Minggu, 05 Januari 2014

Tulip..


Tulip…
Aku ingin seperti bunga tulip
Meskipun tidak tahu apa filosofinya
Aku tetap ingin menjadi bunga tulip

Sejak kecil memang aku menyukai bunga tulip..
Bukan karena asalnya dari Belanda atau mahal harganya di toko bunga

Ah, entah! Aku tetap ingin seperti sekuntumnya
Paling tidak, itu adalah bukti sisi wanita diriku
Memang belum pernah sekalipun aku menyentuh sang bunga idaman itu
Tapi sejak pertama mengenalnya, aku langsung jatuh hati padanya

Tulip…
Kuntum manisnya membuatku terpesona
Ia indah saat berkerumun bersama temannya
Namun juga tampak sangat tegar saat ia sendiri

Aku ingin seperti ia..
Meski ia tak secantik bunga mawar atau sewangi rangkaian melati
Ia tetap bunga yang kucinta
Karena ketegaran hatinya muncul pula kekuatan cintanya

Aku ingin menjadi bunga tulip
Yang terlihat cantik bukan karena raga
Yang tercium wangi bukan karena semerbaknya
Namun tetap memiliki mahkota indah terjaga

Walaupun hanya sang pemetik yang merasakannya

Sabtu, 04 Januari 2014

Don't Back !


Maka ketika kamu memilih pergi, pergilah. Tidak perlu jauh, tapi cukup jangan pernah kembali. Kamu anggap apa hati ini? Sebuah rumah singgah untukmu? Yang ketika kamu kelelahan, kamu datang mengunjungi saya. Ketika lelahmu punah, kamu pergi dari tempat itu? Kecewa? Tidak! Saya sudah merasakan kecewa yang lebih daripada ini. Marah? Apa saya memiliki hak untuk marah? Saya sudah memaafkan kamu jauh hari sebelum kamu kembali untuk meminta maaf.

Ketika saya memaafkan, apa kamu berpikiran bahwa saya bisa menerima kamu dengan baik lagi? Tidak. Beruntungnya kamu, saya tidak menanam sedikitpun rasa benci kepada kamu. Kenapa? Karena dari awal saya tidak membuka lebar pintu hati saya. 

Apa saya salah?


Sabtu, 21 Desember 2013

Senja..



Jingga melangkahkan kaki diantara gemuruh ombak. Kakinya yang mungil bermain-main bersama geriangan desirnya. Tak ada jejak kaki. Karena setiap langkahnya akan tersapu oleh ombak yang berlomba-lomba memagut tubuhnya. Ombak itu ibarat harapan, rindu, cinta dan sayangnya pada seorang pria. Jingga menengadah. Tiba-tiba ada sesak merangkul dadanya. Ia menghembuskan nafas panjang agar sesak yang dirasakannya sirna. Tapi dadanya seperti tertimpa gundukan karang. Semakin berat, tapi semakin rapuh. Angin semilir mulai melambai-lambai. Langit mulai temaram. Rambutnya yang tergerai mulai beterbangan dimainkan angin nakal. Sebentar lagi, katanya dalam hati. Sebentar lagi senja akan datang, Jingga harus kuat.

Tentang senja...

Jingga sangat menyukai senja, karena ronanya yang merah penuh gelora biaskan bayangan kerinduan akan seorang pria. Senja. Ia ingat, Senja pernah bilang kalau dulu ibunya begitu menyukai senja. Makanya, ibu memberinya nama dengan nama itu. Dan dari dulupun, senja selalu menyukai warna merah itu. Jingga pernah menanyakan tentang makna senja bagi pria yang sangat dicintainya itu.

"Apa yang membuatmu begitu menyukai senja, Senja ?"
"Senja bukan hanya menghadirkan rona merah, senja juga dapat mengobati kerinduan kekasih lewat bias warnanya".
"Lalu gimana kalo senjanya tertutup awan ?"
"Senja yang tertutup awan adalah kerinduan yang terpendam ..!" jelasnya lagi.
"Kalau senja yang bersembunyi dibalik rimbun dedaunan gimana ?"
"Itu senja yang malu-malu, seperti rindumu padaku Jingga. Tak perlu kata, tapi terbias lewat warna wajah semu merah jambu..!"


Kata-kata Senja membuat pipi Jingga bersemu merah. Wajahnya yang bulat, mungil bersemu malu.

"Kau ini, bisa aja deh..!" Pelan Jingga mencubit pelan lengan Senja.

"Hm, Senja, tau tidak kenapa aku menyukai senja..?

Senja mengernyitkan keningnya. "Apa ?" Tanyanya
"Karena Senja selalu membuatku rindu pada seorang Senja. Rindu yang tak pernah habis. Tak pernah lelah untuk hadir setiap hari. Seperti kamu Senja. yang selalu ada untukku..!"Kata-katanya barusan sukses membuat bibir Senja mengembang.
"Udah pinter gombal ya sekarang..!" Senja tergelak.

Ah Kenangan....

Jingga memandang laut lepas dihadapannya. Ombaknya masih bergulung. Deburnya bergemuruh seperti dadanya yang bergetar karena rindu. Sebentar lagi senja diufuk akan tiba. Dia tak ingin melewatkan merahnya. Hari ini, tepat setahun sejak kecelakaan itu merenggut nyawa Senja, saat mereka memadu janji di pantai itu untuk bertemu. Menatap senja bersama. Jingga terus melangkah menyusuri lautan lepas. Tak dihiraukannya bajunya yang basah terkena desiran ombak. Sekali kali kakinya tersandung karang yang tajam. Jingga tak perduli jika kakinya terluka. Langkahnya semakin cepat. Setengah berlari. Jingga tak perduli jika ombak itu akan memakannya hidup hidup. Sebentar lagi dia akan bertemu Senja, karena gulungan ombak itu akan membawanya menemui sang merah. Merahnya senja.

You say, you love me?



Mencintaiku, katamu
Tapi mengapa begitu ?
Sedang senja setia menanti malam
Tapi kenapa kau begitu cepat temaram ?
Termakan alibi lupa pada janji
Yang kau buat dan kau pungkiri sendiri

Lalu..
Mencintaiku, katamu
Tapi mengapa begitu ?
Sedang nafas ini masih memburu
Saat bibir dingin mengecup beku
Tapi mengapa terkesan semu ?
Saat ku tahu ada bayangan lain dipikiranmu

Jadi..
Kenapa mencintaiku
Jika ternyata kau masih begitu
Apa tak ada artiku bagimu ?

Tak mengapa jika kau lupa
Tak kan ku tanya mengapa ku luka
Jika harus pergi, maka pergilah
Karena ku tak mau temaram
bersama cintamu yang muram

Sabtu, 14 Desember 2013

Tentangmu, sang fajar (5)



“Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati. Jatuhkan hatiku kepadamu. Sehingga hidupku pun berarti. Cinta tak mudah berganti. Tak mudah berganti jadi benci. Walau kini aku harus pergi  ‘tuk sembuhkan hati..”

Lirik lagu Tangga yang mengalun indah dari earphone saya. Cukup membuat saya tersadar bahwa semua sudah waktunya untuk saya akhiri. Apa yang kamu ketahui, sayang? Yang saya takutkan sebenarnya adalah kita berpisah tanpa pernah mengungkapkan perasaan di hati kita. Ini sudah waktunya saya pergi, kan?

Saya pernah berpikir apa yang akan kamu lakukan jika saya mengatakan semuanya. Suatu malam di bulan Desember 2013, saya pernah berniat akan mengutarakan apa yang seharusnya saya utarakan. Saya selalu berpendapat, “katakanlah! Kau tidak akan tahu jika tidak mencari tahu”. Tapi ketika pagi hari, saya mengurungkannya. Bukan karena saya tidak ingin mencari tahu dan lepas dari genggaman rasa yang menyakitkan ini. Tapi lebih kepada sebelum saya utarakan, kamu sudah dengan tegas memperjelas semuanya. Saya tidak menyalahkanmu, sayang. Tapi caramu cukup membuat saya merasakan luka yang hampir tertutup sempurna itu.

Saya tidak bodoh. Saya juga bukannya tidak peka. Tapi saya mencoba menjadi kebal. Demi bisa selalu bersamamu. Apa saya terlalu naif? Atau kamu yang terlalu menganggap gampang perasaan ini? Saya mengingatmu sama seperti ketika saya terlelap. Kamu adalah sesuatu yang membuat saya tidak merasakan segala, selain bermimpi dan berdetak. Saya adalah wanita yang menyimpan do’a baik-baik didalam sepatu kerjamu. Setiap petang, saya selalu berkata “Hati-hati pulang kerjanya, sayang!”. Meski kadang ucapan itu aku ucapkan seraya aku memandang langit yang perlahan memerah saga.

Kamu boleh bersamanya. Menikmati bahagia dengannya. Aku merelakan, karena memang dia bahagiamu seutuhnya. Tapi sayang, jangan kembali padaku jika kamu tidak menemukan apa-apa. Karena hatiku bukanlah cadangan hidupmu.

Saya melihat potret kamu dan dia. Saya cemburu. Bukan, saya bukan cemburu pada dia. Saya cemburu karena kamu berada lekat disisinya. Saya terlalu bodoh. Ya, saya bodoh! Saya bodoh. Saya sok tegar. Saya sok pintar. Ya, itulah saya.

Diluar sedang turun hujan deras. Saya memilih menyeruput segelas teh hangat sambil terus menuliskan tentangmu. Maaf, saya memilih pergi, tapi tidak memilih untuk berhenti menulis tentangmu. Udara yang dingin membuat ujung jemari saya membiru. Saya berharap hangatmu tetap terjaga disana, hingga tak membuat sedih siapapun yang menyayangimu disini.

Saya terlalu menyayangimu. Dan saya harus berhenti untuk ‘terlalu’ menyayangimu. Walau kenyataannya hal itu bukanlah sebuah ‘hanya’. 

Saya tipikal wanita yang merasa. Pria seharusnya menyadari diri bahwa mereka harus memberi penjelasan tanpa harus membuat wanitanya merengek.

Ah, saya baik-baik saja. Ini hanya luka kecil dibanding segala yang masih terjadi pada hidup saya saat ini. Lagipula, saya yang memilih pergi. Bukankah didalam hidup ada datang dan pergi? Dan kepergian hanyalah untuk memberikan ruang pada kedatangan yang lebih baik.

Tidak apa-apa. Saat ini saya sedang bahagia dengan hidup yang saya jalani. Dengan hati-hati yang mengelilingi saya. Walau pun saya belum siap untuk mencintai seseorang. Bukan karena kamu. Saya pernah percaya bahwa kamu tidak sama dengan yang lalu. Tapi saya lupa. Satu-satunya yang bisa saya percaya hanyalah Sang Pencipta. Sehingga pada akhirnya, saya kembali terluka. Hahaha ! Hanya luka kecil, sayang..


Terima kasih untuk kamu, untuk beberapa waktu yang saya sita untuk menemani saya. Will miss you, dawn.. J