Aku hanya menggelengkan kepala. Terang saja, bagaimana aku harus memulainya. Sedang aku sendiri bingung apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau kembali mengingatnya?" Tanya Caca seolah bisa membaca isi hatiku.
Aku menganggukkan kepala.
"Iyaa Ca, aku mengingatnya.." Jawabku.
"Setelah demikian kau masih bisa mengingatnya?" Tanya Caca.
Pertanyaanmu Ca !! Pertanyaanmu memuakkan !! Bisik hatiku.
Aku memandang Caca, tatapan mata gadis ini bahkan masih sangat polos. Ia bahkan tidak mengerti bagaimana menikmati sakit karena cinta !
"Apa yg kau lakukan jika engkau menjadi aku,Ca?" Tanyaku padanya.
"Jelas saja aku akan mencoba melupakannya !" Jawab Caca.
"Benar, kita akan 'mencoba' melupakan org yg telah menyakiti kita." Kataku.
"Kau tahu bagaimana sulit melupakan orang yg pernah menjadi bagian dari hidup kita?" Sambungku.
"Ya, aku sulit melupakan Deff saat aku mengetahui ia berselingkuh dibelakangku.. Tapi sekarang aku bisa, kau juga harus bisa Jess !" Kata Caca.
Engkau bahkan terlalu naif, Ca..
"Apa yg sudah Deff berikan padamu?" Tanyaku.
"Ia mmberikanku sejumlah uang, ia mmbelikan ku banyak barang sepulang dr luar negeri, ia juga memberikan apa yg ku pinta." Jawab Caca.
"Deff memberikanmu kbahagiaan?" Tanyaku.
"Ya.." Jawabnya.
"Deff menjanjikan utk hidup bersamamu?" Tanyaku.
"Tidak, Deff tidak pernah mengatakan itu.." Jawab Caca sembari melongo menatapku.
"Deff memintamu untuk menjadi Ibu utk anak2nya?" Tanyaku lagi.
"Tidak.." Jawab Caca, matanya berkaca-kaca..
"Deff sudah bertemu dgn orangtuamu dan meminta waktu yg tepat utk mengurus pertunangan kau dengannya?" Sambungku.
Caca terdiam..
Menatap iba ke arah ku..
Tatapan yang sangat tidak kusuka! Aku benci di kasihani !!
"Tidak, Jess.. Deff tidak seperti itu.. Itukah yg dilakukan pria itu padamu?" Tanya Caca..
Aku diam, menatap Caca..
Entah apa yang mengalir dari sudut mataku, tapi aku merasa hancur ! Aku merasa jiwaku hilang.. Aku merasa menjadi manusia termalang !!
"Dia melakukan itu?" Caca kembali bertanya.
Dalam isakan, aku menjawab "Ya.. Dan sekarang kau tau bagaimana aku kan?" Tanyaku.
Caca diam, ia tak berkata lagi..
Kurasa ia sadar bahwa saat ini aku benar-benar hancur !!
Dia menuliskan segenap harapan diatas lembaran itu,
Dengan tinta berwarna abu-abu..
Cerita tentang kemusnahan masa lalu,
Dan harapan masa depan..
Namun semua bak harapan kosong..
Semua laksana mimpi indah yang hanya ada dalam dunia khayal sang pemimpi..
Miris..
(April 2007)



