Jumat, 28 Juni 2013

Sekali lagi, waktu yang akan menjawab..


Ini adalah jarak. pertemuan melalui media sosial yang aku sendiri mengawali dengan iseng-iseng saja. Sebut saja namanya D. laki-laki yang hanya mendengar suaranya saja mampu membuatku damai. Entah aku yang terlalu cepat menaruh hati padanya, atau aku yang naif. Dihari-hari berikutnya, aku hanya bisa menepis rindu dengan melihat sejumlah foto-fotonya. Tidak tampan. Tapi laki-laki ini begitu memiliki kepribadian. Ia begitu menarik. 

Aku mencintainya diam-diam. Tidak ingin terlalu mengekspresikan. Mengetahui kabarnya jika ia kabari. Hingga terakhir ia mungkin merasa aku menjadikannya pelarian. Sungguh, aku hanya sedang meyakinkan hatiku untuk lebih mengetahui perasaan apa ini. Perasaan yang aku sendiri tidak berani menyebutnya. Cinta? Bagaimana bisa aku mengatakan cinta, jika kabar darinya hanya kuterima disaat malam tiba saja? Atau ini hanya sekedar kagum? Aku memutuskan untuk diam. Mengabaikan setiap telfon atau sms darinya. 

Aku ingat. Ia mengejarku kala aku pergi ke kota C. ia menelfonku selalu. Karena aku pergi untuk menenangkan diri. Aku mengabaikan setiap telfon masuk. termasuk darinya. Padahal kala itu, ia hendak mengabari akan menyusulku kesana. hal itu aku terima kala aku sudah kembali ke kota kelahiranku. Betapa bodohnya aku! 
Seandainya aku mengangkat telfon darinya. tentu saja aku akan bertemu dengannya. dengan laki-laki yang suaranya selalu mendamaikan hatiku. Ingin ku rengkuh tubuhnya tenggelam dalam pelukku. 

Tuhan.. 
Aku tahu, ini cinta. Tapi belum begitu besar.


Aku masih saja menjadi wanita yg mencintainya dalam diam. Bagaimana tidak, aku mencoba berdamai dengan egoku. Meminta maaf padanya. Dan ia kecewa :')
Ia tidak marah. Ia hanya kecewa.

Kalian tahu? D tidak pernah marah padaku. Mungkin aku akan kebingungan jika kelak ia marah. Aku tidak tahu bagaimana meredam amarahnya.

D, 
Ia masih senantiasa aku rindukan.
Kalimat terakhir darinya yang selalu terngiang adalah ucapan agar selalu menantinya.
"suatu saat, aku akan menjemputmu. tunggu aku.."

Iya, D.. Aku disini menantimu.
Menanti kedatanganmu untuk menjemputku menuju bahagia.
D..
Cepatlah datang. 
jangan membuatku menunggu terlalu lama. 
^o^

nb: kelak akan dibuat cerita selengkapnya. Ini karna terjadi sedikit kesibukan dadakan yang akhirnya mengurung sejumlah imajinasi didalam kepala. 

salam sayang,
ayla.

Sabtu, 01 Juni 2013

Ketidakberdayaan Itu..

Dimana aku akan bahagia, aku pasti akan mengajakmu. Dimana aku akan terluka, cukup aku saja!

Ini adalah awal dimana aku masuk pada gerbang hidup yang baru. Tidak, aku hanya kembali pada kebiasaan lamaku. Kebiasaan sebelum aku menjalani hidup bersama seseorang. Ada rasa menyengat yang tiba-tiba menusuk alam pikirku dengan ganas. Boleh aku meringis? Ini seperti mimpi di siang hari. Seperti suara petir yang menggelegar di siang bolong. 

Biarkan saja ia berlalu-lalang di dalam pikiranku. Mengingat hal itu sebagai yang terindah. Dan membuang pahit ke dalam gelas kosong. Yang pasti aku percaya semua berarti ketika segalanya sudah tidak lagi menyatu. Tanpanya, akan ku cari lagi arti. Siapa tahu akan lebih berarti kan?

Perjalanan boleh berhenti. Tapi sejenak saja, jangan terlalu lama. Masih jauh kilometer yang harus ditempuh untuk menjemput bahagia, bukan dengan berdiam menunggu. Kita sama-sama sadar, akar pertautan yang menunjang itu telah tercabut. Mungkinkah menanamnya sekali lagi? atau, biarkan saja pohon itu rebah ke tanah dan mengering. Lalu, kita berpisah di simpang jalan dan mencari tunas baru untuk disemaikan.

"Kita memang tidak bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa. Jika boleh memilih, sekali lagi aku akan jatuh cinta kepadamu."

Tak perlu kamu tahu, cukup rasakan saja. Disini bersama musim di bulan Juni aku masih bertahan dan menjadikanmu yang pertama. Itu mungkin akan senantiasa demikian. Sampai waktu benar-benar menghapus rasaku. Dan lelah menjamah alam kalbuku. 

Terlalu dini aku mengatakan kebersamaan kita nyaris basi. Sekam rindu itu masih panas menyulut api. Kupilah ragu apakah kesetiaanmu menjamu nyata. Bukan semu. Saat kata mencipta ziarah penyatuan. Yang kudapat justru terhentinya jejak kaki pada ketidakberdayaan. 

Tiba-tiba saja aku kembali pada pangkuan kesendirian. Rebah sejenak, mengistirahatkan pikiran dari sergapan huruf dan alinea. Tengadah membelakangi kenangan, seraya menyapa "Hai, apa kabarmu?". Dan kudapati retak perpisahan mengelopak. Pudar kugambar senyummu. Rinduku lemah merayap digenggaman jemarimu.

"Selamat malam sayang. Mari kita mengeringkan luka sebelum air mata itu tumpah memerah darah. Semoga esok pagi mendekap masa lalu dengan kenangan dan masa depan dengan penantian. Karena pagiku adalah musim semi. Maka, temaniku sayang menyirami harapan dan mimpi kita".

June 01, 2013

Jumat, 31 Mei 2013

Seperti ini kita menapaki hari ini..

Selamat malam, Hati..
Ingin sekali rasanya menertawakan angkuhnya hati. Betapa sombongnya ia berjalan mengitariku yang sedang duduk diam menyepi di salah satu sudut kota. Ahh! Ingin sekali aku mendongakkan kepala dan mengusirnya untuk segera beranjak dari sebelahku. Bagaimana mungkin? Untuk bernafas saja aku hanya mengandalkan sisa tenaga yang ada dalam jiwaku.

Seperti apa aku menginginkanmu?
Seperti apa kamu menginginkanku?
Terserah..

Kita hanya sedang memaksakan kehendak yang kita mau. Kita seperti berjalan diatas pecahan kaca, semakin kita menuai langkah, maka semakin kita terluka dan berdarah. Dari awal kita tahu, bahwa kita memang tidak dapat menyatu. Bukan karena tidak adanya kesamaan. Tidak! Aku tak ingin kita menyatu karena persamaan, dan berpisah karena perbedaan. Betapa buruknya hal itu.


Ketika Burung Terbang Meninggalkan Dahannya..

Mungkin, kau akan paham ketika aku telah tiada..

Kali ini aku dengan sigap menyalakan laptop dan duduk di sudut tempat tidurku. Banyak yang ingin aku tuangkan hari ini. Hmm, kita mulai darimana? Sudah lama aku tidak menulis - tentangnya -. Ya, aku pernah berjanji untuk tidak lagi menulis tentangnya. Kelak aku akan memposting cerita-cerita lalu. Untuk kali ini, mungkin lebih kepada apa yang aku rasa hari ini. 

Sebentar, aku menyeruput coklat panas yang terletak disampingku. Setidaknya aku masih bisa meminimalisir rasa hatiku yang mulai tidak karuan. Aku ingat, saat dimana aku berjuang demi cintaku. Saat dimana aku mempertahankan segala. Saat dimana aku mengagungkan apa yang kumiliki. Aku berjalan kearahnya, mencoba menggapai dirinya. Tapi ia hilang. Bak asap yang tertiup angin. Aku lemah. 

Untuk diriku, aku menggunakan kalimat 'wanita tegar itu cantik'. Hal demikian agar aku tidak terlalu terpuruk pada keadaan. Mungkin, sekarang aku sudah lelah. Benar. Aku tidak pernah mengeluh apapun pada cintaku. Tapi, terlalu sering disakiti, aku juga berpikir, betapa naifnya aku berjuang demi seseorang yang tidak ingin berjuang bersamaku. Aku kecewa. Pada cintaku yang tidak pernah paham.
Ohh, lagi-lagi, aku mengatakan hal itu.

Aku tidak melihat ketulusan ia berjuang. Bagaimana tidak? Baru saja cintaku berjuang, ia sudah mengeluh dan menyuruhku melihat perjuangannya? Sayang, belum seberapa. Aku terlalu sakit dulu. Ketika kau meminta maaf, bukan aku tidak memaafkanmu. Aku hanya tidak bisa melupakan segala hal itu. Dan kau, tidak pernah mengerti. Kau tidak akan pernah mau menjadi lebih baik. Padahal aku selalu berjuang agar menjadi baik dimatamu.

Maaf. 
Aku hanya sedang merasakan luka-luka ku yang sekarang sedang kumat sakitnya. Bagaimana aku mengingat segalanya. Saat dimana aku salah, dan kau mengabaikanku, tidak memberikanku kabar apapun darimu. Padahal kau tahu betapa pentingnya kabarmu dulu. Seandainya kerabatku yang kembar itu bisa menceritakan padamu saat-saat aku kau abaikan dulu, permintaan maafmu tidaklah cukup. Aku mengingat saat dimana aku menyisihkan waktuku 10 menit hanya untuk bertemu denganmu, tapi kau kerapkali mengulur waktumu. Aku tahu kau bosan, tapi kau harus tahu, bahwa aku selalu memanfaatkan waktumu saat ada di tempat yang sama denganku.

Pernah aku menangis saat aku menyisihkan waktuku untuk senang-senang denganmu, tapi kau mengabaikanku. Dan itulah, sifatmu yang tidak kusukai. Selalu saja, ketika aku ingin senang-senang, kau memperburuk keadaan. Entah memang kau suka dengan keadaan yang demikian, atauapapun, aku tidak peduli. Yang penting saat itu, aku sudah berusaha menjadi yang terbaik untukmu.

Aku mengingat, saat dimana kau pulang dan memutuskan untuk tidak menggunakan alat komunikasi apapun. Kau tahu? Seberapa hancurnya aku kala itu? tidak :) Kau tidak pernah mau tahu bagaimana hati dan perasaanku yang sebenarnya. Yang kau tahu keputusan yang kau anggap baik, itulah yang terbaik. Kau tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, cinta.
:)

Ahhhhhh!! Mengingat segala tentang hal lalu, benar-benar membuat airmataku menggenang dan jatuh. Ketika mereka bertanya, "kau bahagia?". Aku menjawab dengan lantang, "iya!". Dan beberapa dari mereka menepuk pundakku sambil berkata "Jangan terlalu sering memunafikkan keadaan, cantik :)". Dan aku hanya membalas dengan senyuman pahit.
Mengapa mereka yang peka dengan senyuman bebanku?
Mengapa mereka yang paham bagaimana memperlakukanku dengan manis?
Mengapa harus mereka yang selalu menghapus air mata yang jatuh dipipiku?

Kadang aku menyesali, mengapa bukan kamu?
Tapi aku paham.
Aku tidak sepenuhnya ada di hatimu.

Banyak sekali kalimat dan sikapmu yang membuatku memutuskan untuk pergi, sayang.
Sekarang?
Kau ingin mengulang segalanya seperti dulu?
Maaf. Aku tidak bisa.
Aku merasa bodoh jika harus mengulang kesakitanku yang dulu.
Dan kau? Ketika kau membaca ini, aku sudah tau apa yang ada dibenakmu.
Sayang :)
Ketika aku mengatakan tidak bisa. Aku tidaklah sepenuhnya tidak bisa. Jika kau berjuang dan berkorban, hati mana yang tidak akan luluh.
Tapi aku tahu, kau tidak akan membuang-buang waktumu hanya untuk wanita bodoh ini. Meski sekarang ini, perjuangan dan pengorbananmu yang ingin aku lihat. 
Ah sudahlah, kau tidak akan paham mauku.
Kau juga tidak akan pernah mau menjadi seperti yang aku inginkan.
Kau terlalu senang dengan hidup dan dirimu.

^_^
Mungkin kesendirian kelak akan mengajarimu bagaimana memperlakukan hati wanita dengan baik. 
Mungkin akan ada wanita yang memang mencintaimu dengan baik.
Mungkin akan ada wanita yang memiliki kasih dan kesabaran yang lebih daripadaku.
Mungkin.
Semoga saja.

*Now Listening Wonder Boys - Suatu Hari


Sabtu, 25 Mei 2013

Tulisan Tanpa Makna


Mungkin untuk mengawali kisah akan lebih baik ketika saya mengucapkan, selamat malam yang terkasih :) semoga tidak sia-sia penantian kita selama ini.

Apa yang kamu pahami dari waktu? Benar, ia merupakan bahasa lain daripada masa. Mengapa saya membicarakan waktu? Karena semua tanya yang bersarang di hati dan pikiran manusia kerapkali terjawab oleh sang waktu. Sudah beberapa lama saya meninggalkan tempat dimana saya bernaung ketika kecil. Sudah beberapa lama saya berada disini. Ditempat yang saya sendiri tidak paham akan situasi sekitarnya.

Dulu, ketika masih kecil. Saya bercita-cita untuk hidup jauh dari orang-orang yang ada disekitar saya. Saya merasa sendiri itu jauh lebih baik. Tidak ada duka nestapa yang mengganggu pikiran. Tidak ada beragam rasa berkecamuk dalam hati yang menyebabkan sindrome galau. Hidup sendiri. Berkarir. Mapan. Dan terakhir adalah menikmati hidup.

Pria? Kekasih?
Yang selalu saya impikan adalah sesosok pria yang selalu memanjakan saya. Menjadikan saya sebagai ratu didalam hidupnya. Membuat saya benar-benar berarti. Pria yang benar mencintai saya. Pria yang tidak banyak berbicara tapi selalu membuktikan akan rasa cintanya. Pria yang bisa saya andalkan. Pria yang juga kelak membantu saya mengurus pekerjaan rumah ketika saya sibuk dengan anak-anak. Pria yang mandiri. Pria yang cerdas. Pria yang penyayang. Ahh, pria yang hanya ada didalam khayalan saya :)

Ibu.. Apa kabar? Entah kenapa senyuman wajahmu terakhir kali itu yang selalu terngiang di pikiranku. Entah kenapa akhir-akhir iini saya merasa sangat kecil. Ayolah Bu, bantu anakmu untuk kembali bersemangat menyongsong hari esok. Katakan bahwa lelaki terbaik adalah lelaki yang dikirimkan Tuhan untukku kelak :) Berikan kekuatan untuk saya, Bu..
Karena benar saya benar-benar merasa kecil untuk saat ini..