Saya rindu, pada kamu yang kini entah berada
dimana. Saya rindu, pada hatimu yang kini tidak lagi bersarang di raga saya.
Wajah teduhmu kala tertidur, wajahmu ketika tertawa, saya merekamnya indah di
pikiran saya. Tidak dapat menyingkirkannya meski hanya sedetik. Kamu sangat
mempengaruhi hidup saya.
Hari ini
Tuhan mencegah keinginan buruk saya. Tidak biasanya saya membiarkan kamar saya
dalam keadaan tidak terkunci. Entah saya lupa, entah memang Tuhan mengutus
malaikat untuk membuka kamar saya yang tadinya terkunci. Kamar saya berantakan.
Aroma parfum yang keluar dari pecahan botol itu menyengat di satu ruangan kamar
saya. Entah kapan saya mengacak meja yang diatasnya terdapat perkakas saya.
Masih dalam keadaan menangis. Satu-satunya yang saya inginkan adalah pergi.
Pergi dari sini. Pergi dari kehidupan yang malang ini.
Setan jahat
menggelitik hati saya untuk mengambil pisau cutter yang terjatuh. Dalam keadaan
setengah sadar, saya mengambil. "Ampuni saya, Tuhan.." Bisikku dalam
isak tangis tertahan. Hendak menggores cutter tersebut di lengan, Ibu masuk.
Teriakan histeris Ibu menyadarkan saya. "Tuhan saya lupa, ada seseorang
yang telah meminjamkan rahimnya untuk saya singgahi sementara waktu. Seseorang
yang setiap malamnya mengucapkan nama saya dalam setiap do'anya" suara
hati saya. Ibu menangis tersedu-sedu. Dia memeluk saya erat sekali.
"Apa
yang kamu lakukan, Nak?" Tanya Ibu dalam tangisnya. Saya masih terdiam.
Sesenggukan. Tangis saya tertahan. Sakitnya tidak dapat saya ungkapkan dengan
kata-kata.
"Kenapa
kamu berlaku demikian?" Tanya Ibu lagi.
Saya masih
terdiam.
"Allah,
kenapa Engkau limpahkan kemalangan pada putri saya?" Teriak Ibu.
Dan,
pecahlah tangisan saya. Saya menangis tersedu-sedu.
"Bu,
saya rindu dia. Saya rindu dia.." Ucapku tertahan.
"Istighfar,
Nak.. Istighfar.." Ibu bicara masih dalam tangisannya.
"Saya
rindu dia, Bu !!" Saya berteriak lantang. Air mata yang masih saja tumpah.
Membuat hati saya terasa semakin pilu.
Saya
mencintainya ikhlas dan tulus. Mencintainya dalam keadaannya yang tidak
sempurna. Mencintainya karena Allah.
Saya rindu
dia. Dia yang benar-benar mencintai saya. Bukan karena iba hatinya.
Tiada
seorangpun yang paham bagaimana saya menyayanginya. Itulah mengapa saya hanya
dapat menumpahkan segalanya melalui tulisan.
Biarkan
saja, microsoft yang menjadi teman saya berbagi.




2 komentar:
laik dis..
^_^
Posting Komentar