Selasa, 24 September 2013

Pisces Life..



Kita punya masa lalu. Kita juga punya masa depan. Dan saya berterima kasih pada setiap kejadian-kejadian di masa lalu saya. Saya berterima kasih pada orang-orang yang ada didalam masa lalu saya. Karena mereka, karena semua yang terjadi lalu, saya bisa berdiri lebih kokoh lagi sekarang. Saya mengutuk masa lalu saya yang buruk, tapi jika tanpa kejadian itu saya tidak akan bisa paham dengan wajah-wajah iblis yang berparas malaikat itu.

Saya, adalah wanita yang entah bodoh, entah terlalu baik. Saya menarik garis, saya adalah seseorang yang bodoh. Tidak mendengarkan nasehat dari orang tua. Ayah selalu bilang bahwa didunia ini orang yang berpotensi menjadi pengkhianat adalah orang terdekat kita. Itulah kenapa ayah selalu menasehati anak-anaknya dengan kalimat "Jangan terlalu dekat, karena akan memberi kesempatan untuk ditusuk dari belakang". Dan, itu baru saya sadari diusia saya yang menuju 22 tahun.
Haruskah saya menyumpahi orang-orang yang memanfaatkan ketololan saya?
Sebenarnya, awal dari penulisan postingan ini saya ingin menceritakan tentang seseorang yang tidak istimewa untuk orang banyak. Tapi begitu berarti untuk saya. Entah sejak kapan. Namanya sudah mengendap dalam pikiranku. Suaranya, deru nafasnya, tutur katanya, susunan bahasanya dan segala cerita tentang hidupnya. Tidak. Aku tidak menemukan sesuatu yang menyurutkan rasa sukaku padanya. 
Saya harus berterima kasih pada Tuhan. Ia mengirimkan seorang bajak laut ke dalam kapalku. Menyandera mimpi saya ke dalam mimpinya. Mengajarkan saya mengemudikan kapal dengan baik di tengah ombak besar. Memberitahukan kepada saya bagaimana membaca cuaca akan baik atau cuaca akan buruk. Membantuku memahami bagaimana caranya mempertahankan posisi kapal dengan baik dikala badai menerjang.
Matahari. Ia adalah matahari saya. Yang menghangatkan pagi saya dengan sinarannya. Yang menjadikan warna jingga didalam senjaku. Yang menjadikan bulan tampak indah. Semua karena sinarnya. 
Saya sedang mencoba untuk meyakini bahwa ini adalah takdir. Berjalan beriringan dengannya. Melewati ruas jalan yang saya belum pernah lewati, atau ruas jalan yang dia belum pernah lewati. Menuju sebuah lokasi dimana keabadian menanti kedatanganku. Saya mencoba meyakini bahwa saya akan tiba di sana bersamanya. Tertawa bahagia karena berhasil melewati berbagai rintangan selama perjalanan menuju tempat itu. Melepas penat bersama. Beristirahat dengan menikmati secangkir bahagia untuk memusnahkan dahaga ragu saya lalu.
 Saya kembali menata mimpi-mimpi saya yang sempat terbuyarkan. 

Siang ini, dibawah sinaran matahari yang menyengat sekali panasnya. Saya membuat postingan yang entah apa maknanya ini. Yang ingin saya tuliskan banyak sekali. Yang ingin saya utarakan juga banyak sekali. Tapi entah kenapa, sistem otak saya sedikit tersendat dalam mengolah kata menajdi indah. Barangkali karena saya belum makan :D

Baiklah. Sekian dulu. Saya akan melanjutkannya dilain kesempatan.
Selamat siang :)
*kecup*

Bicaralah, Hati ~


"Boleh saya mengeluh?" Tanyaku pada sosok yang ada di hadapanku.
"Tuhan tidak pernah mengizinkan hambaNya mengeluh." Katanya.
"Aku mohon.. Ini sudah teramat melelahkanku.." Aku mengiba padanya.
"Apa yang hendak kau keluhkan, sayang?" Ia bertanya.
"Kau sudah tahu apa yang hendak aku keluhkan. Aku lelah. Berjalan menapaki takdir Tuhan yang bahkan aku belum menemukan ruang untukku beristirahat," Kataku.
"Bukankah kau dulu bilang, bahwa setiap kesabaran akan mendapatkan kebahagiaan? Mengapa sekarang kau sendiri yang memungkirinya?" Ia kembali bertanya padaku.

***

Aku pulang dalam keadaan lelah. Pagi sampai sore aku bekerja disebuah perusahaan swasta. Sore sepulang kerja aku melanjutkan study S2. Aku akan tiba dirumahku pada pukul 23.00 WIB itu juga jika keadaan jalan tidak macet. Rutinitas hariku yang amat sangat monoton. 

"Selamat malam" Ia menyapa ketika aku masuk kedalam kamar. Sosoknya yang berada tepat dihadapanku ketika pintu kamar kubuka. Aku tersenyum menatap kearahnya. Ia pun tersenyum melihat keadaanku yang kucel.

"Lelah?" Tanyanya.
"Sangat" Jawabku singkat.

Ya, aku merasa lelah dan ingin istirahat. Tapi entah mengapa aku ingin menceritakan sesuatu padanya. Kadang aku bercerita bukan karena ingin meminta pendapatnya. Ini lebih kepada aku hanya ingin didengarkan. Jika bukan padanya, pada siapa lagi aku bercerita? Aku hanya percaya padanya. Seseorang yang selalu menanam bibit yakin dalam hatiku. 

"Ceritalah. Aku senantiasa mendengarkan." Katanya.

Aku pun meletakkan tas dan segera mengganti pakaian. Kemudian duduk dihadapannya sambil mendekap boneka piyo kesayanganku. Aku memulai cerita dari pagiku yang bangun terlambat, ketinggalan angkot, dimarahi atasan, file kerjaku yang hilang dan aku diharuskan untuk mendampingi atasan bertemu kliennya yang bagiku amat membosankan. Sampai pada titik aku bercerita tentang seorang laki-laki yang aku sendiri tidak tahu kapan laki-laki itu mulai bersemayam dalam hatiku.

"Kau menyukainya?" Ia bertanya.
"Iya, aku menyukainya." Kataku.
"Lantas mengapa tidak kau ungkapkan?" Tanyanya lagi.
"Apa? Aku mengutarakan duluan? Yang benar saja!" Ucapku. Aku menahan gengsiku. Bagaimana mungkin aku harus mengutarakannya duluan. Aku malu.

Ia memandangku tesenyum. 

"Setidaknya, malam ini kau sudah jujur padaku. Sudah mau mengatakan rahasia besar itu. Aku sudah lama mengetahuinya, hanya saja aku ingin kau mengatakan padaku tanpa harus aku yang memancing terlebih dulu. Kau tahu bukan? Penyesalan selalu datang terlambat." Ujarnya.

Aku diam. Merenungkan kalimat terakhir dari ucapannya. 

***

Sudah sebulan semenjak aku menjalin hubungan dengan laki-laki itu, sosok itu jarang hadir. Bahkan ketika aku pulang dalam keadaan ingin bercerita banyak, ia tidak ada ditempat biasanya. Aku berpikir mungkin ia sedang sibuk. Atau mungkin ada hal yang membuatnya lupa padaku. Aku menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Memeluk piyo. Dan tertidur.

***

"Selamat pagi" Ucapnya.

Aku terkejut. Ia tiba-tiba muncul dan seperti biasa, senyumnya selalu hangat. Aku mendekatinya. Ia menatapku lekat. Aku mencoba menelusuri jejak yang ada di matanya. Kesedihan. Pilu. Derita. 

"Apa yang terjadi?" Tanyaku.
"Tidak ada" Jawabnya.
"Kemana kau pergi selama ini?" Aku kembali bertanya.
"Merebahkan diri di pangkuan alam" Jawabnya.
"Maksudmu?" Tanyaku lagi.

Ia menatapku. Mata indahnya berkaca-kaca. "Sudah waktunya aku pergi. Disini bukan tempatku. Kau pun tidak lagi membutuhkanku" Ucapnya.

Aku diam. Perlahan aku mendekati tempatnya berada. Ia pun mendekatiku. Hingga kita sekarang hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Aku tersenyum, ingin tertawa. Ia pun demikian. Aku menyentuh pipinya. Dia menyentuh pipiku. Ia menirukan segala yang aku lakukan. Hahaha! Kapan aku menyadari? Ya, aku baru menyadari ketika semua yang aku lakukan, ia tirukan! Benar! Selama ini aku berbicara pada bayanganku di sebuah cermin yang berada di satu sudut dalam kamarku. 



Senin, 16 September 2013

Cahaya Fajar..

Sebutlah namanya Fajar. Saya menyebutnya demikian, karena ia begitu mendamaikan. Fajar adalah waktu dimana hari dimulai. Dan saya senja, adalah penutupnya. Bukankah kita sepaket? Semoga saja benar. Apa yang harus saya uraikan? Saya menulis tentangnya adalah agar saya tidak melupakan kisah ini jika suatu waktu ingatan saya hilang. Adakah saya terlalu berlebihan? Baiklah, saya suka dia. Dan itu hanya bisa saya simpan entah sampai kapan. Ini akan menjadi rasa yang mungkin tidak akan pernah saya pahami. 

Hujan. Senja. Dan pelangi adalah bagian dari dalam diri saya. Pagi, fajar.. Adalah pelengkapnya. 

Jarum jam sudah menunjukkan pada pukul 00:28 WIB. Dan saya belum bisa terlelap. Mengingatnya. Karena beberapa saat lalu suaranya menggetarkan jiwaku kembali. Bagaimana jika suatu waktu dia membaca tulisan ini? Entahlah. Saya sudah memantapkan diri untuk menulis tentangnya. Jika kelak ia marah atau tersinggung, saya akan senantiasa menghapusnya. 

Cukuplah. Rasa ini berdiam entah sejak kapan. Ada rasa ingin menjadi bagian dari dirinya. Tapi saya merasa tidak pantas. Dia adalah pribadi yang pintar. Sedang saya hanyalah wanita bodoh yang masih saja terkungkung dalam lubang nista masa lalu. 
Jika malam ini adalah malam terakhir, maka satu-satunya yang ingin saya katakan padanya adalah;

"Saya ingin menyesali perkenalan kita. Betapa saya naif, menyukaimu yang bahkan saya tidak tahu bagaimana saya dimatamu. Kita bicara rindu. Kita bicara cemburu. Tapi kita tidak pernah membicarakan tentang bagaimana saya dimatamu, dan kamu di mata saya. Apa yang saya sesali? Jalan hidup kita yang tak menentu arahnya. Kamu yang tidak akan pernah bisa saya tebak. Haruskah saya menunggu? Sampai kapan? Akankah kamu membiarkan saya menunggu? Kapan kamu akan mengunjungi saya? Ah, sudahlah.. Saya terlalu memaksa :')
Datanglah.. Datanglah jika kamu berkenan.. Saya akan senantiasa menunggu hadirmu disini.. Di ruang rindu yang tak pernah lagi kita jamahi bersama :)"

Saya mengetahui sedikit tentangnya yang ia bahkan tidak pernah menceritakan kepada saya. Baiklah! Oke! Kita sama-sama tahu. Hanya saja kita masih sama-sama meragu. Terlalu cepat jika semua yang diinginkan harus terjadi. Semua butuh waktu. Salah? Jika pada suatu titik saya merasa kehilangannya? Ingin marah, tapi percuma. Bagaimana jika dia mengatakan "atas dasar apa kamu marah?". 

Dikala fajar merekah,sebersit warna jingga membias di cakrawala. Menabur mega-mega seribu warna. Menghapus embun-embun di pagi hari. Anugrah Tuhan yang lahir dari timur. Membuka pagi dengan sinaran mentari. Hangat. Semoga engkau menghangatkan jiwa-jiwa yang kedinginan di luar sana. Lupakan..
Ini hanya teriakan hati yang saya tuang dalam serangkaian kata-kata. Selamat dini hari, kamu :)

#Now Listening Krisdayanti - Mencintaimu

Senin, 09 September 2013

Warna..


Pagi ini saya menuju lokasi tempat kerja seperti biasanya. Dan entah kenapa pagi ini saya merasa beda. Saya melihat tukang bangunan, pedagang asongan, pengemis, pengantar paket kiriman, orang yang sedang duduk melamun, dan lain-lain. Saya memikirkan bagaimana jika kehidupan saya seperti pedagang asongan? Bagaimana jika kehidupan saya seperti pengemis yang menebalkan wajahnya ketika meminta-meminta. Bagaimana jika saya bukan wanita, saya ditakdirkan menjadi laki-laki. Semakin banyak lagi beban yang harus saya tanggung. 

Saya merasa lebih senang berbincang-bincang dengan kaum adam. Bukan karena saya senang banyak laki-laki di sekitar saya. Tapi terlebih saya suka bertukar pikiran dengan kaum adam. Mereka memutuskan dengan logika. Bukan dengan perasaan. 
Pernah ketika saya sedang berkumpul dengan teman-teman saya, dua orang anak kecil mendatangi meja kami dan mengemis. Saya iba. Tapi saya ingat kata ayah, "jika kamu didatangi pengemis anak-anak, berikan saja dia makanan. Karena ketika kamu memberikan dia uang. Uang itu akan diberikan pada orang tuanya dan digunakan untuk hal yang kita tidak tahu itu baik atau buruk."

Dan saya memutuskan untuk menawarkan mereka makan. Ketika saya bertanya, "awakkah leut kue? (kalian mau kue?)". Mereka dengan cepat mengangguk. Saya pikir mereka sedang lapar. "awakkah duek hinoe manteung le, pajoh bu? (kalian duduk disini saja, mau makan nasi?" saya kembali bertanya. Keduanya saling menatap, dan menjawab "leut kak, kamoe deuk. ka treip hana pajoh bu. (mau kak, kami lapar. sudah lama tidak makan nasi)."

Saya sempat mengutuk kedua orang tuanya. Membiarkan anak usia 7 dan 4 tahun ini mengemis demi menyambung hidup. Tapi saya tidak ingin menghukum orang tuanya. Ketika mereka selesai makan, saya banyak bertanya tentang orang tuanya yang menyuruh mereka mengemis. Percayalah! Yang saya tahu, orang tua tidak akan membiarkan anaknya lapar. Apalagi seperti ia tega membiarkan anaknya mencari uang. Apapun alasannya, anak seusia mereka belum waktunya untuk mencari uang. Masa kecil mereka adalah dengan menghabiskan waktunya dengan bermain bersama teman-temannya. 

Kemudian saya melihat seorang ibu yang sedang duduk menunggu sambil melamun. Bagaimana saya tahu bahwa ibu tersebut sedang melamun? Tatapan matanya kosong. Saya sedikit memiliki kemampuan untuk merasakan hal yang sedang dirasakan oleh seseorang. Entah itu melalui bisikan hati, atau dengan melihat air wajahnya.
Saya lewat dihadapan ibu tersebut dan dia bahkan tidak menoleh kearah saya. Jika seseorang sedang berpikir, ketika mendengar suara jejak kaki, ia akan berpaling kearah suara itu berasal. Tapi tidak dengan ibu tersebut. Dan saya yakin, ia sedang tenggelam dalam lamunannya. Dan lagi, saya memposisikan diri saya di dalamnya. Bagaimana jika saya yang diposisinya. Mungkin yang sedang saya lamunkan saat ini adalah masalah di rumah, biaya sekolah anak, atau entahlah..

Begitu banyak warna didalam hidup. Tidak hanya hitam atau putih. Akan banyak warna jika hidup kita tidak monoton. Ya, meski saya adalah seorang pecundang dalam hidup. Tapi saya selalu mengukir banyak warna didalam hidup saya. Pelangi, adalah lukisan Tuhan yang sangat saya sukai setelah senja. Banyak warna disana. Ada merah yang menjadi warna favorite saya. Ada  jingga yang merupakan warna senja. Ada kuning yang menentramkan. Ada hijau yang mendamaikan. Ada biru yang merupakan warna langit. Nila dan Ungu adalah warna yang saya anggap mereka twin colour. Warnanya senada. hanya saja berbeda jika ungu warnanya sedikit lebih terang daripada warna nila. Just that!
:)

Sabtu, 07 September 2013

Saya Adalah Senja..


Saya adalah senja. Si pengecut ulung yang bersembunyi diujung hari dengan nuansa jingga. Ya! Si pengecut ini selalu saja takut untuk menantang terang. Pasrah pada gelap yang datang menghampirinya. Saya adalah senja. Yang hanya orang-orang pilihan yang paham mengapa saya memilih senja. Saya membiarkan semua orang menikmati indahnya pesona jingga yang saya miliki. Saya ingin semua orang tersenyum ketika memandang saya. Saya ingin orang-orang memuji cantiknya saya. Tanpa mereka perlu tahu, betapa rapuhnya saya. Betapa banyak beban yang harus saya tanggung. Betapa sulitnya tersenyum dengan binaran mata yang meredup. Dan, hanya mereka yang menjadi pilihan yang paham akan semua dibalik pesona saya.

Kadang saya lelah, menjadi riang di hadapan orang banyak. Menghibur mereka yang sedang gundah. Menjadi wadah untuk mendengar segenap cerita mereka. Tapi "wanita tegar itu cantik". Kalimat yang selalu menjadi penguat ketika saya rapuh. Saya menginginkan pertemuan dengan malam segera datang. Agar saya bisa merebahkan diri dipangkuan malam. 

Seseorang pernah berkata; "Senja.. jika kau disuguhkan 2 pilihan, bulan dan bintang. Maka jangan memilih bintang, karena bintang terlalu banyak. Pilihlah bulan, karena ia cuma satu."

Apalagi yang dapat saya utarakan jika menunggu malam adalah sebuah tindakan pengecut. Jika bukan pada malam, pada siapa lagi aku merebahkan dan tenggelam dalam kesunyian? Saya ingin duduk dibawah langit dengan keadaan yang damai. Kapan? Ketika saya mati?
Saya jengah dengan keributan. Ingin hidup ditempat yang jauh dari keramaian dan mewujudkan mimpi-mimpi saya. Saya adalah pengecut yang punya sejuta mimpi. Setiap orang berbeda-beda dalam menjalani hidupnya. Dan saya memilih hidup dengan cara yang saya yakini benar adanya.

Bila senja datang saya selalu memandangnya. Melukis segenap mimpi dengan bias-bias jingga. Bertinta rasa. Berkuaskan jiwa. Saya menjadikan langit sebagai kanvasnya. Meski angin bertiup dengan sayu menyapa raga yang tak bergeming meski gerimis mendarat disekitar. Rumput-rumput bergoyang bergerak penuh tanya, dan burung-burung pun berkicau dalam teriakannya.

Saya tidak mengerti bahasa isyarat alam, dan saya hanya memandang dan terus memandang langit jingga yang sebentar lagi akan hilang dikalahkan oleh malam. Disaat hati mulai berani meluahkan rasa. Sejuta ketakutan datang melanda merasuk kedalam jiwa. Ah, ini semakin  membuat rasa ini terpendam hadirkan resah yang bertapa dalam pusaran sukma. Begitulah senja. Mengubur dalam-dalam lekuk tubuh mimpi yang saya gurat dengan pasti.