Minggu, 02 September 2012

Berikan Aku Jawaban..

Geram? Marah? Kesal?
Selain itu, apalagi yang ingin dilampiaskan?
Keluarkan saja, kau harus tahu aku tidak akan beranjak meski kau berbuat demikian.
Satu-satunya yang membuatku mengalah dan pergi, adalah ketika ada seseorang yang memiliki cinta dan sabarnya melebihiku.
InsyaAllah aku akan ikhlas..
^_^

Jika mereka berkata, sudah hancur, aku mengatakan hatiku remuk.
Aku melakukan apa saja yang kau hendaki.
Aku meninggalkan orang-orang yg pernah ada saat aku terjatuh, demi mu !
Aku menjaga hubungan dengan lingkunganku, demi menjaga perasaanmu.
Aku melakukan apa saja, demi bisa selalu bersama mu.
Aku demi kamu.
Kamu ??

Ketika aku merasa lelah, engkau bahkan ikut membuatku merasa sangat tidak berdaya.
Aku mengeluh?
Ketika aku benar-benar butuh istirahat, karena kebiasaan buruk membuat kondisi ku drop.
Engkau ingin ku temani.
Aku mengeluh?
Ketika seluruh beban di tumpuk padaku, dan kau dengan tanpa rasa bersalah malah menganggap aku tidak mempedulikanmu.
Aku marah?
Dengan sabar kuberi pengertian, justru engkau semakin memuncak.
Aku marah??



Koetaradja, 1 September 2012

Ketika Kalimat Mereka Membuatku Enggan Memutuskan..

Selain diam, tabah, sabar, dan menanti, aku bisa apa? Yang aku tahu, sesiapapun yang pergi pasti akan pulang.
Aku pun selalu menunggumu pulang.
Yaa, ketika benang yang putus ingin kita sambung, tetap akan menimbulkan sebuat ikatan baru. Luka yang menggores pasti akan meninggalkan bekas. Demikianlah.. Aku..
=')

Sejujurnya, aku benar-benar sudah lemah. Bagaimana tidak, jiwaku sudah engkau hanyutkan di lautan hitam yang letaknya pun aku tak tahu dimana.
Jangankan untuk mengambil kembali. Membayangkan jiwaku kembali saja, tidak sama sekali ! 
Karena aku tahu, itu tidak mungkin.
Semoga ia tenggelam di dasar lautan dan tak ada siapapun yang menjamahnya.
Aku takut, jika ia terbawa arus, terdampar di suatu tempat, diambil oleh seseorang dan ia bisa menjaga dengan baik. Semoga tidak ! Semoga ia tenggelam..

Ketika hati memaksa untuk berkata, "Tuhan.. Aku menyerah !"
Seketika itu pula, untaian kalimat "Wanita Tegar Itu Cantik" muncul di depanku. 
Dan aku merasa malu..

Malu pada mereka yang dengan lantangnya mengatakan, "Kau hebat, Ayla !", "Kau wanita paling sabar yang aku kenali..", "Kau sangat tegar.." Dan lainnya.
Aku malu. Sungguh.
Itulah kenapa sampai sekarang, satu-satunya pegangan yang tidak pernah kulepas, adalah peganganNya.
Aku tahu, Dia tidak akan pernah meninggalkanku..

Allah,
Aku benar-benar membutuhkanMu...


Koetaradja, 1 September 2012

Sabtu, 01 September 2012

Jiwaku Yang Telah Hilang

Siapa aku?
Aku hanyalah seorang manusia yang hidup tanpa jiwa. Kemana jiwaku? Ahh, pertanyaan yang menyesakkan.
Aku memiliki hidup. Hidupku, kuhibahkan pada seseorang.
Aku memiliki jiwa. Jiwaku, kusimpan dalam hidup seseorang.
Aku memiliki hati. Hatiku, telah kuberikan pada seseorang.
Lantas?? Mengapa hidupku tak berjiwa?
Pertanyaan itukah yang menari-nari dalam alam pikiran kalian?

Baiklah,
Aku akan menjawabnya. Dengan satu syarat. Kalian boleh menertawakan kebodohanku. Tapi tidak menertawakan cintaku yang beberapa orang menganggapnya "konyol" !

Jiwaku, ia pergi bersama hidup seseorang. Benar ! Seseorang yang sebelah hatinya ia berikan padaku. Hanya sebelah ??! IYA ! jelas bukan?
Ketika kalian lagi-lagi bertanya, mengapa sebelah? Maaf, untuk kali ini aku enggan menjawab. Sudah terlalu sakit menerima hanya sebelah. Jangan di tambah dengan pertanyaan bodoh itu. Argghht !! Aku benci kenapa harus pertanyaan itu yang terlontar dari bibir kalian !!

Kembali pada kasus utama, sudah demikian usahaku. sudah demikian perjuanganku, tidak pernah terlihat sama sekali.
Hingga tiba hari dimana aku benar-benar ditinggal sendiri.
Hari dimana aku menyerah untuk semuanya.
Ya, hari saat ia menghilang membawa jiwaku yang telah menyatu dalam hidupnya.
Aku sendiri.

Menangis pun, air mataku tak lagi jatuh. Ini bahkan sudah lebih dari sakit. Tuhan, satu-satunya yang aku takutkan telah terjadi. Ia hilang, membawa jiwaku pergi bersamanya, dan aku benar-benar menjalani hidup tanpa jiwaku.
Hidup tanpa rasa khawatir yang berlebihan.
Hidup dengan hidup seadanya.
Hidup dengan raga yang hampa.
Jiwaku telah hilang =')

Aku bisa apa? Ketika ia pulang dengan wajahnya yang teduh. Seseorang yang dulu selalu menemaniku melewati detik waktu. Kini rasaku? Aku bahkan tidak tahu seperti apa rasaku. Aku mencintainya, sungguh. Mencintai orang yang telah menghancurkan jiwaku. Mencintai orang yang mencintaiku sebelah hati. Mencintai orang yang aku mencintainya sampai mati.

Aku mencintainya..

Selasa, 28 Agustus 2012

Pria Hujan..


Hujan..
Samar-samar aku kembali melihatnya dalam gerimis. Ia selalu muncul membawa rindu setiap kali hujan jatuh menggempur bumi.
Dibawah rerintiknya,
Bayangan itu semakin tampak samar-samar.
Ia membawa ingatanku terlempar jauh ke dataran tandus yang haus akan hujan cinta.
Aku mengenalnya.
Dadanya yang bidang. Bahunya yang tegap. Lengannya yang kekar.
Mengingatkanku pada seseorang !
Tidak .. Bukan mengingatkan. Tapi aku yakin itu adalah dia.
Pria Hujan ku..


Dada yang bidang itu, pernah menjadi alas kepalaku untuk tidur.
Bahu yang tegap itu, pernah menjadi tempatku bersandar kala tumpukan beban tak mampu lagi aku menahannya seorang diri.
Lengan yang kekar itu, pernah memelukku dalam hangatnya dekapannya. Membuatku lupa bahwa hidupku penuh beban.
Dirinya, kusebut Pria Hujan, karena ia selalu menyirami gersangnya ladang rinduku.



Satu Diantara Seribu Malam..














Kita terjebak dalam satu kamar dimana terdapat pembatas yang sangat lebar.
Kau tahu? Aku selalu bersyukur ketika terjebak dalam dimensi apapun jika bersamamu.
Aku mengabaikan teriakan sang jendral mayor untuk keluar dari kamar itu.
Sayang, biarpun ia menyeret dan memisahkanku dari kamar kita pertama. Kau dan aku selalu punya cara untuk kembali bersatu.

Kau ingat malam kelabu itu?
Aku mengabadikan moment tersebut dalam ingatanku. Kupastikan tidak akan kulupa mesti kita tak lagi mengarungi musim bersama.
Aku berpikir beberapa malam sebelumnya merupakan malam terakhir untuk pertemuan kita. Tapi Tuhan Maha Adil. Dia tahu setulus apa kasih yang kita punya. 
Demikian sudah perjuangan kita. Akankah kita mendapati akhir seperti yang kita harap?
Aku menginginkanmu lebih dari kata yang selalu kulontarkan. 
Dalam diam, aku selalu mengirimkanmu doa.
Wahai calon imamku..
Kisah kita takkan pernah usai dari peristiwa itu. Aku mohon bersabarlah..
Dalam kesunyian, aku menghantarkan beribu rindu dan kecupan sayang untukmu.
Wahai pemilik hati, jiwa, dan segalaku..
Aku mencintaimu tanpa batasan ruang dan waktu.
Aku mencintaimu hingga bumi memuntahkan isinya.
Aku mencintaimu, dalam pelukan kasih sayangNya..

Koetaradja, 28 Agustus 2012.