Jumat, 28 Desember 2012

Perjalanan Hidup Sang Daun


Saya, adalah bagaimana saya menjadikan diri saya sebagai saya..

Perkenalkan, saya adalah daun, yang senantiasa diam dan pasrah kala angin membawa saya pergi dari tangkai saya berdiam. Saya adalah daun, yang selalu kedinginan saat tetes hujan jatuh membasahi permukaan wajah saya. Tetapi demi sang bunga, maka saya bertahan. Ketika tiba masa dimana saya sudah harus berakhir. Maka lepaslah saya dari tangkai yang lembut. Jatuh perlahan-lahan menjuntai ke muka bumi. Hingga saya merasakan bagaimana bau bumi yang selama ini saya cium dari kejauhan. Begitu menusuk hidung saya. Saya akan selalu diam sampai sang angin datang membawa saya pergi dari tempat itu.

Dengan irama yang lembut, angin mengombang-ambingkan tubuh saya yang kian rapuh. Saya dibawa pergi jauh dari sang bunga. Semakin jauh hingga tak terlihat lagi dimana mahkota saya yang indah itu. Angin semakin berhembus, maka saya semakin terbawa jauh. Apalagi yang bisa saya lakukan? Selain diam dan membiarkan angin menghempaskan saya pada tempat yang menurutnya pantas untuk saya berdiam.

Iya, begitulah angin. Membawa saya sejauh mungkin dari kerabat saya. Ia menghempaskan saya dipinggiran jalan yang penuh debu dan polusi. Saya yang kian  rapuh ini seringkali harus batuk-batuk karena menghirup udara tidak sehat. Tetapi, kenapa saya harus marah pada angin? Ia hanya melaksanakan tugasnya yang diperintahkan oleh Dzat Yang Maha Menciptakan. Dan ini adalah takdir saya. Lepas dari tangkai yang senantiasa memegang saya hingga tiba saat dimana saya harus pergi. Dan hidup di pinggir jalan yang penuh debu dan udara kotor ini.

Saya tidak boleh marah. Lebih tepatnya, saya tidak berhak untuk marah. Dia menakdirkan saya untuk demikian. Ketika saya marah pada angin, berarti saya marah pada takdir Tuhan. Dosakah saya?
Sebuah mobil melewati posisi daya berdiam. Asap kotornya memenuhi tubuh saya. Lagi-lagi saya terbatuk. Hingga akhirnya seorang anak manusia yang sedang berlarian tanpa sengaja menginjak tubuh saya. Saya kesakitan. Penyapu jalan mengangkut tubuh saya. Kemudian mereka membakar saya. Dan saya musnah..

Berakhirlah kisah hidup saya. Dan takdir saya adalah mati terbakar. Saya pergi, meninggalkan si cantik bunga di batangnya. Semoga ia bahagia disana..
:')

Hanya Pada Mu, Tuhan..


Bagaimana saya merengkuh kebahagiaan jika saya hidup dalam kenyataan yang semu? Jemput saya, bawa saya pergi dari sini.

Saya menyerahkan seutuhnya padaMu. Tuhan penguasa alam semesta. Saya pasrah, pada keadaan yang dari dulu ceritanya tidak pernah berakhir. Bagaimana saya harus berjuang demi hidup saya. Bagaimana saya harus melawan batin saya. Bagaimana saya harus bertahan hidup dalam istana yang penuh keburukan ini. Tuhan, betapa saya tidak bersyukur. Segalanya terjadi karena tulisan tanganMu. Boleh saya menjerit ? Hanya sekedar untuk memuntahkan rasa yang lama mengendap dalam jiwa saya. Saya sendirian disini. Tidak ada pegangan nyata. Bahkan pohon beringin yang dulu mampu merindangkan saya dari pedihnya sinar mentari, kini sudah tumbang. Entah siapa yang sampai hati merobohkannya. Yang pasti dia tahu bahwa satu-satunya yang menjadi pegangan saya adalah pohon tersebut.

Haruskah saya marah? Pada beringin atau yang menumbangkannya? Bolehkah saya marah?? Tuhan, Engkau tahu betapa terguncangnya batin dan nurani saya saat mendengar perkataan sang Raja kepada Ratu. Meski saya hanya sebatas budak di dalam sini. Tapi saya sungguh tidak sanggup lagi disini. Mereka diluar sana tidak pernah mau tahu bagaimana peliknya hidup saya. Yang mereka tahu adalah tawa saya mencerminkan bahagia saya. Padahal seandainya mereka paham :( 
Seandainya mereka mengetahui yang sebenarnya.
Saya rasa mereka akan terdiam dan mengunci rapat mulut mereka yang berbisa itu.

Saya menepi di sudut yang saya sukai di dalam sini. Mendengar suara pemilik istana yang semakin memenuhi  pendengaran saya. Tuhan, bisakah menghentikan semua ini? Saya sudah tidak sanggup. Ini terlalu perih. Saya benar-benar takut. Jika sekiranya tidak bisa Engkau hentikan karena belum berujung. Maka biarkan saya mendekat padaMu. Duduk bersenda dan menikmati akhir di sisiMu. Tuhan, saya tidak sanggup. Saya mohon akhiri saja semuanya. Cukup sampai disini. Biarkan derita ini berakhir. Saya lelah..

Rindu..




Saya rindu, pada kamu yang kini entah berada dimana. Saya rindu, pada hatimu yang kini tidak lagi bersarang di raga saya. Wajah teduhmu kala tertidur, wajahmu ketika tertawa, saya merekamnya indah di pikiran saya. Tidak dapat menyingkirkannya meski hanya sedetik. Kamu sangat mempengaruhi hidup saya.

Hari ini Tuhan mencegah keinginan buruk saya. Tidak biasanya saya membiarkan kamar saya dalam keadaan tidak terkunci. Entah saya lupa, entah memang Tuhan mengutus malaikat untuk membuka kamar saya yang tadinya terkunci. Kamar saya berantakan. Aroma parfum yang keluar dari pecahan botol itu menyengat di satu ruangan kamar saya. Entah kapan saya mengacak meja yang diatasnya terdapat perkakas saya. Masih dalam keadaan menangis. Satu-satunya yang saya inginkan adalah pergi. Pergi dari sini. Pergi dari kehidupan yang malang ini.

Setan jahat menggelitik hati saya untuk mengambil pisau cutter yang terjatuh. Dalam keadaan setengah sadar, saya mengambil. "Ampuni saya, Tuhan.." Bisikku dalam isak tangis tertahan. Hendak menggores cutter tersebut di lengan, Ibu masuk. Teriakan histeris Ibu menyadarkan saya. "Tuhan saya lupa, ada seseorang yang telah meminjamkan rahimnya untuk saya singgahi sementara waktu. Seseorang yang setiap malamnya mengucapkan nama saya dalam setiap do'anya" suara hati saya. Ibu menangis tersedu-sedu. Dia memeluk saya erat sekali.

"Apa yang kamu lakukan, Nak?" Tanya Ibu dalam tangisnya. Saya masih terdiam. Sesenggukan. Tangis saya tertahan. Sakitnya tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata.
"Kenapa kamu berlaku demikian?" Tanya Ibu lagi.
Saya masih terdiam.
"Allah, kenapa Engkau limpahkan kemalangan pada putri saya?" Teriak Ibu.
Dan, pecahlah tangisan saya. Saya menangis tersedu-sedu.
"Bu, saya rindu dia. Saya rindu dia.." Ucapku tertahan.
"Istighfar, Nak.. Istighfar.." Ibu bicara masih dalam tangisannya.
"Saya rindu dia, Bu !!" Saya berteriak lantang. Air mata yang masih saja tumpah. Membuat hati saya terasa semakin pilu.

Saya mencintainya ikhlas dan tulus. Mencintainya dalam keadaannya yang tidak sempurna. Mencintainya karena Allah.

Saya rindu dia. Dia yang benar-benar mencintai saya. Bukan karena iba hatinya.
Tiada seorangpun yang paham bagaimana saya menyayanginya. Itulah mengapa saya hanya dapat menumpahkan segalanya melalui tulisan.
Biarkan saja, microsoft yang menjadi teman saya berbagi.





Selasa, 04 Desember 2012

Tetesan Sang Hujan


Aku menengadah pada alam.
Lihatlah..
Pasukan air hujan jatuh menggempur bumi..
Udara dingin yang sayup-sayup menyeruak masuk kedalam rongga pori-pori..
Aku masih dibawah rinainya..
Bersemayam dalam dingin yang aduhai..

Debu-debu yang berterbangan, pertanda lama sudah ia tak menyentuh bumi..
Pepohonan yang haus akan air, menyambutnya dalam suka..
Ladang tandus yang tak pernah dijamah manusia, rindu akan hadirnya..

Sang Hujan..
Tetesanmu yang kerapkali dirindukan oleh mereka..
Semoga tidak membawa bencana..



Koetaradja, 1 Desember 2012

3 Desember 2012


Saya tersinggung. Dengan ucapan kalian yang itu-itu saja. Dimulai dari kamu, kalimat itu sudah sering saya dengar. Awalnya saya tidak pernah mengambil pusing. Tapi hari ini kalimat itu kembali kamu lontarkan dengan wajah penuh penyesalan. Ini bukan bercanda. Kamu serius mengatakannya. :(

Bagaimana jika kamu yang dilontarkan kalimat demikian?

Saya rasa kamu akan membuat orang tersebut tersudut dengan kalimat-kalimatmu.
Saya lelah. Kamu tidak berubah. Jika saya menginginkan kamu menjadi lebih baik. Alasanmu satu, cukup mencintaimu apa adanya.

Lantas saya? Segala upaya saya keluarkan demi menjadi wanita yang kamu inginkan. Kamu egois.
Lain kali. Jika kamu menginginkan seseorang itu menjadi seperti yg kamu mau. Kamu juga harus menjadi seperti yang dia mau. Bukan tuntutan. Ini lebih kepada bagaimana kita mempertahankab hubungan kita. Maka berkorbanlah !! Agar kamu juga tahu seperti apa sulitnya mempertahankan apa yang kita miliki. Kamu pun tidak akan mudah untuk semena-mena terhadap perasaan orang lain :')


Now Listening Christina Perry - A Thousand Years