Minggu, 13 April 2014

Pelajaran Hari Minggu

Hari ini bolak-balik ke rumah sakit - rumah - rumah sakit - rumah. Dan itu benar-benar melelahkan. Secara fisik, mungkin Ayah lebih lelah. Tapi secara batin, saya yang mulai lelah. 


Dan lagi-lagi ketika darah saya di tensi, saya mengalami kurang darah. Haahhh!!! Apa saya mesti ngemilin garam? Biar tensinya naik? 
Hal yang menarik hari ini adalah ketika sedang mengantri obat di apotik RS. Ada seorang anak kecil usia 12 tahun yang mengidap penyakit bocornya jantung. Ia divonis tiada harapan hidup lama. Dan kami berbincang banyak hal. Tentang mimpinya, tentang keinginannya, tentang bagaimana ia merajut impian untuk masa depannya. Ia ingin hidup lebih lama untuk membahagiakan neneknya. Ayah dan ibunya meninggal saat gelombang tsunami aceh 2004 silam. Sejak itu ia di asuh oleh neneknya. 

Saya melihat binaran mata yang penuh semangat ketika ia bercerita. Hingga tiba-tiba ia mengatakan bahwa ia takut meninggalkan neneknya sendirian di bumi ini. "Soe yang peungon nek meunyoe awai lon, kak?" Dimana jika diartikan : siapa yang menemani nenek jika duluan saya (mati), kak?
Saya terdiam.
Sedikit menyesakkan dada, namun saya harus berlaku simpati. 
Saya mengelus punggungnya sambil mengatakan, "hana peu yoe. Nek geujaga lee Nyang Poe bumoe.." (Jangan takut, nenek di jaga sama Yang Memiliki bumi.."
Dia menatap saya. Dan diam.

Ini tidak lucu, Tuhan.. Disatu sisi saya menyesali pertemuan dengan anak tsb. Saya jadi berpikir, sudah demikian perjuangan orang tua untuk menyembuhkan saya, mengapa saya menyerah? Saya menyesali pertemuan itu adalah karena perasaan saya jadi tidak baik. Seperti pilu yang saya sendiri tidak paham mengapa ini begitu memilukan. Saya benar-benar merasa seperti pecundang! Memiliki semangat yang tidak ada apa-apanya dibanding anak tadi.
Namun disisi lain saya bersyukur. Saya menjadi sadar bahwa ada banyak orang-orang disekitar saya yang mendukung saya untuk tetap bertahan. 

Allah..
Terima kasih untuk pelajaran hari ini..
Terima kasih untuk menganugerahkan saya keluarga sehebat ini.. SAFNA's Family..
Terima kasih untuk memberi saya kerabat dan sahabat-sahabat terbaik! Una, Uni, Nanda dan Dewi :))
I love you all.
I love you.
Maaf untuk kalimat "saya menyerah!" yang lalu..
Mulai detik ini, saya tidak akan menyerah :))
I love you all. Sorry.


0 komentar: