Saya, adalah bagaimana saya menjadikan diri saya sebagai saya..
Dengan irama yang lembut, angin mengombang-ambingkan tubuh saya yang kian rapuh. Saya dibawa pergi jauh dari sang bunga. Semakin jauh hingga tak terlihat lagi dimana mahkota saya yang indah itu. Angin semakin berhembus, maka saya semakin terbawa jauh. Apalagi yang bisa saya lakukan? Selain diam dan membiarkan angin menghempaskan saya pada tempat yang menurutnya pantas untuk saya berdiam.
Iya, begitulah angin. Membawa saya sejauh mungkin dari kerabat saya. Ia menghempaskan saya dipinggiran jalan yang penuh debu dan polusi. Saya yang kian rapuh ini seringkali harus batuk-batuk karena menghirup udara tidak sehat. Tetapi, kenapa saya harus marah pada angin? Ia hanya melaksanakan tugasnya yang diperintahkan oleh Dzat Yang Maha Menciptakan. Dan ini adalah takdir saya. Lepas dari tangkai yang senantiasa memegang saya hingga tiba saat dimana saya harus pergi. Dan hidup di pinggir jalan yang penuh debu dan udara kotor ini.
Saya tidak boleh marah. Lebih tepatnya, saya tidak berhak untuk marah. Dia menakdirkan saya untuk demikian. Ketika saya marah pada angin, berarti saya marah pada takdir Tuhan. Dosakah saya?
Sebuah mobil melewati posisi daya berdiam. Asap kotornya memenuhi tubuh saya. Lagi-lagi saya terbatuk. Hingga akhirnya seorang anak manusia yang sedang berlarian tanpa sengaja menginjak tubuh saya. Saya kesakitan. Penyapu jalan mengangkut tubuh saya. Kemudian mereka membakar saya. Dan saya musnah..
Berakhirlah kisah hidup saya. Dan takdir saya adalah mati terbakar. Saya pergi, meninggalkan si cantik bunga di batangnya. Semoga ia bahagia disana..
:')




0 komentar:
Posting Komentar