Selasa, 28 Agustus 2012

Pria Hujan..


Hujan..
Samar-samar aku kembali melihatnya dalam gerimis. Ia selalu muncul membawa rindu setiap kali hujan jatuh menggempur bumi.
Dibawah rerintiknya,
Bayangan itu semakin tampak samar-samar.
Ia membawa ingatanku terlempar jauh ke dataran tandus yang haus akan hujan cinta.
Aku mengenalnya.
Dadanya yang bidang. Bahunya yang tegap. Lengannya yang kekar.
Mengingatkanku pada seseorang !
Tidak .. Bukan mengingatkan. Tapi aku yakin itu adalah dia.
Pria Hujan ku..


Dada yang bidang itu, pernah menjadi alas kepalaku untuk tidur.
Bahu yang tegap itu, pernah menjadi tempatku bersandar kala tumpukan beban tak mampu lagi aku menahannya seorang diri.
Lengan yang kekar itu, pernah memelukku dalam hangatnya dekapannya. Membuatku lupa bahwa hidupku penuh beban.
Dirinya, kusebut Pria Hujan, karena ia selalu menyirami gersangnya ladang rinduku.



Satu Diantara Seribu Malam..














Kita terjebak dalam satu kamar dimana terdapat pembatas yang sangat lebar.
Kau tahu? Aku selalu bersyukur ketika terjebak dalam dimensi apapun jika bersamamu.
Aku mengabaikan teriakan sang jendral mayor untuk keluar dari kamar itu.
Sayang, biarpun ia menyeret dan memisahkanku dari kamar kita pertama. Kau dan aku selalu punya cara untuk kembali bersatu.

Kau ingat malam kelabu itu?
Aku mengabadikan moment tersebut dalam ingatanku. Kupastikan tidak akan kulupa mesti kita tak lagi mengarungi musim bersama.
Aku berpikir beberapa malam sebelumnya merupakan malam terakhir untuk pertemuan kita. Tapi Tuhan Maha Adil. Dia tahu setulus apa kasih yang kita punya. 
Demikian sudah perjuangan kita. Akankah kita mendapati akhir seperti yang kita harap?
Aku menginginkanmu lebih dari kata yang selalu kulontarkan. 
Dalam diam, aku selalu mengirimkanmu doa.
Wahai calon imamku..
Kisah kita takkan pernah usai dari peristiwa itu. Aku mohon bersabarlah..
Dalam kesunyian, aku menghantarkan beribu rindu dan kecupan sayang untukmu.
Wahai pemilik hati, jiwa, dan segalaku..
Aku mencintaimu tanpa batasan ruang dan waktu.
Aku mencintaimu hingga bumi memuntahkan isinya.
Aku mencintaimu, dalam pelukan kasih sayangNya..

Koetaradja, 28 Agustus 2012.