Dimana aku akan bahagia, aku pasti akan mengajakmu. Dimana aku akan terluka, cukup aku saja!
Ini adalah awal dimana aku masuk pada gerbang hidup yang baru. Tidak, aku hanya kembali pada kebiasaan lamaku. Kebiasaan sebelum aku menjalani hidup bersama seseorang. Ada rasa menyengat yang tiba-tiba menusuk alam pikirku dengan ganas. Boleh aku meringis? Ini seperti mimpi di siang hari. Seperti suara petir yang menggelegar di siang bolong.
Biarkan saja ia berlalu-lalang di dalam pikiranku. Mengingat hal itu sebagai yang terindah. Dan membuang pahit ke dalam gelas kosong. Yang pasti aku percaya semua berarti ketika segalanya sudah tidak lagi menyatu. Tanpanya, akan ku cari lagi arti. Siapa tahu akan lebih berarti kan?
Perjalanan boleh berhenti. Tapi sejenak saja, jangan terlalu lama. Masih jauh kilometer yang harus ditempuh untuk menjemput bahagia, bukan dengan berdiam menunggu. Kita sama-sama sadar, akar pertautan yang menunjang itu telah tercabut. Mungkinkah menanamnya sekali lagi? atau, biarkan saja pohon itu rebah ke tanah dan mengering. Lalu, kita berpisah di simpang jalan dan mencari tunas baru untuk disemaikan.
"Kita memang tidak bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa. Jika boleh memilih, sekali lagi aku akan jatuh cinta kepadamu."
Tak perlu kamu tahu, cukup rasakan saja. Disini bersama musim di bulan Juni aku masih bertahan dan menjadikanmu yang pertama. Itu mungkin akan senantiasa demikian. Sampai waktu benar-benar menghapus rasaku. Dan lelah menjamah alam kalbuku.
Terlalu dini aku mengatakan kebersamaan kita nyaris basi. Sekam rindu itu masih panas menyulut api. Kupilah ragu apakah kesetiaanmu menjamu nyata. Bukan semu. Saat kata mencipta ziarah penyatuan. Yang kudapat justru terhentinya jejak kaki pada ketidakberdayaan.
Tiba-tiba saja aku kembali pada pangkuan kesendirian. Rebah sejenak, mengistirahatkan pikiran dari sergapan huruf dan alinea. Tengadah membelakangi kenangan, seraya menyapa "Hai, apa kabarmu?". Dan kudapati retak perpisahan mengelopak. Pudar kugambar senyummu. Rinduku lemah merayap digenggaman jemarimu.
"Selamat malam sayang. Mari kita mengeringkan luka sebelum air mata itu tumpah memerah darah. Semoga esok pagi mendekap masa lalu dengan kenangan dan masa depan dengan penantian. Karena pagiku adalah musim semi. Maka, temaniku sayang menyirami harapan dan mimpi kita".
June 01, 2013



.jpg)



