Sabtu, 14 Desember 2013

Tentangmu, sang fajar (5)



“Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati. Jatuhkan hatiku kepadamu. Sehingga hidupku pun berarti. Cinta tak mudah berganti. Tak mudah berganti jadi benci. Walau kini aku harus pergi  ‘tuk sembuhkan hati..”

Lirik lagu Tangga yang mengalun indah dari earphone saya. Cukup membuat saya tersadar bahwa semua sudah waktunya untuk saya akhiri. Apa yang kamu ketahui, sayang? Yang saya takutkan sebenarnya adalah kita berpisah tanpa pernah mengungkapkan perasaan di hati kita. Ini sudah waktunya saya pergi, kan?

Saya pernah berpikir apa yang akan kamu lakukan jika saya mengatakan semuanya. Suatu malam di bulan Desember 2013, saya pernah berniat akan mengutarakan apa yang seharusnya saya utarakan. Saya selalu berpendapat, “katakanlah! Kau tidak akan tahu jika tidak mencari tahu”. Tapi ketika pagi hari, saya mengurungkannya. Bukan karena saya tidak ingin mencari tahu dan lepas dari genggaman rasa yang menyakitkan ini. Tapi lebih kepada sebelum saya utarakan, kamu sudah dengan tegas memperjelas semuanya. Saya tidak menyalahkanmu, sayang. Tapi caramu cukup membuat saya merasakan luka yang hampir tertutup sempurna itu.

Saya tidak bodoh. Saya juga bukannya tidak peka. Tapi saya mencoba menjadi kebal. Demi bisa selalu bersamamu. Apa saya terlalu naif? Atau kamu yang terlalu menganggap gampang perasaan ini? Saya mengingatmu sama seperti ketika saya terlelap. Kamu adalah sesuatu yang membuat saya tidak merasakan segala, selain bermimpi dan berdetak. Saya adalah wanita yang menyimpan do’a baik-baik didalam sepatu kerjamu. Setiap petang, saya selalu berkata “Hati-hati pulang kerjanya, sayang!”. Meski kadang ucapan itu aku ucapkan seraya aku memandang langit yang perlahan memerah saga.

Kamu boleh bersamanya. Menikmati bahagia dengannya. Aku merelakan, karena memang dia bahagiamu seutuhnya. Tapi sayang, jangan kembali padaku jika kamu tidak menemukan apa-apa. Karena hatiku bukanlah cadangan hidupmu.

Saya melihat potret kamu dan dia. Saya cemburu. Bukan, saya bukan cemburu pada dia. Saya cemburu karena kamu berada lekat disisinya. Saya terlalu bodoh. Ya, saya bodoh! Saya bodoh. Saya sok tegar. Saya sok pintar. Ya, itulah saya.

Diluar sedang turun hujan deras. Saya memilih menyeruput segelas teh hangat sambil terus menuliskan tentangmu. Maaf, saya memilih pergi, tapi tidak memilih untuk berhenti menulis tentangmu. Udara yang dingin membuat ujung jemari saya membiru. Saya berharap hangatmu tetap terjaga disana, hingga tak membuat sedih siapapun yang menyayangimu disini.

Saya terlalu menyayangimu. Dan saya harus berhenti untuk ‘terlalu’ menyayangimu. Walau kenyataannya hal itu bukanlah sebuah ‘hanya’. 

Saya tipikal wanita yang merasa. Pria seharusnya menyadari diri bahwa mereka harus memberi penjelasan tanpa harus membuat wanitanya merengek.

Ah, saya baik-baik saja. Ini hanya luka kecil dibanding segala yang masih terjadi pada hidup saya saat ini. Lagipula, saya yang memilih pergi. Bukankah didalam hidup ada datang dan pergi? Dan kepergian hanyalah untuk memberikan ruang pada kedatangan yang lebih baik.

Tidak apa-apa. Saat ini saya sedang bahagia dengan hidup yang saya jalani. Dengan hati-hati yang mengelilingi saya. Walau pun saya belum siap untuk mencintai seseorang. Bukan karena kamu. Saya pernah percaya bahwa kamu tidak sama dengan yang lalu. Tapi saya lupa. Satu-satunya yang bisa saya percaya hanyalah Sang Pencipta. Sehingga pada akhirnya, saya kembali terluka. Hahaha ! Hanya luka kecil, sayang..


Terima kasih untuk kamu, untuk beberapa waktu yang saya sita untuk menemani saya. Will miss you, dawn.. J

0 komentar: