Jumat, 31 Mei 2013

Seperti ini kita menapaki hari ini..

Selamat malam, Hati..
Ingin sekali rasanya menertawakan angkuhnya hati. Betapa sombongnya ia berjalan mengitariku yang sedang duduk diam menyepi di salah satu sudut kota. Ahh! Ingin sekali aku mendongakkan kepala dan mengusirnya untuk segera beranjak dari sebelahku. Bagaimana mungkin? Untuk bernafas saja aku hanya mengandalkan sisa tenaga yang ada dalam jiwaku.

Seperti apa aku menginginkanmu?
Seperti apa kamu menginginkanku?
Terserah..

Kita hanya sedang memaksakan kehendak yang kita mau. Kita seperti berjalan diatas pecahan kaca, semakin kita menuai langkah, maka semakin kita terluka dan berdarah. Dari awal kita tahu, bahwa kita memang tidak dapat menyatu. Bukan karena tidak adanya kesamaan. Tidak! Aku tak ingin kita menyatu karena persamaan, dan berpisah karena perbedaan. Betapa buruknya hal itu.


Ketika Burung Terbang Meninggalkan Dahannya..

Mungkin, kau akan paham ketika aku telah tiada..

Kali ini aku dengan sigap menyalakan laptop dan duduk di sudut tempat tidurku. Banyak yang ingin aku tuangkan hari ini. Hmm, kita mulai darimana? Sudah lama aku tidak menulis - tentangnya -. Ya, aku pernah berjanji untuk tidak lagi menulis tentangnya. Kelak aku akan memposting cerita-cerita lalu. Untuk kali ini, mungkin lebih kepada apa yang aku rasa hari ini. 

Sebentar, aku menyeruput coklat panas yang terletak disampingku. Setidaknya aku masih bisa meminimalisir rasa hatiku yang mulai tidak karuan. Aku ingat, saat dimana aku berjuang demi cintaku. Saat dimana aku mempertahankan segala. Saat dimana aku mengagungkan apa yang kumiliki. Aku berjalan kearahnya, mencoba menggapai dirinya. Tapi ia hilang. Bak asap yang tertiup angin. Aku lemah. 

Untuk diriku, aku menggunakan kalimat 'wanita tegar itu cantik'. Hal demikian agar aku tidak terlalu terpuruk pada keadaan. Mungkin, sekarang aku sudah lelah. Benar. Aku tidak pernah mengeluh apapun pada cintaku. Tapi, terlalu sering disakiti, aku juga berpikir, betapa naifnya aku berjuang demi seseorang yang tidak ingin berjuang bersamaku. Aku kecewa. Pada cintaku yang tidak pernah paham.
Ohh, lagi-lagi, aku mengatakan hal itu.

Aku tidak melihat ketulusan ia berjuang. Bagaimana tidak? Baru saja cintaku berjuang, ia sudah mengeluh dan menyuruhku melihat perjuangannya? Sayang, belum seberapa. Aku terlalu sakit dulu. Ketika kau meminta maaf, bukan aku tidak memaafkanmu. Aku hanya tidak bisa melupakan segala hal itu. Dan kau, tidak pernah mengerti. Kau tidak akan pernah mau menjadi lebih baik. Padahal aku selalu berjuang agar menjadi baik dimatamu.

Maaf. 
Aku hanya sedang merasakan luka-luka ku yang sekarang sedang kumat sakitnya. Bagaimana aku mengingat segalanya. Saat dimana aku salah, dan kau mengabaikanku, tidak memberikanku kabar apapun darimu. Padahal kau tahu betapa pentingnya kabarmu dulu. Seandainya kerabatku yang kembar itu bisa menceritakan padamu saat-saat aku kau abaikan dulu, permintaan maafmu tidaklah cukup. Aku mengingat saat dimana aku menyisihkan waktuku 10 menit hanya untuk bertemu denganmu, tapi kau kerapkali mengulur waktumu. Aku tahu kau bosan, tapi kau harus tahu, bahwa aku selalu memanfaatkan waktumu saat ada di tempat yang sama denganku.

Pernah aku menangis saat aku menyisihkan waktuku untuk senang-senang denganmu, tapi kau mengabaikanku. Dan itulah, sifatmu yang tidak kusukai. Selalu saja, ketika aku ingin senang-senang, kau memperburuk keadaan. Entah memang kau suka dengan keadaan yang demikian, atauapapun, aku tidak peduli. Yang penting saat itu, aku sudah berusaha menjadi yang terbaik untukmu.

Aku mengingat, saat dimana kau pulang dan memutuskan untuk tidak menggunakan alat komunikasi apapun. Kau tahu? Seberapa hancurnya aku kala itu? tidak :) Kau tidak pernah mau tahu bagaimana hati dan perasaanku yang sebenarnya. Yang kau tahu keputusan yang kau anggap baik, itulah yang terbaik. Kau tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, cinta.
:)

Ahhhhhh!! Mengingat segala tentang hal lalu, benar-benar membuat airmataku menggenang dan jatuh. Ketika mereka bertanya, "kau bahagia?". Aku menjawab dengan lantang, "iya!". Dan beberapa dari mereka menepuk pundakku sambil berkata "Jangan terlalu sering memunafikkan keadaan, cantik :)". Dan aku hanya membalas dengan senyuman pahit.
Mengapa mereka yang peka dengan senyuman bebanku?
Mengapa mereka yang paham bagaimana memperlakukanku dengan manis?
Mengapa harus mereka yang selalu menghapus air mata yang jatuh dipipiku?

Kadang aku menyesali, mengapa bukan kamu?
Tapi aku paham.
Aku tidak sepenuhnya ada di hatimu.

Banyak sekali kalimat dan sikapmu yang membuatku memutuskan untuk pergi, sayang.
Sekarang?
Kau ingin mengulang segalanya seperti dulu?
Maaf. Aku tidak bisa.
Aku merasa bodoh jika harus mengulang kesakitanku yang dulu.
Dan kau? Ketika kau membaca ini, aku sudah tau apa yang ada dibenakmu.
Sayang :)
Ketika aku mengatakan tidak bisa. Aku tidaklah sepenuhnya tidak bisa. Jika kau berjuang dan berkorban, hati mana yang tidak akan luluh.
Tapi aku tahu, kau tidak akan membuang-buang waktumu hanya untuk wanita bodoh ini. Meski sekarang ini, perjuangan dan pengorbananmu yang ingin aku lihat. 
Ah sudahlah, kau tidak akan paham mauku.
Kau juga tidak akan pernah mau menjadi seperti yang aku inginkan.
Kau terlalu senang dengan hidup dan dirimu.

^_^
Mungkin kesendirian kelak akan mengajarimu bagaimana memperlakukan hati wanita dengan baik. 
Mungkin akan ada wanita yang memang mencintaimu dengan baik.
Mungkin akan ada wanita yang memiliki kasih dan kesabaran yang lebih daripadaku.
Mungkin.
Semoga saja.

*Now Listening Wonder Boys - Suatu Hari


Sabtu, 25 Mei 2013

Tulisan Tanpa Makna


Mungkin untuk mengawali kisah akan lebih baik ketika saya mengucapkan, selamat malam yang terkasih :) semoga tidak sia-sia penantian kita selama ini.

Apa yang kamu pahami dari waktu? Benar, ia merupakan bahasa lain daripada masa. Mengapa saya membicarakan waktu? Karena semua tanya yang bersarang di hati dan pikiran manusia kerapkali terjawab oleh sang waktu. Sudah beberapa lama saya meninggalkan tempat dimana saya bernaung ketika kecil. Sudah beberapa lama saya berada disini. Ditempat yang saya sendiri tidak paham akan situasi sekitarnya.

Dulu, ketika masih kecil. Saya bercita-cita untuk hidup jauh dari orang-orang yang ada disekitar saya. Saya merasa sendiri itu jauh lebih baik. Tidak ada duka nestapa yang mengganggu pikiran. Tidak ada beragam rasa berkecamuk dalam hati yang menyebabkan sindrome galau. Hidup sendiri. Berkarir. Mapan. Dan terakhir adalah menikmati hidup.

Pria? Kekasih?
Yang selalu saya impikan adalah sesosok pria yang selalu memanjakan saya. Menjadikan saya sebagai ratu didalam hidupnya. Membuat saya benar-benar berarti. Pria yang benar mencintai saya. Pria yang tidak banyak berbicara tapi selalu membuktikan akan rasa cintanya. Pria yang bisa saya andalkan. Pria yang juga kelak membantu saya mengurus pekerjaan rumah ketika saya sibuk dengan anak-anak. Pria yang mandiri. Pria yang cerdas. Pria yang penyayang. Ahh, pria yang hanya ada didalam khayalan saya :)

Ibu.. Apa kabar? Entah kenapa senyuman wajahmu terakhir kali itu yang selalu terngiang di pikiranku. Entah kenapa akhir-akhir iini saya merasa sangat kecil. Ayolah Bu, bantu anakmu untuk kembali bersemangat menyongsong hari esok. Katakan bahwa lelaki terbaik adalah lelaki yang dikirimkan Tuhan untukku kelak :) Berikan kekuatan untuk saya, Bu..
Karena benar saya benar-benar merasa kecil untuk saat ini..

Selamat Jalan, Harapan..


Selamat jalan, harapan. Dengan permisi kau melangkah perlahan. Pelan tapi pasti. Mungkin aku yang begitu naif, atau kau yang memang dengan angkuhnya membenarkan diri. Entahlah, yang aku tahu dari kemarin langkahku sudah buyar. Tidak ada seutas harapan yang teruntai indah lagi dalam benakku. Tuhan, masih padamu aku mengembalikan kepingan-kepingan hati yang pernah berantakan itu.

Boleh aku menangis, Tuhan? Untuk sesal yang akan datang di kemudian hari. Untuk hidup yang tidak lagi terarah kedepannya. Untuk masa tua yang pernah kuukir indah tanpa pernah aku wujudkan.
Tuhan..
Aku percaya pada suaramu.
Tidak ada yakin. Juga tidak ada ragu. Aku sulit merasakan apapun sekarang. Entah bodohku yang menjalar memenuhi otak. Atau memang rasaku yang telah lama memudar? Mati perlahan?

Ah, harapan..
Bagaimana aku menyentuhmu lagi? Semoga langkahmu tidak akan terbuyarkan. Setidaknya, cukuplah aku yang menanggung sakit karena hilangnya engkau.
Tunggu!
Kau tidak ingin berpesan sesuatu yang bisa membuatku bertahan? Menahan laju angin yang datang menerpaku dengan kuat? Ah, apapunlah.. Aku hanya ingin berterima kasih.

Terima kasih untuk angan dan impianmu..
Terima kasih karena pernah menjadikanku alasan kau bertahan.
Terima kasih untuk segala harapan-harapan yang pernah kita torehkan..
Terima kasih, Tuhanku..


Koetaradja.
My lovely bedroom :)

Jumat, 22 Februari 2013

Dear Diary..


Dear Diary..
Apa yang kamu lihat malam ini? Tentang setangkai mawar merah nan harum yang lepas dari tangkainya? Yaa, ia jatuh dan tergeletak dengan anggunnya di permukaan bumi. Di detik terakhir hidupnya ia masih menebar aroma yang sedap untuk dicium. Bagaimana kelak ketika aku tiada? Ketika aku pergi?

Dear Diary..
Kamu tahu filosofi sebuah coklat yang dihiaskan oleh seutas tali sepatu usang. Mengapa bukan pita indah yang menghiasi coklat? Sedangkan coklat akan terlihat cantik jika pita yang menghiasinya? Sayang, coklat menolak pita indah yang menghias dirinya. Ia hanya menginginkan sang tali sepatu yang menghiasinya. Mengapa? Karena coklat tidak ingin dicintai karena cantiknya. Ia ingin cantik karena dicintai. Apa pendapatmu tentang coklat?
:))

Dear Diary..
Aku hanya ingin bertemu orang yang aku cinta. Seseorang yang dikirimkan Tuhan hanya untukku. Seseorang yang namanya disandingkan dengan namaku di sebuah pohon besar di lauhul mahfudz. Seseorang yang diciptakan tanpa sebuah tulang rusuk, dimana tulang rusuknya yang 1 itu berada dalam tubuhku. Seseorang yang kelak akan aku utamakan segalanya daripada diriku sendiri. Seseorang yang kelak akan di panggil "Abii" oleh anak-anak kami.

Dear Diary..
Bantu aku berdoa agar tetap tegar melangkahkan kaki diatas pecahan kaca kehidupan duniawi yang fana ini.. Aku sendiri, tanpa sesiapapun menemani.. :(

Dear Diary..
Aku tetap percaya pada kuasa Tuhan, meski beberapa kelompok mempercayai Tuhan itu tiada, mereka bebas berargument seperti apa. Itu hak mereka. Dan hak ku adalah percaya bahwa Tuhan ku itu Maha Adil. Benar kan?

Dear Diary..
Mungkin cukup coretanku malam ini, aku sudah mengantuk. Padahal masih banyak yang ingin aku tuangkan padamu. Hanya saja aku terlalu lelah malam ini. Sampaikan salam hangat ku untuk seseorang yang telah membawa jiwaku bersamanya. Aku adalah hidupnya. Dan dia adalah hidupku.
:)