Selamat jalan, harapan. Dengan permisi kau melangkah perlahan. Pelan tapi pasti. Mungkin aku yang begitu naif, atau kau yang memang dengan angkuhnya membenarkan diri. Entahlah, yang aku tahu dari kemarin langkahku sudah buyar. Tidak ada seutas harapan yang teruntai indah lagi dalam benakku. Tuhan, masih padamu aku mengembalikan kepingan-kepingan hati yang pernah berantakan itu.
Boleh aku menangis, Tuhan? Untuk sesal yang akan datang di kemudian hari. Untuk hidup yang tidak lagi terarah kedepannya. Untuk masa tua yang pernah kuukir indah tanpa pernah aku wujudkan.
Tuhan..
Aku percaya pada suaramu.
Tidak ada yakin. Juga tidak ada ragu. Aku sulit merasakan apapun sekarang. Entah bodohku yang menjalar memenuhi otak. Atau memang rasaku yang telah lama memudar? Mati perlahan?
Ah, harapan..
Bagaimana aku menyentuhmu lagi? Semoga langkahmu tidak akan terbuyarkan. Setidaknya, cukuplah aku yang menanggung sakit karena hilangnya engkau.
Tunggu!
Kau tidak ingin berpesan sesuatu yang bisa membuatku bertahan? Menahan laju angin yang datang menerpaku dengan kuat? Ah, apapunlah.. Aku hanya ingin berterima kasih.
Terima kasih untuk angan dan impianmu..
Terima kasih karena pernah menjadikanku alasan kau bertahan.
Terima kasih untuk segala harapan-harapan yang pernah kita torehkan..
Terima kasih, Tuhanku..
Koetaradja.
My lovely bedroom :)




0 komentar:
Posting Komentar