Sabtu, 21 Desember 2013

Senja..



Jingga melangkahkan kaki diantara gemuruh ombak. Kakinya yang mungil bermain-main bersama geriangan desirnya. Tak ada jejak kaki. Karena setiap langkahnya akan tersapu oleh ombak yang berlomba-lomba memagut tubuhnya. Ombak itu ibarat harapan, rindu, cinta dan sayangnya pada seorang pria. Jingga menengadah. Tiba-tiba ada sesak merangkul dadanya. Ia menghembuskan nafas panjang agar sesak yang dirasakannya sirna. Tapi dadanya seperti tertimpa gundukan karang. Semakin berat, tapi semakin rapuh. Angin semilir mulai melambai-lambai. Langit mulai temaram. Rambutnya yang tergerai mulai beterbangan dimainkan angin nakal. Sebentar lagi, katanya dalam hati. Sebentar lagi senja akan datang, Jingga harus kuat.

Tentang senja...

Jingga sangat menyukai senja, karena ronanya yang merah penuh gelora biaskan bayangan kerinduan akan seorang pria. Senja. Ia ingat, Senja pernah bilang kalau dulu ibunya begitu menyukai senja. Makanya, ibu memberinya nama dengan nama itu. Dan dari dulupun, senja selalu menyukai warna merah itu. Jingga pernah menanyakan tentang makna senja bagi pria yang sangat dicintainya itu.

"Apa yang membuatmu begitu menyukai senja, Senja ?"
"Senja bukan hanya menghadirkan rona merah, senja juga dapat mengobati kerinduan kekasih lewat bias warnanya".
"Lalu gimana kalo senjanya tertutup awan ?"
"Senja yang tertutup awan adalah kerinduan yang terpendam ..!" jelasnya lagi.
"Kalau senja yang bersembunyi dibalik rimbun dedaunan gimana ?"
"Itu senja yang malu-malu, seperti rindumu padaku Jingga. Tak perlu kata, tapi terbias lewat warna wajah semu merah jambu..!"


Kata-kata Senja membuat pipi Jingga bersemu merah. Wajahnya yang bulat, mungil bersemu malu.

"Kau ini, bisa aja deh..!" Pelan Jingga mencubit pelan lengan Senja.

"Hm, Senja, tau tidak kenapa aku menyukai senja..?

Senja mengernyitkan keningnya. "Apa ?" Tanyanya
"Karena Senja selalu membuatku rindu pada seorang Senja. Rindu yang tak pernah habis. Tak pernah lelah untuk hadir setiap hari. Seperti kamu Senja. yang selalu ada untukku..!"Kata-katanya barusan sukses membuat bibir Senja mengembang.
"Udah pinter gombal ya sekarang..!" Senja tergelak.

Ah Kenangan....

Jingga memandang laut lepas dihadapannya. Ombaknya masih bergulung. Deburnya bergemuruh seperti dadanya yang bergetar karena rindu. Sebentar lagi senja diufuk akan tiba. Dia tak ingin melewatkan merahnya. Hari ini, tepat setahun sejak kecelakaan itu merenggut nyawa Senja, saat mereka memadu janji di pantai itu untuk bertemu. Menatap senja bersama. Jingga terus melangkah menyusuri lautan lepas. Tak dihiraukannya bajunya yang basah terkena desiran ombak. Sekali kali kakinya tersandung karang yang tajam. Jingga tak perduli jika kakinya terluka. Langkahnya semakin cepat. Setengah berlari. Jingga tak perduli jika ombak itu akan memakannya hidup hidup. Sebentar lagi dia akan bertemu Senja, karena gulungan ombak itu akan membawanya menemui sang merah. Merahnya senja.

You say, you love me?



Mencintaiku, katamu
Tapi mengapa begitu ?
Sedang senja setia menanti malam
Tapi kenapa kau begitu cepat temaram ?
Termakan alibi lupa pada janji
Yang kau buat dan kau pungkiri sendiri

Lalu..
Mencintaiku, katamu
Tapi mengapa begitu ?
Sedang nafas ini masih memburu
Saat bibir dingin mengecup beku
Tapi mengapa terkesan semu ?
Saat ku tahu ada bayangan lain dipikiranmu

Jadi..
Kenapa mencintaiku
Jika ternyata kau masih begitu
Apa tak ada artiku bagimu ?

Tak mengapa jika kau lupa
Tak kan ku tanya mengapa ku luka
Jika harus pergi, maka pergilah
Karena ku tak mau temaram
bersama cintamu yang muram

Sabtu, 14 Desember 2013

Tentangmu, sang fajar (5)



“Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati. Jatuhkan hatiku kepadamu. Sehingga hidupku pun berarti. Cinta tak mudah berganti. Tak mudah berganti jadi benci. Walau kini aku harus pergi  ‘tuk sembuhkan hati..”

Lirik lagu Tangga yang mengalun indah dari earphone saya. Cukup membuat saya tersadar bahwa semua sudah waktunya untuk saya akhiri. Apa yang kamu ketahui, sayang? Yang saya takutkan sebenarnya adalah kita berpisah tanpa pernah mengungkapkan perasaan di hati kita. Ini sudah waktunya saya pergi, kan?

Saya pernah berpikir apa yang akan kamu lakukan jika saya mengatakan semuanya. Suatu malam di bulan Desember 2013, saya pernah berniat akan mengutarakan apa yang seharusnya saya utarakan. Saya selalu berpendapat, “katakanlah! Kau tidak akan tahu jika tidak mencari tahu”. Tapi ketika pagi hari, saya mengurungkannya. Bukan karena saya tidak ingin mencari tahu dan lepas dari genggaman rasa yang menyakitkan ini. Tapi lebih kepada sebelum saya utarakan, kamu sudah dengan tegas memperjelas semuanya. Saya tidak menyalahkanmu, sayang. Tapi caramu cukup membuat saya merasakan luka yang hampir tertutup sempurna itu.

Saya tidak bodoh. Saya juga bukannya tidak peka. Tapi saya mencoba menjadi kebal. Demi bisa selalu bersamamu. Apa saya terlalu naif? Atau kamu yang terlalu menganggap gampang perasaan ini? Saya mengingatmu sama seperti ketika saya terlelap. Kamu adalah sesuatu yang membuat saya tidak merasakan segala, selain bermimpi dan berdetak. Saya adalah wanita yang menyimpan do’a baik-baik didalam sepatu kerjamu. Setiap petang, saya selalu berkata “Hati-hati pulang kerjanya, sayang!”. Meski kadang ucapan itu aku ucapkan seraya aku memandang langit yang perlahan memerah saga.

Kamu boleh bersamanya. Menikmati bahagia dengannya. Aku merelakan, karena memang dia bahagiamu seutuhnya. Tapi sayang, jangan kembali padaku jika kamu tidak menemukan apa-apa. Karena hatiku bukanlah cadangan hidupmu.

Saya melihat potret kamu dan dia. Saya cemburu. Bukan, saya bukan cemburu pada dia. Saya cemburu karena kamu berada lekat disisinya. Saya terlalu bodoh. Ya, saya bodoh! Saya bodoh. Saya sok tegar. Saya sok pintar. Ya, itulah saya.

Diluar sedang turun hujan deras. Saya memilih menyeruput segelas teh hangat sambil terus menuliskan tentangmu. Maaf, saya memilih pergi, tapi tidak memilih untuk berhenti menulis tentangmu. Udara yang dingin membuat ujung jemari saya membiru. Saya berharap hangatmu tetap terjaga disana, hingga tak membuat sedih siapapun yang menyayangimu disini.

Saya terlalu menyayangimu. Dan saya harus berhenti untuk ‘terlalu’ menyayangimu. Walau kenyataannya hal itu bukanlah sebuah ‘hanya’. 

Saya tipikal wanita yang merasa. Pria seharusnya menyadari diri bahwa mereka harus memberi penjelasan tanpa harus membuat wanitanya merengek.

Ah, saya baik-baik saja. Ini hanya luka kecil dibanding segala yang masih terjadi pada hidup saya saat ini. Lagipula, saya yang memilih pergi. Bukankah didalam hidup ada datang dan pergi? Dan kepergian hanyalah untuk memberikan ruang pada kedatangan yang lebih baik.

Tidak apa-apa. Saat ini saya sedang bahagia dengan hidup yang saya jalani. Dengan hati-hati yang mengelilingi saya. Walau pun saya belum siap untuk mencintai seseorang. Bukan karena kamu. Saya pernah percaya bahwa kamu tidak sama dengan yang lalu. Tapi saya lupa. Satu-satunya yang bisa saya percaya hanyalah Sang Pencipta. Sehingga pada akhirnya, saya kembali terluka. Hahaha ! Hanya luka kecil, sayang..


Terima kasih untuk kamu, untuk beberapa waktu yang saya sita untuk menemani saya. Will miss you, dawn.. J

Rabu, 11 Desember 2013

Tiga Tahun Lalu



TASYA

“Aku mencintaimu, De..” Ucapku lirih. Aku tahu cinta ini salah. Aku datang di waktu yang tidak tepat. Hal apa yang membuatku menyatakan bahwa cinta ini salah? Aku mencintai dia yang merupakan milik orang lain.
“Aku tahu, sayang. Aku tahu. Bahkan sebelum engkau mengatakannya, aku sudah tahu.” Ia menjawab seraya mengusap kepalaku. Aku dimanjanya. Dan aku ditenggelamkan dalam dada bidangnya. Hangat. Pelukan ini hangat sekali. Aku bagaikan seorang gadis kecil yang setiap kali merengek, ia datang membawa sebuah permen lolipop untukku. Cinta ini sederhana. Ia begitu tahu cara memperlakukanku dengan baik.

***

“Lantas, apa yang kau lakukan kini, Sya?” Riri sahabatku bertanya padaku.
“Entahlah. Rasa ini semakin sulit kutepiskan” jawabku.
“Kau tahu resikonya bila rasa ini kau pertahankan?” Ia kembali bertanya padaku.
Aku diam. Diamku bukan karena aku tidak tahu. Aku tahu jelas apa yang akan ku hadapi. Ia tidak akan mungkin menjadi milikku. Dan akan tiba masa dimana ia memilih, yang sudah kupastikan ia akan memilih kekasih hatinya itu. Riri menatap iba ke arahku.
“Aku benci tatapan itu, Ri!” kataku.
Riri tertawa renyah. Baginya aku masih kecil dalam dunia percintaan. Aku terlalu naif, mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain. Tapi bagiku cinta tidak pernah salah. Cinta selalu hadir pada hati yang ia rasa pantas untuk merasakan nikmatnya.
“Boleh aku bertanya?” Riri bertanya.
“Silahkan” jawabku.  Aku menatap lekat ke dalam matanya. Mencari tahu makna dari tatapannya tersebut.
“Bagaimana jika ia tidak mencintaimu?” Tanyanya.
Dan kali ini aku terdiam. Benar! Aku bahkan tidak pernah mendengar ia mengatakan bahwa ia mencintaiku.
“Cepat atau lambat aku akan pergi dari hidupnya. Percayalah! Aku cukup menyadari posisiku” Kataku sambil tersenyum. Perih. Hatiku sakit sekali.

***

Aku membayar total makananku di sebuah cafe. Baru saja keluar dari cafetaria tersebut, aku berpapasan dengan laki-laki yang kucintai. Tanpa bisa berbicara, ia berlalu setelah menatapku. Aku bagaikan patung dihadapannya. Ia bahkan tidak menegurku. Wanita disebelahnya menggandeng lengannya dengan manja. Damn! I’m jealous!
Wanita itu aku tidak mengenalinya. Tapi entah kenapa, aku bersedia menyingkir dari kehidupan laki-laki itu deminya. Seperti sebuah daya tarik tersendiri antara aku dan wanita tersebut. Wanita yang baik menurut “penglihatanku”.
Aku masih diam di ujung pintu cafe. Seseorang mencoba menyadarkanku bahwa posisiku cukup menghalangi orang-orang untuk masuk. Dengan air mata yang masih membasahi pipi, aku bergeser. Melangkah pelan nan gontai menuju apartemenku.
Baiklah, aku memutuskan untuk ku akhiri saja semuanya. Sudah waktunya aku pergi. Aku pun mencoba membuka akun sosialnya, dan semuanya ia memasang foto bersama kekasihnya. Ini pengusiran secara halus. Sudah saatnya untuk pergi.


** * **


DEMIAN


3 tahun kemudian..


Pengirim: TASYA
Selamat siang. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kami mengundang saudara/i  untuk menghadiri pesta pernikahan kami (HANINA PUTRI ANATASYA, S.Psi dengan DIDI HANDRIKA, M.Eng) di Aula Hotel Beutari. Pada hari kamis, tanggal 03 April 2014. Terima kasih


Aku gemetar. Wanita itu kini akan menikah. Apa yang harus aku lakukan? Segera kuambil ponselku dan menekan nomornya. Panggilan terhubung, namun ia tidak mengangkatnya. Hari kamis itu minggu depan.
Aku bingung. Entah kenapa ada rasa yang menyesakkan dalam dada. Apa aku mencintainya? Entahlah! Tapi aku merasakan rasa sakit di ulu hatiku. Apa ini??!

“Kau baik-baik saja sayang?” Marlia bertanya padaku. Wanita ini adalah kekasih hatiku. Karenanya aku tidak bisa menjadikan Tasya sebagai kekasihku. Aku mengenal Marlia jauh sebelum aku bertemu Tasya. Dan kami sudah menjalin hubungan lebih dari 8 tahun.
Marlia sering mengajakku untuk menikah. Tapi aku belum berpikir sejauh itu. Laki-laki mana yang tidak ingin menikah? Tapi entah kenapa, aku belum mau menikah. Entah karena Marlia yang mengajak, atau memang aku terlalu maniak dalam bekerja.

“Aku tidak apa-apa” jawabku bohong.

Bagaimana mungkin aku harus mengatakan bahwa aku memikirkan wanita lain selain dirinya.

“Sms dari siapa? Kenapa kamu jadi pucat? Ada masalah?” Marlia kembali menghujaniku dengan pertanyaannya.

“Tidak. Masalah kerjaan. Ayo kita pulang. Bos mengajakku rapat dadakan. Besok ada pertemuan dengan klien mendadak.” Kataku berbohong.

Untung saja Marlia tidak banyak bertanya lagi. Makan siang saat itu tidak berjalan baik. Padahal, awalnya, aku berniat untuk berbicara masalah pertunangan dengan Marlia. Tapi sesuatu yang buruk datang. Wanita itu muncul dengan kabar tersebut.

Aku mengantar Marlia pulang. Setiba di depan rumahnya, aku mengatakan bahwa aku buru-buru. Marlia melepas kepergianku dengan lambaian. Aku menatapnya dari spion mobil sportku.
Pikiranku masih tertuju pada Tasya. Wanita yang dengan tawanya aku pernah bersemangat melewati hari. Dengan petuahnya aku bisa menjadi lebih percaya diri. Dan dengan segenap kata-kata romantis darinya aku merasa bahagia. Yang aku inginkan, Tasya selalu bisa memberikannya. Dengan dirinya pula aku bisa tertawa lepas menjadi diriku sendiri.

Aku mencoba menghubunginya. Dan masih tidak diangkat.

Pengirim: TASYA
Aku menunggu kamu di cafetaria langganan kita pada pukul 16.00 WIB. Waktuku tidak banyak. Aku harap kamu datang tepat waktu.

Dan aku pun melajukan kendaraan ke tempat yang disebut.

***

“Sudah menunggu lama?” Tasya bertanya sambil tersenyum. Ia masih berdiri dihadapanku. Aku masih tidak dapat berkata apa-apa. Wanita dihadapanku semakin cantik. Tiga tahun lalu, dia masih milikku.

“Baru beberapa menit. Duduklah” Kataku.

Ia mengambil posisi duduk dihadapanku. Sebentar ia melihat dan menyentuh ponselnya. Kemudian memasukkan kedalam saku blazzernya.

“Kau akan menikah, masih saja kerja?” Tanyaku.

Ia tertawa. “Kerja adalah bagian dari diriku untuk mengatasi kejenuhan.” Katanya.

Tasya memiliki kecintaan pada pekerjaan sama denganku. Itulah kenapa aku merasa ia bisa mengertiku dengan baik. Itu dulu. Tiga tahun lalu. Kami sama-sama terdiam. Pelayan cafe datang untuk melayani kami, kami memesan pesanan yang biasa kami pesan. Tiga tahun lalu.
Aku bingung harus mengatakan apa.

“Aku mencintaimu.” Ucapku.

Aku melihat wajah Tasya. Ia tersenyum ke arahku. Tapi tidak menjawab apa-apa.

“Kau tidak akan mengatakan apapun?” Tanyaku lagi.

Ia tersenyum. Aku semakin salah tingkah.

“Aku harus berkata apa? Seandainya kalimat itu kudengar tiga tahun lalu, hari ini aku masih menjadi milikmu.” Katanya.

“Aku tahu, kesalahanku adalah itu.” Kataku.

“Tapi semua sudah terjadi, De. Aku akan menjadi milik seseorang lain. Lagipula, wanita itu mencintaimu dengan baik. Apa kurang pengorbanannya selama ini? Menunggumu dalam ketidakpastian kapan akan menikahinya?” Ujarnya.

“Aku tidak mencintainya. Aku hanya bertahan karena aku terbiasa hidup dengannya.” Kataku. Aku sendiri tidak tahu mengapa kalimat ini muncul dari mulutku.

Tasya menatap ke arahku. Ia menggeleng dan menggenggam tanganku.

“De.. Kisah kita sudah berakhir. Wanita itu memiliki cinta yang mahadahsyat kepadamu. Cintailah dia dengan baik.” Katanya.

Aku masih termangu. Sentuhannya membuat desiran darahku terasa hangat. Jantungku berdegub kencang. Aku merasa tidak sanggup melihatnya menjadi milik orang lain.

“Jangan egois, sayang.. Ini takdir kita. Saling mencintai namun tidak dapat saling memiliki.” Lanjutnya.

Aku berpikir keras. Belum selesai aku mendapat jawaban atas kalimatnya, ia bangkit dari duduknya.

“Aku berharap kau datang di hari pernikahanku. Bawa kekasihmu. Aku ingin kau datang dengannya. Sampai jumpa, Amore..” Ujarnya.

Aku terkesiap. “Tidak bisakah sebentar lagi?” kataku.

Ia tersenyum. Dan menggeleng dengan perlahan. Ia berbalik dan melambaikan tangannya kearahku. Kupandangi sosok itu sampai ia menuju pintu. Dari dalam cafe aku melihat ia dijemput seseorang. Aku yakin. Laki-laki itu yang kelak akan mendampinginya. So damn! I’m jealous!
Aku masih duduk diam. Apalagi yang kupikirkan? Tidak ada! Aku sudah terlambat.

***


Minggu, 08 Desember 2013

Tentangmu, sang fajar (4)




Seandainya saya tahu akan seperti ini, saya akan menghindari jalan ini. Ini terlalu manis, sayang. Ini terlalu indah. Saya sulit untuk mengakhirinya. Saya ingin terus menikmati tiap rinci perjalanan ini. Saya tidak akan memintamu datang sepenuhnya kepada saya, saya hanya meminta kamu untuk jangan meminta saya untuk mengakhiri ini. Saya bisa saja mengakhirinya. Tapi saya masih ingin menikmatinya ; mencintaimu.

Ya, saya cinta kamu.
Seseorang disana juga pasti mencintaimu. Bahkan cintanya lebih besar daripada saya. Bukannya saya tidak bisa melebihi cintanya. Tapi saya cukup mengerti, dia lebih duluan memilikimu.

Perkenalan kita. Rasa nyaman yang kamu berikan. Suaramu yang mendamaikan ketika saya resah, itu cukup untuk saya. Saya mencintaimu. Saya mencintaimu diam-diam. You know that! You know I love you.. Apa yang membuat saya bertahan? Itu karena kalimatmu. Kalimatmu yang mengatakan bahwa senja yang ia kenal adalah seorang yang tegar. Saya menjadi tegar demi kamu.
:')

Tanpa saya utarakan kamu tahu kalau saya mencintai kamu. Tanpa kamu utarakan saya tahu kalau kamu mencintai saya. Hanya saja keadaan tidak berpihak baik pada kita. 

Boleh saya menangis, sayang? Untuk rindu ini. Ingin sekali saya mengatakan kepada kamu kalau malam ini saya egois. Saya menginginkan kamu disini. Saya menginginkan kamu menjadi milik saya. Saya cemburu. Dan saya ingin kamu mengatakan kalau rindu saya ini berbalas. Tapi saya takut, saya takut kehilangan kamu jika saya mengatakan hal ini. Saya takut kamu merasa risih. Saya takut kamu menjadi bingung untuk memilih. Saya tidak ingin membuat kamu seperti ini. Tapi ketahuilah, cinta ini masih sama seperti kemarin.

Suaramu.. Suaramu itu mendamaikan sayang.. Saya rindu.. :(

Dari awal saya sudah mempersiapkan diri untuk tetap waspada. Saya tidak ingin jatuh terlalu dalam dengan rasa ini. Tapi itu sulit. Semakin sakit, semakin saya ingin untuk menenggelamkan diri di dalam lautan kasihmu..
Ah sayang.. Kita tidak pernah saling menggenggam tangan. Tapi rasa ini sudah menggerogoti nalar saya dengan baik.

Sakit. Entah kenapa saya merasakan hati saya sakit. Ketika saya mencintai seseorang yang saya ingin mencintainya, namun takdir berkata lain. Sudahlah.. Saya akan mencoba untuk tidak lagi menambah kadar rasa ini. Cukup saya yang merasakan pahitnya, sayang. Saya tidak ingin kamu kelak merasakannya. Beri saya waktu. Untuk saya mengatur langkah saya dengan baik.

Biarkan saya belajar dengan sendirinya untuk bagaimana saya melawan hati ini. Saya cinta kamu. Senja mencintaimu, fajar.. Tapi pagi sudah memilikimu.. Bahagiakan pagimu, sayang. Senja itu cantik. Yang cantik adalah yang selalu tegar. Dan senja perlahan akan tenggelam dibalik malam.. Dan saya percaya suatu saat senja dan fajar akan bertemu. Jika langit berkenan, kita akan dipertemukan disebuah musim yang berbeda dan menikmati secangkir kopi dengan saling bertatapan.

Sayang, ketika takdir mempertemukan kita bisakah engkau merengkuh saya kedalam pelukanmu?
Setidaknya pelukan itu akan menjadi kenangan baik untuk saya mengobati rindu di lain waktu.

Selamat terlelap, fajarku..
Semoga kamu selalu menjadi fajar saya..


#Now Listening Tangga - Cinta Tak Harus Berakhir