Minggu, 23 November 2014

Senja


Biasnya yang temaram menyilaukan penghujung hari.
Bukan tanpa hati, seseorang menanti tanpa ingin diketahui.
Adakah pujian dapat mengubah mau hati?

Siapa yang tahu jika senja yang jingga bisa memancarkan pelangi diantaranya.
Mejikuhibiniu yang indah terlukis di langit yang menjadi kanvas-Nya.
Dan senja pun semakin merona.
Menggugah bahagia dihati yang memandangnya.

Pernah kau tanya pada langit? Mengapa ia begitu indah?

Tiada yang paham bagaimana gradasi warna biru langit menjadi merah jingga ketika senja mulai memancarkan pesonanya.
Tetapi, decak kagum akan indahnya selalu muncul jika memandangnya dengan hati yg penuh kasih.

Selamat menanti senja..
- alyasafna - 

#30harimenulispuisi #karenamenulispuisiituseksi #day3

Rabu, 19 November 2014

Hujan


Tik.. Tik.. Tik..
Tetesannya yg menggempur bumi perlahan mereda.
Sayup-sayup kembali terdera suara deru kendaraan.
Dan aroma khas dari tanah pun menguar merebak indera penciuman.

Denting waktu yang terus bergulir, menyematkan garis-garis halus di wajahmu.
Ayah..
Bahkan air hujan sekalipun tidak bisa mewakili banyaknya cintaku kepadamu.

Di kehidupan mendatang.
Di kehidupan selanjutnya.
Aku hanya ingin tetap menjadi anakmu. 
Yang menjadi pelita dalam kepenatanmu..
Yang menjadi alasan untukmu tersenyum..
Yang menjadi alasan untukmu terus melanjutkan hidup..

Ayah..
Aku mencintaimu..
- alyasafna -

#30harimenulispuisi #karenamenulispuisiituseksi #day2 

Selasa, 18 November 2014

Hari




Aku jatuh cinta kepadamu setiap pagi.

Disetiap kali aku terbangun dipagi hari, yang kuingat adalah aku mencintaimu.

Aku jatuh cinta kepadamu setiap detik.
Setiap dentingan waktu yang bergerak,  selalu timbul benih cinta kepadamu.

Aku jatuh cinta kepadamu setiap hela nafasku.
Karena dengan setiap hela nafasku, ada dirimu.

Aku jatuh cinta kepadamu setiap hari.
Disetiap matahari merebakkan sinarnya diatas wajahku sebelum aku berangkat menuju rutinitasku.

Sayang,
Sayangilah aku hingga engkau lupa bahwa engkau menyayangiku.
Temanilah hidupku hingga engkau lupa bahwa akulah teman hidupmu.
Tetaplah bersamaku hingga kita sama-sama lupa bahwa kita telah hidup lama bersama.

Karena kau adalah bagian dari hidupku.
Karena kau adalah aku, dan aku adalah engkau.

Sayang,
Aku mencintaimu tanpa alasan apapun.
- alyasafna -

#30harimenulispuisi #day1 #karenamenulispuisiituseksi

Senin, 03 November 2014

#IfYouKnowWhatIMean



Senja yang jingga. 
Senja yang indah.
Senja yang penakut.

Ada banyak rentetan kata untuknya. Tapi tiga diatas sudah mewakili seluruhnya. Selamat berbahagia, pengkhianat! 
Di bawah deraian air mata langit ia bersimpuh menangisi takdirnya. Ia lupa, bahwa ada banyak orang yang bahkan nyaris tidak pernah menikmati 'bahagia', namun selalu bersyukur pada-Nya.

Hati mana yang tidak pernah terluka?
Jiwa siapa yang tidak pernah merasakan tergores?
Sedikit. Sedikit saja, semua orang pernah kecewa. 

Sabtu, 12 Juli 2014

Syukur(ku) padaMu..

Mungkin saya hanya kurang bersyukur. Ya, saya wanita yang (lebih tepatnya) tidak bersyukur. Mengapa? Karena saya tahu bahwa suami saya sangat mencintai saya, namun saya enggan membalasnya. Bukan karena tidak mencintainya, hanya saja saya masih bingung dengan apa yang saya rasa.

Hingga pada akhirnya.. Disuatu malam yang hening. Saya menatapnya ketika ia sedang menyantap makan malam. "Allah, laki-laki ini yang dengan tangannya ia mencari nafkah untuk menghidupi kami.. Hamba mohon pengampunanMu karena tidak bersyukur ini.." Ucapku dalam hati.

"Kamu melamun?" Tanyanya.
"Tidak.. Saya hanya memandangmu yang makan dengan lahapnya.." Kataku ngeles.
Ia tersenyum.
"Saya sengaja tidak makan diluar, saya ingin makan masakan istri saya." Katanya.
Dan saya semakin merasa bersalah. Bersalah karena tidak mencintainya dengan baik. 

Ia bangkit dari meja makan, dan mengangkat piring kotor bekas makannya. 
"Jangan diangkat, biar saya saja." Kataku.
"Tidak, kamu istirahat saja. Seharian kamu kerja, pulang kerja juga bela-belain masak. Biar saya yang mencuci piring kotornya." Katanya.

Illahi Rabb.. Saya benar-benar merasa jahat. Bagaimana mungkin saya mengabaikan cinta yang tulus di hadapan saya. Cinta dari laki-laki yang dengan kesungguhannya mengucapkan ijab-qobul. Cinta dari laki-laki yang dengan ketulusannya bersedia menghabiskan waktu untuk hidup bersama saya. Saya! Wanita yang tidak tahu rasa syukur! 

Ketika ia sedang mencuci piring kotor di westafel, saya memeluknya dari belakang. Tanpa bisa saya tahan, tumpah sudah bendungan air yang menggenang di pelupuk mata saya. 
Ia kaget. 
"Kamu kenapa? Kenapa menangis?" Katanya. Ia membalikkan badan dan menyentuh kedua pipi saya. 
Saya masih terisak dalam tangis. 
"Saya mencintaimu.. Maaf untuk segala kekurangan saya.." Kataku dalam isakan.
Ia tertawa kecil dan mengusap kepalaku dengan manja. 
"Saya tahu kamu rindu.." Katanya sambil memeluk saya, kemudian ia mengecup kening saya. 

"Yasudah, bersiaplah.. Selesai saya cuci piring, kita sholat isya berjama'ah.." Katanya. 
"Jangan menangis, kamu terlihat sangat konyol ketika menangis." Sambungnya dengan nada mengejek.
Saya tertawa. Menciumnya sedikit, dan kemudian saya segera mengambil wudhu..

Allah.. Thank you for this love.. Ketuk hati saya jika saya mulai lupa dengan orang-orang yang mencintai saya.. Terima kasih untuk bahagia sederhana ini.. Alhamdulillah..