Rabu, 21 Desember 2011

Kabut Di Ujung Mimpi..

"Kau akan bertahan?" Tanya Uni.
"Lantas? Kau punya cara untuk aku bisa pergi?" Sisil balik bertanya.
"Ya, kau bisa saja pergi kapan pun kau mau." Jawab Uni.
"Oh ya? Hmmm.. Saranmu ku pertimbangkan.." Kata Sisil.

Tidak, Sisil bahkan tidak akan pernah mengubah pendiriannya. Ia tetap akan bertahan, meski ia tahu, penantiannya itu akan berujung sia-sia. Dari awal ia tahu, sahabatnya akan mengeluarkan kalimat itu. "Lakukan yg kau anggap terbaik, Sil!!" Bisik hati kecilnya.

Sisil, seorang wanita yang kehidupan pribadinya jauh dari jangkauan orang-orang. Ia cenderung lebih memilih diam, ketimbang mengumbar yg baginya merupakan aib.. Yaa,, aib itu bukan berarti hal yg buruk kan?
"Apa alasanku untuk pergi darimu, mas?" Ia bertanya pada kekasih hatinya, dan tak ada jawaban..

"Aku tidak melarangmu pergi ,mas .. Pergi lah.. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" Tanya Sisil.
"Ya, silahkan saja." Ia menjawab tapi tidak mengalihkan pandangannya yang jauh dr mata Sisil..

"Aku mengizinkanmu pergi, pergilah mas.. Tapi aku mohon, berikan aku waktu untuk bisa menerima semua ini, pergilah ketika aku sudah siap utk kau tinggalkan.. Pergilah ketika aku sudah mampu berdiri lagi.." Jawab Sisil dalam isak tangisnya..

Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Sisil..
"Sisil, kau tau, keputusan ini adalah yg tersulit bagiku. Engkau baik, engkau bahkan mendekati kesempurnaan.. Tapi maaf, kau belum untukku .." Jawabnya pelan..

Sisil diam.
Ia tenggelam dalam imajinasi dan pikirannya sendiri..

"Sisil?" Panggilnya..
"Kau baik2 saja?" Lanjutnya..

Sisil masih diam.

"Mas, aq sudah siap. Pergilah.." Jawabnya tegas!

Sekarang, pria itu yang terdiam. Menggali-gali pikirannya ttng kputusan yg telah ia ambil..

"Pergilah, mas.. Sekarang!" Sisil berkata lagi dengan suara yg dibuatnya tegas ..
Pria itu pergi,
Meninggalkan ia yg masih terduduk di bawah binaran sang rembulan..
Ia pandangi punggung pria yg meninggalkannya itu..
Pria yg 'pernah' menjadi pengisi mimpi-mimpinya..
Pria yg 'pernah' membantunya mengukir harapan di atas kertas impian..
Yaaa,, Pria itu segalanya untuk Sisil..
Sampai saat ini, masih pria itu ..

***

"Dia sungguh pergi, bahkan ketika aku belum siap.." Kata Sisil padaku..
Kupandangi wajah cantiknya, ia sempurna ya ‎​اَللّه .. Kenapa pria itu tega? Apa salahnya?
Sisil masih bermain dalam perasaannya yang sedang kalut. Ya ‎​اَللّه, mengapa Engkau biarkan tetesan airmata itu jatuh hanya untuk pria itu? Pria yg tak pernah menganggapnya sbg kkasih hatinya?

"Bukankah kau yg menyuruhnya pergi?" Tanyaku.
"Ya, kau benar. Kukira ia peka, tapi ternyata tidak. Ia bahkan tidak memberikan aku waktu untuk bisa siap menerima nya." Jawab Sisil.

Aku hanya diam, tak dapat berkata apapun.. Sisil, yang ku tahu ia wanita yg tegar. Yang ku tahu ia wanita yang sangat penyabar, yang aku tahu pula, ia wanita yg sangat ikhlas.. Tapi skrg? Ia bahkan terlihat sangat hancur dan rapuh..

"Sil, harusnya kau tidak bersedih, kau hanya kehilangan dia, bukan hatinya. Kenapa? Karena sejak awal, hatinya bukan milikmu.. Sedang dia? Dia khilangan kau dan hatimu. Ia belum menyadari itu.." Kataku.

Aq diam, mencerna apa yg kukatakan barusan.
Sisil diam, entah apa yg ada di benaknya..

"Kau benar, cantik.." Jawab Sisil tersenyum..
Senyuman itu, senyuman yang dibuatnya agar terlihat kuat..
Senyuman itu, senyuman palsu..
Ia rapuh, ia benar-benar rapuh!
Ia bahkan telah hancur..

Sisil, Tuhan menyimpanmu untuk pria yg lebih baik. Tenang saja, tulang rusuk yg hilang itu hanya memiliki satu pemilik, dan dia lah nnti yg memilikimu..
Sisil, bersabarlah..
‎​اَللّه menyimpan yg terbaik untuk kita ..

Sisil diam di dalam kamarnya, aku meminta izin utk pulang.. Kutinggalkan wanita cantik itu, membiarkan ia menjadi diri nya sendiri tanpa ada aku didekatnya..
Karena aku tau, ia akan menjadi pura2 mampu,pura2 sanggup.. Ia akan menjadi sosok yg penuh kepura2an jika sedang kalut..


U ♥ A
Koetaradja, Desember 2011