Kamis, 05 September 2013

Mimpi



Permisi. Sudah sedikit bersarang laba-laba blog ini. Rasanya rindu sekali ingin menumpahkan serangkaian kata-kata disini. Tapi lagi-lagi, waktu saya tersita oleh sedikit kegiatan dimana saya bisa dianggap sebagai wanita yang sok sibuk. haha :D

Saya punya mimpi yang akan saya wujudkan suatu hari nanti. Saya ingin membungkam mulut-mulut pendusta yang menghakimi saya secara sepihak lalu. Akan saya bungkam dengan kenyataan bahwa saya lebih baik dari mereka. Apa kabar kenyataan hari ini? Entahlah. Saya melihat ada sesuatu yang menarik untuk saya ungkap kali ini. Apalagi kalau bukan tentang mimpi saya. 

Sempat saya berpikir, bagaimana saya akan merajut mimpi saya jika saya sudah memiliki tanggung jawab lain nantinya. Pada keluarga saya, misalnya. Tapi saya yakin, Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Meski sampai detik ini, saya masih merasa tidak pantas untuk memohon pada Dzat Yang Maha Pengasih itu. Saya, adalah seorang wanita yang berpakaian dosa. Ah, abaikan ~

Kalian tahu? Ketika pertama kali saya bermimpi. Saya memimpikan diri saya menjadi seorang yang memiliki banyak teman. Saya adalah orang yang sulit sekali memulai percakapan dengan orang-orang baru. Saya adalah orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan sampai sekarang, saya masih kurang merasa nyaman jika berada ditempat yang ramai. Itulah kenapa dari kecil, saya ingin punya banyak teman. Setidaknya, dengan demikian saya bisa belajar untuk tidak lagi takut pada khalayak ramai.

Dan mimpi saya tersebut terwujud. Saya memiliki banyak teman. Saya bergabung di berbagai komunitas. Tapi satu hal yang masih belum berubah adalah, saya masih saja kurang merasa nyaman di tempat ramai. Semoga saja kelak pasangan saya mengerti akan hal ini.
:D

Saya bermimpi memiliki usaha sendiri. Saya lebih tertarik berwirausaha daripada terikat pada lembaga pemerintahan. Saya ingin membuka lapangan kerja. Dan, mimpi itu terwujud dengan baik. Saya senang pada anak-anak, oleh karena itu saya membuka sebuah wadah bermain sambil belajar pada anak-anak. Apa yang membuat saya tertarik? Hidup saya rumit. Saya ingin melupakan sedikit beban-beban yang ada dipikiran saya sementara waktu. Lihatlah! Coba kalian lihat ketika anak-anak bermain, tertawa lepas, dan banyak hal yang dapat kita pelajari dari anak-anak. 

Dari hal perdamaian, anak-anak tidak akan marah atau dendam pada temannya jika temannya melakukan kesalahan. Mereka hanya akan memutuskan pertemanan selama beberapa menit, tapi kemudian, mereka berbaikan dan melanjutkan bermain bersama dan tertawa lagi. Belum lagi tingkah mereka yang aneh-aneh dan lucu. 

Mimpi saya yang selanjutnya adalah saya ingin melakukan petualangan. Saya ingin menjelajahi setiap sudut di negeri ini, cukup dibiayai dengan modal yang kurang, saya akan menggunakannya dengan baik. Saya ingin menunjukkan pada dunia, bahwa dengan modal yang kurang saya masih bisa bertahan hidup. Saya ingin melakukan hal-hal yang sudah saya rancang dalam otak saya jauh sebelum usia saya segini. 

Saya pun memiliki mimpi. Menikah. Membentuk sebuah keluarga dengan laki-laki yang cocok dengan saya. Mengapa demikian? Kalian pernah mendengar sebuah percakapan; "mengapa kau menggunakan pakaian berwarna merah?" ia menjawab "karena saya merasa cocok!". Apa yang dapat kalian simpulkan dengan percakapan tersebut? Benar! Kita tidak perlu mencari yang terbaik. Karena yang terbaik belum tentu cocok dengan kita. Saya menginginkan pasangan saya yang membiarkan saya bermimpi dan mewujudkan mimpi saya. Karena saya adalah seorang pemimpi :)

"Bagaimana jika pasanganmu bukan seorang pemimpi?". 
Sebuah pertanyaan yang saya tersenyum ketika mendengarnya. Jawabannya sederhana; "jika saya merasa cocok, maka itu bukan masalah!" 
^_^

"Bagaimana jika mimpimu tidak terwujud?" saya menjawab; "i will try again! saya tidak mengenal kata TIDAK dalam usaha saya. mimpi saya bukan tidak terwujud, ia hanya BELUM terwujud!"

Saya memiliki ayah seorang pemimpi. Dan ibu yang selalu realistis. Perpaduan mereka tertanam dalam diri saya. Saya adalah pemimpi yang selalu mencoba untuk berpikir secara realistis. 
Ketika saya berusia 5 tahun, saat itu saya sedang duduk dipangkuan ayah yang baru pulang bekerja. Tiba-tiba ayah saya berkata; "bermimpilah nak.." dan saya masih bingung, saya jawab; "kenapa?". Ayah menjawab; "bermimpilah, kemudian wujudkan mimpimu!"

Perjuangan


Lihatlah ombak di tengah laut
Berjuang menuju tepian pantai
Tak pernah lelah
Tak pernah bosan
Tak pernah berhenti
Tak pernah usai

Setelah menerjang karang memecah pantai
Gelombang yang didepan selalu digantikan oleh gelombang yang ada dibelakang
Meninggalkan buih-buih putih yang indah keperak-perakan
Kau tahu?
Buih-buih putih yang keperak-perakan itu selalu hilang ketika udara menjamahnya
Tidak ada sesuatu yang abadi

Berdiri karang di tengah lautan
Meski ombak kerapkali menerjang
Ia tetap berdiri tegak
Bagaimana dengan asa?
Sekali saja dicubit, ia akan hilang
Terbang
Pergi entah kemana
Bak selembar tissue yang disulut api
Musnah
Tidak berbekas

Jumat, 30 Agustus 2013

Blue Sky..


Dia adalah langit. Yang menjelma menjadi seorang peneduh kala alam mencekam dunia seseorang. Dia tidak hebat, dia juga tidak sempurna. Tapi langit, selalu saja indah. Ada potongan-potongan kecil dalam hidup yang membantunya menapaki hari menjadi lebih baik. Ketika kamu mencintainya, kamu mencintai langit, tidak perlu meninggikan kastamu untuk menjadi bintang atau rembulan. Karena keduanya berada di langit. Cukup menjadi bumi. Karena langit dan bumi itu sepaket. Keduanya sepasang. 

Bagaimana menundukkan langit yang angkuh? Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Usah merasa diri pintar, karena keangkuhan tidak dapat di balas dengan rasa angkuh juga :)

Rabu, 07 Agustus 2013

Tujuh Agustus Dua Ribu Tiga Belas..


Saya berangkat dari tepian yang curam. Menelusuri jalanan yang hening tak bergeming. Ini adalah keputusan. Dimana segala resiko apapun didepannya mau tidak mau saya harus siap menerimanya. Apa yang dapat saya banggakan? Dengan hati yang urak-urakan seperti pecahan beling duralex. Tidak ada. Tidak adayang dapat saya banggakan. Tidak ada yang dapat saya pikirkan kebenarannya. Tidak ada.

Bagaimana saya mengingat tentang beberapa waktu lalu. Datang, merengkuh dengan damai, kemudian ditinggalkan. Itu jauh lebih baik. Daripada datang, memeluk mesra, kemudian mencaci. Kadang saya tersenyum, "biarlah, ini bukan kali pertama kamu dilukai dengan sikap-sikapnya" bisikku menyemangati diri sendiri.

Ingin sekali mengatakan, "sakit sekali hatiku dengan semua yang kau lakukan". Tapi saya rasa sia-sia. Dia tidak akan menanggapi dengan baik. Palingan juga dia akan jawab "dan saya lebih sakit dengan semua yang kau putuskan". Tuhan, kadang saya berpikir sekaligus bersyukur, ketika Engkau menganugerahkan cinta yang putih dan bersih di hati saya. Tapi sayang, mungkin saya terlalu bodoh. Memberikan dengan cuma-cuma apa yang selama ini saya kumpulkan hanya karena tidak ingin melihat seseorang itu menderita. Naif! Tapi saya pikir, sudahlah. Saya ikhlas. Meski dia tidak pernah ikhlas melakukan apapun untuk saya.

Lupakan! Ini bukan moment dimana saya harus menceritakan apa yang buruk. Saya hanya ingin menumpahkan apa yang saya rasa. Seperti yang mereka tahu, selain via tulisan, saya tidak punya wadah lain untuk menampung cerita saya. Cerita kepada teman? Mau sampai kapan saya merepotkan orang lain dalam urusan saya? Dan itu bukan tipikal saya. 

Saya bingung apa yang harus saya ceritakan. Ketika saya melihat cermin yang notabenenya berada dihadapan saya, saya melihat foto seseorang disana. Masih terpajang dengan baik. "Kamu masih hidup? Apa kabar disana?" tanyaku dalam hati.

Dan saya ingat, semalam saya memimpikannya. Seseorang yang saya lupa kapan terakhir kali saya memimpikannya. Ia datang, mengajakku menemaninya ke tempat acara pernikahan kerabatnya. Kenapa dia mengajakku? Pertanyaanku itu tidak dijawabnya disepanjang mimpiku. Aneh. Dia bahkan menjalaninya seperti tidak ada masalah apapun. 
Iya, salah satu sifatnya yang saya kagumi adalah itu. Begitu dewasa dia menyikapi tingkah kekanak-kanakanku. Dulu.

Saya terbangun dan melihat jam. Sudah waktunya masak-memasak. Berkutat dengan rempah-rempah, centong, panci, dan daging. Adat di Aceh, dua hari/sehari sebelum Ramadhan atau Idul Fitri selalu ada budaya "meugang". Dimana setiap rumah masak daging merah untuk menyambut Ramadhan atau Idul Fitri. Dan menu favorit di rumah adalah daging rendang dan daging masak kecap? Ini masih siang, dan saya sudah keroncongan. Ampun Tuhan.. Sudah waktunya saya tidur. Merebahkan diri untuk mengabaikan para demonstran di dalam perut saya. 

Sekian ~~


Selasa, 06 Agustus 2013

Kisah Di Akhir Senja..



Awalnya saya hanya senang melihat senja. Senja yang indah dengan langit berwarna jingga di penghujung hari. Tidak ada makna lain. Saya hanya teramat senang memandang langit jingga itu. Di suatu sore, di akhir tahun 2011. Saya mengejar senja seperti biasanya. Tapi tiba-tiba di pertengahan jalan, gerimis jatuh menghiasi bumi Tuhan. Saya terpaksa berteduh di sebuah toko di jalan protokol menuju pantai.

Disebelahku berdiri seorang Ibu dengan bayi mungilnya. Mereka kebasahan. Saya kasihan. Bayi kecilnya kedinginan, sedang si ibu bajunya juga basah. Bagaimana ia hendak memeluk menghangatkan bayinya? Entah apa yang menggerakkan, saya menghampiri sang Ibu. “Bayinya boleh saya yang gendong, Bu?” Tanyaku. Si Ibu ragu, ia menjawab “ Basah nong, nanti kamu juga basah”. Setelah saya meyakinkan bahwa tidak apa-apa dengan saya, akhirnya si Ibu memberikan. Saya ingat, di dalam tas saya ada minyak kayu putih. Saya kasihan dengan bayinya. Saya pun mengambil minyak kayu putih dan mengoleskan di telapak tangan dan kaki si bayi. Seperti saya, jika kehujanan, satu-satunya yang dapat menghangatkan saya adalah mengoles minyak kayu putih di telapak kaki dan tangan.

Si Ibu memandang saya. Seperti hendak berkata tapi ia enggan. Mungkin ia merasa tidak enak hati. Tapi percayalah, saya melakukannya karena bayi itu sudah sangat kedinginan. “Bu, boleh baju bayinya dibuka saja?” tanyaku. Sang Ibu diam. Dan berkata “tapi saya tidak membawa baju ganti”. Saya tersenyum. Membuka jok motor dan mengeluarkan jaket saya. Jaket itu saya sediakan kalau-kalau Kota Banda Aceh panas terik. Sedangkan untuk hujan, saya selalu membawanya di dalam tas ransel saya. Beberapa rekan saya selalu mengatakan saya membawa lemari kemana-mana. Soalnya dengan tas ransel yang sedemikian, isinya lengkap dengan obat-obatan, payung, jaket, buku, minyak kayu putih dan make up! :D

Ibu tadi memandang saya. Melihat saya yang cekatan membuka pakaian bayinya. Selesai membuka baju bayi, saya kembali mengolesi minyak kayu putih di seluruh badannya. Dan kemudian, saya membalut bayi tersebut dengan jaket saya. Selesai! Saya pun tersenyum memandang bayi mungil itu. Ah, kau malaikat kecil sayang. Masih sangat putih dan bersih. Bisikku.

“terima kasih banyak, nong” ujar sang Ibu. Saya tersenyum dan menjawab “iya, Bu”. Dan kita pun berbincang-bincang seraya menunggu hujan reda. Dalam perbincangan, saya tahu bahwa Ibu itu seorang buruh cuci di sebuah laundry. Suaminya sudah tiada. Bayi itu merupakan anak yatim. Mereka tinggal disebuah dapur dirumah orang. Ketika saya bertanya, mengapa? Ibu itu menjawab, biaya sewa rumah mahal. Benar. Entah semenjak kapan, Banda Aceh menjadi kota yang memiliki biaya hidup termahal. Saya senang, ketika bayi tadi sudah membuka mata dan memandang saya. Bayi tadi masih saya dekap. Binaran mata malaikat itu, merenyuhkan hati saya. Ketika hujan sedikit reda, saya hendak beranjak pulang. Hari semakin senja. Saya tidak akan bertemu senja di pinggir pantai. Dan saya memutuskan untuk pulang saja.
Saya memberikan bayi itu kepada sang Ibu. Dan meminta izin untuk pulang duluan.

“Jaket ini, nak? Bagaimana cara saya mengembalikan?” tanya Ibu itu.
“Tidak apa, Bu. Disimpan saja. Kenang-kenangan dari saya” kataku.
“terima kasih, nak..” Ibu itu segera memelukku erat. 

Saya kaget, tapi di sepersekian detik kemudian saya terbiasa. Kembali memeluk sang Ibu. Setelahnya, saya menyalakan motor dan berangsur pulang. Didalam perjalanan, di kala senja, saya melihat pelangi menghias langit jingga. Tuhan, indah sekali ciptaan-Mu..

Apa yang saya pelajari pada kisah ini? Saya mengerti bahwa demi menghidupi anaknya, seorang Ibu mau melakukan apa saja. Sesampai dirumah, hal pertama yang saya lakukan adalah memeluk Ibu saya. Yaa, sudah seminggu kita tidak berbincang. Saya dan Ibu kerapkali berselisih paham. Entah karena Ibu merasa saya sok tahu. Entah karena saya merasa Ibu tidak tahu apa-apa. Entahlah.