Selasa, 08 Mei 2012

Boleh Pinjam Tanganmu Selamanya?

Haruskah saling tak acuh sementara rasa itu masih ada mengepakkan sayap keakuannya?
Inilah kesendirian yang paling getir.
Bersatunya rasa yang tak berujung pada kebersamaan dan kepemilikan raga.

Getaran itu nyaris seperti ranting pohon layu yang patah.
Meradang tersapu rasa yang membisu kelu.
Haruskah gelisah menertawakannya?
Membaca gerak bibirmu diantara lemah hati yang mendambamu dgn rindu yg bertubi-tubi?

Aku butuh tanganmu untuk menyeka air mata ini.
Boleh pinjam selamanya?
Semoga kau izinkan yaa..
^_^

Di puncak pengharapan tertinggi.
Aku menyerahkan lidah dan mataku untuk mengawal cintamu.
Ketika sinaran senja bermuram,
Satu kerlingan matamu yang ku gugat.
Menjadilah kunang-kunang di jelaga mataku, sayang..

Selalu menyayangimu meski kau sudah tidak lagi bersamaku, Bang..