Aku tidak menghargaimu. Kau bahkan tidak menghargainya. Engkau bahkan sudah di jajah oleh kekuasaan bodohmu itu ! Kau kira mereka baik karena mereka tulus ? Terkadang kau terlihat sangat pintar. Bahkan segala aspek kau pertimbangkan. Yang aku herankan adalah, kau menganggap materi mampu membahagiakan hati siapapun. Segitukah otak mu sudah dijalari oleh nafsu?
Aku memandangmu ketika kau tidur. Kau bahkan terlihat sangat tua sekarang. Dalam tidur pun aku masih melihat garis-garis ambisi yang terlukis jelas di wajahmu.
Apa lagi yang kau cari?
Tidak bisakah kau melihat kami? Bukan materi yang kita butuh sekarang. Pernah kau berpikir bagaimana perasaannya saat kau berbicara demikian?
Kau selayak kacang yang lupa pada kulitnya.
Dulu aku kira, kau merupakan korban daripada pengkhianatan kesetiaan. Tapi aku salah, justru dia yang merupakan korban daripada pengkhianatan !
Kadang aku iba melihatmu duduk sendirian di teras depan rumah. Kau mengepulkan asap rokokmu. Kau pandangi asap tersebut. Kau berharap beban yang kau pikul bisa terbang seringan asap tersebut.
Aku iba, saat melihatmu menonton televisi sendirian. Kemana yang lain? Masing-masing menyibukkan diri sendiri. Aku lebih memilih diam di kamar sembari membaca novel. Mereka masih ada yang belum pulang kerumah. Si bungsu lebih memilih mengambil jam les pada malam hari. Semua berusaha agar ketika pulang kerumah, sudah dalam keadaan letih dan mengantuk. Jadi bisa tertidur dengan cepat. Kau marah? Kau kira kami ini tak punya hati?
Aku benci ketika sedang membaca novel. Suara kerasmu menghardik Ibuku !
Kau bergumam dengan kata-kata yang menghinanya.
Sekarang, kau sudah boleh berpikir akan jawaban atas pertanyaanmu tempo hari pada Ibuku. Emoh aku mendengar suara hardikanmu yang mengeras. Ibu sudah diam, ia tenggelam dalam tangisan yang tertahan. Masih saja kau hina !! Kuharap Tuhan memberiku kesabaran, sebelum pada akhirnya aku meracuni makananmu !
Aku menyalakan tape di kamarku dengan volume yang sekiranya dapat menenggelamkan suara burukmu itu. Sesaat kemudian hening. Tidak kudengar lagi sayup-sayup suara burukmu.
Tidak lama, Ibu mengetuk kamarku. Kukira itu dirimu. AKu tak peduli. Suara ketukan semakin menjadi. Kupasang wajah jengkel. Kubuka kunci kamar, ketika pintu terbuka, wajah sendu ibu nyelonong masuk kedalam kamarku.
Ibu memegang dadanya. Ia menangis terisak. Aku hanya dapat memandangi Ibu. Tidak dapat melakukan apa-apa. Pertama kalinya aku melihat Ibu demikian. Ibu hendak menggapai kursi di meja belajarku. Tapi beliau jatuh tersungkur. "Ibu lemas.." Katanya lirih.
Astaghfirullah..
Tuhanku Allah, beri aku kekuatan dan ketabahan. Jauhkan setan terkutuk dari hatiku.
Aku langsung menuju ketempat Ibu, kupangku kepala Ibu. Dalam keadaan lemas pun beliau menangis terisak. Aku tahu, ada kalimat darinya yang membuat Ibu demikian terluka.

Sudah kau khianati cinta putih Ibuku. Kemudian kau hardik dia dengan kata-kata kasar dari bibirmu. Kau manusia atau apa?!
Kau merasa kau adalah orang yang paling terluka. Orang yang paling teraniaya. Padahal jelas-jelas kau yang melukai dan menganiaya. Untuk perkara yang satu ini, aku tidak akan memaafkanmu !
"Apa yang dilakukannya padamu, Bu?" tanyaku.
"Ibu takut, Nak.." katamu lirih masih dalam keadaan menangis.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Ibu takut, kasar sekali dia.." Ucap Ibu.
Satu yang terlintas diotakku. Ibu ditampar olehnya. Kulihat wajah Ibu dengan seksama. Tak ada bekas tamparan. "Dia menampar Ibu?" tanyaku. Ibu menggeleng pelan. Matanya masih ditutup. Tapi butiran-butiran bening itu jatuh dari pinggir matanya.
"Dia sangat kasar.." Ibu kembali berkata demikian.
Aku harus apa? Ingin sekali kuhubungi tunanganku yang sedang berada diluar kota. Lagi-lagi, hanya setiap kalimatnya yang mampu membuatku berpikir dua kali sebelum bertindak.
Tapi, dia masih lembur. Aku tak ingin mengganggu pikirannya dengan masalah ini, tapi aku tak sanggup.
Aku memeluk Ibu. Erat sekali. Ingin aku renggut beban hati yang Ibu pikul. Kasihan Ibu.
Degub jantungnya sangat cepat. Ibu benar-benar dalam ketakutan.
"Bu, kasar seperti apa yang ia lakukan?" tanyaku. Ibu hendak mengatakan. Tapi hatinya terlalu sakit. Baru saja membuka mulut ingin mengatakannya, tangisnya kembali meledak. Ia terisak.
Aku diam. Tak dapat berbuat apa-apa.
Ku peluk Ibu semakin erat. Dirumah hanya ada aku seorang diri. Aku butuh wadah untuk kutuang air ini. Tapi, kemana??
Ibu,, sabar..
Yang aku tahu, wanita tegar itu, cantik..
Kalimat itu yang aku dapat darimu. Aku tahu, dulu Ibu bisa mengaplikasikannya dengan baik. Bu, sakit sekali ya? Aku yang mendengarnya saja, rasanya sangat terluka. Ibu, sabar..
Kita bisa apa?
Tidak.. Tidak.. Engkau bisa apa? Syurga mu dibawah telapak kakinya, Bu.
Ibu yang sabar..
Allah tahu, Ibu mampu melewatinya. Mungkin ini cara Tuhan menghapus dosa-dosa kecilmu dulu. Mengujimu dengan menghadapi makhluk tak berperasaan sepertinya.
Ibu, sabar..
Tuhan bersama kita.. Orang-orang yang sabar..
Ibu terlelap diatas pangkuanku. Lelah. Ibu lelah menangis. Ibu lelah menghadapi hari. Ibu, detak jantungmu masih saja menggebu. Kau lelah? Kau sudah tidur?
Tanpa sadar, bulir bening itu jatuh mengenai wajahmu. Kau tak bergeming. Ibu sudah tidur.
Aku mengambil bantal yang berada didekatku.
Kuletakkan dibawah kepala Ibu. Setelah itu, aku langsung menuju kamar mandi. Kutumpahkan semuanya disana. Aku menenggelamkan wajahku didalam bak air. Kubiarkan kehabisan nafas. Setelah sesak. Baru aku mengangkat kepalaku. Demikian caraku berteriak. Aku muak !!

Kau pergi. Kau berteriak memanggil Ibuku. Seluruh ruangan kau cari. Tapi tidak kamarku. Aku mengharamkan kau menyentuh bagian daripada kamarku. Kau demikian karena merasa aku sainganmu dalam meraih kasih sayang Ibu. arghht ! Persetan dengan bualan palsu mu !! Masa bodoh dengan pikiran burukmu ! Kau dan aku tidak akan pernah dapat menyatu !
Kau sama saja dengan yang lain.
Menggoreskan lubang kecil pada hati wanita. Kemudian kau biarkan ternganga !
Arght!! Kalian sama saja !