan mempesona..
Ialah senja yang bergelayut manja pada pintu penghujung hari.

Warna..
Segalanya bermakna..

#30harimenulispuisi #karenamenulispuisiituseksi #day5

Minggu, 23 November 2014

Pagi


Pagi pun menyingsing.
Irama merdu dari suara burung menjadikannya semakin syahdu.
Ada harapan baru yang tertanam hari ini.
Ada masa lalu yang sudah tiada.

Kehangatan dari bias mentari memeluk hati yg dirundung pilu.
Nestapa, asa dan harapan.
Semuanya melebur menjadi satu impian lalu.
Dan hari ini, ku janjikan pada alam bahwa bahagia akan kuciptakan.

Sendirian?
Tentu saja tidak.
Karena bahagiaku sederhana. 
Terbangun dan masih bisa menikmati aroma bumi di hari selanjutnya adalah bahagiaku.
- alyasafna -

#30harimenulispuisi #karenamenulispuisiituseksi #day4

Senja


Biasnya yang temaram menyilaukan penghujung hari.
Bukan tanpa hati, seseorang menanti tanpa ingin diketahui.
Adakah pujian dapat mengubah mau hati?

Siapa yang tahu jika senja yang jingga bisa memancarkan pelangi diantaranya.
Mejikuhibiniu yang indah terlukis di langit yang menjadi kanvas-Nya.
Dan senja pun semakin merona.
Menggugah bahagia dihati yang memandangnya.

Pernah kau tanya pada langit? Mengapa ia begitu indah?

Tiada yang paham bagaimana gradasi warna biru langit menjadi merah jingga ketika senja mulai memancarkan pesonanya.
Tetapi, decak kagum akan indahnya selalu muncul jika memandangnya dengan hati yg penuh kasih.

Selamat menanti senja..
- alyasafna - 

#30harimenulispuisi #karenamenulispuisiituseksi #day3

Rabu, 19 November 2014

Hujan


Tik.. Tik.. Tik..
Tetesannya yg menggempur bumi perlahan mereda.
Sayup-sayup kembali terdera suara deru kendaraan.
Dan aroma khas dari tanah pun menguar merebak indera penciuman.

Denting waktu yang terus bergulir, menyematkan garis-garis halus di wajahmu.
Ayah..
Bahkan air hujan sekalipun tidak bisa mewakili banyaknya cintaku kepadamu.

Di kehidupan mendatang.
Di kehidupan selanjutnya.
Aku hanya ingin tetap menjadi anakmu. 
Yang menjadi pelita dalam kepenatanmu..
Yang menjadi alasan untukmu tersenyum..
Yang menjadi alasan untukmu terus melanjutkan hidup..

Ayah..
Aku mencintaimu..
- alyasafna -

#30harimenulispuisi #karenamenulispuisiituseksi #day2 

Selasa, 18 November 2014

Hari




Aku jatuh cinta kepadamu setiap pagi.

Disetiap kali aku terbangun dipagi hari, yang kuingat adalah aku mencintaimu.

Aku jatuh cinta kepadamu setiap detik.
Setiap dentingan waktu yang bergerak,  selalu timbul benih cinta kepadamu.

Aku jatuh cinta kepadamu setiap hela nafasku.
Karena dengan setiap hela nafasku, ada dirimu.

Aku jatuh cinta kepadamu setiap hari.
Disetiap matahari merebakkan sinarnya diatas wajahku sebelum aku berangkat menuju rutinitasku.

Sayang,
Sayangilah aku hingga engkau lupa bahwa engkau menyayangiku.
Temanilah hidupku hingga engkau lupa bahwa akulah teman hidupmu.
Tetaplah bersamaku hingga kita sama-sama lupa bahwa kita telah hidup lama bersama.

Karena kau adalah bagian dari hidupku.
Karena kau adalah aku, dan aku adalah engkau.

Sayang,
Aku mencintaimu tanpa alasan apapun.
- alyasafna -

#30harimenulispuisi #day1 #karenamenulispuisiituseksi

Senin, 03 November 2014

#IfYouKnowWhatIMean



Senja yang jingga. 
Senja yang indah.
Senja yang penakut.

Ada banyak rentetan kata untuknya. Tapi tiga diatas sudah mewakili seluruhnya. Selamat berbahagia, pengkhianat! 
Di bawah deraian air mata langit ia bersimpuh menangisi takdirnya. Ia lupa, bahwa ada banyak orang yang bahkan nyaris tidak pernah menikmati 'bahagia', namun selalu bersyukur pada-Nya.

Hati mana yang tidak pernah terluka?
Jiwa siapa yang tidak pernah merasakan tergores?
Sedikit. Sedikit saja, semua orang pernah kecewa. 

Sabtu, 12 Juli 2014

Syukur(ku) padaMu..

Mungkin saya hanya kurang bersyukur. Ya, saya wanita yang (lebih tepatnya) tidak bersyukur. Mengapa? Karena saya tahu bahwa suami saya sangat mencintai saya, namun saya enggan membalasnya. Bukan karena tidak mencintainya, hanya saja saya masih bingung dengan apa yang saya rasa.

Hingga pada akhirnya.. Disuatu malam yang hening. Saya menatapnya ketika ia sedang menyantap makan malam. "Allah, laki-laki ini yang dengan tangannya ia mencari nafkah untuk menghidupi kami.. Hamba mohon pengampunanMu karena tidak bersyukur ini.." Ucapku dalam hati.

"Kamu melamun?" Tanyanya.
"Tidak.. Saya hanya memandangmu yang makan dengan lahapnya.." Kataku ngeles.
Ia tersenyum.
"Saya sengaja tidak makan diluar, saya ingin makan masakan istri saya." Katanya.
Dan saya semakin merasa bersalah. Bersalah karena tidak mencintainya dengan baik. 

Ia bangkit dari meja makan, dan mengangkat piring kotor bekas makannya. 
"Jangan diangkat, biar saya saja." Kataku.
"Tidak, kamu istirahat saja. Seharian kamu kerja, pulang kerja juga bela-belain masak. Biar saya yang mencuci piring kotornya." Katanya.

Illahi Rabb.. Saya benar-benar merasa jahat. Bagaimana mungkin saya mengabaikan cinta yang tulus di hadapan saya. Cinta dari laki-laki yang dengan kesungguhannya mengucapkan ijab-qobul. Cinta dari laki-laki yang dengan ketulusannya bersedia menghabiskan waktu untuk hidup bersama saya. Saya! Wanita yang tidak tahu rasa syukur! 

Ketika ia sedang mencuci piring kotor di westafel, saya memeluknya dari belakang. Tanpa bisa saya tahan, tumpah sudah bendungan air yang menggenang di pelupuk mata saya. 
Ia kaget. 
"Kamu kenapa? Kenapa menangis?" Katanya. Ia membalikkan badan dan menyentuh kedua pipi saya. 
Saya masih terisak dalam tangis. 
"Saya mencintaimu.. Maaf untuk segala kekurangan saya.." Kataku dalam isakan.
Ia tertawa kecil dan mengusap kepalaku dengan manja. 
"Saya tahu kamu rindu.." Katanya sambil memeluk saya, kemudian ia mengecup kening saya. 

"Yasudah, bersiaplah.. Selesai saya cuci piring, kita sholat isya berjama'ah.." Katanya. 
"Jangan menangis, kamu terlihat sangat konyol ketika menangis." Sambungnya dengan nada mengejek.
Saya tertawa. Menciumnya sedikit, dan kemudian saya segera mengambil wudhu..

Allah.. Thank you for this love.. Ketuk hati saya jika saya mulai lupa dengan orang-orang yang mencintai saya.. Terima kasih untuk bahagia sederhana ini.. Alhamdulillah..

Rabu, 11 Juni 2014

Priaku..


Ini tentang putihnya cintamu, sayang..
Tanpa permisi, tanpa basa-basi kamu masuk dan membangun sebuah rumah sederhana di hatiku..
Ini tentang tulusnya hatimu, kasih..
Senantiasa membimbingku ke arah yang lebih baik..

Ketika yang lain sibuk meyakinkanku dengan cara begini dan begitu. Kamu dengan sigapnya datang kepada orang tua dan segera meminangku.. 
Ketika yang lain sibuk memuji lebihku, kamu dengan rendah hati melengkapi kurangku..

Kekasihku..
Sampai detik ini saya masih belajar menjadi wanita terbaik untukmu. 
Menjadi pendampingmu bukanlah impianku. Karena sesungguhnya saya terlalu takut berharap menjadi istrimu..
Tapi Tuhan kita tahu yang terbaik untuk hambaNya :)

Saya beruntung bersuamikan dirimu..

Selasa, 03 Juni 2014

S.E.N.J.A

Terbenamlah mentari di ufuk barat. 
Membiaskan panorama jingga yang menghias cakrawala.
Senja.. 
Ya! Orang-orang mengatakannya senja..

Tahukah kau bahwa tidak selamanya langit itu biru?
Dan tidak selamanya jingga itu warna senja?

Empat puluh tujuh detik merupakan waktu yang dibutuhkan untuk melihat matahari terbenam sempurna.
Apa yang orang-orang lihat dari pemandangan tersebut?
Tidak ada.. Hanya sebuah panorama alam dimana matahari terbenam dan malam menggelayut manja pada alam..

Lantas mengapa orang-orang begitu terpukau dengannya?
Itu karena mereka melihat sisi indah dari pada senja.. 
Kau tidak akan melihat matahari terbenam jika bukan pada senja hari..
Kau tidak akan melihat bagaimana matahari beranjak dari pagi dan membenamkan dirinya pada malam, kecuali pada senja hari.. 
Dan...
Kau boleh belajar melihat dan memaknai senja mulai sekarang.. 

Bukalah matamu.. 
Lihatlah.. Senja begitu menarik, bukan? 
Dan satu lagi, jangan terlalu monoton! Memandang sesuatu hanya dari sudut pandang yang terlihat saja.. 

Yasudah yaa.. 
Selamat menanti senja :*

Senin, 26 Mei 2014

Love, you..

This is about us, Love..

Apa kamu tertidur dengan lelap malam ini?
Apa kamu memimpikan saya?
Apa kamu mengingat saya sebelum kamu terlelap tadi?

Love..
Disini sudah pukul 03.40 WIB. Dan disini hujan lebat. Saya merindukan kamu. 
Merindukan suaramu. Saya suka mendengar kamu berbicara dengan logat bahasa daerahmu. Entahlah, mungkin karena memang saya suka kamu.

Saya selalu merasa damai dalam tidur ketika saya tertidur dengan ditemani olehmu. 
Caramu 'bertahan' meski engkau tahu ujungnya hanya akan tergores luka yang membuat saya kadang serba salah. 

Saya pernah cemburu dengan waktu. Ia merenggut kesibukanmu hingga kamu lupa mengabari saya. Seharusnya, saya tidak pantas untuk marah. Karena kamu tidak pernah lupa mengabari saya meski kadang hanya sebuah emoticon atau sapan "hai"..

Tapi saya memanglah manusia manja. Yang ketika sekali saja kamu lupa memberi kabar, saya sudah merajuk tanpa sebab yang pasti. Saya tahu, itu tidaklah pantas. Tapi bukan Ayla namanya kalau tidak merajuk!

Dan dengan sabar, kamu meminta maaf. Dengan segenap rasa menyesal, kamu meminta maaf. Saat itu, hati saya begitu hangat karena kasihmu.. 
Love, kamu merupakan makhlukNya yang luar biasa :')

Saya tidak pernah menaruh harapan padamu. Saya takut ketika tidak terwujud, saya akan kecewa. Tapi saya pernah bermimpi hidup di dalam hidupmu. Menjadi bagian dari ceritamu. Menemanimu hingga kita lupa bagaimana kisah kita di mulai.
Tertawa bersama. Dan duka mengering bak luka lama..

Love..
Lupakan. Lupakan apapun yang mengecewakan.
Kamu harus tetap bertahan. 
Jikalah sulit bagimu melangkah kedepan, jangan sekalipun kamu berniat untuk mundur. Bertahanlah! Bertahanlah pada posisi dimana kamu berhenti terakhir kali. 
Bila engkau lelah berdiri.
Maka duduklah.
Jangan sekalipun melangkah mundur.
Berjanjilah..
Berjanjilah padaku, bahwa suatu hari saya akan melihat karya-mu dari tempat saya berdiam.. Meski nanti, hanya tulisan-tulisan yang menjadi penawar rindu kita :')


Sabtu, 26 April 2014

Hati ~

Assalamualaikum hati. Masihkah engkau terjerat dalam nestapanya? Mengapa masih berdiam disana? Bukankah engkau pantas menikmati sejuknya terpaan angin rindu dari kasih yang lain? 

Bukan hendak menjulangkan angan yang tiada. Namun akan lebih indah jika engkau dapat menikmati dengan sebaik-baiknya. Adakah pilu itu menyayatmu? Jelas saja, bukan? Lantas mengapa engkau masih menikmati nelangsanya?

Hati..
Cinta begitu mengagungkan semesta. Ia membius segenap kasih agar tunduk pada pesonanya. Dan kau tahu? Sebuah kasih tidak dengan benar tunduk padanya..
Hati..
Kasih nan tulus datang menghampirimu dengan indah. Sambutlah :)
Karna ia kelak yang akan membuatmu hidup lebih baik..

Senin, 14 April 2014

Wanita Tegar Itu Cantik :)

"Karena wanita tegar itu cantik!"
Kalimat itu muncul ketika saya sedang bercermin beberapa tahun lalu. Dan kini menjadi kalimat penyemangat saya ketika saya 'rapuh'.

Mengapa bisa demikian?
Karena hidup begitu mendewasakan saya. Mengajarkan saya bahwa kehidupan ini sangatlah keras. Semua mimpimu tidak akan tercapai begitu saja. Segalanya membutuhkan proses. Dan disaat proses itu berjalanlah banyak poin-poin yang menjadikanmu lebih bijak dalam menghadapi kehidupan.

Kejadian-kejadian pahit dimasa lalu. Kesakitan-kesakitan yang di rasakan. Perjuangan yang di sia-siakan. Hingga pengkhianatan, segalanya mengajarkan saya untuk lebih bijak.

Pagi itu saya bangun dengan mata bengkak dan sembab. Semalaman suntuk saya menangisi nasib saya. Saya menangisi alur hidup saya yang begitu menyedihkan. Ketika beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, saya melewati sebuah lemari pakaian yang ada cerminnya. Saya mendapati wajah kusut, lusuh, tidak ada semangat dalam diri saya.

Perlahan saya mendekat ke arah cermin. Saya lupa pada tujuan awal saya tadi; saya ingin ke kamar mandi. Saya duduk di lantai. Kebetulan cerminnya itu memenuhi satu sisi pintu lemarinya. Saya duduk, menatap bayangan saya.

Saya ingat kata-kata kakak tingkat saya di kampus. Namanya Icha. Kak icha bilang "ketika kamu merasa sedih, tarik nafas dari hidung, lepaskan perlahan dari mulut. Lakukan 3 kali. Kemudian, tersenyumlah.."
Dan benar! Saya melakukan itu. Setelah melakukannya saya merasa lebih baik. Saya merasa sebagian beban saya keluar dari tiap hembusan nafas ketika saya keluarkan tadi. Dan kalian tahu? Tersenyum dikala sedih itu AMAT SANGAT sulit!!! Yaa, cobalah ketika kalian sedih, kalian lakukan hal itu. Sangat sulit! Maka dari itu, ketika kalian mampu melakukannya, itu artinya kalian sudah lebih baik keadaannya..

Dan kalimat "wanita tegar itu cantik" muncul ketika saya mendapati bayangan saya tersenyum. Saya tersenyum. Siapapun, siapa saja, akan terlihat menarik ketika tersenyum. Karena saya wanita, makanya saya mengatakan kalau "wanita tegar itu cantik".

Dan sebuah kebanggaan adalah ketika banyak orang yang termotivasi dengan kalimat saya tersebut :')
Membuat suasana hati orang menjadi lebih baik itu sangat sulit. Tapi ketika hasilnya didapati, itu akan sangat membanggakan kami. Ya kami, calon sarjana psikologi. Kami, para sarjana psikologi. Dan kami, calon-calon psikolog masa depan. (Amiiiinnnnn~)
:D

Minggu, 13 April 2014

Pelajaran Hari Minggu

Hari ini bolak-balik ke rumah sakit - rumah - rumah sakit - rumah. Dan itu benar-benar melelahkan. Secara fisik, mungkin Ayah lebih lelah. Tapi secara batin, saya yang mulai lelah. 

Dan lagi-lagi ketika darah saya di tensi, saya mengalami kurang darah. Haahhh!!! Apa saya mesti ngemilin garam? Biar tensinya naik? 
Hal yang menarik hari ini adalah ketika sedang mengantri obat di apotik RS. Ada seorang anak kecil usia 12 tahun yang mengidap penyakit bocornya jantung. Ia divonis tiada harapan hidup lama. Dan kami berbincang banyak hal. Tentang mimpinya, tentang keinginannya, tentang bagaimana ia merajut impian untuk masa depannya. Ia ingin hidup lebih lama untuk membahagiakan neneknya. Ayah dan ibunya meninggal saat gelombang tsunami aceh 2004 silam. Sejak itu ia di asuh oleh neneknya. 

Saya melihat binaran mata yang penuh semangat ketika ia bercerita. Hingga tiba-tiba ia mengatakan bahwa ia takut meninggalkan neneknya sendirian di bumi ini. "Soe yang peungon nek meunyoe awai lon, kak?" Dimana jika diartikan : siapa yang menemani nenek jika duluan saya (mati), kak?
Saya terdiam.
Sedikit menyesakkan dada, namun saya harus berlaku simpati. 
Saya mengelus punggungnya sambil mengatakan, "hana peu yoe. Nek geujaga lee Nyang Poe bumoe.." (Jangan takut, nenek di jaga sama Yang Memiliki bumi.."
Dia menatap saya. Dan diam.

Ini tidak lucu, Tuhan.. Disatu sisi saya menyesali pertemuan dengan anak tsb. Saya jadi berpikir, sudah demikian perjuangan orang tua untuk menyembuhkan saya, mengapa saya menyerah? Saya menyesali pertemuan itu adalah karena perasaan saya jadi tidak baik. Seperti pilu yang saya sendiri tidak paham mengapa ini begitu memilukan. Saya benar-benar merasa seperti pecundang! Memiliki semangat yang tidak ada apa-apanya dibanding anak tadi.
Namun disisi lain saya bersyukur. Saya menjadi sadar bahwa ada banyak orang-orang disekitar saya yang mendukung saya untuk tetap bertahan. 

Allah..
Terima kasih untuk pelajaran hari ini..
Terima kasih untuk menganugerahkan saya keluarga sehebat ini.. SAFNA's Family..
Terima kasih untuk memberi saya kerabat dan sahabat-sahabat terbaik! Una, Uni, Nanda dan Dewi :))
I love you all.
I love you.
Maaf untuk kalimat "saya menyerah!" yang lalu..
Mulai detik ini, saya tidak akan menyerah :))
I love you all. Sorry.


Guratan tengah malam..

Selamat malam.. 
Awalnya saya ingin terlelap, hanya saja insomnia kembali menggeranyangi malam saya. Dan hebatnya lagi, saya kembali memiliki keinginan untuk menulis. Ini bukan sesuatu yang menarik untuk kalian baca. Karena sesungguhnya saya sendiri menulis hanya karena ingin menulis. Tanpa adanya embel-embel ide hendak menulis apa. This is so fxcking time, right? Dimana sebenarnya ini merupakan jamnya nona-nona manis sedang tidur cantik. Mhuehehehe :3

Ditemani musik instrument dari ost. Winter sonata, saya jatuh ke masa dimana pertama kali jatuh hati pada sesosok pria yang mampu membuat saya berpikir "bagaimana cara membuatnya tertarik kepada saya?". Well, disatu sisi saya merupakan wanita yang menyukai sebuah tantangan. Itulah kenapa saya teramat menyukai orang-orang yang "masa bodo" sama omongan orang lain alias cuek! 

Bagi saya, pria cuek itu sangat mempesona. Ada sisi dimana saya tertantang untuk membuatnya 'klepek-klepek'. *ikan kalik, Al*
Iya, entah karena pribadi saya yang sedikit cuek dan masa bodo, makanya saya menyukai pria yang juga cuek. Saya merupakan wanita yang cerewet jika mood. Dan bisa menjadi pendiam jika sedang tidak ingin bicara. Meski diam saya sering kali dianggap saya sedang marah. Tapi bagi saya, jika tidak ada yang penting untuk dibicarakan, kenapa harus bicara? 

Oke, balik ke awal. Saya ingat saat pertama melihatnya. Saya sedang duduk menepis rasa bosan di sebuah kursi. Seorang pria hanya melihat saya sekilas dan kemudian berlalu. Bukan itu masalahnya, kantor kita di satu bangunan yang sama. Bedanya, beliau dilantai atas, sedang saya di lantai dasar. Sesama penghuni satu bangunan apa salahnya saling tegur sapa. Dan ia berlalu dengan indah di hadapan saya. Ia masuk ke dalam bangunan kantor, dan saya hanya mampu menatap punggung badannya. 

Saya rasa ia pegawai baru di kantor tersebut. Setahun saya bekerja disana, baru kali ini saya melihat dirinya. Selang beberapa menit kemudian, ia keluar sambil berbicara dengan handphonenya. Saya masih duduk diam ditempat yang sama. Selesai ia berbicara dengan handphonenya, ia kembali masuk kedalam. Sebelum ia masuk, ia sempat membuang puntung rokoknya. Hellooww!!! Whaddehel??!!! Saya yang masih duduk diam memandang dia, tidak juga ditegurnya. Dan saat itu di otak saya hanya ada satu misi "membuat dia jatuh cinta kepada saya!".

Sebulan kemudian, saya tidak lagi melihat wujud pria tersebut. Terdengar kabar bahwa ia ditempatkan di lapangan.  Saya hanya melenguhkan nafas pertanda "sudah tidak ada harapan". Beberapa bulan kemudian, saya kembali bertemu dengannya. Takengon, aceh tengah. Merupakan tempat dimana saya jatuh hati pertama kali dengannya. Apa yang membuat saya tertarik? Wajahnya yang teduh itu begitu mendamaikan. 

Dan dari situ bermula cerita kita. Saya lupa itu bulan berapa, yang saya tahu itu adalah tahun 2011. Sebelum Ramadhan. Saya dengan pria tersebut menjadi dekat. Selama 2 bulan kita berkomunikasi setiap hari, hingga suatu saat, komunikasinya tiba-tiba putus begitu saja. Saya yang menjaga gengsi, hanya bisa diam. Menunggu ia menghubungi terlebih dahulu, dan itu NIHIL! Dia menghilang...

Dan, kembalilah saya melanjutkan hidup dengan baik. Melakukan rutinitas seperti biasanya. Kadang rindu itu datang, namun saya tepis sebisa saya. Kenapa tidak menghubunginya duluan? Sekali lagi, saya mempertahankan gengsi saya!

Waktu berlalu tanpa bisa dihentikan. Setiap detik yang berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Berbulan-bulan lamanya saya menikmati hidup saya. Kerapkali bayangnya menghampiri, tapi saya terlampau kecewa dengan sikapnya yang pergi begitu saja. 

Suatu hari di bulan-bulan terakhir tahun 2013, saya kembali bertemu dengannya. Saya merasakan gejolak kupu-kupu berterbangan didalam perut saya. Desir darah saya pun begitu terasa. Degub jantung saya begitu kencang, dan saya menatap wajah teduh itu. Senyumnya. Sikapnya. Ya Tuhan, mengapa indah sekali ciptaanMu ini? Saya tidak mampu memungkiri rasa yang ada ini. Seandainya Tuhan menjadikan ia patung dalam 10 menit saja saat itu, saya ingin memeluknya! Betapa saya merindukan dirinya. Namun kembali lagi, karena gengsi, saya berlaku seolah selama ini semuanya baik-baik saja. Betapa munafiknya saya! :(

Januari 2014..
Pria itu semakin mendekat kepada saya. Tuhan, inikah jawaban dari doa dan penantian saya? Inikah buah daripada sabar dan pasrahnya saya? Tuhan, ini begitu indah.. 
Ini semua berjalan seadanya. Tanpa ada pikir panjang, saya menjawab pinangannya dengan kata "iya". Saya melihat respon positif dari Ayah dan Ibu. Sebelumnya, ayah dan ibu selalu menentang ketika saya dekat dengan laki-laki. Dan ketika keduanya merespon pria itu dengan baik, saya yakin, ini jodoh saya. Bagi saya, ridha orang tua merupakan ridha dari Illahi Rabb. Ditambah lagi, hati saya terlalu mantap untuk diperistrikan olehnya. 

Ibu sempat berkata, "kamu ingat? Ketika beberapa pria melamarmu, kamu tidak ingin menikah. Kenapa dengannya kamu mau?". Dan saya menjawab "karena saya melihat respon positif ketika saya menceritakan tentangnya pada ayah dan ibu, terlebih lagi, hati saya mantap untuk menjadi ma'mumnya, Bu.."

Ibu memeluk saya dan berkata "Ibu bahagia nak.. Ibu bahagia.. Ibu merasa dia mampu menjadi imammu kelak.."
Haru menyelimuti kalbu saya. Setelah beberapa waktu lalu saya membuat air mata pilu di mata indah mereka, kali ini mereka menitikkan air mata bahagianya. Dan itu cukup membuat saya bahagia. Allah, permudah jalan kami mewujudkan niat suci kami..

12 februari 2014, keluarganya datang melamar saya. Sebuah pertunangan sederhana, namun begitu membuat saya bahagia. Langkah menuju niat suci pernikahan tinggal 50% lagi. Dan ini begitu mendebarkan.
Persiapan. Fitting baju. Dan pengurusan hal-hal lainnya. 
Beberapa bulan lagi.. 

Ada masa dimana saya berpikir, "Ini nyata kan, Tuhan?"

Dan mengapa pria itu? Karena dengannya saya benar-benar menjadi diri saya. Karena dengannya saya bisa bermanja. Karena dengannya saya banyak belajar tentang hidup. Karena dengannya saya ingin menghabiskan sisa hidup. Karena dengannya saya ingin melahirkan dan membesarkan anak-anak kami. Karena dia.. Dia mencintai saya dengan sebegitu baiknya..

Pria yang memahami saya, yang menegur saya dengan perlahan, yang membiarkan saya berkarya sepuas yang saya mau, yang memberikan saya semangat untuk terus melanjutkan hidup. Pria yang menyayangi keluarga saya. Pria yang mencintai saya dengan baik. Pria yang... Ah, saya tidak tahu harus mendeskripsikannya seperti apa. Dia adalah pria terbaik pilihan Tuhan untuk saya.

***

Untuk pria-ku..
Laki-laki terbaik dari Tuhanku.. Terima kasih untuk kisah rumit yang mengharukan ini..
Saya mencintaimu.
Saya akan belajar mencintaimu dengan sebaik-baiknya..

Saya tidak sempurna. Bahkan jauh dari kata sempurna. Saya ingin kamu. Saya membutuhkan kamu untuk menjadi sempurna. 
Saya tidak begitu pintar memasak, saya tidak begitu bijak dalam menghadapi kenyataan. Tapi saya akan senantiasa belajar. Dan kamu... Saya butuh kamu untuk menuntun saya ke arah yang lebih baik..

Untukmu.. Priaku.. Laki-laki yang kelak akan dipanggil "Ayah" oleh anak-anak kita, saya tidak dapat menjanjikan apa-apa.. 
Tapi saya akan memastikan bahwa seumur hidup saya akan mengabdi sepenuhnya kepadamu, menjadi istri yang baik, menjadi peneduh dan penyejuk hatimu.. 

Sayang.. 
Saya menyayangimu.. 

***


Senin, 07 April 2014

Pilihan saya..

Selamat malam para penikmat kata !
Dalam postingan kali ini, yang ada di benak saya adalah "sudah waktunya saya memantapkan diri!"
Beberapa dari kalian mungkin akan merutuki keputusan saya. Tapi saya hanya ingin menegaskan pada takdir, bahwa saya siap menghadapinya. Iya! Menghadapi takdir bahwa saya dan pria senja itu sudah hampir menyatu dalam penyatuan. 

Saya ingin mencintainya dengan baik. Sebaik cintanya kepada saya. Sebaik ia memantapkan hatinya ketika memilih memperistrikan saya. Dan seteguh hati saya ketika menjawab pinangannya. Maka, saya bersedia menjadi penyejuk hatinya kala ia mengalami gundah. Maka saya bersedia menjadi ibu untuk anak-anaknya. Dan saya bersedia hidup berdampingan dengannya seumur hidup saya. 

Untuk calon ayah anak-anakku.. 
Bantu saya memaknai hidup ini dengan sebaik-baiknya.
Ajarkan saya bagaimana menghadapi segalanya dengan lapang hati.
Saya mengenyahkan pandangan seperti apa kamu dahulu, dan kamu mengenyahkan seperti apa saya dulu.
Dan kamu harus memahami, bahwa yang terpenting adalah bagaimana saya mencintai kamu sampai hari esok. Sampai maut yang memisahkan kita.

Dan ini adalah satu-satunya keputusan yang saya ambil dengan berpikir secara baik. Tuhan mengirimkan seseorang yang baik untuk menjadi pendamping hidup saya. Tuhan mengirimkan laki-laki yang luar biasa untuk kelak dengannya saya akan menatap senja dari atap yang sama.


Selasa, 25 Maret 2014

Rangkaian Kata Senja

Tuhan.. Boleh saya mengiba pada takdirMu? Agar seketika mampu Engkau kembalikan garis hidupku dengan sebaik-baiknya?

Saya bak seekor kupu-kupu yang sayapnya sedang patah. Ingin terbang, saya tak mampu. Mengharapkan mendapat pertolongan, mustahil! Kecuali Tuhan meralat garis hidup saya..

Ada apa hari ini? Beberapa dari mereka mengatakan hal yang sama. Saya enggan menggubrisnya. Karena setiap kalimat demikian muncul, saya takut hal itu kembali terjadi. 

Sebelumnya, selamat membaca kembali postingan saya. Sudah lama saya tidak memposting. Dikarenakan adanya berbagai macam kesibukan :3 *halah! Sok sibuk -,-

Beberapa bulan yg lalu, saya kembali melanjutkan pengobatan di negeri seberang. Perasaan saya waktu itu sedikit lebih baik. Karena biasanya ketika melakukan pengobatan, saya hanya ditemani oleh Ayah ataupun hanya ditemani oleh Ibu. Selebihnya.. Tidak ada.. 

Dan pengobatan kemarin saya cukup merasa damai, karena adik-adik ikut menemani. Hmm.. Mungkin benar, perasaan yang baik akan lebih mempercepat proses pengobatan menjadi lebih baik :') 

Hai, kamu :) Yang disana.. Yang diam-diam melantunkan nada dengan menyebut namaku didalam doamu.. Yang diam-diam tanpa aku ketahui, sudah menyelinap dan membiarkanku kecanduan pada kehadiranmu.. 

Terima kasih.. Untuk rasa yang indah ini.. Terima kasih untuk segala yang sudah kita lewati bersama.. Aku percaya, bila tidak sekarang, Tuhan akan menyatukan kita di sebuah episode yang baru :)

Koetaradja, 25 maret 2014

Kamis, 13 Februari 2014

Ayah..


Ayah...
Ku pegang tanganmu yang mulai kasar
Ku tatap wajahmu yang kian lusuh akan pengorbananmu

Ku rangkul bahumu yang terlihat bungkuk demi kami
Ku papah kau sampai ke pembaringan

Ayah…
Kau selalu bercerita tentang kehidupan
Hingga ku dapat belajar dari ceritammu
Kau selalu bercerita tentang perjuangan
Hingga ku menjadi semangat kala mengingat perjuanganmu


Ayah…

Sering kau bisikan kata sayang ketika ku lelah akan hariku
Sering kau memberiku inspirasi dalam meraih cita-cita
Hingga ku tak pupus untuk berlari mengejar cita-cita dan harapan
Karena kehidupanmu memberikan arti yang berharga untukku



Ayah…
Sempat ku pegang erat tanganmu ketika kau ketakutan
Sempat ku tatap matamu yang penuh dengan air mata
Sempat ku usap kakimu yang terlihat lelah akan langkah kehidupan
Sempat ku menangis ketika kau kesakitan



Ayah…
Saat ini ku menunggumu untuk tersenyum tanpa beban
Ku menunggumu dibalik ruangan yang hening
Ku hadir untuk memberimu semangat dalam melawan rasa sakit
Meski aku tak mampu untuk menjadi penyemangatmu



Ayah…
Jangan pernah kau ucapkan kalimat “tak ingin membebani kami”
Sejatinya kalimat itu dapat membunuh jiwa ini
Jiwa yang perlahan akan rapuh jika tanpamu
Kau pasti kuat dalam ujian-Nya dengan selamat
Iringan do’a dalam munajatku selalu hadir untukmu “Ayah”



Ayah…
Tanpa nafasmu
Tanpa senyumanmu
Bahkan tanpa canda dan tawamu
Kami hanyalah pecundang dalam kehidupan
Karena kau yang selalu mengajari akan keberanian



Ayah…
Kau pasti kuat dalam ujian-Nya dengan selamat
Allah akan selalu memelukmu disetiap ketabahan
Allah senantiasa bersamamu disetiap naungan kehidupan
Tetaplah bersemangat , tersenyumlah dalam ikhlas....

Sabtu, 08 Februari 2014

Just Posted!



Ini adalah waktunya..

Tuhan kadang punya rencana yang kita sendiri tidak tahu apa makna dibaliknya. Saya sempat berpikir, "Benarkah Tuhan? Benarkah sudah waktunya saya mengakhiri masa sulit ini?". Dengan binaran mata bahagia saya menyusuri lorong-lorong gelap tanpa akhir. Di sepersekian detik kemudian saya kembali berpikir, "Jika benar bahagia menunggu saya di gerbang akhir, mengapa sampai sekarang saya belum menemukan sebuah celah cahaya yang dapat menuntun saya kesana?".

Ini merupakan detik-detik menuju gerbang akhir itu. Ada sedikit rasa bahagia karena dapat melihat senyum bahagia "mereka". Namun juga terdapat sedikit rasa pilu, dimana saya harus meninggalkan beberapa orang yang pernah membuat saya bahagia. Bukan terpaksa, lagi-lagi saya hanya mencoba menjadi pribadi yang baik. 




Minggu, 05 Januari 2014

Tulip..


Tulip…
Aku ingin seperti bunga tulip
Meskipun tidak tahu apa filosofinya
Aku tetap ingin menjadi bunga tulip

Sejak kecil memang aku menyukai bunga tulip..
Bukan karena asalnya dari Belanda atau mahal harganya di toko bunga

Ah, entah! Aku tetap ingin seperti sekuntumnya
Paling tidak, itu adalah bukti sisi wanita diriku
Memang belum pernah sekalipun aku menyentuh sang bunga idaman itu
Tapi sejak pertama mengenalnya, aku langsung jatuh hati padanya

Tulip…
Kuntum manisnya membuatku terpesona
Ia indah saat berkerumun bersama temannya
Namun juga tampak sangat tegar saat ia sendiri

Aku ingin seperti ia..
Meski ia tak secantik bunga mawar atau sewangi rangkaian melati
Ia tetap bunga yang kucinta
Karena ketegaran hatinya muncul pula kekuatan cintanya

Aku ingin menjadi bunga tulip
Yang terlihat cantik bukan karena raga
Yang tercium wangi bukan karena semerbaknya
Namun tetap memiliki mahkota indah terjaga

Walaupun hanya sang pemetik yang merasakannya

Sabtu, 04 Januari 2014

Don't Back !


Maka ketika kamu memilih pergi, pergilah. Tidak perlu jauh, tapi cukup jangan pernah kembali. Kamu anggap apa hati ini? Sebuah rumah singgah untukmu? Yang ketika kamu kelelahan, kamu datang mengunjungi saya. Ketika lelahmu punah, kamu pergi dari tempat itu? Kecewa? Tidak! Saya sudah merasakan kecewa yang lebih daripada ini. Marah? Apa saya memiliki hak untuk marah? Saya sudah memaafkan kamu jauh hari sebelum kamu kembali untuk meminta maaf.

Ketika saya memaafkan, apa kamu berpikiran bahwa saya bisa menerima kamu dengan baik lagi? Tidak. Beruntungnya kamu, saya tidak menanam sedikitpun rasa benci kepada kamu. Kenapa? Karena dari awal saya tidak membuka lebar pintu hati saya. 

Apa saya salah?