Minggu, 20 Januari 2013

Alam..




Alue Naga, 11 Desember 2012

Selamat siang, Alam.. Hari ini aku belajar mengendalikan perasaanku lebih dalam. Mengendalikan agar tidak terlalu terbawa ke dalam lembah kecerobohan. Aku adalah seorang wanita yang terlalu ceroboh ketika mengambil sebuah keputusan. Oleh sebab itu aku membiarkan waktu  yang menjawab semua tanyaku dalam diam.

Hari ini aku melihat alam menangisi perasaanku. Dedaunan yang basah karena tetesan airmatanya membuat udara semakin sejuk, bau tanah yang menyengat hidung memberikan kesan yang sangat sendu. Kau tahu, Alam. Hari ini aku benar-benar belajar untuk menahan diriku. Tidak bertanya bagaimana kabarnya disana. Cukup aku yang memberikannya berita tentang apa saja yang kulalui sampai detik ini. Meski jawabnya tak akan pernah aku dapatkan. Ya, ia pergi dengan tanpa hadirku disisinya.

Bukan meninggalkanku selamanya. Hanya saja ia pergi sementara dan dijanjikan akan segera kembali. Aku menunggu. Meski ini kali pertama aku hidup seharian tanpa dicari olehnya atau mencarinya. Tapi demi dia, aku belajar. Belajar untuk menjadi seperti yang diinginkannya. Meski seringkali sulit yang menggelitikku untuk berhenti melanjutkannya.

Alam, hujan, angin dan kamu. 
Yang saat ini mengusik alam pikirku.. 
Kamu, aku rindu kamu.
^_^

Kamis, 10 Januari 2013

Tulisan Dini Hari..


Biarkan saya bebas, Bu. Saya sudah lama hidup dalam penjara batin ini. Saya ingin bebas. BEBAS !

"Kamu ingin pergi? Kemana?" tanya Ibu padaku. 
"Entahlah, Bu.. Saya benar-benar butuh sendiri.." jawabku sambil menyuapkan nasi ke mulut Ibu.
Ibu sakit. Ayahku? Jangan ditanya. Dia sedang liburan bersama orang yang dia banggakan. Kami? Duduk menepi disudut kota dalam hati yang muram. Dulu, ada dia yang menjadi tempat saya bernaung. Dia yang dengan tabahnya menenangkan saya. Tapi itu dulu, ketika dia benar masih ada.

"Bagaimana kamu dengan Aldin?" tanya Ibu.
"Ah, hmm.. baik, Bu.." jawabku bingung. Ibu menatapku lekat. Ditariknya wajahku dengan kedua telapak tangannya. Dia pandangi mata saya dalam-dalam. 
"Jangan berbohong, buah hatiku.." kata Ibu sembari tersenyum.
Saya hanya balas tersenyum. Maaf, Bu. Saya rasa dia bukan untuk saya..
"Apa yang terjadi?" Ibu kembali bertanya. Saya diam, tidak melanjutkan menyuapi Ibu makanan dan juga tidak menjawab. Ibu bangun perlahan-lahan. Berusaha untuk duduk. Dan merentangkan tangannya.
"Hug me, honey.." kata Ibu.
Saya meletakkan piring nasi Ibu dan langsung memeluknya. getaran-getaran dalam jiwa itu mengeluarkan efek tangisan. Maka, tumpahlah segenap rasa yang sudah menyesakkan dada.
:')

Bagaimana bisa saya hidup dengan seseorang yang tidak benar-benar mencintai saya, Bu? 
Bagaimana bisa saya hidup dengan seseorang yang bahkan tidak mengenal saya dengan baik?
Bagaimana bisa saya hidup dengan seseorang yang tidak mengertikan saya, Bu?
Bu, kesalahanmu itu, saya berjanji tidak ingin mengulanginya.
:')
Ibu sanggup. Sedangkan saya TIDAK !
Bertahun-tahun hidup dalam penjara ini, benar-benar menyiksa saya. Saya ingin seseorang yang mencintai saya dengan BENAR ! Yang menghargai perasaan saya. Yang mampu membuat saya melupakan hal buruk yang pernah terjadi. Yang menjaga saya dengan baik. Yang paham dan mengenal saya dengan baik. Yang sesungguhnya, seseorang itu tidak pernah ada. Artinya? Artinya, saya menunggu takdir Tuhan. Membiarkan semuanya berjalan. 
Ibu, demi apapun. SAYA LELAH ! :'(

Saya ingin keluar, Bu. Pergi dari sini. Membawa Ibu ke dunia yang benar-benar indah. Dunia yang penuh warna cerah kebahagiaan. Dunia yang bukan disini. Dunia kita, Bu. Dunia kita hidup abadi. ^_^


Selasa, 08 Januari 2013

Ini Hidup, Inilah Kisahnya..



Aku mengerti bahwa hidup ini hanya merupakan sebuah rangkaian aksi yang berkesinambungan. Sebuah rangkaian cerita yang tak pernah dirumuskan ataupun ditulis secara nyata. Sebuah rutinitas kompleks yang dibentuk oleh keinginan, harapan, dan pemberontakan.

Aku bercermin dari kepribadian orang-orang yang tak pernah memikirkan suatu tujuan. Mereka menghadapi masa depan yang tenang tanpa ada sebuah asa yang berarti. Mereka bersikap seolah-olah hidup ini telah memiliki skenario yang pasti bagi masing-masing mereka. Mereka seolah-olah lupa akan jaminan perubahan yang dijanjikan kepada mereka apabila mereka berusaha menemukan arti kehidupan yang lebih baik.

Aku tak pernah melihat sebuah gemerlapnya hidup yang seharusnya tercermin dari paras wajah mereka. Aku tidak menemukan kualitas hidup dari mereka. Sebuah ideologi kuno dan budaya turunan yang sangat bertentangan dengan sejengkal ilmu yang kumiliki. Sebuah pemberontakan minoritas yang muncul dari hati kecil yang selalu mendambakan arti perjalanan jiwa yang lemah.

Mungkinkan keberanian untuk berbeda ini tidak beralasan? Apakah hanya sebuah ledakan tak berarti yang muncul karena hormon yang sedang bergejolak? Atau mungkin sebuah bukti bahwa hanya sebagian kecil manusia yang kuat dan berkeinginan untuk mencari realitas demi membuktikan bahwa skenario hidup yang selama ini dianggap kompleks dan rumit merupakan sebuah garis lurus fleksibel yang dapat dibentuk apabila kita berkehendak dan mencoba merubah bentuknya agar dapat menyuarakan sedikit senyuman?

Mungkin semuanya terasa sangat membingungkan yang mungkin bisa membuatku tersesat dan terlalu jauh berjalan. Aku takut otak kecil ini tidak kuasa mengolah semua kerancuan pengertian yang selama ini menuntun kemudi hati ini. Aku takut punggung ini tak dapat menemukan dinding sandaran untuk menopang letihnya. Aku takut akan kenyataan bahwa manusia itu sebenarnya hanyalah sebuah bentuk ketidakmampuan dengan sifat arogan yang berlebihan. Tapi bukankan karena itu kita hidup ber-Tuhan?

Minggu, 06 Januari 2013

Mari Melihat Takdir..


Bagaimana anda memegang saya ketika saya hendak terlepas? Bagaimana anda merangkul saya ketika saya terjatuh? Bagaimana anda benar-benar menyesal atas apa yang terjadi lalu? Saya tidak melihat ada kesungguhan disana. 

Saya kagum pada anda yang benar-benar membuat batin saya lemah malam ini. Untuk mengetik pun saya mengumpulkan sisa-sisa energi yang saya punya. Bukan terlalu besar salah yang anda perbuat, tapi terlalu banyak kesempatan yang saya berikan tidak anda pergunakan dengan sebaik-baiknya. Sorry, my heart is too easily destroyed. Itu karena ia terbuat dari segala rasa yang tulus, sungguh-sungguh, dan nyata. Saya berjuang sendiri untuk mempertahankan apa yang saya rasa pantas untuk dipertahankan. Lagi-lagi saya salah langkah.
^_^

Dulu indah, itu dulu. Ketika ego tidak terjunjung tinggi. Ketika harapan belum pernah terbuyarkan. Ketika rangkaian kata-kata belum ada yang keluar tanpa mengenai ulu hati. Ketika saling menghargai masih menjadi prioritas utama. Tidak sekarang. Kenapa? Karena segalanya sudah terbalik. Yang diagung-agungkan malah menjadi bumerang untuk hidup kita.

Hei anda yang kemilaunya selalu membutakan mata saya. Bisakah berdiri tetap disana. Tidak perlu maju, terlalu banyak marabahaya disini. Biarlah saya sendiri saya melawan apa yang terjadi. Anda disana saja, tidak perlu ikut. Saya sedang belajar melewati segalanya sendiri. ^_^

Sabtu, 05 Januari 2013

Yang Aku Pahami Tidak Aku Mengerti..



Aku..
Aku berdiri bersandar di tembok ini.
Memahami setiap isi bait yang ku temui.
Ternyata tak bisa ku mengerti.
Hanya bisa melihat dan membaca nya.

Aku..
Aku memang jalang dan tak berharga diri.
Yang selalu mengusik diri dengan api.
Menimba api dengan sayatan mimpi.
Aku tercoreng ke lembah ini.

Dan Aku..
Aku terlihat menjadi inti diri.
Menjadi rapi di hari yang sunyi.
Dan aku menjadi sunyi di setiap hari.
Karena api ku padam di tiup sunyi.