Sabtu, 26 Maret 2011

Cerpen ; Tuan Berbaju Biru


Yaah,, kali pertama aku merasakannya setelah hampir setengah tahun hatiku beku dan dingin. Aku menutup segenap perasaanku. Entah karena terlalu kecewa sehingga aku tak ingin lagi menggunakan semuanya dengan perasaan. Kujalani kehidupanku dengan kekosongan. Kekosongan dalam hatiku. Bukan tak ingin, hanya saja aku belum siap menelan kepahitan yang sama jika harus menjalin hubungan berdasarkan perasaan yang tulus.
Semenjak kejadian pahit itu ,aku menutup hati. Seseorang hadir dalam kehidupanku dengan membawa segenap rasa sayang. Tapi lagi-lagi aku masih belum siap untuk menjalin hubungan dengan sesiapapun. Hingga seseorang mengatakan :
“jika kamu tidak mencobanya, bagaimana mungkin kamu bisa siap. Jika kamu menunggu kesiapan datang, ia tidak akan muncul jika kamu tidak memanggilnya dengan mencoba menjalin hubungan”.
Baiklah, aku memberikannya pertanyaan :
“bagaimana jika setelah aku menjalinnya, aku masih belum menumbuhkan rasa padamu?”.
Seseorang itu menjawab :
“kita akhiri”.
Simple ! sepele memang. Dengan berat hati kujalani. Kucoba mencari sisi baik dalam dirinya. Kucoba untuk menumbuhkan chemistry cintaku padanya. Tapi sia-sia !! karena aku bukan wanita yang suka mencoba. Aku bukan wanita yang siap menerima resiko buruk. Dan aku bukan wanita yang dengan mudahnya mengatakan cinta kepada seseorang. Tidak lama, aku pun memilih untuk mengakhirinya. Dia marah. Dia tidak terima. Kuberi penjelasan sehingga ia pun mengerti. Bila aku wanita yang tak berperasaan, aku pasti sudah menertawakan kebodohannya yang sedari awal. Tapi tidak. Aku tidak sekeji itu. Ingin mendendam, tapi aku tak bisa.
Kadang aku benci pada diriku sendiri yang terlalu naïf. Terlalu berpositif thinking dengan semua hal. Sampai-sampai aku tak sadar “bahaya” ada didekatku. Fine, aku kembali melanjutkan kehidupanku. Menikmati sisa-sisa usia mudaku. J
Aku tak tahu bermula darimana. Awalnya aku hanya kagum pada sosok seseorang di ujung jalan sana. Secara fisik, aku menyukainya. Hari pertama, aku hanya melihatnya dengan rasa kagum. Entahlah, kesan pertama ku saat itu adalah, dia pribadi yang cool. J
Entah keberapa kalinya seseorang itu mondar-mandir dihadapanku. Semakin lama aku memandangnya, aku merasakan ada yang lain. Setiap kali ia mondar-mandir di depanku, ada rasa bahagia disana. Bahagia bisa melihatnya hari itu. Katakanlah aku seorang yang munafik dengan perasaan. Ku pungkiri rasa bahagia ku itu karena aku mulai merasakan rasa jatuh cinta lagi. Yaa,, aku masih beranggapan jika aku hanya menyukainya. Aku masih memungkiri jika aku sudah mulai menumbuhkan rasa lain selain hanya rasa suka.
Semakin lama,, aku semakin sering mengingatnya. Setiap harinya, aku mencari kemana bayangnya pergi. Dengan alasan aku akan lebih mudah memimpikannya bila bisa melihat ia walau dari jarak jauh. Ohh tidak !! aku semakin merasakan chemistry setiap kali melihatnya. Setelah hampir sebulan aku yang menjadi secret admirer-nya. Akhirnya, aku mendapatkan sedikit tentangnya dari berbagai sumber. Tidak berharap banyak, aku bahkan tidak berharap ia menyadari akan semua perasaanku.
Sedikit aku memberanikan diri untuk menceritakan segenap perasaanku pada salah satu teman baikku sedari SMA, yangmana ia kuliah di jurusan yg sama dengan seseorang itu. Aku menyebut seseorang itu dengan sebutan”Mr.blue”.
Tidak penting panggilan itu bermula darimana, yg pasti sampai saat ini, otakku lebih mudah mencerna jika orang-orang mengucapkan panggilan “Mr.Blue” daripada nama aslinya. Hehehe J
Kejadian sore hari dimana Mr.Blue mendatangi meja tempat dimana kami menampung mahasiswa baru. Ia hanya menanyakan hal-hal yg sebenarnya pertanyaan yang wajar untuk seseorang mengakrabkan diri dengan oranglain. Hanya karena aku menyukainya, aku merasa itu adalah pertanyaan-pertanyaan istimewa darinya untukku. Hahaha !! J
Selanjutnya, aku mulai banyak menceritakan hari-hari yang kulalui menjadi seorang secret admirer nya. Aku menceritakanya dengan kedua sahabatku di dunia perkuliahan, serta dengan teman baikku yang satu jurusan dengannya itu.
Buyar khayalanku yang hanya ingin menjadi secret admirernya, semua karena sedikit campur tangan temanku itu. Tidak semestinya aku menceritakan lebih detailnya. Malam hari, dimana aku sedang memikirkannya, sebuah panggilan dgn nomor yg tidak terdaftar di phonebook ku memanggil. Awalnya aku tidak berminat untuk mengangkatnya. Panggilan kedua pun tiba, aku pun mengangkatnya. Karena kukira salah satu temanku yg menelfon dgn menggunakan nomor lain.
TERNYATA !!
Ehem, Mr.Blue yang menelpon ku. Aku bingung, kaget, senang, bahagia, aarghtt … semua jadi satu >.<! itu malam pertama aku bisa mendengar suaranya, menilai pribadinya yg ternyata jauh dari kata “cool” !haha
*maap beuuhhhh J
Yaahh,, apapun lah. Aku suka dia. Eh,iyaa.. aku masih menyadari kalau aku suka dia. Entahlah, aku bingung. Bila malam datang, aku merindukannya..
Aku bingung .. entah apa yang terjadi kedepannya. Semoga saja terbaik untukku dan dia. Ammiiiinn… J

***
Beberapa pekan terakhir ini, kegiatanku mulai padat. Kegiatan kampus, rutinitas aku mengajar, dan mesti bolak-balik ketempat aku merintis usaha baruku. Iya, sekarang ini aku sudah mulai mengajar. Aku mengajar anak kelas 2 SD, sebut saja namanya Arif. Awalnya aku tidak bisa memahami setiap tingkah Arif. Aku tau, Arif anak yang pintar, hanya saja ia lemah dalam mengingat. Semakin lama Arif semakin menyadari kehadiranku sebagai guru barunya. Aku senang! Arif sudah mau aku ajak berinteraksi, walau ia masih saja menundukkan kepala setiap kali menjawab pertanyaanku. Aku mengajar Arif malam hari untuk minggu ini.
Aku membangun usaha baru, dimana usahaku sedikit berhubungan dengan jurusan perkuliahanku. Aku membuka les privat untuk anak-anak ABK dan anak normal. Tapi tujuan utamaku membuka les ini adalah untuk membantu anak-anak ABK mengenal diri mereka sendiri. Aku memilih sistem pembelajaran privat, dikarenakan dengan sistem privat, pengajar akan lebih mudah menggunakan metode belajar yang sesuai dengan kemampuan si anak. Impianku dari dulu, dan sekarang aku sudah mencoba memulainya. J
Dengan seabrek rutinitasku, yang mana pagi hari jadwalku mengontrol para tukang yang sedang memperbaiki ruangan-ruangan untuk proses belajar-mengajar nanti. Siangnya giliran aku bermain dengan keluarga pasangan michi-pichi. Haha! Selesai bermain aku menuju kampus, pulang dari kampus menyempatkan diri untuk berleha-leha bersama teman-temanku. Malam harinya , aku mengajar. Sepulang mengajar, tebak saja apa yang aku lakukan. Yap! Menikmati empuknya kasur tidurku dengan menarikan jari di atas laptop. (melanjutkan cerpen ini) J
Sepertinya ada yang kurang (=.=)?
Iya, aku belum menceritakan seseorang itu. Walau kegiatanku segudang, tetap saja aku tak bisa membuang jauh bayangannya. Setiap kali hendak kekampus, jantungku berdegub kencang. Dan pikiranku saat itu hanya tertuju pada seseorang itu. Siapa lagi kalau  bukan Mr.Blue!! J
Ruang belajarku tak jauh dari ruang belajar dirinya. Sehingga setiap kali kekampus, aku bisa melihatnya. Sayangnya, aku hanya bisa melihat. Tanpa bisa mengobrol dengannya. Sempat sekali aku kecewa dengan sikapnya. Itu hari dimana aku melihatnya berbalik badan ketika menatapku. Entah, pikiranku satu saat itu. Aku harus melupakannya! Malam hari dimana biasanya kuhabiskan waktu dengan menonton, kuhabiskan dengan melamun seorang diri.
Andai, ketika ia berbalik badan aku tidak melihatnya, kurasa aku takkan menanggung kecewa ini.
Andai, ketika ia berbalik badan, ia bisa melihatku yang sedang tertegun karna sikapnya itu.
Tapi sayang,, itu hanya sebuah PERANDAIAN. Dimana kenyataannya telah terjadi. Dan “andai” itu menjadi bermakna-kan sebuah penyesalan. Aku sempat menyesal, kenapa harus dia yang memberikan chemistry itu padaku.
Mr.Blue mengajarkan aku kembali menjadi wanita tegar. Ia mengajariku bahwasanya perjuangan menjadi seseorang yang mencintai itu bukan hal yang mudah. Lebih tepatnya, Mr.Blue mengajariku MENGHARGAI mereka-mereka yang memiliki motivasi utnuk mencintai  orang lain, menghargai perasaan mereka.
Hari berikutnya, aku masih dengan kegiatanku seperti biasa. Menuju kampus dengan berharap bisa melihatnya walau sedetik saja. Entah kenapa, aku lebih cepat menangkap sinyal apabila mereka menyebutnya dengan sebutan Mr.Blue! sampai sekarang ini, aku masih bingung harus menamakannya apa selain nama Mr.Blue.
Banyak hari yang kulalui dengan melihat Mr.Blue dari kejauhan. Aku masih penasaran dengan kehidupan pribadinya. Aku ingin mengetahui semua latar belakang kehidupannya. Entahlah,, tapi kurasa aku semakin ingin mengetahui semua tentangnya. Dia lucu, bila sedang menelfonku, banyak pertanyaan yang menjebak. Hoho ! (walau psikologi gadungan, tapi masih bisa tau pertanyaan-pertanyaan yang menjebak! :D)
Tapi dia juga aneh, mampu memberikan sejuta makna indah dalam setiap kalimatnya, tapi juga bisa mengeluarkan kalimat yang dalam kalimatnya tidak kutemukan kata-kata yang berasal dari nuraninya. Anehnya dia, tidak mau enyah dari dimensi ruang pikiranku. Padahal aku sudah berusaha untuk membuang rasa, tapi tetap saja tak bisa. Dia aneh, selalu menemuiku ketika aku sedang merindukannya.
Hari ini aku melihatnya, ia menyapaku. Senang! Tapi ada rasa takut didalamnya. Aku tak ingin menari-nari indah diatas awan menuju langit biru, memperlihatkan pada dunia bahwa aku sedang bahagia. Rasa takut itu menghantuiku, takut kalau ia menyapa hanya sebatas sapaan agar tak dikatakan sombong. Takut kalau ternyata responnya selama ini hanya kekosongan yang tak ada makna nya. Yang paling kutakutkan adalah, dia pergi menjauhiku. Tidak kupungkiri, aku bisa. Hanya saja aku beum siap untuk menanggung kekecewaan lagi.
Dengan hati yang bahagia, kuangkat telfon darinya. Lama kami mengobrol dari telfon, dan entah kenapa, aku merasakan hal dimana pertama kali aku bertemu dengannya. Perasaan deg-degan disertai rasa bahagia. Hanya saja, aku menemukan kebahagiaan yang janggal. Ahh,, semoga hanya perasaanku saja.
Entahlah,, yang pasti saat ini, rasa itu masih tetap sama. Hari ini cukup mengesankan. Aku menemui Mr.Blue, banyak detik yang kulewati dengan menatapnya. Serta hari dimana Arif sudah mulai merespon akan hadirku didekatnya J
***
            Seminggu lepas aku tak bertemu dengannya. Kabarnya ia pulang ke daerahnya. Sumbernya cukup akurat, sehingga aku mengetahui kabarnya melalui mereka. Seminggu kulalui dengan sejuta kegelisahan. Gelisah karena tidak lama lagi tempat ku merintis usaha segera dibuka, sedangkan blm ada persiapan yang matang, gelisah dimana tugas praktikum ku belum juga selesai. Gelisah dimana scoring tes WAIS belum ada. Gelisah pula karena mr.blue tak ada kabarnya.
            Dengan sepuluh juta keyakinan bahwa aku mampu melewatinya, aku tempuhi setiap hari dengan ditemani bayangan seseorang. Hari dimana tempat usaha ku dibuka, aku menuju kampus dengan sahabatku. Aku melihat sahabat mr.blue disana. Dibelakangnya ada mr.blue!! haha J
            Yang awalnya letih, capek, gak ada semangat jadi makin semangat! (udah muncul unsur lebay ni ==”).. ditambah ketika mr.blue menyapa ku. Sebenarnya hanya sapaan sederhana, namanya juga seseorang yang menempati ruang indah dalam sudut hati, jelas saja sapaan sederhana itu menjadi sapaan yang luar biasa !!