"Boleh saya mengeluh?" Tanyaku pada sosok yang ada di hadapanku.
"Tuhan tidak pernah mengizinkan hambaNya mengeluh." Katanya.
"Aku mohon.. Ini sudah teramat melelahkanku.." Aku mengiba padanya.
"Apa yang hendak kau keluhkan, sayang?" Ia bertanya.
"Kau sudah tahu apa yang hendak aku keluhkan. Aku lelah. Berjalan menapaki takdir Tuhan yang bahkan aku belum menemukan ruang untukku beristirahat," Kataku.
"Bukankah kau dulu bilang, bahwa setiap kesabaran akan mendapatkan kebahagiaan? Mengapa sekarang kau sendiri yang memungkirinya?" Ia kembali bertanya padaku.
***
Aku pulang dalam keadaan lelah. Pagi sampai sore aku bekerja disebuah perusahaan swasta. Sore sepulang kerja aku melanjutkan study S2. Aku akan tiba dirumahku pada pukul 23.00 WIB itu juga jika keadaan jalan tidak macet. Rutinitas hariku yang amat sangat monoton.
"Selamat malam" Ia menyapa ketika aku masuk kedalam kamar. Sosoknya yang berada tepat dihadapanku ketika pintu kamar kubuka. Aku tersenyum menatap kearahnya. Ia pun tersenyum melihat keadaanku yang kucel.
"Lelah?" Tanyanya.
"Sangat" Jawabku singkat.
Ya, aku merasa lelah dan ingin istirahat. Tapi entah mengapa aku ingin menceritakan sesuatu padanya. Kadang aku bercerita bukan karena ingin meminta pendapatnya. Ini lebih kepada aku hanya ingin didengarkan. Jika bukan padanya, pada siapa lagi aku bercerita? Aku hanya percaya padanya. Seseorang yang selalu menanam bibit yakin dalam hatiku.
"Ceritalah. Aku senantiasa mendengarkan." Katanya.
Aku pun meletakkan tas dan segera mengganti pakaian. Kemudian duduk dihadapannya sambil mendekap boneka piyo kesayanganku. Aku memulai cerita dari pagiku yang bangun terlambat, ketinggalan angkot, dimarahi atasan, file kerjaku yang hilang dan aku diharuskan untuk mendampingi atasan bertemu kliennya yang bagiku amat membosankan. Sampai pada titik aku bercerita tentang seorang laki-laki yang aku sendiri tidak tahu kapan laki-laki itu mulai bersemayam dalam hatiku.
"Kau menyukainya?" Ia bertanya.
"Iya, aku menyukainya." Kataku.
"Lantas mengapa tidak kau ungkapkan?" Tanyanya lagi.
"Apa? Aku mengutarakan duluan? Yang benar saja!" Ucapku. Aku menahan gengsiku. Bagaimana mungkin aku harus mengutarakannya duluan. Aku malu.
Ia memandangku tesenyum.
"Setidaknya, malam ini kau sudah jujur padaku. Sudah mau mengatakan rahasia besar itu. Aku sudah lama mengetahuinya, hanya saja aku ingin kau mengatakan padaku tanpa harus aku yang memancing terlebih dulu. Kau tahu bukan? Penyesalan selalu datang terlambat." Ujarnya.
Aku diam. Merenungkan kalimat terakhir dari ucapannya.
***
Sudah sebulan semenjak aku menjalin hubungan dengan laki-laki itu, sosok itu jarang hadir. Bahkan ketika aku pulang dalam keadaan ingin bercerita banyak, ia tidak ada ditempat biasanya. Aku berpikir mungkin ia sedang sibuk. Atau mungkin ada hal yang membuatnya lupa padaku. Aku menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Memeluk piyo. Dan tertidur.
***
"Selamat pagi" Ucapnya.
Aku terkejut. Ia tiba-tiba muncul dan seperti biasa, senyumnya selalu hangat. Aku mendekatinya. Ia menatapku lekat. Aku mencoba menelusuri jejak yang ada di matanya. Kesedihan. Pilu. Derita.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku.
"Tidak ada" Jawabnya.
"Kemana kau pergi selama ini?" Aku kembali bertanya.
"Merebahkan diri di pangkuan alam" Jawabnya.
"Maksudmu?" Tanyaku lagi.
Ia menatapku. Mata indahnya berkaca-kaca. "Sudah waktunya aku pergi. Disini bukan tempatku. Kau pun tidak lagi membutuhkanku" Ucapnya.
Aku diam. Perlahan aku mendekati tempatnya berada. Ia pun mendekatiku. Hingga kita sekarang hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Aku tersenyum, ingin tertawa. Ia pun demikian. Aku menyentuh pipinya. Dia menyentuh pipiku. Ia menirukan segala yang aku lakukan. Hahaha! Kapan aku menyadari? Ya, aku baru menyadari ketika semua yang aku lakukan, ia tirukan! Benar! Selama ini aku berbicara pada bayanganku di sebuah cermin yang berada di satu sudut dalam kamarku.
.jpg)
.jpg)



1 komentar:
hahahahaha.... bagus banget gaya bahasanya, sangat-sangat membuat aku penasaran...
Posting Komentar