“Cinta
tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati. Jatuhkan hatiku kepadamu.
Sehingga hidupku pun berarti. Cinta tak mudah berganti. Tak mudah berganti jadi
benci. Walau kini aku harus pergi ‘tuk
sembuhkan hati..”
Lirik
lagu Tangga yang mengalun indah dari earphone saya. Cukup membuat saya tersadar
bahwa semua sudah waktunya untuk saya akhiri. Apa yang kamu ketahui, sayang?
Yang saya takutkan sebenarnya adalah kita berpisah tanpa pernah mengungkapkan
perasaan di hati kita. Ini sudah waktunya saya pergi, kan?
Saya
pernah berpikir apa yang akan kamu lakukan jika saya mengatakan semuanya. Suatu
malam di bulan Desember 2013, saya pernah berniat akan mengutarakan apa yang
seharusnya saya utarakan. Saya selalu berpendapat, “katakanlah! Kau tidak akan tahu jika tidak mencari tahu”. Tapi
ketika pagi hari, saya mengurungkannya. Bukan karena saya tidak ingin mencari
tahu dan lepas dari genggaman rasa yang menyakitkan ini. Tapi lebih kepada
sebelum saya utarakan, kamu sudah dengan tegas memperjelas semuanya. Saya tidak
menyalahkanmu, sayang. Tapi caramu cukup membuat saya merasakan luka yang
hampir tertutup sempurna itu.
Saya
tidak bodoh. Saya juga bukannya tidak peka. Tapi saya mencoba menjadi kebal.
Demi bisa selalu bersamamu. Apa saya terlalu naif? Atau kamu yang terlalu
menganggap gampang perasaan ini? Saya
mengingatmu sama seperti ketika saya terlelap. Kamu adalah sesuatu yang membuat
saya tidak merasakan segala, selain bermimpi dan berdetak. Saya adalah wanita
yang menyimpan do’a baik-baik didalam sepatu kerjamu. Setiap petang, saya
selalu berkata “Hati-hati pulang kerjanya, sayang!”. Meski kadang ucapan itu
aku ucapkan seraya aku memandang langit yang perlahan memerah saga.
Kamu
boleh bersamanya. Menikmati bahagia dengannya. Aku merelakan, karena memang dia
bahagiamu seutuhnya. Tapi sayang, jangan kembali padaku jika kamu tidak
menemukan apa-apa. Karena hatiku bukanlah cadangan hidupmu.
Saya
melihat potret kamu dan dia. Saya cemburu. Bukan, saya bukan cemburu pada dia.
Saya cemburu karena kamu berada lekat disisinya. Saya terlalu bodoh. Ya, saya
bodoh! Saya bodoh. Saya sok tegar. Saya sok pintar. Ya, itulah saya.
Diluar
sedang turun hujan deras. Saya memilih menyeruput segelas teh hangat sambil
terus menuliskan tentangmu. Maaf, saya memilih pergi, tapi tidak memilih untuk
berhenti menulis tentangmu. Udara yang dingin membuat ujung jemari saya
membiru. Saya berharap hangatmu tetap terjaga disana, hingga tak membuat sedih
siapapun yang menyayangimu disini.
Saya
terlalu menyayangimu. Dan saya harus berhenti untuk ‘terlalu’ menyayangimu.
Walau kenyataannya hal itu bukanlah sebuah ‘hanya’.
Saya tipikal wanita yang
merasa. Pria seharusnya menyadari diri bahwa mereka harus memberi penjelasan
tanpa harus membuat wanitanya merengek.
Ah,
saya baik-baik saja. Ini hanya luka kecil dibanding segala yang masih terjadi
pada hidup saya saat ini. Lagipula, saya yang memilih pergi. Bukankah didalam
hidup ada datang dan pergi? Dan kepergian hanyalah untuk memberikan ruang pada kedatangan
yang lebih baik.
Tidak
apa-apa. Saat ini saya sedang bahagia dengan hidup yang saya jalani. Dengan hati-hati
yang mengelilingi saya. Walau pun saya belum siap untuk mencintai seseorang.
Bukan karena kamu. Saya pernah percaya bahwa kamu tidak sama dengan yang lalu.
Tapi saya lupa. Satu-satunya yang bisa saya percaya hanyalah Sang Pencipta.
Sehingga pada akhirnya, saya kembali terluka. Hahaha ! Hanya luka kecil, sayang..
Terima
kasih untuk kamu, untuk beberapa waktu yang saya sita untuk menemani saya. Will
miss you, dawn.. J
.jpg)



0 komentar:
Posting Komentar