Minggu, 28 Juli 2013

Pada akhirnya, aku kalah..


Silahkan masuk! 

Pintu rasa itu selalu terbuka demi dan untuk kebersamaan kita. Maukah? Mampukah? Karena sendiri, aku tak yakin mampu mengemas pulang kebahagiaan itu, untuk kita. Sebagai kita, sudah sampai di mana perjalanan rasa yang tersepuh? Sebagai anugrah, itulah posisimu. Sebagai bahagia yang terpatri kini, nanti, dan di masa lalu. Sebagai kita, kebersamaan itu lebih dekat dengan bahagia, bagiku. Dan aku yakin, begitu pula denganmu.

Lalu, segalanya beringsut ke tepi. Tanpa merunut kata hati. Mungkinkah kembali seperti dulu lagi? Terbelenggu oleh rasa yang kita sama-sama tidak mengerti. Bertahan entah karena benar cinta, atau karena sudah terbiasa bersama. Kita sudah berjarak dengan rasa bisu yang menghitam-kepekatan.

Seharusnya sebagai kita. Perpisahan tidak akan pernah mengubah apa pun. Karena kau telah memenangkan hatiku. Ternyata, kata "Seharusnya" tidak berlaku lagi untuk kita. Kini aku tahu, kau memilih bergeser dari garisku. Dan membungkam hilang kenangan itu.

Dan aku? Pada akhirnya aku tak perlu lagi mengatakan; "kembalilah!". Karena aku telah kalah, bahkan sebelum melambaikan kata perpisahan..

Jumat, 19 Juli 2013

Bagaimana Hati Bicara? Adalah Waktu Yang Menjawab..



Ini luka. Yang bahkan belum mengering. Tapi kamu sudah menggoreskan luka baru di tempat yang lama. Haruskah saya mengaduh? Agar kamu tahu kalau saya kesakitan? Haruskah saya berteriak? Agar kamu mengerti kalau ini sudah sangat menyakiti saya? Tidakkah bisa kamu melihat? Setiap pemberontakan saya yang saya salurkan melalui sikap?

Kalau kamu menangis? Mengeluarkan airmata. Itu melegakanmu. Tahukah kamu ketika saya menangis? Bahkan tidak lagi mengeluarkan air mata! Kamu selalu meneriakkan keadilan, sedangkan kamu tidak pernah berlaku adil. Kamu selalu marah ketika tersakiti, sedang kamu selalu menyakiti. Bagaimana ini? Apa yang kamu pikirkan?

Saya diam. Kamu semakin melakukan hal-hal yang tidak saya sukai. Entah naif, entah khilaf. Tapi saya rasa kamu sedang melakukan khilaf yang dinikmati. Manis sekali. 
:)
Kamu mau marah? Silahkan. 
Kamu mau kecewa? Silakan.
Kamu mau menyalahkan saya juga silahkan.

Karena kamu sama dengan mereka. Tidak pernah mau berpikir mengapa seseorang bersikap buruk. 
Kamu sama dengan yang lain. Merasa diri seolah korban daripada penganiayaan hati. Jika kamu berkata ketika dulu saya butuh, kamu tidak menjauh pergi. Bagaimana ketika dulu kamu memutuskan untuk tidak menggunakan alat komunikasi? Bicara materi, terlalu banyak sudah. Bicara pengorbanan, apa lagi yang kurang?

Sekian banyak saya melakukan pengorbanan, tidak saya ungkit sedikitpun. Bagaimana kamu? Sudah berapa banyak yang kamu korbankan? Atas nama saya? Tidak. Kamu berkorban hanya atas hidupmu sendiri. Saya tidak berpengaruh sedikitpun pada hidupmu. Jika benar saya berpengaruh, mengapa kamu melakukan segalanya tanpa membicarakan kepada saya?

Saya tidak pernah mengerti.
Seseorang pernah berkata, kamu adalah orang yang selalu memikirkan; Di sebuah pohon terdapat banyak dahan. Disetiap dahan memiliki dedaunan. Didalam dedaunan memiliki stomata dna klorofil. Dimana daun hijau karena adanya fotosintesis dari matahari. Mengapa matahari bersinar dengan sinaran yang mampu memberikan makan pada daun? Partikel apa saja yang terdapat didalam sinarannya? 

Begitulah. Penting memang. Tapi tidak selamanya pertanyaan harus dijawab dengan lisan. Tidak selamanya senyum mengartikan kebahagiaan. Tidak selamanya menangis adalah ungkapan dari rasa sedih. Tidak selamanya karang di lautan berdiri kokoh. Tidak selamanya.

Sesuatu akan berubah karena waktu. Seseorang akan berubah karena keadaan. 
Ketika kamu menyalahkan orang lain. Pikirkan. Apa kamu sudah benar?

Aku Pergi ~


Percuma! Percuma kita bertahan jika masing-masing dari kita memegang sebilah pisau. Itu merupakan bahasa lain dari kata saling menyakiti. Aku terlalu naif. Memaksamu menjadi seperti yang aku inginkan. Sedangkan kamu, tidak berniat sama sekali untuk menjadi seperi yang aku harapkan. Tidak! Aku menginginkanmu menjadi teman hidupku selamanya. Tetapi aku tidak berharap lebih. Jika kau tidak mampu menjaga hati dan perasaanku, mungkin kau bukan orang yang tepat untuk bisa memiliki hatiku. 

Aku pernah menyerahkan hidup dan matiku. Tapi kau bahkan tidak pernah mensyukurinya. Kau memintaku menjadi yang kau mau. Segala cara kukerahkan agar kau bertahan disisiku. Hingga suatu waktu, kau meminta untuk kita berjalan tanpa lagi saling beriringan. Benar.. Ibarat petir di siang bolong. Ibarat bumi runtuh menimpaku. Dan aku, diam tak bergeming. Satu-satunya yang ada diotakku adalah aku akan membahagiakanmu. Termasuk jika itu adalah dengan tanpa ku disisimu. Aku terlalu banyak mengalah. 

Bodoh memang. Aku beranjak pergi meninggalkan mereka demi kau. Tetapi sesampaiku disampingmu, kau meninggalkanku dalam kesendirian. Kau terlalu kejam. Aku tidak menyalahkanmu. Tapi sejak saat itu, aku memupuk hatiku untuk tidak lagi mencintaimu secara berlebihan. Meski tak kuasa aku menahan pilu itu, atas nama Tuhan, Sang Pemilik Hati Manusia..Aku berjanji, jika jalanku semakin berliku, aku menyerah. Mungkin itu cara Tuhan menunjukkan padaku bahwa jalanku salah. 

Tiba saat dimana aku benar-benar kecewa. Salah! Aku benar-benar benci pada sikapmu. Saat dimana kau beranjak tanpa permisi. Dihadapan orang banyak. Sejak saat itu, namamu sudah tidak lagi agung di hatiku. Aku pergi. Dan meninggalkan segala tentang kita yang pernah ada. 

Aku sempat berpikir, kau bahkan tidak lebih baik darinya. 

Meski seribu maaf terucap, entah kenapa. Hatiku sudah terlalu beku untuk merasakan apapun. Entahlah.