Rabu, 09 Mei 2012

Cerpen ; Namanya, Ayla..


Aku lupa bagaimana kita memulai. Tapi yang aku ingat, sejak saat itu kita memulai sebuah ikatan. Kau yang mengerti bagaimana keadaan yang selanjutnya. Kau biarkan aku tenggelam dalam imajinasiku kala hal buruk itu mencuat.
Kau, bahkan seperti bayanganku.
Aku bahagia, dipertemukan denganmu.
Seseorang yang mampu membuatku tegar. Aku ingat saat dimana aku benar-benar terpuruk. Merasakan bahwa tak ada lagi alasan untuk aku hidup. Orang-orang yang aku banggakan dan ingin sekali aku bahagiakan, meninggalkanku dalam sendiri.
Kau ajarkan aku untuk menjadi wanita yang tegar.
Satu yang kuingat, kau pernah berkata, "Saat ini, ia meninggalkanmu. Kelak suatu saat akan ada orang lain yang berterima kasih padanya, karena telah meninggalkanmu.."
Dan aku terdiam.

***

Kau seseorang yang seperti kakak, teman, sahabat, dan ibu. Kau selalu saja marah saat aku mencoba mendekati makanan-makanan yang diharamkan untuk aku konsumsi. Berbekal keberanian dan rasa ingin yang kuat, kadang aku menentang dan mengonsumsinya. Ketika hal itu kau ketahui, bukannya mendukungku untuk menikmatinya. Kau malah menghardikku !
Mungkin saat itu aku kesal, karna tak ada seorang pun yang mengerti bagaimana rasa "ingin" yang aku derita.
"Sudah kukatakan untuk tidak mendekatinya ! jangankan untuk kau dekati, membayangkannya saja sudah haram untukmu !" demikian kalimatmu saat itu.
"Kau tidak mengerti, aku menginginkannya. Sudah hampir lupa aku dengan rasanya". jawabku.
"Alasanmu ! Nenek moyang kita juga tidak menikmatinya tapi ia dapat hidup dan melahirkan generasi-generasi seperti kita. Kau terlalu suka bermain dalam lingkup "nekat". Ketika sudah tak sanggup, aku yang menjadi tempat peraduanmu. Dan aku LELAH dengan sikapmu demikian."
Lelah? Kau lelah? Kau bilang kau lelah?
Pertama kalinya kau membuat butiran bening itu jatuh dari pelupuk mataku.

Tidak,
Aku bukan menangisi kata-katamu. Aku hanya menyesal, telah membuatmu lelah hidup bersamaku.
Karena keegoisan masih bertahta ditempat tertinggi dalam diriku. Aku pun menanam pemikiran bahwasanya aku mampu hidup tanpa kalian !
Sampai aku tersadar, aku tidak dapat hidup seorang diri.
Di pagi hari minggu, kutelusuri jalanan yang masih sepi. 
Membangunkanmu dari tidur lelapmu, ketika pintu kau buka. Dengan segenap perasaan, aku memelukmu erat. Kau terkejut. Masih dalam keadaan setengah mengantuk. kau balas pelukanku.
"Maaf, jika kata-kataku menusuk hatimu. Sesungguhnya demikian caraku agar kau meninggalkan apa saja yang dilarang oleh dokter." Katamu.
Aku mengangguk dan masih memelukmu..
Ahh, demi kau, aku akan meninggalkannya.

Bertahun-tahun sudah, untuk pertama kalinya kita melakukan pertemuan antarkeluarga. Dan benar, hingga sekarang, jika hendak kemana saja, bila aku mengatakannya bersamamu, orangtuaku tidak melarang.
Yaa, kau tau bagaimana mereka. Membatasi lingkup aku bergaul. Membatasi apa yang aku inginkan. Membatasi aku dengan dunia luarku. Dan aku bahagia, ketika kutemui sosok yang dapat menerimaku dengan baik.

Kaulah yang pertama kali mendukungku masuk ke dunia sastra.
"Kau bisa, kau bahkan mampu ! Bakatmu sudah ada.. Jika mereka tak mengizinkan, aku akan mengatakan bahwa kita ada kelompok belajar." Katamu. Kau, mengorbankan dirimu menemaniku menyelesaikan kegiatan ekskul sastra saat itu.
ketika selesai, aku melihatmu menyeruput minuman dingin. Udara saat itu sangat terik. Aku haus. Kudekati dirimu, kau melihatku dan langsung membuang minuman itu. 
"Kenapa dibuang? bukannya baru kau beli?" tanyaku.
Kau tersenyum, dan berkata "tidak, aku tidak ingin kau meminumnya.."
Aku diam. 
Kau sadari raut wajahku yang lelah dan haus. 
Kita melewati koridor sekolah dan menuju kantin, membeli air mineral dan meminumnya.

"Bagaimana kelas hari pertama?" tanyamu.
"Menyenangkan. Kau tidak pulang?" aku balik bertanya.
"Tidak, kalau aku pulang, ketika Bunda menjemput dan ia tak melihatku, mereka pasti curiga.." Jawabmu.
Aku tersenyum. Kau baik sekali.

***

Aku benci, bau obat-obatan itu menusuk hidungku.
Tunggu, dimana aku??
"Kau sudah bangun?" Suara Bunda.
"Aku dimana?" Tanyaku.
"Rumah sakit, sayang.." Jawab Bunda.
"Ayah dimana?" Tanyaku lagi.
"Sedang membeli makanan.." Jawabnya.

Kasur putih, infus, jarum, Perawat, Dokter, dan bau obat-obatan ini memuakkanku. Yang aku ingat kemarin aku selesai kelas sastra dan keluar dari kantin bersamanya. Setelah itu? Aku lupa. Dan ketika terbangun, aku sudah disini.
Baru saja selesai berfikir, 
"Hai, bagaimana keadaanmu?" Kau datang.
Entah energi darimana, aku tersenyum. Bunda melihatku dari balik pintu. Aku tahu Bunda menatap juga kearahmu.
"Sudah membaik, ceritakan hal apa yang terjadi kemarin !" Kataku.
Kau tersenyum. Manis sekali.
"Tiba-tiba kau jatuh saat Bunda menjemputmu, dan dari kemarin kau baru sadar sekarang.." Katamu.
"Tadi malam aku menginap, tapi pagi-pagi tadi aku harus kesekolah dan pulang. Tapi aku sudah berjanji akan menemuimu sepulang sekolah. Kau tau apa? Hari ini aku melihat 'dia', bahagia sekali.." Katamu.
Kau menceritakannya dengan semangat. Binaran bahagia terpancar jelas dari matamu. Sayang, kenapa kau pendam? Katakan saja yang sejujurnya.
Alasanmu satu, kau takut ketika ia menolak, kau tak dapat lagi melihatnya. Katamu juga, menjadi pemuja rahasia itu sangat indah.

Aku lelah dengan kaum 'dia'. Sudah sekian kalinya aku terluka karena mereka. Tidak, bukan karena mereka, hanya saja aku yang tak mampu membahagiakan mereka.
Kau ingat? Saat seseorang hadir dan menemaniku melewati waktu bersamanya.
Sampai kau marah dan berkata "Semenjak ia hadir, aku tak pernah lagi menikmati hari bersamamu, menemanimu mengunjungi dokter, membeli perlengkapanmu, dan melihatmu tertawa bersamaku."
Aku tahu, kau cemburu. Tapi kau kembali mengungkapkan bahwa "Sekarang kita sudah menemukan kebahagiaan yang sebenarnya, aku senang kau menikmatinya. Kulihat juga akhir-akhir ini kau jarang kumat." Aku tersenyum. Kau benar, sejak seseorang itu hadir, aku sudah lupa dengan 'rumah keduaku' dan 'rasa' itu.

***

Kita sudah beranjak dewasa, masa remaja kita lewati dengan berbagai rasa. Melanjutkan pendidikan ke tempat favorit masing-masing. Dan yang aku bahagiakan, kau masih saja berada didekatku.
Hingga saat dimana seseorang itu pergi, meninggalkanku dalam pesakitan. Alasannya satu, ia lelah menemaniku. LELAH ? Entah kenapa otakku terasa kosong saat kata itu terlintas. Kepalaku sakit saat melihat gabungan huruf yang menjadi sebuah kata itu. Arrghtt !

Kau datang, membujukku agar membuka pintu kamar. Karenamu, karena suaramu. kuhentakkan kaki menuju pintu kamar. Menarikmu masuk dengan cepat dan kembali mengunci kamar. Kau mengeluarkan makanan-makanan ringan, sebenarnya kau tahu, aku tidak diizinkan untuk memakannya.
"Ayolah, kapan lagi. Aku ingin kita menikmatinya bersama". Katamu sambil mengunyah keripik kentang.
Aku menatapmu, muak !
"Kau tahu apa yang kurasa?" Tanyaku.
"Ya, tapi makanlah dulu. Nanti kita bicarakan hal itu." Jawabmu dan langsung menyalakan TV.
Aku diam.
"Kau, kenapa masih disini? Ingin mengucapkan kata LELAH dan beranjak dariku juga?" Tanyaku lagi.
Kau masih menatap TV tanpa menggubris ucapanku.
"Aku tahu, kalian semua lelah. Lelah karena mengurusiku. Maaf, aku bahkan sudah tak ingin lagi seperti ini. Setiap kali aku berdo'a pada Tuhan agar segera mengakhiri semuanya. Ketika kau lelah. Pergilah. Aku tak ingin kau lelah karena ku." Kataku.
Kau masih mengunyah keripik kentang dan tidak mengalihkan pandanganmu dari TV.
"Aku juga lelah. Aku ingin semua berakhir. Aku ingin kalian bahagia. Aku sudah tidak sanggup." Isakku.

PLAAAKKK !!!!
Kau menamparku. Aku terkejut.
"Sekali lagi kau mengucapkan kalimat demikian, aku yang akan mengoyak dadamu dan mengambil jantungmu dengan tanganku sendiri !" Katamu. Sambil menangis.
Aku pun menangis.
"Maaf, aku hanya.." 
"Tutup mulutmu !!" Kau membentakku.
Tangisku pun pecah. Dan kita tenggelam dalam alam pikir masing-masing.

***

Entah sudah berapa kali minggu, aku disini.
Bosan. Aku ingin keluar.
Tapi tak ada seorangpun disini yang bisa membantuku. 
Kau kemana? sudah 3 hari tidak datang menemuiku.

Pintu kamarku terbuka, 
"Ayah datang membawakanmu majalah, supaya kau tidak bosan." kata Ayah.
"Terima kasih Ayah.. Ayah mau kemana?" Tanyaku ketika Ayah kembali kearah pintu.
"Oh, Ayah lupa. Besok ayah harus keluar kota. Ada pertemuan penting dengan pihak kontraktor."
Ayah, anakmu lagi sakit. Ayah masih mau meninggalkanku disini? Sendiri?. Kusimpan tanya dalam benakku.
Ayah mencium keningku, "Cepat sembuh, buah hatiku" Kata Ayah.
Hanya kubalas dengan senyuman.
Ayah pun hilang dari pandanganku. Aku ngantuk. Aku pun tertidur.

Aku terbangun, sayup-sayup kudengar lantunan ayat suci yang merdu. Kau baru selesai shalat. Dan melanjutkan dengan mengaji. Suaramu indah sekali.
Kau pun menyelesaikan bacaanmu dan menuju ketempat tidurku.
"Kau sudah bangun?" Tanyamu yang hanya kujawab dengan sebuah anggukan.
"Aku ingin keluar, aku bosan.." Kataku
Aku melihat keragu-raguan dari wajahmu.
"Tolonglah.." Pintaku.

Kau mengambil kursi roda yang berada diseberangmu. Kau tuntun aku pindah dari tempat tidur ke kursi roda. Kau bantu aku menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Sesekali kita tertawa lepas karena ada hal lucu.
Sesampai ditaman, aku bahagia sekali. Aku melihat perawat yang sedang menyuapi kakek-kakek. Ibu yang sedang membantu suaminya berjalan. Dan anak-anak yang sedang berlarian. 

Kau membantuku pindah dari kursi roda ke bangku yang ada ditaman. Dan kau duduk disampingku. Menceritakan hari-hari yang kau lalui beberapa minggu ini. Dan aku tau kau tidak datang menemuiku karena sedang kurang sehat. Kau tidak datang karena takut aku tertular flu darimu.
Ahh, Syira.. Flu yang demikian ringan itu tidak seberapa dengan kanker yang kuderita ini. Aku pasti kuat kok..

"Kau, kelak jika memiliki anak, akan kau beri nama siapa?" Tanyaku padanya.
"Ayla.. Seperti namamu.." Jawabmu.
"Kenapa??" Aku bertanya karena heran.
"Karena aku ingin anakku tegar sepertimu. Melewati semua dengan senyuman, walau sebenarnya kerapkali tissue dikamarmu habis dengan cepat." Kau berkata dengan tertawa renyah.
"Kau? akan kau beri nama siapa anakmu?" Kau berbalik tanya.
Aku diam. Lalu tersenyum.
"Apa kau melihat aku akan menikah? Apa aku bisa melahirkan seorang keturunan saja?" Tanyaku yang memendam kesedihan.
Kau menatapku dalam. Dalam sekali.
Apa yang kau cari?
"Kenapa berkata demikian?" Tanyamu, aku tahu kau juga menahan airmata itu untuk tidak jatuh dihadapanku. Sayangnya, kau gagal.
Kau memelukku erat sekali. Aku bahagia. Pelukanmu hangat sekali. Membuatku ingin tidur dengan nyaman. Iyaa, pundakmu nyaman sekali.
Ah,, aku mengantuk.
Kau melepas pelukanmu. "Aku mengantuk" Kataku. 
"Kalau begitu, kita masuk saja." Katamu.
"Tidak, aku ingin tidur disini, boleh aku tidur dalam pelukanmu? dan menikmati udara segar taman ini?" Pintaku.
"Baiklah.." Katamu.

Kau peluk aku. Nyaman sekali.
Aku berharap bisa bermimpi indah.

"Hei syira, terima kasih karena sudah menjadi sahabatku dari dulu. Aku sayang padamu.." Kataku lirih.
"Aku juga sayang padamu, Ayla. Tidurlah. Setelah kau bangun, kita segera beranjak dari sini." Katamu..

***

Hujan gerimis membasahi bumi. Disebuah rumah yang ramai sekali orang-orang berdatangan. Kendaraan sulit mendapatkan tempat parkir.
Bau segar kembang bunga menusuk tajam kedalam hidung orang-orang di sebuah tempat yang lain.
Gundukan tanah merah yang masih basah, dan kembang bunga yang terletak diatasnya. Serta percikan air yang menetes ke dasar bumi, mengiringi kepergian seseorang terkasih.
Ayla, wanita berusia 18 Tahun itu mengakhiri rasa sakitnya. Ia pergi dengan senyuman bahagia.
Kanker otak yang dideritanya berhasil merenggut sisa hidupnya dengan cepat.

Selamat jalan, Ayla.
Semoga kau tenang disisi Nya.

Persahabatan kita takkan terlupakan. Sesuai janjiku. Gadis kecil yang wajahnya menyerupaiku, kuberi nama, Ayla..

- Syira -



















***