Kita punya masa lalu. Kita juga punya masa
depan. Dan saya berterima kasih pada setiap kejadian-kejadian di masa lalu
saya. Saya berterima kasih pada orang-orang yang ada didalam masa lalu saya.
Karena mereka, karena semua yang terjadi lalu, saya bisa berdiri lebih kokoh
lagi sekarang. Saya mengutuk masa lalu saya yang buruk, tapi jika tanpa
kejadian itu saya tidak akan bisa paham dengan wajah-wajah iblis yang berparas
malaikat itu.
Saya, adalah wanita yang entah bodoh,
entah terlalu baik. Saya menarik garis, saya adalah seseorang yang bodoh. Tidak
mendengarkan nasehat dari orang tua. Ayah selalu bilang bahwa didunia ini orang
yang berpotensi menjadi pengkhianat adalah orang terdekat kita. Itulah kenapa
ayah selalu menasehati anak-anaknya dengan kalimat "Jangan terlalu dekat, karena
akan memberi kesempatan untuk ditusuk dari belakang". Dan, itu baru
saya sadari diusia saya yang menuju 22 tahun.
Haruskah saya menyumpahi orang-orang yang
memanfaatkan ketololan saya?
Sebenarnya, awal dari penulisan postingan
ini saya ingin menceritakan tentang seseorang yang tidak istimewa untuk orang
banyak. Tapi begitu berarti untuk saya. Entah sejak kapan. Namanya sudah
mengendap dalam pikiranku. Suaranya, deru nafasnya, tutur katanya, susunan
bahasanya dan segala cerita tentang hidupnya. Tidak. Aku tidak menemukan
sesuatu yang menyurutkan rasa sukaku padanya.
Saya harus berterima kasih pada Tuhan. Ia
mengirimkan seorang bajak laut ke dalam kapalku. Menyandera mimpi saya ke dalam
mimpinya. Mengajarkan saya mengemudikan kapal dengan baik di tengah ombak
besar. Memberitahukan kepada saya bagaimana membaca cuaca akan baik atau cuaca
akan buruk. Membantuku memahami bagaimana caranya mempertahankan posisi kapal
dengan baik dikala badai menerjang.
Matahari. Ia adalah matahari saya. Yang
menghangatkan pagi saya dengan sinarannya. Yang menjadikan warna jingga didalam
senjaku. Yang menjadikan bulan tampak indah. Semua karena sinarnya.
Saya sedang mencoba untuk meyakini bahwa
ini adalah takdir. Berjalan beriringan dengannya. Melewati ruas jalan yang saya
belum pernah lewati, atau ruas jalan yang dia belum pernah lewati. Menuju
sebuah lokasi dimana keabadian menanti kedatanganku. Saya mencoba meyakini
bahwa saya akan tiba di sana bersamanya. Tertawa bahagia karena berhasil
melewati berbagai rintangan selama perjalanan menuju tempat itu. Melepas penat
bersama. Beristirahat dengan menikmati secangkir bahagia untuk memusnahkan
dahaga ragu saya lalu.
Saya kembali menata mimpi-mimpi saya yang sempat terbuyarkan.
Siang ini, dibawah sinaran matahari yang menyengat sekali panasnya. Saya membuat postingan yang entah apa maknanya ini. Yang ingin saya tuliskan banyak sekali. Yang ingin saya utarakan juga banyak sekali. Tapi entah kenapa, sistem otak saya sedikit tersendat dalam mengolah kata menajdi indah. Barangkali karena saya belum makan :D
Baiklah. Sekian dulu. Saya akan melanjutkannya dilain kesempatan.
Baiklah. Sekian dulu. Saya akan melanjutkannya dilain kesempatan.
Selamat siang :)
*kecup*




0 komentar:
Posting Komentar