Saya adalah senja. Si pengecut ulung yang bersembunyi diujung hari dengan nuansa jingga. Ya! Si pengecut ini selalu saja takut untuk menantang terang. Pasrah pada gelap yang datang menghampirinya. Saya adalah senja. Yang hanya orang-orang pilihan yang paham mengapa saya memilih senja. Saya membiarkan semua orang menikmati indahnya pesona jingga yang saya miliki. Saya ingin semua orang tersenyum ketika memandang saya. Saya ingin orang-orang memuji cantiknya saya. Tanpa mereka perlu tahu, betapa rapuhnya saya. Betapa banyak beban yang harus saya tanggung. Betapa sulitnya tersenyum dengan binaran mata yang meredup. Dan, hanya mereka yang menjadi pilihan yang paham akan semua dibalik pesona saya.
Kadang saya lelah, menjadi riang di hadapan orang banyak. Menghibur mereka yang sedang gundah. Menjadi wadah untuk mendengar segenap cerita mereka. Tapi "wanita tegar itu cantik". Kalimat yang selalu menjadi penguat ketika saya rapuh. Saya menginginkan pertemuan dengan malam segera datang. Agar saya bisa merebahkan diri dipangkuan malam.
Seseorang pernah berkata; "Senja.. jika kau disuguhkan 2 pilihan, bulan dan bintang. Maka jangan memilih bintang, karena bintang terlalu banyak. Pilihlah bulan, karena ia cuma satu."
Apalagi yang dapat saya utarakan jika menunggu malam adalah sebuah tindakan pengecut. Jika bukan pada malam, pada siapa lagi aku merebahkan dan tenggelam dalam kesunyian? Saya ingin duduk dibawah langit dengan keadaan yang damai. Kapan? Ketika saya mati?
Saya jengah dengan keributan. Ingin hidup ditempat yang jauh dari keramaian dan mewujudkan mimpi-mimpi saya. Saya adalah pengecut yang punya sejuta mimpi. Setiap orang berbeda-beda dalam menjalani hidupnya. Dan saya memilih hidup dengan cara yang saya yakini benar adanya.
Bila senja datang saya selalu memandangnya. Melukis segenap mimpi dengan bias-bias jingga. Bertinta rasa. Berkuaskan jiwa. Saya menjadikan langit sebagai kanvasnya. Meski angin bertiup dengan sayu menyapa raga yang tak bergeming meski gerimis mendarat disekitar. Rumput-rumput bergoyang bergerak penuh tanya, dan burung-burung pun berkicau dalam teriakannya.
Saya tidak mengerti bahasa isyarat alam, dan saya hanya memandang dan terus memandang langit jingga yang sebentar lagi akan hilang dikalahkan oleh malam. Disaat hati mulai berani meluahkan rasa. Sejuta ketakutan datang melanda merasuk kedalam jiwa. Ah, ini semakin membuat rasa ini terpendam hadirkan resah yang bertapa dalam pusaran sukma. Begitulah senja. Mengubur dalam-dalam lekuk tubuh mimpi yang saya gurat dengan pasti.




0 komentar:
Posting Komentar