Mungkin saya hanya kurang bersyukur. Ya, saya wanita yang (lebih tepatnya) tidak bersyukur. Mengapa? Karena saya tahu bahwa suami saya sangat mencintai saya, namun saya enggan membalasnya. Bukan karena tidak mencintainya, hanya saja saya masih bingung dengan apa yang saya rasa.
Hingga pada akhirnya.. Disuatu malam yang hening. Saya menatapnya ketika ia sedang menyantap makan malam. "Allah, laki-laki ini yang dengan tangannya ia mencari nafkah untuk menghidupi kami.. Hamba mohon pengampunanMu karena tidak bersyukur ini.." Ucapku dalam hati.
"Kamu melamun?" Tanyanya.
"Tidak.. Saya hanya memandangmu yang makan dengan lahapnya.." Kataku ngeles.
Ia tersenyum.
"Saya sengaja tidak makan diluar, saya ingin makan masakan istri saya." Katanya.
Dan saya semakin merasa bersalah. Bersalah karena tidak mencintainya dengan baik.
Ia bangkit dari meja makan, dan mengangkat piring kotor bekas makannya.
"Jangan diangkat, biar saya saja." Kataku.
"Tidak, kamu istirahat saja. Seharian kamu kerja, pulang kerja juga bela-belain masak. Biar saya yang mencuci piring kotornya." Katanya.
Illahi Rabb.. Saya benar-benar merasa jahat. Bagaimana mungkin saya mengabaikan cinta yang tulus di hadapan saya. Cinta dari laki-laki yang dengan kesungguhannya mengucapkan ijab-qobul. Cinta dari laki-laki yang dengan ketulusannya bersedia menghabiskan waktu untuk hidup bersama saya. Saya! Wanita yang tidak tahu rasa syukur!
Ketika ia sedang mencuci piring kotor di westafel, saya memeluknya dari belakang. Tanpa bisa saya tahan, tumpah sudah bendungan air yang menggenang di pelupuk mata saya.
Ia kaget.
"Kamu kenapa? Kenapa menangis?" Katanya. Ia membalikkan badan dan menyentuh kedua pipi saya.
Saya masih terisak dalam tangis.
"Saya mencintaimu.. Maaf untuk segala kekurangan saya.." Kataku dalam isakan.
Ia tertawa kecil dan mengusap kepalaku dengan manja.
"Saya tahu kamu rindu.." Katanya sambil memeluk saya, kemudian ia mengecup kening saya.
"Yasudah, bersiaplah.. Selesai saya cuci piring, kita sholat isya berjama'ah.." Katanya.
"Jangan menangis, kamu terlihat sangat konyol ketika menangis." Sambungnya dengan nada mengejek.
Saya tertawa. Menciumnya sedikit, dan kemudian saya segera mengambil wudhu..




0 komentar:
Posting Komentar