Minggu, 30 Desember 2012

Bagaimana Kita Bersyukur Atas Takdir Kita?


Kita ditakdirkan untuk bertemu. Maka ketika kita berpisah, itu juga bagian daripada takdir kita.

Sayang, untuk saat ini saya mohon kepada kamu untuk merenungkannya. Jangan membiarkan egomu yang menggerogoti logika, tapi biarkan logikamu bertindak tanpa ego yang mendasarinya. Kamu lihat? Seperti apa perjuangan saya? Kamu lihat, bagaimana saya membenarkan kamu didepan keluarga saya? Kamu tahu, seperti apa sayang saya kepada kamu? Kamu paham kan sayang, saya marah karena apa? Saya cemburu karena apa? Saya menangis karena apa? Kamu paham kan? Tapi pernah kamu mencoba untuk merubahnya?

Sayang, ketika pesan singkat saya kamu balas dengan kalimat seperlunya. Saya marah? Sedangkan kamu dengan ramahnya membalas pesan singkat wanita lain. Saya tidak marah, karena merasa bahwa kamu berhak untuk itu. Tapi bisakah kamu melihat bagaimana saya tenggelam dalam kekalutan? Kamu bahkan lebih merasakan nyaman bercerita dengan orang lain daripada saya? Lantas untuk apa lagi saya didekatmu? :'(

Saat kamu yang mengangkat topik permasalahan, ingin sekali saya membela diri. Bukan karena saya merasa benar, tapi ada pernyataan yang memang benar untuk diungkapkan. Tapi kamu menganggap itu sebuah bantahan dari saya. Kamu sadar seberapa besar egois yang kamu punya? Selain mengungkapkan dari tulisan, tidak ada lagi cara yang saya temui untuk mengungkapkan perasaan saya.

Saat saya bercerita, entah kamu dalam suasana hati yang tidak baik sehingga cerita saya tidak kamu respon baik. Saya malas untuk bercerita dilain hari. Saya bingung. Harus seperti apa lagi mengimbangi ego yang kamu punya. Ketika meminta penjelasan rinci dimana letak yang harus saya ubah. Kamu menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak menjurus ke arah jawaban dari pertanyaan saya. Saya semakin bingung. Bukan saya sengaja, tapi sudah terlalu banyak hal yang harus saya pikirkan dan saya kaitkan sendiri. Denganmu, tidak bisakah kamu membantu saya mengurangi beban pikiran saya? :'(

Dulu, ketika saya menangis, kamu selalu membantu saya melupakan apa yang sedang saya hadapi. Dulu, saya punya rindu yang selalu berbalas meski kadarnya tidak selalu sama. Dulu, kamu bertahan karena benar mencintai saya. Dulu, kamu ada disetiap waktu saya. Dulu, dan itu semua dulu. Ketika kamu benar-benar milik saya.

** Tulisan ini saya tulis dalam keadaan benar-benar gamang. Saya melihat oasis di gurun pasir yang ternyata hanya sebuah fatamorgana. Saya melihat saya yang dipantulkan cermin, saya yang dengan keadaan buruk. Mata sembab dan cekung serta tangisan yang tak lagi mengeluarkan airmata. Saya cukup terluka untuk ini. Saya benar-benar kehilangan kamu. Kamu yang benar-benar mencintai saya (dulu). 


#Now Listening OST. Winter Sonata

0 komentar: