Minggu, 13 April 2014

Guratan tengah malam..

Selamat malam.. 

Awalnya saya ingin terlelap, hanya saja insomnia kembali menggeranyangi malam saya. Dan hebatnya lagi, saya kembali memiliki keinginan untuk menulis. Ini bukan sesuatu yang menarik untuk kalian baca. Karena sesungguhnya saya sendiri menulis hanya karena ingin menulis. Tanpa adanya embel-embel ide hendak menulis apa. This is so fxcking time, right? Dimana sebenarnya ini merupakan jamnya nona-nona manis sedang tidur cantik. Mhuehehehe :3

Ditemani musik instrument dari ost. Winter sonata, saya jatuh ke masa dimana pertama kali jatuh hati pada sesosok pria yang mampu membuat saya berpikir "bagaimana cara membuatnya tertarik kepada saya?". Well, disatu sisi saya merupakan wanita yang menyukai sebuah tantangan. Itulah kenapa saya teramat menyukai orang-orang yang "masa bodo" sama omongan orang lain alias cuek! 

Bagi saya, pria cuek itu sangat mempesona. Ada sisi dimana saya tertantang untuk membuatnya 'klepek-klepek'. *ikan kalik, Al*
Iya, entah karena pribadi saya yang sedikit cuek dan masa bodo, makanya saya menyukai pria yang juga cuek. Saya merupakan wanita yang cerewet jika mood. Dan bisa menjadi pendiam jika sedang tidak ingin bicara. Meski diam saya sering kali dianggap saya sedang marah. Tapi bagi saya, jika tidak ada yang penting untuk dibicarakan, kenapa harus bicara? 

Oke, balik ke awal. Saya ingat saat pertama melihatnya. Saya sedang duduk menepis rasa bosan di sebuah kursi. Seorang pria hanya melihat saya sekilas dan kemudian berlalu. Bukan itu masalahnya, kantor kita di satu bangunan yang sama. Bedanya, beliau dilantai atas, sedang saya di lantai dasar. Sesama penghuni satu bangunan apa salahnya saling tegur sapa. Dan ia berlalu dengan indah di hadapan saya. Ia masuk ke dalam bangunan kantor, dan saya hanya mampu menatap punggung badannya. 

Saya rasa ia pegawai baru di kantor tersebut. Setahun saya bekerja disana, baru kali ini saya melihat dirinya. Selang beberapa menit kemudian, ia keluar sambil berbicara dengan handphonenya. Saya masih duduk diam ditempat yang sama. Selesai ia berbicara dengan handphonenya, ia kembali masuk kedalam. Sebelum ia masuk, ia sempat membuang puntung rokoknya. Hellooww!!! Whaddehel??!!! Saya yang masih duduk diam memandang dia, tidak juga ditegurnya. Dan saat itu di otak saya hanya ada satu misi "membuat dia jatuh cinta kepada saya!".

Sebulan kemudian, saya tidak lagi melihat wujud pria tersebut. Terdengar kabar bahwa ia ditempatkan di lapangan.  Saya hanya melenguhkan nafas pertanda "sudah tidak ada harapan". Beberapa bulan kemudian, saya kembali bertemu dengannya. Takengon, aceh tengah. Merupakan tempat dimana saya jatuh hati pertama kali dengannya. Apa yang membuat saya tertarik? Wajahnya yang teduh itu begitu mendamaikan. 

Dan dari situ bermula cerita kita. Saya lupa itu bulan berapa, yang saya tahu itu adalah tahun 2011. Sebelum Ramadhan. Saya dengan pria tersebut menjadi dekat. Selama 2 bulan kita berkomunikasi setiap hari, hingga suatu saat, komunikasinya tiba-tiba putus begitu saja. Saya yang menjaga gengsi, hanya bisa diam. Menunggu ia menghubungi terlebih dahulu, dan itu NIHIL! Dia menghilang...

Dan, kembalilah saya melanjutkan hidup dengan baik. Melakukan rutinitas seperti biasanya. Kadang rindu itu datang, namun saya tepis sebisa saya. Kenapa tidak menghubunginya duluan? Sekali lagi, saya mempertahankan gengsi saya!

Waktu berlalu tanpa bisa dihentikan. Setiap detik yang berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Berbulan-bulan lamanya saya menikmati hidup saya. Kerapkali bayangnya menghampiri, tapi saya terlampau kecewa dengan sikapnya yang pergi begitu saja. 

Suatu hari di bulan-bulan terakhir tahun 2013, saya kembali bertemu dengannya. Saya merasakan gejolak kupu-kupu berterbangan didalam perut saya. Desir darah saya pun begitu terasa. Degub jantung saya begitu kencang, dan saya menatap wajah teduh itu. Senyumnya. Sikapnya. Ya Tuhan, mengapa indah sekali ciptaanMu ini? Saya tidak mampu memungkiri rasa yang ada ini. Seandainya Tuhan menjadikan ia patung dalam 10 menit saja saat itu, saya ingin memeluknya! Betapa saya merindukan dirinya. Namun kembali lagi, karena gengsi, saya berlaku seolah selama ini semuanya baik-baik saja. Betapa munafiknya saya! :(

Januari 2014..
Pria itu semakin mendekat kepada saya. Tuhan, inikah jawaban dari doa dan penantian saya? Inikah buah daripada sabar dan pasrahnya saya? Tuhan, ini begitu indah.. 
Ini semua berjalan seadanya. Tanpa ada pikir panjang, saya menjawab pinangannya dengan kata "iya". Saya melihat respon positif dari Ayah dan Ibu. Sebelumnya, ayah dan ibu selalu menentang ketika saya dekat dengan laki-laki. Dan ketika keduanya merespon pria itu dengan baik, saya yakin, ini jodoh saya. Bagi saya, ridha orang tua merupakan ridha dari Illahi Rabb. Ditambah lagi, hati saya terlalu mantap untuk diperistrikan olehnya. 

Ibu sempat berkata, "kamu ingat? Ketika beberapa pria melamarmu, kamu tidak ingin menikah. Kenapa dengannya kamu mau?". Dan saya menjawab "karena saya melihat respon positif ketika saya menceritakan tentangnya pada ayah dan ibu, terlebih lagi, hati saya mantap untuk menjadi ma'mumnya, Bu.."

Ibu memeluk saya dan berkata "Ibu bahagia nak.. Ibu bahagia.. Ibu merasa dia mampu menjadi imammu kelak.."
Haru menyelimuti kalbu saya. Setelah beberapa waktu lalu saya membuat air mata pilu di mata indah mereka, kali ini mereka menitikkan air mata bahagianya. Dan itu cukup membuat saya bahagia. Allah, permudah jalan kami mewujudkan niat suci kami..

12 februari 2014, keluarganya datang melamar saya. Sebuah pertunangan sederhana, namun begitu membuat saya bahagia. Langkah menuju niat suci pernikahan tinggal 50% lagi. Dan ini begitu mendebarkan.
Persiapan. Fitting baju. Dan pengurusan hal-hal lainnya. 
Beberapa bulan lagi.. 

Ada masa dimana saya berpikir, "Ini nyata kan, Tuhan?"

Dan mengapa pria itu? Karena dengannya saya benar-benar menjadi diri saya. Karena dengannya saya bisa bermanja. Karena dengannya saya banyak belajar tentang hidup. Karena dengannya saya ingin menghabiskan sisa hidup. Karena dengannya saya ingin melahirkan dan membesarkan anak-anak kami. Karena dia.. Dia mencintai saya dengan sebegitu baiknya..

Pria yang memahami saya, yang menegur saya dengan perlahan, yang membiarkan saya berkarya sepuas yang saya mau, yang memberikan saya semangat untuk terus melanjutkan hidup. Pria yang menyayangi keluarga saya. Pria yang mencintai saya dengan baik. Pria yang... Ah, saya tidak tahu harus mendeskripsikannya seperti apa. Dia adalah pria terbaik pilihan Tuhan untuk saya.

***

Untuk pria-ku..
Laki-laki terbaik dari Tuhanku.. Terima kasih untuk kisah rumit yang mengharukan ini..
Saya mencintaimu.
Saya akan belajar mencintaimu dengan sebaik-baiknya..

Saya tidak sempurna. Bahkan jauh dari kata sempurna. Saya ingin kamu. Saya membutuhkan kamu untuk menjadi sempurna. 
Saya tidak begitu pintar memasak, saya tidak begitu bijak dalam menghadapi kenyataan. Tapi saya akan senantiasa belajar. Dan kamu... Saya butuh kamu untuk menuntun saya ke arah yang lebih baik..

Untukmu.. Priaku.. Laki-laki yang kelak akan dipanggil "Ayah" oleh anak-anak kita, saya tidak dapat menjanjikan apa-apa.. 
Tapi saya akan memastikan bahwa seumur hidup saya akan mengabdi sepenuhnya kepadamu, menjadi istri yang baik, menjadi peneduh dan penyejuk hatimu.. 

Sayang.. 
Saya menyayangimu.. 

***


0 komentar: