Kembali aku melihatnya duduk menangis disebuah sudut
ternyaman baginya. Ia menangis tersedu-sedu. Aku mendekatinya, bertanya dengan
penuh hati-hati, "kau kenapa?". Ia menatapku sesaat lalu kembali
tenggelam dalam kedua tangannya yang membekap pahanya.
Aku memeluknya ragu. Takut ia berontak dan marah. Benar
saja! Ia menolak. Mengusirku dari sisinya. Aku hendak beranjak, tapi niat itu
aku urungkan. Aku mengambil posisi duduk di tepian tempat tidurnya. Membiarkan
ia menangis.
Ia memandangku. Tatkala aku tak juga keluar, ia menyerah
dengan melanjutkan tangisannya. Aku iba, hatiku terasa perih melihatnya
menangis demikian. Aku keluar untuk mengambilkannya air minum. hanya 10 menit
aku pergi, ketika aku kembali, suasana kamar seperti kapal pecah, ia sudah tersungkur,
aku kaget!
Yaa, dia memilih pergi. Dia pergi dengan hujaman pecahan
cermin dikamarnya yang ia hujam tepat di jantungnya. Beberapa irisan di
pergelangan tangannya.
Gadis yang malang.
Engkau memilih pergi dengan cara demikian. Tahukah kau sayang?
Aku menyesal meninggalkanmu saat itu.
Tapi semoga kau tenang disana.
Kembalilah dalam pelukan Sang Maha Pengasih..
Ayla, terima kasih untuk pelajaran hidupmu selama ini.
Aku belajar dari semua yang terjadi padamu..
Terima kasih, sahabat..
Tunggu aku di syurga :')




0 komentar:
Posting Komentar