Jumat, 28 Desember 2012

Rindu..




Saya rindu, pada kamu yang kini entah berada dimana. Saya rindu, pada hatimu yang kini tidak lagi bersarang di raga saya. Wajah teduhmu kala tertidur, wajahmu ketika tertawa, saya merekamnya indah di pikiran saya. Tidak dapat menyingkirkannya meski hanya sedetik. Kamu sangat mempengaruhi hidup saya.

Hari ini Tuhan mencegah keinginan buruk saya. Tidak biasanya saya membiarkan kamar saya dalam keadaan tidak terkunci. Entah saya lupa, entah memang Tuhan mengutus malaikat untuk membuka kamar saya yang tadinya terkunci. Kamar saya berantakan. Aroma parfum yang keluar dari pecahan botol itu menyengat di satu ruangan kamar saya. Entah kapan saya mengacak meja yang diatasnya terdapat perkakas saya. Masih dalam keadaan menangis. Satu-satunya yang saya inginkan adalah pergi. Pergi dari sini. Pergi dari kehidupan yang malang ini.

Setan jahat menggelitik hati saya untuk mengambil pisau cutter yang terjatuh. Dalam keadaan setengah sadar, saya mengambil. "Ampuni saya, Tuhan.." Bisikku dalam isak tangis tertahan. Hendak menggores cutter tersebut di lengan, Ibu masuk. Teriakan histeris Ibu menyadarkan saya. "Tuhan saya lupa, ada seseorang yang telah meminjamkan rahimnya untuk saya singgahi sementara waktu. Seseorang yang setiap malamnya mengucapkan nama saya dalam setiap do'anya" suara hati saya. Ibu menangis tersedu-sedu. Dia memeluk saya erat sekali.

"Apa yang kamu lakukan, Nak?" Tanya Ibu dalam tangisnya. Saya masih terdiam. Sesenggukan. Tangis saya tertahan. Sakitnya tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata.
"Kenapa kamu berlaku demikian?" Tanya Ibu lagi.
Saya masih terdiam.
"Allah, kenapa Engkau limpahkan kemalangan pada putri saya?" Teriak Ibu.
Dan, pecahlah tangisan saya. Saya menangis tersedu-sedu.
"Bu, saya rindu dia. Saya rindu dia.." Ucapku tertahan.
"Istighfar, Nak.. Istighfar.." Ibu bicara masih dalam tangisannya.
"Saya rindu dia, Bu !!" Saya berteriak lantang. Air mata yang masih saja tumpah. Membuat hati saya terasa semakin pilu.

Saya mencintainya ikhlas dan tulus. Mencintainya dalam keadaannya yang tidak sempurna. Mencintainya karena Allah.

Saya rindu dia. Dia yang benar-benar mencintai saya. Bukan karena iba hatinya.
Tiada seorangpun yang paham bagaimana saya menyayanginya. Itulah mengapa saya hanya dapat menumpahkan segalanya melalui tulisan.
Biarkan saja, microsoft yang menjadi teman saya berbagi.