Sabtu, 26 Maret 2011

Cerpen ; Awal Yang Indah



“Kak Rio????!!” kataku kaget. Kak Rio, cowok yang memiliki postur tubuh yang tinggi dengan kulit berwarna sawo matang, bola mata berwarna coklat dan hidung yang mancung. Ada dihadapanku. Ia sedang mengobrol dengan temannya. Kak Rio, seorang pria yang masih aku kagumi sampai detik ini. Hal yang membuatku kaget adalah kak Rio ada di hadapanku. Dan pertemuan itu sangat membuatku kaget sekaligus senang. Kaget, mengapa ia yang seharusnya ada diluar kota, tiba-tiba nongol di depanku. Senang, karena aku merindukannya setelah perpisahan itu.

Melihatku yang memanggil namanya, kak Rio memandangku lekat. Kurasa ia pun sama shock-nya denganku. Ia hanya memandangku sejenak dan membuang wajahnya. Aku masih tertegun. Aku masih mencoba untuk mengerti ini mimpi atau nyata. Masih dalam keadaan saling pandang, tak ada kata, senyum atau bahkan sekedar menyapa. Kurasa dia sangat membenciku. Yaahh! Semua salahku.

Sebelumnya, namaku Athia Riskiana Lindhya. Panggil saja aku dengan nama Tya. Umurku masih 18 tahun, perbedaan umur dengan kak Rio berkisar 6-7 tahun. Awal perkenalan yang unik, hingga akhirnya menimbulkan perasaan.

***


2 april 2009, aku jadian dengan kak Rio. Menjalani hari-hari penuh suka-cita. Saat itu, aku masih bingung dengan perasaanku. Aku seharusnya bahagia karena jadian dengan kak Rio, tapi kenapa aku masih bingung. Ya sudahlah, aku adalah wanita terpilih yang berhasil memenangkan hatinya.

Suatu malam, saat itu kak Rio datang ke rumah, seperti biasa kami ngobrol-ngobrol. Jujur, aku bangga padanya. Ia sangat bijaksana. Ia menjadi pacar sekaligus ayahku. Tapi, satu yang masih menjanggal di batinku, aku masih ragu apakah aku benar mencintainya atau hanya kagum padanya. Saat itu, aku masih duduk di kelas 3 SMA.

“Tia, kalau lulus mau masuk kemana?” tanya kak Rio padaku.
“Tia maunya masuk ke bidang kesehatan kak” jawabku. “kakak punya saran?” sambungku. Kak Rio tampak mengernyitkan alisnya. Kurasa ia sedang memikirkan sesuatu, tak lama ia mengatakan “tidak, bidang kesehatan adalah pilihan yang tepat untuk masa depan, kakak mendukung Tia selalu”. Aku senang, ia sependapat denganku.

Setelah menjalani hubungan selama 2bulan, aku merasa aku tidak mencintainya. Aku hanya kagum karena ia memiliki sifat yang sama seperti ayahku. Aku pun meminta untuk mengakhiri hubungan itu dengan alasan mau konsen ke pendidikan dulu, dan yang amat mengesankan ia mengerti. Ia sangat bijaksana. Ia malah menyuruhku untuk memang harus konsen ke pendidikan. Aku pun lega.

***


Malam itu aku mengaktifkan aplikasi facebook di hape ku. Membaca salah satu status kakak angkatku. Dan nick kak Rio ada dalam status itu. Aku pun mencoba untuk meng-add kak Rio. Dan ternyata aku di accept. Senang karena aku akhirnya bisa berkomunikasian lagi dengannya. Iseng aku membuka infonya, ternyata, ia sudah berpacaran lain.

Bagai tersayat sembilu, sakiiiiiiiittttt!! Epss, kenapa aku harus marah ya. Kan dia juga bukan siapa-siapa aku, tapi aku cemburu!! Aku pun menulis message di FB-nya.
“Cici itu pacar kakak?’ tanyaku via pesan FB. Kak Rio pun membalas pesanku
“iya, setelah Tia menjauh, hilang bagai ditelan bumi, cici yang menemani hari-hari kakak.” Balasnya.

Aku menitikkan air mata, ternyata aku masih gak rela dia di miliki orang lain. Ahh,, ini karena aku. Aku yang bodoh mengambil keputusan waktu itu. Tapi, ya sudahlah, semua sudah berlalu. Aku pun hanya membalas pesannya itu dengan ucapan selamat. Dan kak Rio pun membalas pesanku dengan menanyakan nomor hape ku. Aku memberikannya, dan tak lama, masuk sms darinya. Aku pun meng-offline kan FB ku. Membalas sms dari kak Rio. Hingga mentok di satu pertanyaan darinya “Tia masih sayang sama kakak?” tanyanya. Aku bingung, terlalu egois kalau aku tidak memikirkan perasaan wanita yang bernama Cici itu.

Tapi, aku tetap menjawab dengan jujur, bahwa aku masih menyayanginya. Masih sering merindukannya, tapi aku tidak mengharapkannya lagi. Karena aku memikirkan perasaan wanita itu. Lebih baik aku yang tersakiti, daripada melihat orang lain yang sakit hatinya karena aku. Itulah prinsipku! Terima tidak terima, itu prinsipku!


***


Entah bagaimana, tanpa pernyataan cinta, aku semakin dekat dengan kak Rio, hingga aku beranggapan kalau kami berpacaran. Tapi, ah, lebih tepatnya hubungan tanpa status. Aku lupa, saat aku dengannya berpacaran dulu, kak Rio lagi melakukan test di satu perusahaan karena ia melamar pekerjaan di situ.

Dan sekarang, ia sudah bekerja di perusahaan tersebut, dan ia di tugaskan diluar kota. Tepat di hari Raya Idul Fitri 2009 kemarin, ia bertamu kerumah bersama teman-temannya yang lain. Kak Rio merupakan salah satu sahabat kakak kandungku. Mereka tergabung dalam satu komunitas. Aku yang membuatkan minuman, aku pun menyalami semua teman-teman kakakku.

Ketika mereka pulang, kedua orangtua ku pun ku beritahu, kalau salah satu dari teman kakak yang tadi, merupakan calon menantu mereka. Di luar dugaan! Ayah mengizinkan aku menjalin hubungan dengannya. Setelah hari itu. Kak Rio pun kembali ke luar kota. Ia harus bekerja disana.

Oh iya, saat itu aku sudah menjadi salah satu mahasiswa di sebuah Universitas swasta di kotaku. Aku pun mengambil jurusan kedokteran, karena aku memang menyukai dunia kesehatan. Hari-hari dikampus aku lalui dengan hal yang biasa, tanpa ada yang luar biasa. Yah, paling hanya teman-teman baruku yang menjadikan suasana beda.

Dikampus, aku dekat dengan Intan, Fina, Nina, dan Melly. Pagi itu, aku melihat sesosok pria aneh di depan akademik kampusku. Melly yang terkenal keberaniannya menyapa orang, menyapa pria itu. Dengan cuek si pria menatap Melly kemudian membuang jauh pandangannya dari Melly. Wah! Cowok acem ni yang aku suka! Cuek! Hahaha..

Tapi, aku pun tak begitu peduli. Selanjutnya, aku bersama teman-teman baruku menuju kantin. Disana kami bersenda gurau. Tiba-tiba Ferry yang merupakan salah satu cowok yang paling dekat dengan kami berlima datang menghampiri kami. Tunggu! Pria cuek itu pun ada di belakang Ferry.

“dia juga salah satu teman kita” kata Ferry memperkenalkan pria cuek itu pada kami. Pria itu pun mendekat dan menyodorkan tangannya ke arahku, “Andika” katanya. Aku pun menyambut tangannya seraya mengatakan namaku. Kemudian aku pun melanjutkan bercerita ria dengan Nina dan Fina.

Dan aku sempat melihat Andika tertawa karena bercanda dengan Intan, Melly dan Ferry. Selanjutnya, aku pun melanjutkan bahan ceritaku kepada dua manusia ini. Aku lebih dekat dan merasa nyaman dengan Nina dan Fina.


***



Malam ini pun aku bertelfon ria dengan kak Rio, ia menceritakan masalah kantornya, dan aku menceritakan masalah kampusku. Hingga akhirnya tanpa disadari aku menceritakan kehadiran Andika yang membuatku kagum. Aku lupa, kalau saat itu aku sedang menceritakan pria lain pada sang pujaan hatiku. Untungnya, dia bukan tipikal yang suka marah atau cemburu gak jelas.

Sebulan setelahnya, aku merasa hubunganku dengan kak Rio semakin renggang. Aku merasa kurang perhatian. Tanpa disadari, aku mulai sering memperhatikan gerak-gerik Andika. Sampai temanku Ferry menanyakan perasaanku pada Andika. Karena saat itu aku masih dengan kak Rio, aku pun mengatakan bahwa aku tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Andika.

Hari itu, dosen tidak hadir. Aku, Ferry, Andika, Nina, Fina, dan Melly berinisiatif untuk pergi nongkrong di suatu tempat. Intan sudah mulai menjauh dari kami. Entah apa penyebabnya, tapi mungkin, ia merasa tidak nyaman berteman dengan kami, entah lah. Dia berhak menentukan dengan siapa dia berteman.

Dan kami sampai di suatu tempat yang lumayan keren untuk berfoto-foto. Karena kebetulan kita semua maniak foto. Hheehe.. tiap kali mau berfoto, aku selalu beruntung mendapat posisi di dekat Andika. Tapi, tunggu! Kenapa aku merasa dagdigdug waktu didekat Andika?? Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Sepulang dari tempat itu, aku di antar Fina pulang. Karena searah dengan Ferry, kami jalan bergandengan. Ferry membonceng Andika, dan aku membonceng Fina. Cewek ini sangat malas mengendarai motor. Ckckck!!

Ketika lagi jalan, andika mengatakan ia butuh pertolonganku.
“bantuan apa Dik?” tanyaku.
“gini Tia, aku ingin meyakini seorang cewek, kalo dia gak bisa mendapatkan aku” katanya.
“maksud??” tanyaku lagi
“kau pura-pura jadi ceweknya Dika” kata Ferry

Jedddaaaarrrrr!!!!!!!!! Bagai tersambar petir. Aku harus berpura-pura jadi pacarnya Andika? Gimana dengan kak Rio? Tapi, Andika temanku. Ah, aku pun menyanggupinya, lagian kak Rio masih bisa diajak kompromi lah.. dan kita pun memulai sandiwara itu.


***



Kak Rio protes di foto-fotoku saat bersama Andika. Dia mengomentari foto-foto tersebut. Ah, aku jadi benci dengannya. Hingga aku meremove kak Rio dari teman FB ku. Dia mengirim pesan dan sms. Tapi aku hanya membalas sekedarnya. Dan mengatakan bahwa aku hanya menganggapnya sebagai kakak ku sendiri.

Saat itu aku galau. Aku tidak sanggup berpacaran jarak jauh. Aku butuh seseorang di sisiku. Dan aku pun merasa lain tiap kali berada di dekat Andika. Hingga sampai suatu hari..

“Tia, tujuan awal kita udah selesai, kita harus mengakhiri sandiwara kita” kata Dika.
“mmmmhh, iyaa..” jawabku,
“tapi,,” sambungnya
“tapi kenapa Dik?” tanyaku lagi
“tapi aku mau, kita mengakhiri sandiwara ini, kemudian melanjutkan ke yang serius. Karena aku sayang kamu, Tia. Kamu mau?” kata Dika sekaligus bertanya. Aku pun menjawab dan kita memulai lembaran baru. Itu terjadi tepat tanggal 22 oktober 2009. Senang! Karena aku sekarang memiliki orang yang kusayang di dekatku.

Hubungan kita pun mengalir bagai air. Kadang bergejolak karena ada rintangan kecil, tapi setelah itu kembali mengalir. Hingga masa jadian kami pas 2bulan 10hari. Dan tepat di awal tahun 2010, aku mendapat keajaiban!

Sore itu, menjelang magrib, sehabis mengantar Dewi pulang. Di gang rumah Dewi, aku melihat 3 pria yang lagi asyik berbincang-bincang. Karena hendak menyeberang jalan, aku berhenti tepat di ujung gang. Dan apa yang kulihat?? Kak Rio!! Dia ada disini. Dan bodohnya aku, aku meneriaki namanya. Ia pun menoleh ke arahku. Melihatku sekejap kemudian melanjutkan pembicaraan dengan temen-temannya itu. Aku pun membuang pandangan ke arah kiri-kanan karena hendak menyeberang. Tak puas, aku melihat ke arahnya lagi. Ia pun melihat ke arahku. Ingin tersenyum. Tapi aku takut. Aku takut dia marah padaku.

Karena sikap dan kesalahanku yang lalu. Bibirku pun terasa kaku untuk berucap. Ia hanya memandangku dengan sedikit senyum kecut. Aku masih terdiam dan tidak berani memandangya lebih lama. Hingga begitu aku tersadar, ia sudah lenyap dari hadapanku. Ahh!! Sial!! Lho? Bukannya aku ada Andika. Tapi kenapa aku merasa senang, bahagia, merasa rinduku terobati?

Oh tidak! Aku sudah terlalu kejam. Mana mau dia memaafkanku. Hhhfffhhtt.. ya sudahlah .. aku memang harus melanjuti hubungan ku dengan Andika. Walau bayang kak Rio masih menyelinap di dinding hatiku.

Aku pun menancap gas, hingga tiba di rumah. Aku menceritakan pertemuanku dengan kak Rio pada mama ku. Beliau pun menanggapinya dengan sebuah senyuman. Entah apa maksudnya. Kurang puas, aku menelfon Fina, menceritakan kejadian itu. Saran Fina ada benarnya. Aku pun mengambil hape, dan menelfon Andika, berharap bayangan kak Rio tidak mengusik malam ku saat ini. Yahh , awal tahun baru yang mengagetkan tapi cukup menyenangkan hatiku. Maaf Dika, aku bingung dengan perasaanku ini. Tapi aku masih mencintaimu.

                                                            ***