Pagi ini saya menuju lokasi tempat kerja seperti biasanya. Dan entah kenapa pagi ini saya merasa beda. Saya melihat tukang bangunan, pedagang asongan, pengemis, pengantar paket kiriman, orang yang sedang duduk melamun, dan lain-lain. Saya memikirkan bagaimana jika kehidupan saya seperti pedagang asongan? Bagaimana jika kehidupan saya seperti pengemis yang menebalkan wajahnya ketika meminta-meminta. Bagaimana jika saya bukan wanita, saya ditakdirkan menjadi laki-laki. Semakin banyak lagi beban yang harus saya tanggung.
Saya merasa lebih senang berbincang-bincang dengan kaum adam. Bukan karena saya senang banyak laki-laki di sekitar saya. Tapi terlebih saya suka bertukar pikiran dengan kaum adam. Mereka memutuskan dengan logika. Bukan dengan perasaan.
Pernah ketika saya sedang berkumpul dengan teman-teman saya, dua orang anak kecil mendatangi meja kami dan mengemis. Saya iba. Tapi saya ingat kata ayah, "jika kamu didatangi pengemis anak-anak, berikan saja dia makanan. Karena ketika kamu memberikan dia uang. Uang itu akan diberikan pada orang tuanya dan digunakan untuk hal yang kita tidak tahu itu baik atau buruk."
Dan saya memutuskan untuk menawarkan mereka makan. Ketika saya bertanya, "awakkah leut kue? (kalian mau kue?)". Mereka dengan cepat mengangguk. Saya pikir mereka sedang lapar. "awakkah duek hinoe manteung le, pajoh bu? (kalian duduk disini saja, mau makan nasi?" saya kembali bertanya. Keduanya saling menatap, dan menjawab "leut kak, kamoe deuk. ka treip hana pajoh bu. (mau kak, kami lapar. sudah lama tidak makan nasi)."
Saya sempat mengutuk kedua orang tuanya. Membiarkan anak usia 7 dan 4 tahun ini mengemis demi menyambung hidup. Tapi saya tidak ingin menghukum orang tuanya. Ketika mereka selesai makan, saya banyak bertanya tentang orang tuanya yang menyuruh mereka mengemis. Percayalah! Yang saya tahu, orang tua tidak akan membiarkan anaknya lapar. Apalagi seperti ia tega membiarkan anaknya mencari uang. Apapun alasannya, anak seusia mereka belum waktunya untuk mencari uang. Masa kecil mereka adalah dengan menghabiskan waktunya dengan bermain bersama teman-temannya.
Kemudian saya melihat seorang ibu yang sedang duduk menunggu sambil melamun. Bagaimana saya tahu bahwa ibu tersebut sedang melamun? Tatapan matanya kosong. Saya sedikit memiliki kemampuan untuk merasakan hal yang sedang dirasakan oleh seseorang. Entah itu melalui bisikan hati, atau dengan melihat air wajahnya.
Saya lewat dihadapan ibu tersebut dan dia bahkan tidak menoleh kearah saya. Jika seseorang sedang berpikir, ketika mendengar suara jejak kaki, ia akan berpaling kearah suara itu berasal. Tapi tidak dengan ibu tersebut. Dan saya yakin, ia sedang tenggelam dalam lamunannya. Dan lagi, saya memposisikan diri saya di dalamnya. Bagaimana jika saya yang diposisinya. Mungkin yang sedang saya lamunkan saat ini adalah masalah di rumah, biaya sekolah anak, atau entahlah..
Begitu banyak warna didalam hidup. Tidak hanya hitam atau putih. Akan banyak warna jika hidup kita tidak monoton. Ya, meski saya adalah seorang pecundang dalam hidup. Tapi saya selalu mengukir banyak warna didalam hidup saya. Pelangi, adalah lukisan Tuhan yang sangat saya sukai setelah senja. Banyak warna disana. Ada merah yang menjadi warna favorite saya. Ada jingga yang merupakan warna senja. Ada kuning yang menentramkan. Ada hijau yang mendamaikan. Ada biru yang merupakan warna langit. Nila dan Ungu adalah warna yang saya anggap mereka twin colour. Warnanya senada. hanya saja berbeda jika ungu warnanya sedikit lebih terang daripada warna nila. Just that!
:)
.jpg)



0 komentar:
Posting Komentar