Rabu, 05 September 2012

ME JI KU HI BI NI U

Aku mencintai pelangi. Ada banyak warna disana.
Aku mencintai senja. Ia indah namun hanya beberapa manusia yang paham akan keindahannya.
Aku mencintaimu, tidak begitu dalam. Tapi tanpamu, hidupku tidak begitu berarti.

Setiap hujan turun, aku selalu berharap dapat melihat pelangi.
Setiap penghujung akhir, aku selalu menantikan senjaku yang indah,
Setiap waktu, kupastikan rinduku tertuju untukmu. HANYA untukmu !

Merah, aku melihat jiwaku yang membara ketika rindumu menyala.
Jingga, warna senja yang selalu ingin kulihat berdua denganmu, kelak.
Kuning, cahaya matahari pagi yang senantiasa menghangatkan rindu dan cinta kita.
Hijau, kau tahu? Aku merasa damai setiap kali memandang warna ini.
Biru, langit.. disanalah pelangi ku bersemayam..
Nila, warna ini begitu menyalakan nuansa romantis. dan..
Ungu, hariku indah setiap kali rindumu mekar..

Warna.
Aku menyukai banyak warna.
Itulah kenapa pelangi menjadi bagian dariku.
Aku ingin menjadi pelangi, cantik, penuh warna. Tapi tidak mungkin..
Biarlah pelangi menyatu dalam batinku.
Biarlah aku menjelma menjadi pelangi di dimensi waktu lain.

Kelak, ketika aku tak lagi di sini.
Tidak lagi menemanimu dalam sepi.
Pandanglah aku di langit biru..
Akulah pelangi..
Pelangi hatimu..
^_^

You Are My Everything

Pagi tadi, aku dibangunkan oleh lantunan suara merdu malaikatku di bumi. Tuhan, ciptaanMu sangatlah sempurna. Teriakannya, nada kekhawatirannya, selalu mampu membangkitkan rasa rindu ku saat jarak menjadi penghalang pertemuan.

Ibu..
Kasihmu sepanjang masa..

Terdengar suara ketukan pintu kamarku saat aku sedang membereskan tempat tidur. Aku membuka pintu, dan kulihat sosok wanita yang menjadi panutanku. Yes, she is my mother !!
"kamu mau sarapan apa pagi ini?" tanya Ibu.
"apa saja, Bu" Jawabku. Ibu pun meninggalkanku yang hendak bergegas mandi.

Selesai mandi, ibu kembali mengetuk pintu kamarku. "Ini ibu buatkan untukmu. Kamu pasti sudah lama menginginkannya." Kata Ibu. Aku melihat semangkuk indomie rasa soto ayam. Cita rasa yang selalu saja membuat produksi liurku merajalela. Ahh, ibu.. 


"Apa tidak apa-apa, Bu?" Tanyaku. Aku bukan takut migrainku kambuh jika memakannya, terlebih aku takut melihat wajah ibu yang pucat pasi setiap kali aku tergeletak lemah jika migrainku kambuh. 
"Ibu membuatnya dengan cinta, makan saja, InsyaAllah menjadi penyembuh untukmu.." Katanya.

Aku tersenyum, dan langsung menikmati mie buatan ibu.
Dengan bumbu dan proses pembuatan yang sama, tapi tetap saja, buatan Ibu paling lezat rasanya..
^_^


***

Dulu, aku bahkan tidak berhubungan baik dengan Ibu. Beberapa hal kerapkali menjadi pencetus perselisihpaham antara aku dan Ibu. Hingga semakin beranjak dewasa, aku tahu, beliau demikian karena merasa aku tidak lama lagi hidup bersamanya. 

Ibu, ikhwan baik kiriman Tuhan yang selalu pantas untuk mendampingi anakmu ini.

^_^
Semoga Tuhan mengirimnya disaat yang tepat.

Saat dimana engkau sudah mengikhlaskan aku hidup jauh di perantauan :)

Minggu, 02 September 2012

Berikan Aku Jawaban..

Geram? Marah? Kesal?
Selain itu, apalagi yang ingin dilampiaskan?
Keluarkan saja, kau harus tahu aku tidak akan beranjak meski kau berbuat demikian.
Satu-satunya yang membuatku mengalah dan pergi, adalah ketika ada seseorang yang memiliki cinta dan sabarnya melebihiku.
InsyaAllah aku akan ikhlas..
^_^

Jika mereka berkata, sudah hancur, aku mengatakan hatiku remuk.
Aku melakukan apa saja yang kau hendaki.
Aku meninggalkan orang-orang yg pernah ada saat aku terjatuh, demi mu !
Aku menjaga hubungan dengan lingkunganku, demi menjaga perasaanmu.
Aku melakukan apa saja, demi bisa selalu bersama mu.
Aku demi kamu.
Kamu ??

Ketika aku merasa lelah, engkau bahkan ikut membuatku merasa sangat tidak berdaya.
Aku mengeluh?
Ketika aku benar-benar butuh istirahat, karena kebiasaan buruk membuat kondisi ku drop.
Engkau ingin ku temani.
Aku mengeluh?
Ketika seluruh beban di tumpuk padaku, dan kau dengan tanpa rasa bersalah malah menganggap aku tidak mempedulikanmu.
Aku marah?
Dengan sabar kuberi pengertian, justru engkau semakin memuncak.
Aku marah??



Koetaradja, 1 September 2012

Ketika Kalimat Mereka Membuatku Enggan Memutuskan..

Selain diam, tabah, sabar, dan menanti, aku bisa apa? Yang aku tahu, sesiapapun yang pergi pasti akan pulang.
Aku pun selalu menunggumu pulang.
Yaa, ketika benang yang putus ingin kita sambung, tetap akan menimbulkan sebuat ikatan baru. Luka yang menggores pasti akan meninggalkan bekas. Demikianlah.. Aku..
=')

Sejujurnya, aku benar-benar sudah lemah. Bagaimana tidak, jiwaku sudah engkau hanyutkan di lautan hitam yang letaknya pun aku tak tahu dimana.
Jangankan untuk mengambil kembali. Membayangkan jiwaku kembali saja, tidak sama sekali ! 
Karena aku tahu, itu tidak mungkin.
Semoga ia tenggelam di dasar lautan dan tak ada siapapun yang menjamahnya.
Aku takut, jika ia terbawa arus, terdampar di suatu tempat, diambil oleh seseorang dan ia bisa menjaga dengan baik. Semoga tidak ! Semoga ia tenggelam..

Ketika hati memaksa untuk berkata, "Tuhan.. Aku menyerah !"
Seketika itu pula, untaian kalimat "Wanita Tegar Itu Cantik" muncul di depanku. 
Dan aku merasa malu..

Malu pada mereka yang dengan lantangnya mengatakan, "Kau hebat, Ayla !", "Kau wanita paling sabar yang aku kenali..", "Kau sangat tegar.." Dan lainnya.
Aku malu. Sungguh.
Itulah kenapa sampai sekarang, satu-satunya pegangan yang tidak pernah kulepas, adalah peganganNya.
Aku tahu, Dia tidak akan pernah meninggalkanku..

Allah,
Aku benar-benar membutuhkanMu...


Koetaradja, 1 September 2012

Sabtu, 01 September 2012

Jiwaku Yang Telah Hilang

Siapa aku?
Aku hanyalah seorang manusia yang hidup tanpa jiwa. Kemana jiwaku? Ahh, pertanyaan yang menyesakkan.
Aku memiliki hidup. Hidupku, kuhibahkan pada seseorang.
Aku memiliki jiwa. Jiwaku, kusimpan dalam hidup seseorang.
Aku memiliki hati. Hatiku, telah kuberikan pada seseorang.
Lantas?? Mengapa hidupku tak berjiwa?
Pertanyaan itukah yang menari-nari dalam alam pikiran kalian?

Baiklah,
Aku akan menjawabnya. Dengan satu syarat. Kalian boleh menertawakan kebodohanku. Tapi tidak menertawakan cintaku yang beberapa orang menganggapnya "konyol" !

Jiwaku, ia pergi bersama hidup seseorang. Benar ! Seseorang yang sebelah hatinya ia berikan padaku. Hanya sebelah ??! IYA ! jelas bukan?
Ketika kalian lagi-lagi bertanya, mengapa sebelah? Maaf, untuk kali ini aku enggan menjawab. Sudah terlalu sakit menerima hanya sebelah. Jangan di tambah dengan pertanyaan bodoh itu. Argghht !! Aku benci kenapa harus pertanyaan itu yang terlontar dari bibir kalian !!

Kembali pada kasus utama, sudah demikian usahaku. sudah demikian perjuanganku, tidak pernah terlihat sama sekali.
Hingga tiba hari dimana aku benar-benar ditinggal sendiri.
Hari dimana aku menyerah untuk semuanya.
Ya, hari saat ia menghilang membawa jiwaku yang telah menyatu dalam hidupnya.
Aku sendiri.

Menangis pun, air mataku tak lagi jatuh. Ini bahkan sudah lebih dari sakit. Tuhan, satu-satunya yang aku takutkan telah terjadi. Ia hilang, membawa jiwaku pergi bersamanya, dan aku benar-benar menjalani hidup tanpa jiwaku.
Hidup tanpa rasa khawatir yang berlebihan.
Hidup dengan hidup seadanya.
Hidup dengan raga yang hampa.
Jiwaku telah hilang =')

Aku bisa apa? Ketika ia pulang dengan wajahnya yang teduh. Seseorang yang dulu selalu menemaniku melewati detik waktu. Kini rasaku? Aku bahkan tidak tahu seperti apa rasaku. Aku mencintainya, sungguh. Mencintai orang yang telah menghancurkan jiwaku. Mencintai orang yang mencintaiku sebelah hati. Mencintai orang yang aku mencintainya sampai mati.

Aku mencintainya..