Selasa, 08 Mei 2012

Boleh Pinjam Tanganmu Selamanya?

Haruskah saling tak acuh sementara rasa itu masih ada mengepakkan sayap keakuannya?
Inilah kesendirian yang paling getir.
Bersatunya rasa yang tak berujung pada kebersamaan dan kepemilikan raga.

Getaran itu nyaris seperti ranting pohon layu yang patah.
Meradang tersapu rasa yang membisu kelu.
Haruskah gelisah menertawakannya?
Membaca gerak bibirmu diantara lemah hati yang mendambamu dgn rindu yg bertubi-tubi?

Aku butuh tanganmu untuk menyeka air mata ini.
Boleh pinjam selamanya?
Semoga kau izinkan yaa..
^_^

Di puncak pengharapan tertinggi.
Aku menyerahkan lidah dan mataku untuk mengawal cintamu.
Ketika sinaran senja bermuram,
Satu kerlingan matamu yang ku gugat.
Menjadilah kunang-kunang di jelaga mataku, sayang..

Selalu menyayangimu meski kau sudah tidak lagi bersamaku, Bang..

Perpisahan..

"Perpisahan Senja. Rindu ini menaungi mendung di matanya."

Begitulah tanda yang terkemuka.
Seperti menitipkan gerimis dikedua bola mataku.
Sesering sendat didada tak kuat menampung luka.
Sekuat tenaga ku bela sakit ini sebagai bahagia.

Luka.
Selain menikmatinya, aku tak punya cara lain.
Biarkan saja sampai hilang ditelan kesenyapan masa.

"lemah gemulai, jejak rinduku menggarami lautan bibirmu"

Semoga,
Walau sejenak.

Aku tak ingin berlama-lama menunggu masa itu.

Mereguk manis bahagia dari bibirmu.

Ketika masa itu datang.
Aku akan berdiam dihatimu seterusnya.
Tanpa mengenal kata PISAH lagi !

Senin, 07 Mei 2012

Untukmu, Bahagia Kutitipkan..

Keniscayaan sebuah penantian..
Apakah itu kamu yang setia menjadi satu-satunya?
Seindah semesta, sebening mata.
Untuk kupagut tak jera.
Selamat malam, kamu. Mata hatiku.

Mungkin tak sampai.
Seikat masa ditangkai pagimu mengaburkan pesan maafku.
Mungkin ~

"Diantara do'a dan airmata, bahagia ini kutitipkan untukmu.."

Bahagia pergi, sedih pun tiba,
seperti hadirmu yang secara tiba-tiba..
Tapi bagiku kamu seperti tumbuhan dalam kayu.
Semakin kokoh akar menghujam,
Semakin merindang daunnya.
Kamu hidup di bagian terdalam dari diriku.
Palung hati..
Yaa, dalam palung hatiku..

Selamat Malam, Untukmu..

Sejak nafas cinta kau tiupkan, dan menghujam jantungku.
Itulah awal bahagiaku.
Tertulis di wajah pagi,
dan kening senja..

Dan disetiap pagi,
Tulisan kebahagiaan itu menyusup embun tanpamu..
Hanya aku, ternyata.

Datang dan pergi.
Begitulah masa lalu membiruhitamkan tiap lembaran cerita.
Dan kamu berada diantaranya.
Ditempat rebahku kini, kamu berpelangi.
Selamat malam untukmu..
Entah untuk yang keberapa kali.
Yang pasti aku ingin selamanya denganmu.

Dalam Hujan, Aku Menari..


Apa yg ku rekam dari hujan siang ini?
Larik-larik rindu yg menghias rintiknya saat kita sepayung berdua.
Di kota sana,
Disuatu hari tanpa nama.

Sepayung membelah hujan.
Dalam pesona lirih, rintiknya yg menorehkan bahagia, juga luka.
Bersama !

Tawa bahagia dan sedu sedan tangis meramu satu.
Dalam hujan itu, tersimpan jejakmu.
Lewat riuh rintiknya, aku mengadu dan mengaduh pilu.
Aku katakan pada hujan, kita masih satu.
Karena kamu telah memenangkan hatiku, begitu juga dengan aku.

Hujan boleh saja reda, tetapi tidak dengan rinduku.
Kau telah merenggutnya tanpa sisa.
Dan kini, tinggallah kosong meraja.
Dan tetaplah dalam hujan.
Karena disana, aku terbiasa menari bersamamu.